* Bab
1
Setiap
hari Afrika mengawali pagi, seekor rusa bangun. Tahu bahwa ia harus berlari
lebih cepat daripada seekor singa yang paling cepat, atau ia akan mati
terbunuh.
Setiap
pagi seekor singa bangun. Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat,
atau ia akan mati kelaparan.
Tidak
masalah apakah kamu adalah seekor singa atau seekor rusa, ketika matahari
terbit, lebih baik kamu mulai berlari, berlari dan berlari.
Puisi Tradisional
Afrika
ALAM
yang tandus dan kering acap memberikan tantangan tersendiri bagi si anak
manusia. Banyak manusia lahir dan dibesarkan di padang gersang yang mampu
tampil menjadi sosok yang tangguh, pekerja keras dan cerdik dalam menyiasati
setiap kesulitan hidup. Ketangguhannya terasah oleh kegersangan alam dan akal-cerdiknya
semakin kaya berkat tantangan alam yang nyaris tiada henti.
Alam Kupang yang
tampak gersang boleh jadi yang membuat Ayub Titu Eki tampil begitu tangguh,
perkasa, pemberani dan tidak mengenal kata menyerah. Dalam menapaki titian
kehidupan belantara hutan dan padang gembala, dia senantiasa berusaha sampai di
titik akhir yang penuh kebaikan dan kemanfaatan buat sesama.
A.
Berawal
dari Gunung Mutis Menuju Kol 'Oel
Ayub Titu Eki lahir
dari keluarga petani yang penuh disiplin mengelola keterbatasan alam. Ya keluarga
petani, bukan priyayi desa berdarah biru. Hal itu tersirat pada marga Titu Eki yang
memang bukan marga besar yang banyak ditemui di desa-desa di Kabupaten Kupang,
Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejarah marga Titu Eki
merupakan rangkaian cerita panjang tentang asal-usul yang berawal dari
kehidupan manusia purba di lereng Gunung Mutis. Kendati tidak ada catatan
sejarah tertulis, namun ada tuturan nenek moyang yang terus-menerus diwariskan
secara lisan dari generasi ke generasi. Dan Ayub Titu Eki sangat paham tentang
asal-usul keturunannya. Marga Ayub Titu Eki yang sesungguhnya adalah “EKE” yang
artinya ''menang" atau "membawa". Sementara kata “TITU” atau
"menjaga" adalah nama moyang.
Menurut legenda, moyang
pertama di marga Titu Eki bernama EKE karena dia selalu menemukan dan membawa
pulang keladi hutan lalu dihimpun di dekat mata air (niuf enos) dan dijaga secara baik untuk selanjutnya dibagikan
kepada siapa saja yang membutuhkan makanan.
Pada masa itu keladi
hutan menjadi bahan utama makanan. Biasanya anak perempuan sulung marga EKE
selalu diberi nama LALI --artinya keladi hutan. Boleh jadi buat mengenang
pembagian rezeqi makanan dari keladi hutan. Pelesetan marga EKE menjadi EKI
terjadi dalam penulisan surat nikah ayah dan ibu dari Ayub Titu Eki pada tahun
1950-an.
Sesungguhnya marga EKE
merupakan bagian dari marga induk OBE. Di sini EKE mengandung arti kabur, barangkali
terkait dengan pohon jambu air (oben),
lantaran marga EKE pantang sentuh, apalagi makan, buah jambu. Banyak keturunan
yang tetap mempertahankan marga induk OBE, tapi banyak pula yang sudah
menggunakan marga pecahan seperti marga Eki, Tapatab, Smaut, dan Anin. Meski
begitu selalu tetap menggunakan nama julukan (am atau oen/ain) OBE. Di
kampungnya, Ayub akrab dan kerap disapa dengan nama aslinya FUNU OBE.
Marga OBE –baik langsung
maupun marga lain dengan julukan OBE-- kini tersebar luas mulai dari Oekusi, Timor
Leste, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hingga di Pulau Semau (wilayah Kabupaten
Kupang).
Marga EKE dan rumpun
marga terkait berawal dari kehidupan nomaden di puncak dan lereng Gunung Mutis
dan tergolong Suku Pit Ai. Dalam literatur Barat, Suku Pit Ai disebut "the original of Timoris" atau suku
yang paling pertama berada di Pulau Timor. Mungkin karena dalam cerita rakyat
dikatakan bahwa moyang Suku Pit Ai itu digolongkan sebagai "belo la'e muitsam babnai, ma fafi 'la'e
muitsam babnai” dan juga disebut "ka
ma huma ma kama masa" yang artinya bahwa mereka merupakan bagian
kehidupan yang menyerupai kera dan babi hutan di puncak dan lereng Mutis dan Babnai,
mereka tidak punya rupa dan tampang manusia.
Hingga sekarang hampir
saja tidak ada tulisan tentang Suku Pit Ai. Demikian pula sulit mengidentifikasi
pasti marga-marga mana saja, baik marga induk maupun marga pecahan, yang
tergolong Suku Pit Ai. Ayub Titu Eki mengatakan, “Banyak orang Pit Ai yang
sudah tidak tahu asal-usulnya sendiri atau mungkin pula ada yang malu mengaku
diri sebagai bagian Suku Pit Ai karena merasa serupa dengan kera dan babi.”
Kehidupan di Mutis pun
menyimpan banyak cerita menarik. Sonbai yang datang dari arah timur mendapat
kekuasaan raja dan terkenal sebagai raja di daratan Pulau Timor setelah bertemu
dan mengawini seorang putri di Mutis yaitu Bi Lila Kune. Kune dan Pit Ai uf
mengangkat Sonbai jadi usif sekaligus
menjadi amaf bagi mereka.
Yang juga menarik, api
pertama kali ditemukan di Mutis. Saat itu pula manusia mulai mengganti
kebiasaan memakan makanan mentah ke makanan-makanan yang dibakar atau dimasak.
Yang tak kalah menarik
ada Pulau Batek yang dalam cerita rakyat disebut "fatu sinai". Pulau ini merupakan salah satu bongkahan dari Gunung
Mutis yang terlepas dan bergulir ke laut. Lalu bekas gulirannya membentuk
sungai yang membatasi Oekusi (enclave
Negara Timor Leste) dan Oepoli (wilayah Republik Indonesia).
Dari sisi demografi, terdapat
delapan marga menyangga Gunung Mutis, yaitu di bagian barat ada Kelen, Tbana, Tusala dan Laome, kemudian di timur ada Lake, Bana, Ato dan Sanak. Bagaimana hubungan di antara mereka dan hubungan delapan
marga itu dengan marga induk lain sulit diungkap sembarang orang. Karena, ada
keyakinan salah tutur pasti ada kecelakaan. Pun demikian sulit dijelaskan di
mana sesungguhnya pusat peradaban kehidupan di Mutis yang selanjutnya berkembang
ke berbagai arah di daratan Timor.
Yang pasti bahwa Suku Pit
Ai menguasai cerita yang berkaitan dengan Mutis sebagai pusat peradaban di Pulau
Timor. Bersama dua saudaranya Kono (TTU) dan Oematan (Molo, TTS) sebagai tol muni (tunas yang muncul kemudian) menempati
"pahe usan ma tanan" (pusat
wilayah) dan menempatkan enam Amaf
sebagai "apao eno ma ase’at"
(penjaga pintu masuk Timor). Lalu mereka disebut "Am natun" dan "Am
nuban" di bagian Selatan, "Am Jabi" dan "Am lasi" di
Barat, sedangkan “Am Foan” dan “Am Beno” di Utara. Dengan penempatan ini
kemudian terjadi klaim kekuasaan atas tanah antar-suku.
Suku Pit Ai sendiri
mengklaim wilayah kekuasaan atas tanah dari puncak Gunung Mutis hingga ke Pantai
Sulamu dan Oesapa. Wilayah ini dalam bahasa adat disebut pahe nak a'milih ma' fen fena ma na hae tun lam a'no'e'. Berdasarkan
klaim kekuasaan atas tanah inilah lantas terjadi eksodus sebagian besar orang Suku
Pit Ai ke arah barat. Diawali dengan hijrahnya usif Tbana ke Sonum Bi Nifu (daerah
Sulamu ) dan marga Isliko (usi kliko = raja muda) di Oesapa yang adalah putra bungsu
usif Tbana. Tujuan migrasi untuk menempati tanah kosong agar tidak ditempati
pendatang baru. Sekarang ini banyak marga yang sudah bercampur-baur dan sulit
diidentifikasi sebagai keturunan Suku Pit Ai karena mereka sendiri tidak menguasai
sejarah asal-usulnya.
Salah satu gelombang
migrasi Suku Pit Ai dari Mutis ke arah barat punya kaitan dengan keturunan Ayub
Titu Eki. Mereka datang dari Mutis dan tinggal sementara di Fatu Kael, Desa Ohaem
2 Amfoang Selatan. Beberapa saat lalu mereka pindah lagi dan menetap di Kol ’Oel,
Desa Tanini. Setelah beberapa waktu mereka tinggal bersama di Kol ‘Oel --yaitu
salah satu bukit tajam yang dilalui jalan poros tengah-- mereka lalu membagi
diri dalam empat kelompok untuk menguasai tanah sekitarnya. Alasannya, tanah Suku
Pit Ai sudah putus di tengah oleh pendudukan Suku Sonbai di Kauniki dan Suku Amfoang.
Pembagian keluarga Kol
'Oel menjadi empat batu atau fatu ha,
masing-masing Tanini untuk Sila, Lopo, Tael, Sete (Nenobahan ) Eke dan Musu;
Nunasi untuk Ate, Tafeten, Lij dan Mat-Isu; Oelnaineno untuk Tono, Aki, Nifu
dan Selael (Eke); dan Fatuone untuk Elan, Tkene, Nofu dan Luma. Kedudukan
keluarga Kol ‘Oel dianggap menempati wilayah yang digambarkan sebagai daerah kerongkongan (pahe non tannin) atau daerah yang harus
dijaga dan dipertahankan sebagai penentu mati-hidup? Tidak jelas mati-hidup
apa! Yang pasti bahwa Toto Smaut dari rumpun keluarga Kol 'Oel di Fatuone
menjadi panglima perang Raja Sonbai. Literatur Barat menyebut adanya banyak
pahlawan tetapi yang diberi gelar "Meo" (Panglima) hanya Smaut. Dia
pernah ditangkap tentara Belanda dan dibawa ikut serta dalam delapan medan
perang di seberang lautan dan terakhir dikirim kembali dari Aceh ke Timor
karena dia berhasil membakar benteng musuh Belanda. Dia mati di Fatuone setelah
sakit.
Dalam pembagian empat
kelompok/batu di atas, marga Eke menjadi salah satu Amaf di Tanini dan
mempunyai bagian warisan tanah leluhur. Kemudian dengan alasan perkawinan,
marga (TITU) EKE pindah dari Tanini ke Fatuone. Marga Eke dikenal sebagai salah
satu Amaf atau pohon marga bagi keluarga lain. Di Mutis, marga EKE menjadi Amaf
bagi Tusala yang menjadi usif Suku Pit
Ai. Marga EKE bukan keturunan usif
dan bukan pula keturunan Suku Sonbai, tetapi sebagai salah satu Amaf baik di
Kol 'Oel maupun di Mutis. Banyak orang sering salah mengaggap Ayub sebagai keturunan
Usif dan tergolong Suku Sonbai karena ayah Ayub menjadi Temukung Fatuone
Kauniki, bergabung dengan Suku Sonbai dan melepaskan diri dari tiga batu Kol 'Oel
lainnya.
Menurut budaya orang
Timor, tiap marga punya Oe Kanaf dan Faot Kanaf (mata air nama dan batu nama). Bagi
marga Eke, itu semua ada di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS.
Batu nama disebut Fatu Bat (batu dalam posisi melintang) sedangkan mata air
nama disebut Niuf Enos (artinya kolam pelangi). Fatu Bat menyerupai bongkahan
batu marmer di lereng barat Gunung Mutis dan dekat Niuf Enos yang merupakan
sumber mata air terbesar di Nenas yang membentuk lembah kecil. Tiap tahun
lembah kecil ini menjadi sumber penghasil bawang terbesar di Nenas. Ketika keluarga
Ayub Titu Eki datang ke tempat itu, orang di sana mengatakan, “Ini tanah
pusakamu, kami hanya menjaga sambil mengambil hasil untuk kehidupan keluarga kami.”
Tentang pohon keluarga
Titu Eki, yang diketahui pasti hingga Ayub Titu Eki sudah generasi ketujuh. Dimulai
dari Tuka Eke yang memperanakkan Titu Eke bersama tiga saudara laki-laki lain
dan seorang saudara perempuan (One Eke). Titu Eke memperanakkan Noko Eke
(senior) bersama tiga saudara laki-laki lain dan beberapa saudara perempuan.
Noko senior hanya memperanakkan satu putra dan dinamakan Noko Eke (yunior)
beserta beberapa saudara perempuan. Diceritakan bahwa Noko senior dan yunior
selalu aktif dalam berperang sampai wilayah Amfoang dan TTS. Noko senior
dinyatakan tertangkap musuh di medan perang dan tidak kembali ke rumah, lalu
putranya mengganti namanya menjadi Noko Eke (yunior).
Selanjutnya Noko
yunior memperanakkan dua anak lelaki yaitu Talan Eke dan Klo’E Eke. Kemudian
Klo’E memperanakkan Lomo Titu Eki
(Frederik Titu Eki) bersama enam saudara perempuan dan seorang saudara
laki-laki (Foan Eki) yang meninggal dalam usia belasan tahun. Untuk memperbesar
nama keluarga lantas Klo’E Eke mengambil tiga anak angkat --dua laki-laki dan
seorang perempuan. Lomo Eke memperanakkan Funu Eke atau Funu Obe, yaitu Ayub
Titu Eki bersama lima saudara lelaki dan tiga perempuan. Nama moyang TITU yang
namanya sekarang dipakai menjadi marga Titu Eke tidak diambil dari nama putra
Tuka Eke tapi dari nama moyang Titu jauh sebelum itu, mungkin masih tertinggal
di Mutis.
Mendiang Adam Eke
(Pensiunan Polisi) pernah memberitahukan kepada Ayub Titu Eki bahwa, saat dia
berkunjung ke Desa Klikur di Lembata, ternyata dia menemukan keluarga dengan
Marga Eke dan mereka katakan bahwa moyang mereka datang dari Timor, dari
Niki-niki. Kalau benar demikian maka dia bukan dari Niki-niki melainkan dari
Kauniki. Ternyata ada beberapa marga Suku Pit Ai di Pulau Lembata, seperti
Kelen (e bunyi ekor di Lembata dan e bunyi elang di Timor) dan Elan. Mungkin
masih ada marga lain di Lembata yang asal-usulnya sama dengan marga Suku Pit Ai
di Timor.
Sebagaimana lazimnya
di Timor tiap marga punya tanda cap khusus pada paha sapi, kuda, pohon pinang
dan kelapa atau benda lain sebagai tanda milik marga yang empunya cap. Begitu
pula seluruh Suku Pit Ai, mereka pun punya malak (tanda cap) yang berbentuk
segitiga sebagai tanda Gunung Mutis. Tiap marga buat variasi tanda lengkung
empat (4) di ujung. Sedangkan marga Titu Eki, selain lengkung, juga ada garis lintang
dan disebut MAL BATAN.
B.
Anak
Temukung yang Super Aktif
Oelatfog cuma satu
kampung kecil namun merupakan pusat wilayah ketemukungan Fatuone. Hanya tujuh
keluarga yang tinggal di sana dan semuanya merupakan keluarga dekat. Mereka
adalah keluarga Frederik Titu Eki, yang lebih populer dengan nama asli Lomo
Klo'E bersama istrinya dengan nama asli Kuku Be' dan nama nasrani Bendelina
Tafeten. Marga Bendelina sesungguhnya adalah Nonesini, bukan Tafeten. Dia
terlahir dari mendiang Be' (Yohanes) Nonesini, keponakan kandung usif Matkauna
di Amfoang. Dari Federik (na Lomo) dan Bendelina (bi Be') inilah kemudian lahir Ayub Titu Eki pada tanggal 5 Desember
1956 sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara di Oelatfog, Ketemukungan
Fatuone, Kefetoran Kauniki.
Enam keluarga lain di
Oelatfog adalah empat saudara perempuan kandung Frederik, bersama suami mereka,
dan dua keponakannya yang sudah berkeluarga dan mandiri. Oelatfog diapit kampung
kecil lain, masing-masing Oelatimo (satu kilometer arah utara) dan Biobenu (1,5
kilometer arah selatan). Di Oelatimo berdiam bi Sete Eke bersama suami dan
empat keluarga bersaudara. Bi Sete Eke adalah keturunan Pato Eke yang
bersaudara kandung dengan Titu Eke di Tanini, namun keturunan ini punah lantaran
tidak ada anak laki-laki. Di Biobenu tinggal keluarga Salael Eke dan beberapa
saudaranya. Salael merupakan keturunan One Eke yang bersaudara kandung dengan
Noko Eke senior. Jadi pilihan tinggal di Oelatfog, selain mengikuti ternak,
juga ada reuni marga Eke dari Tanini (Sete Eke), Fatuoen (Frederik Titu Eki)
dan Nunasi (Salael Eke).
Kampung lain yang
berdekatan dengan Oelatfog dengan jumlah rumah tangga yang lebih banyak adalah
Fatumtasa (kurang lebih 7 Km ), Papa'u (kurang lebih 8 Km), Huebanam (kurang
lebih 10 Km) dan Takemanus (kurang lebih 6 Km). Selain itu masih ada kampung
besar dan kecil lain yang terletak sekitar 10 Km dari Oelatfog. Sungguhpun yang
tinggal sekampung atau berdekatan kampung adalah saudara dekat, namun kebebasan
bertamu sangat amat dibatasi. Anak-anak yang bertamu dan makan di rumah
keluarga dekat sekalipun selalu dicela dengan kata “am neok makiso“ atau tukang makan di rumah orang. Akibat celaan
ini, orang Timor yang ditawari makan biasanya menolak dengan halus “saya
kenyang “ walaupun sebetulnya lapar.
Walau Oelatfog cuma
sebuah kampung kecil, tapi gaungnya besar. Penyebabnya, Frederik Titu Eki menjadi
Temukung Fatuone dan memerintah sekitar 130-an kepala keluarga dalam sebelas
kampung besar dan kecil di luar Oelatfog sebagai pusat pemerintahan. Tahun 1958
Frederik membangun rumah ibadat keluarga dan sebagian besar warga Fatuone
menjadi jemaat gereja baru di Oelatfog. Kendati menjadi pusat pemerintahan tapi
tidak ada balai pertemuan khusus selain rumah tinggal Frederik yang luas
sekaligus menjadi balai pertemuan. Hal inilah yang membuat Ayub sejak kecil terbiasa
menerima kunjungan banyak orang tiap hari.
Selain sebagai
Temukung selama kurang lebih 20 tahun, Frederik sibuk dalam tiga urusan. Pertama, mengurus ternak lepas di padang
gembala, yaitu kuda, sapi dan kerbau. Ternak sapi dan kerbau yang diurus
langsung terdiri dari dua kandang kerbau masing-masing kandang berisi puluhan
ekor dan dua kandang besar sapi masing-masing kandang untuk beberapa kelompok
sapi. Setiap keluarga menaruh tanda khusus pada tiap ekor sapi dan kerbau
berupa cap paha dan/atau potongan daun telinga. Untuk hal ini, keluarga Titu
Eki menggunakan dua potongan lepas pada daun telinga kanan saja. Urusan
mengunjungi dan memantau keadaan tiga kandang sapi lain yang dijaga oleh
gembala upahan di wilayah Tanini merupakan tugas khusus Ayub dan kadang
dilakukan oleh kakaknya yang lain. Sedangkan ayahnya tidak pernah melakukan pekerjaan
ini.
Urusan ternak kuda
dilakukan dalam dua cara, yaitu kuda ikat dan kuda lepas. Kuda ikat biasanya berupa
kuda jantan muda sekitar lima ekor, tidak pernah lepas tali dan siap digunakan
setiap saat. Kuda ikat adalah kuda pilihan untuk pacuan. Buat latihan berpacu
kuda, Ayub selalu menjadi partner berpacu bersama ayahnya --terutama setelah
meninggalnya Tante Mina sebagai pengasuh Ayub. Kesibukan mengurus kuda ikat berupa
memindahkan kuda di padang gembala tiga
kali sehari, termasuk memberi minum dan memandikan kuda. Dua kuda ikat selalu
menjadi kuda istimewa karena kuda lama terlatih, pintar dan kuat sehingga wajib
diberi makan jagung tiap hari. Kuda lepas merupakan kuda bibit sekaligus
menjadi kuda pengangkut barang yang dilepas berkelompok di padang gembala.
Tiap keluarga memasang
cap marga di paha kanan setiap kuda.Tiap kelompok kuda bibit minimal terdiri
dari satu jantan dan satu betina. Kebanyakan terdiri satu jantan bersama tiga
betina dan anak-anak kuda. Jenis kuda ini lazim ditangkap dan digunakan
tenaganya lalu dilepas di kampung dan kuda-kuda itu kembali sendiri ke padang
gembala. Pekerjaan menangkap kuda di padang memerlukan keahlian dan kecepatan
bergerak. Sebab, kuda-kuda itu bisa lari menghindar. Ayub selalu aktif
melakukan pekerjaan ini penuh riang dan gembira.
Kesibukan kedua yang
banyak menyita waktu Frederik dan menjadi medan pembentukan karakter Ayub adalah
berburu di hutan. Berburu rusa, babi hutan serta kerbau dan sapi liar warisan
kakeknya dilakukan setiap pekan sekali. Oelatfog menjadi kampung daging dan
susu (sapi dan kerbau). Hampir tiap hari tersedia daging mentah dan daging
kering yang dijemur ataupun diasap. Frederik sangat jago menembak dan Ayub juga
telah dilatih dan sudah mulai menembak dengan senapan tumbuk sejak kelas IV SD.
Berburu sapi dan kerbau liar biasa dilakukan beberapa hari dan bermalam di
hutan. Daging dan kulit dijual ke pasar setelah dijemur hingga kering.
"Waktu kelas V
dan VI SD, saya bersama ayah sering tidur di hutan, jauh dari rumah untuk
berburu sapi dan kerbau liar. Kami mendapat banyak uang dengan menjual daging
kering (dendeng) dan kulit. Saya punya senapan sendiri bernama ‘Alai’. Saya
juga pernah menembak mati sapi, rusa dan babi hutan hanya dengan sekali
tembakan. Saya selalu diajar cara membidik sasaran tembak yang mematikan. Meskipun
berburu di hutan tapi saya tetap rajin ke sekolah. Pagi hari saya sembunyikan
senapan di hutan lalu ke sekolah dengan berkuda menempuh belasan kilometer
jauhnya. Lalu ketika keluar sekolah, saya titip buku-buku saya di rumah guru
dan balik lagi ke hutan. Saya bangga dan senang sekali jalan sendiri dengan
menunggang kuda terlatih sambil memacu berlari kencang di jalan yang
berkelok-kelok," kenang Ayub.
Aktivitas ketiga yang
membuat Frederik sibuk dan selalu mengikut-sertakan Ayub adalah pekejaan
menyelesaikan kasus. Saat itu banyak kasus yang harus diselesaikan sendiri tanpa ada yang
melapor ke polisi. Kasus gangguan
hubungan rumah tangga yang paling banyak. Ada juga kasus sengketa batas tanah. Pada suatu kali terjadi perang batas
dan saling melempar batu. Diam-diam Ayub
ikut serta dengan kakak sepupunya dan bertugas
memilih dan mengumpulkan batu yang dapat dipakai untuk melempari musuh. Dengan terus mengikuti Frederik dalam aktivitas penyelesaian kasus, Ayub mampu merekam banyak
hal dalam benaknya, terutama dalam upaya
mendamaikan orang.
Bagi Frederik, hampir
tidak ada waktu untuk kerja di lapangan.
Biasanya, kerja di lapangan dilakukan
oleh warga karena dia sangat
dihormati bukan hanya sebagai Temukung tetapi juga karena kedudukannya dalam
struktur adat sebagai amaf (pemangku adat) bagi banyak keluarga. Pembukaan lahan kebun baru biasanya lebih
dari dua ladang berpindah, belum
termasuk ladang lama. Frederik hanya
menyediakan sisi-maka (nasi, daging,
sopi dan sirih-pinang) sebanyak mereka yang
bekerja. Dalam urusan menyiapkan sisi-maka inilah Ayub banyak terlibat sewaktu selesai
jam sekolah atau pada masa liburan.
Pasca panen, kampung kecil Oelatfog selalu ramai. Semua anak (keturunan saudara
perempuan Titu Eki) yang jauh dan dekat selalu datang mengantar sembahan berupa padi dan jagung bagi atoen
amaf (Frederik). Sebaliknya, mereka
pulang membawa daging. Oelatfog juga selalu ramai upacara adat untuk syukuran panen yang diakhiri dengan acara fon
so e'. Hanya ada dua golongan yang
diketahui dari marga yaitu neo
haug dan neo noni untuk saling
mengotori muka dengan campuran kotoran.
Sungguh ramai acara ini tetapi
sudah punah dalam tradisi.
Kampung Oelatfog yang
kecil itu dirintis oleh kakek Ayub, KloE Eke, sejak dia masih muda. Dia mendirikan kandang kerbau dan berkebun di sekitarnya. Akhirnya membuat rumah tinggal jauh dari rumah lama. Jarak menuju
perkampungan lama Fatuun, di balik bukit
Tanini, sekitar 20 Km. Menurut cerita, air Oelatfog
itu air yang ditanam. Ada
kepercayaan orang Timor bahwa air itu
sesuatu dapat ditanam maka ada nama
Oesena yang artinya Oe = air dan sena =
tanam.
KloE Eka yang
menikahi Kuku Bat tidak lama hidup, tetapi sukses meletakkan dasar didikan bagi putranya Frederik Titu Eki. KloE meninggal pada saat Frederik baru berusia sekitar 16 tahun. Segera setelah KloE meninggal dunia dan tidak lama kemudian, Foan, kakak laki-laki Frederik juga meninggal. Keluarga ini benar- benar
terpukul, sampai-sampai Frederik
pun harus berhenti sekolah saat
di kelas dua SR. Sungguh pun demikian, dia
matang dalam didikan ayahnya
sebelum meninggal. Ketekunan dan
ketaatannya pada prinsip-prinsip hidup keluarga, itulah yang membuatnya dipercaya menjadi Temukung Fatuone, Kefetoran Kauniki, jabatan
setingkat kepala desa masa kini.
Frederik Titu Eki memegang
jabatan Temukung Fatuone sebelum
Ayub lahir. Jabatan itu baru berakhir
bersamaan dengan berakhirnya masa
pemerintahan swapraja sekitar tahun 1969-1970. Pada saat itu pusat pemerintahan Desa Gaya Baru Fatuone
dipindahkan dari Oelatfog ke Tiluntob. Tiluntob berati konsentrasi pemukiman. Semua warga Kampung Fatuone
diwajibkan pindah ke Tiluntob. Frederik sendiri sudah pindah ke
Tiluntob sejak dia mendirikan SD GMIT Pehe
pada tahun 1966. Pehe adalah nama asli dari Kampung Tiluntob.
Frederik memang hanya mengenyam
pendidikan kelas dua SR tapi dia
berhasil mendidik Ayub dengan menerapkan prinsip-prinsip hidup keluarga dengan
disiplin yang keras ala militer.
C.
Diramal
tak Bernasib Baik
Siapa sangka bahwa
diramal tak bernasib baik, diperlakukan tak senonoh, justru berbuah
manis dan membawa berkat bagi banyak orang. Inilah kisah nyata dan unik dalam perjalanan
dan pengalaman hidup seorang Ayub Titu
Eki. Mempunyai anak laki-laki, bagi
masyarakat Timor, merupakan sebuah kebanggaan. Hanya laki-laki yang meneruskan marga
atau fam dari klan. Perempuan tidak; karena mereka bersatu
dengan suami dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga suaminya.
Frederik Titu Eki pun
merasa senang dan bangga sesaat. Setelah
itu perasaannya terganggu lantaran
ramalan tentang nasib Ayub. Ketika
Funu Obe (Ayub Titu Eki) baru lahir
sebagai putra kedua dan anak ke-4 dari sembilan bersaudara, dia diramal
kelak bernasib buruk karena ada tanda-tanda tidak normal. Peramal itu
seorang sahabat dagang ternak etnis Tionghoa
yang biasa datang membeli sapi dan beli kerbau di situ. Sahabat ini dikenal
baik dan jujur, serta diperlakukan seperti keluarga sendiri. Sahabat meramal Funu bakal tidak memiliki
masa depan yang baik, tidak beruntung.
Funu diramal akan selalu membuat keluarga tegang dan pusing.
Funu akan menjadi anak yang malas dan bernasib malang.
Nenek Kuku Bat (ibu
kandung Frederik) dan lima orang anak
perempuannya terpukul dan sangat
sedih, hati mereka terusik gara-gara
ramalan tentang nasib masa depan Funu yang suram. Ini anak laki-laki yang kelak merusak kehormatan marga Titu Eki. Keluarga kita terpandang dan punya pengaruh, sementara anak ini
datang membawa sial. Mereka mulai
berpikir tentang cara apa yang harus
dilakukan terhadap anak ini. Kalau saja
belum jadi Kristen, maka caranya gampang, langsung saja dicekik dan
dikubur seperti kebiasaan di masa silam.
Kemudian nenek Funu
memberikan saran: “Ayo, kita berikan saja kepada keluarga Lot Tafinit yang tidak punya keturunan.” Hampir saja semua setuju dengan usulan simpatik ini. Mama Bendelina diam-diam tidak setuju, tetapi tidak mampu
menyatakan apa-apa. Frederik sedikit pun
tidak pernah menunjukkan sikap terpengaruh atas
hasil ramalan sahabat dagangnya, melainkan selalu sibuk dengan agenda kerjanya yang padat. Sedangkan Welhemina Titu
Eki atau Tante Mina (be 'Noko) tidak ragu bertindak. Ia dan suaminya Tot
Noebu'i (Thobias Boko) meminta Funu menjadi anak mereka. Ia berani menantang
ide mama kandungnya; ”Mengapa harus berikan Funu kepada orang lain, kenapa mama
tidak berpikir tentang saya ini sebagai anak kandungmu yang mandul?” Akhirnya, semua
membisu tanda setuju.
Rumah Tante Mina yang
berjarak tujuh meter dari rumah Frederik membuatnya mudah mengurus Funu sehari-hari.
Ibu Bene (Bendelina) hanya sibuk menyusui selama 12 bulan. Tepat hari ulang
tahun pertama, Tante Mina mulai full time
mengurus Funu dengan penuh kasih sayang. Karena kesibukannya mengurus Funu,
Tante Mina jarang membantu kerja di kebun atau mengurus ternak. Apalagi dia
yang paling malas dalam keluarga Titu Eki. Sebelum hari ultah kedua, suami Mina
jarang pulang ke rumah dan akhirnya mereka bercerai di tahun berikutnya. Mina
tidak tidak peduli meski tidak punya suami. Bahkan ia semakin bahagia bersama
Funu yang lucu dan menyenangkan.
Sudah kehilangan
suami, diterpa pula badai dalam keluarga. Mina tiap hari selalu dimarahi oleh
ibu kandungnya karena waktunya hanya untuk mengurus anak. Akhirnya Mina
menjawab omelan ibunya dengan harus pergi pagi dan pulang sore hari untuk bekerja
di ladang yang jauh dari perkampungan, sementara Ayub yang nakal dan manja
dijaga oleh sang nenek.Tetapi sang nenek juga sibuk menenun tiap hari sehingga
kakak perempuan Ayub yang baru berumur empat tahun yang ditugaskan menjaga Ayub
kecil. Namun, sang kakak pun menyerah karena Ayub merangkak ke sana ke sini
serta meraba ini dan itu. Belum lagi dia menangis minta digendong. Ketika kakak
menyerah dan nenek mulai terganggu, maka si nenek mengikat salah satu kaki Ayub
dengan kain yang disambung tali dan dililit ke tiang tenda tempat menenun, layaknya
seekor binatang piaraan. Ayub sulit merangkak jauh selain hanya berputar
mengelilingi tiang tenda. Kalau menangis dibiarkan hingga berhenti sendiri.
Bilamana mengantuk, dia dibiarkan tertidur di tikar yang sudah dibentang di
samping tiang tenda.
Perlakuan nenek
terhadap Ayub belangsung dari hari ke hari, masuk pekan ke pekan, tapi selalu dirahasiakan agar tidak diketahui Tante Mina. Bagi orang lain, hal ini merupakan suatu
siksaan. Bahkan termasuk pelanggaran hak
asasi manusia di masa kini. Tapi bagi sang nenek, perlakuan ini merupakan suatu
bentuk didikan agar anak kelak mandiri, tidak manja dan tidak suka merengek. Pada
hari-hari permulaan diikat, Ayub banyak
menangis tapi dibiarkan sampai Ayub
menikmati ikatan kain pada kakinya.
“Saat masih belajar
merangkak dan belajar berdiri, saya sangat aktif dan tidak pernah diam. Supaya nenek tidak terganggu saat menenun, ia
ikat kaki saya pada tiang tenda. Ya, saya tidak bisa ke mana-mana lagi. Hanya berputar-putar saja di situ dan jangan harap digendong. Dibiarkan
terus menangis sampai berhenti sendiri
karena kelelahan. Ini memang cara
mendidik dalam keluarga saya. Anak kecil tidak boleh terlalu diproteksi sebab pada akhirnya dia akan menjadi manja dan tidak mandiri setelah besar,” tutur Ayub mengenang masa
kecilnya.
Pada suatu hari, Tante
Mina pulang ke rumah sebelum jam 12
siang lantaran sakit kepala. Ia kaget
terheran-heran melihat Ayub terikat di samping
neneknya yang sibuk menenun. Tante Mina tak kuat melihat Ayub jika diperlakukan seperti itu.
Mulai hari itu, Tante Mina tidak percaya lagi pada ibunya untuk mengasuh
Ayub. Demi Ayub, perang mulut pun terjadi.
Karena itu, Tante Mina selalu membawa Ayub ke mana saja pergi. Di pelukan Tante Mina, Ayub kembali bermanja
ria dan suka merengek minta dibelai dan
digendong. Ayub terus tumbuh secara fisik melewati ulang tahun kedua, ketiga dan seterusnya dalam keadaan
sangat manja dan nakal. Hal ini
membuat nenek yang meninggal pada tahun 1959, Frederik dan tante-tante yang lain sering mengomeli Tante
Mina karena dianggap meletakkan dasar
kepribadian yang jelek menurut tradisi
keluarga.
Demi Ayub, Tante Mina mengatur strategi. Pertama, membuat
rumah tinggal baru agak jauh (sekitar 70
meter) dari rumah Frederik. Ia tinggalkan rumah lama di samping rumah
bulat ibunya yang sudah menjanda 29
tahun dan terletak di belakang lopo besar Frederik. Tante Mina dan Ayub
mendiami rumah bulat kecil di
tengah pepohonan mangga dan sirsak yang rimbun sehingga memberi banyak kebebasan bagi Ayub untuk bermain sepuasnya.
Kedua, Tante Mina
memilih menenun dan memelihara ternak babi saja sehingga aktivitasnya hanya di
sekitar rumah agar selalu dekat besama Ayub kecil. Kawanan sapi Tante Mina di
padang dipercayakan kepada gembala upahan. Hasil ternak sapi, babi dan hasil tenun biasanya dibarter dengan padi, jagung dan barang
lainnya buat keperluan Tante Mina dan Ayub.
Bukti keringat Mina berupa sapi menjadi
kenangan tak akan terlupakan. Pada tahun 1974, Ayub menjual
sapi warisan Tante Mina untuk membeli
sebidang tanah (sekitar 450 meter
persegi) dan tahun 1977 membangun sebuah rumah (sekitar 55 meter persegi) di atas tanah itu di Jalan Palem nomor 17 Naikolan
Kupang. Setelah meraih gelar sarjana tahun 1983, Ayub menjual sisa warisan Tante Mina dan membeli sebuah sepeda motor baru, walaupun pada saat itu belum banyak pengguna
sepeda motor.
Ketika memasuki usia
SD, Ayub diantar dan didaftarkan di SD GMIT Oepula, sekitar 12 Km dari Oetlatfog. Tiap hari,
bersama dua kakaknya perempuan dan sejumlah anak lain dari kampung
sekitar, saat matahari mulai terbit, Ayub sudah berjalan sejauh 2-3 Km
ke sekolah. Tante Mina pun harus ke sekolah tiap hari karena Ayub tidak akan ke
sekolah jika tantenya tidak ikut serta.
Jika tidak menunggang kuda, berarti Tante
Mina harus menggendong Ayub di tengah
jalan. Bukan karena letih tapi lantaran manja. Tak pelak, banyak orang di kampung menyindir Tante Mina dengan ungkapan “anak sekolah kelas
sepuluh”.
“Saya ingat Tante Mina sering mengakali saya dengan main petak
umpet di balik pepohonan sambil kejar-kejaran. Giliran saya, berhenti sejenak sambil tante
duluan bersembunyi di balik pohon
besar di tepi jalan. Ketika saya lewat pohon itu, tante memutar ke
arah belakang pohon dengan hati-hati
agar dia dapat mengagetkan saya pada
posisi depan. Ini berarti tante harus mengejar saya yang biasa lari lebih cepat dan sejauh
mungkin. Pada giliran saya bersembunyi, tante sudah mengetahui di balik pohon
mana saya berdiri tetapi dia
berpura-pura tidak melihat saya sehingga saya mengagetkan dan mengejar
dia. Tante memang tidak kuat lari jauh
karena sudah berumur 47 tahun. Bermain
petak umpet ini kami lakukan di saat kami
tidak memakai kuda ke sekolah. Bermain kejar-kejaran biasanya akan lebih ramai saat
di Km 7 di mana banyak anak dari Kampung
Tekamanus bergabung menuju ke sekolah,“ papar
Ayub mengenang saat masa kecil bersama tantenya itu.
Tante Mina akhirnya mengambil keputusan untuk membuat rumah
tinggal kedua di pekarangan SD GMIT Oepula. Dua alasan jadi
pertimbangan pokok. Pertama, ia merasa lelah jika pergi-pulang Oelatfog-Oepula tiap hari dengan Ayub; ia juga kehilangan waktu untuk aktivitas
menenun. Setelah membangun lopo kecil
4x5m untuk dia dan Ayub tinggal,
rutinitas pergi- pulang Oelatfog-Oepula
mulai dikurangi, yakni hanya sekali
dalam sepekan. Dengan tinggal di Oepula
dari Senin hingga Sabtu siang, Tante Mina
banyak waktu untuk menenun namun hilang kesempatan memelihara ternak babi. Meski begitu,
bagi Tante Mina, yang terpenting
adalah waktu dan perhatian penuh buat Ayub.
Ayub pun semakin tambah nakal karena
mendapat proteksi berlebih dari tantenya. Murid lain, guru atau siapa saja –bahkan termasuk
ibu kandungnya-- tidak boleh memarahi
Ayub apalagi sampai memukulnya.
“Saya ingat ketika di SD kelas satu, tante saya bawa
parang (golok) untuk potong pak guru lantaran
menjewer telinga saya. Tante
marah berat dan dengan parang di tangan
maju menuju pak guru tapi pak guru menjauh sambil meminta maaf. Tante juga sangat marah bila
melihat orang lain menaruh tangan di atas kepala atau bahu saya. Sebab, bagi
tante, itu pertanda pelecehan terhadap saya. Tante juga tidak pernah lalai
menasihati saya walapun dengan kata yang sangat sederhana. Suatu kali dia
katakan pada saya; ‘Funu jangan nakal. Belajar jadi anak pintar supaya tante
senang melihat Funu jadi tuan lebih daripada pak guru’. Nasihat ini tidak pernah
saya lupakan dan menjadi motivasi kuat
bagi saya sejak kuliah di perguruan tinggi,” kata Ayub penuh kenangan.
Alasan kedua tinggal
bersama Ayub di Oepula agar dapat menjaga jarak dengan Frederik karena Ayub
semakin nakal. Kenakalan Ayub banyak menjengkelkan karena dia selalu memaksa
anak-anak lain, besar dan kecil, agar patuh melakukan perintahnya. Jika tidak, maka
dia tidak segan-segan main pukul atau lempar dengan batu. Dan jika ada orang
tua yang maju untuk membalas, maka dia lari berlindung ke tantenya. Semua
bentuk permainan bersama Ayub selalu meniru aktivitas kehidupan orang dewasa.
Ayub mengajak adu kecepatan
panjat pinang, menunjukkan kelincahan merayap di dahan pohon pendek dan rimbun untuk melakonkan kera sambil ada yang melempar dari bawah dengan
gumpalan lumpur keras. Semua permainan
keras, menantang dan penuh risiko namun sekaligus menggembirakan.
“Ketika saya di kelas
dua SD, saya pernah memotong pergelangan tangan
adik saya dan luka besar mengeluarkan
banyak darah. Untung saja dia cepat
ditolong oleh kakak sepupu. Saat itu,
kami bermain menebas belukar sebagai persiapan ladang. Saya tidak bermaksud
memotong dia tapi waktu dia hendak memeluk pohon
damar, saat itu juga tangan dia
dan parang saya bertemu secara tidak sengaja. Dia sudah dua kali
minta berhenti tapi saya memaksa
bekerja terus sampai kelelahan. Sesudah
peristiwa itu, saya lari ke hutan dan bersembunyi di dalam rumpun bambu. Mereka berulang-kali
melewati tempat itu tapi saya tidak menunjukkan diri. Sekitar 8 jam kemudian saya berpindah tempat persembunyian. Saya memanjat pohon tinggi
yang dililit tali hutan dengan
daun yang rimbun sambil memandang ke arah
jalan untuk melihat siapa saja yang mencari saya. Waktu giliran tante kelihatan, saya panggil ia datang
lalu saya turun dari pohon. Saya
dan tante kena pukul banyak dari bapak,”
Ayub bercerita.
Pukulan Frederik
terhadap Ayub dan tantenya bukan hanya
sekali itu saja tapi banyak kali.
Pada suatu sore, ibu Bendelina
meminta bantuan Ayub mengambil air ke sumber mata air yang berjarak sekitar 300
meter dari rumah. Dengan berat hati Ayub berangkat membawa sebuah periuk tanah. Tapi 100 meter
menjelang rumah, dia lantas menaruh
periuk tanah itu di jalan. Dengan ujung
jari kakinya, dia pun mendorong periuk
menyusuri jalan tanah yang tidak
rata dan berkelok. Apa yang terjadi? Periuk tanah terguling menuruni padang rumput dan langsung tertancap pada ujung batu tajam yang berbungkus rumput tebal. Dengan perasaan
takut, Ayub pulang ke rumah.
“Mengapa kau tidak
bawa air?” tanya ibunya.
Ayub seolah-olah
merasa tak bersalah. Dia pun balik bertanya
pada ibunya yang mulai nampak gusar. “Mengapa
saya diberi periuk pecah untuk mengambil air?”
Karena jengkel, ibunya
meraih sebatang kayu di dekatnya. Ayub
pun dipukulinya. Memang tidak keras. Merasa terancam, Ayub menangis
sejadi-jadinya. Tangisannya mengagetkan Tante Mina. Tergesa-gesa, ia
keluar rumah.
“Mengapa kau
menangis?” Tante Mina bertanya.
“Saya dipukul mama,“
jawab Ayub tanpa menjelaskan seluruh peristiwa kepada tantenya sembari menghapus air
matanya.
Pertengkaran tidak
terelakkan. Ujung-ujungnya, Tante Mina menjambak rambut mama Bendelina.
Persoalan tak cukup berhenti di situ. Ketika Frederik pulang, isterinya mengadukan peristiwa itu. Ayub pun dipukul
sang ayah dengan ranting asam. Tante Mina mencoba melindungi Ayub, mendekap anak kesayangannya. Usahanya sia -sia. Frederik memukul mereka
berdua secara bertubi-tubi.
Akibat menerima banyak
pukulan dengan ranting asam dari Frederik, Tante Mina dan Ayub memilih tetap tinggal
di Oepula dan pulang ke Oelatfog dua
kali sebulan. Ia sibuk menenun dan
menghasilkan banyak selimut untuk laki-laki , kain sarung untuk perempuan, saku
siri pinang dan ikat pinggang. Ia juga semakin banyak menasehati Ayub agar
menjadi anak baik, tetapi dia tidak pernah memarahi Ayub. Ia
sangat memproteksi dan memanjakan Ayub.
Hidup bersama-sama dengan
orang Oepula yang tergolong Suku Sonbai,
menimbulkan kesan buruk bagi Tante
Mina. Beberapa di antara mereka
mengambil hasil tenunan namun lambat
membayar. Bahkan, salah satu di antara mereka terkesan sengaja tidak mau
membayar dan dia sudah mengambil dua
lembar selimut besar. Suatu ketika Tante
Mina menagihnya dengan nada kasar dan
orang mengingatkan Tante Mina bahwa
orang itu punya ilmu sihir yang
ditakuti banyak orang . Tante Mina tidak peduli
dan terus menagih tapi sia-sia saja
usahanya.
Tak lama berselang
Tante Mina jatuh sakit. Ia tidak pernah
mengeluh karena hanya berdua dengan
Ayub tinggal dalam sebuah gubuk
kecil di pekarangan sekolah. Beberapa kali Ayub melihat air matanya menetes membasahi pipinya yang makin keriput. Ketika Ayub bertanya mengapa tante menangis, dia hanya geleng
kepala. Katanya, ada kemasukan cabe di mata.
Ia menyembunyikan kepedihan hatinya
di mata Ayub. Pada hari Sabtu-Minggu itu ia mengajak Ayub pulang ke Oelatfog dan meninggalkan alat tenunnya di
Oepula. Sepanjang jalan dan tiba di
Oelatfog, ia tidak menunjukkan
tanda-tanda bahwa ia sedang sakit.
Malam pertama di
Oelatfog, Tante Mina dan Ayub tidur di
rumah bulat yang sudah mereka tinggalkan
beberapa pekan. Sepanjang malam ia sering membangunkan Ayub karena bermimpi
aneh. Ia lalu minta Ayub memijitnya. Keesokan harinya ia malah minta tidur di salah satu kamar di rumah Frederik. Alasannya, ia tidak bisa
tidur nyaman di rumahnya karena selalu dibayangi mimpi aneh. Meski begitu,
keluarga tidak menaruh curiga bila
ia sedang sakit.
Tante Mina minta Ayub
agar tetap menemaninya di kamar tidur.
Di tengah pergolakan batin karena
mimpi-mimpi buruk yang menakutkan, Tante Mina terus memanggil Am obe dan bukan Funu
seperti biasanya panggilan nama kampung Ayub. Pada hari
berikutnya, ia menggigil ketakutan
hingga buang air di tempat tidur. Ia juga terus memeluk erat dan mencium Ayub kecil sambil terus memanggil: “Am obe.. am obe..” Seolah
dia sudah tahu bahwa akan terjadi
perpisahan di antara mereka untuk selamanya. Selanjutnya, Bendelina, ibu
kandung Ayub, ganti yang menjaga Tante Mina
sedangkan Ayub disuruh pergi mencuci pakaian kotor tantenya di kali yang berada tak jauh dari rumah
mereka. Setelah mencuci, Ayub tidak
segera pulang ke rumah tapi masih asyik bermain di kali sekitar dua atau tiga jam sambil menunggu cucian kering.
Ayub pun tidak menyangka kalau siang itu sekitar pukul 10.00 tantenya harus pergi
untuk selamanya ketika Ayub baru duduk di bangku kelas tiga SD. Ketika Ayub sedang asyik bermain sambil
menunggu cuciannya kering,
tiba-tiba dia dikagetkan oleh tangisan histeris dan dua bunyi letusan senapan tumbuk
sebagai pertanda ada orang meninggal dunia. Ayub segera berlari pulang ke rumah dan ternyata Tante Mina sudah terbujur kaku di tempat tidur. Tak ada lagi panggilan kasih am obe
atau Funu dari suara yang lembut, tidak ada lagi
pelukan hangat dan ciuman penuh kasih sayang. Ayub menangis sejadi-jadinya dan membanting diri di lantai rumah. Tante Mina tetap membisu dan pergi
menuju alam baka. Selamat jalan Tante
Mina sayang. Ayub tidak akan pernah melupakan kasih sayang tante sambil terus
berjuang menjadi orang baik sesuai pesan tante.
D.
Menempuh
Jarak 24 Kilometer demi Ijazah SD
Frederik Titu Eki cuma
mengenyam pendidikan kelas dua SR zaman Belanda. Namun dia menyadari betul betapa
pentingnya pendidikan buat pembentukan
masa depan anak dan pintu gerbang
mencapai tingkat kemampuan berpikir yang baik
menuju keadaan hidup yang jauh lebih baik. Cara berpikir demikian dia peroleh dari pengalaman pergaulan dengan banyak tamu yang datang mengunjungi dan bermalam di rumahnya. Sebagai Temukung Besar Fatuone, dia kerap mendapat kunjungan orang-orang terpelajar. Apalagi dikunjungi pedagang ternak yang sambil berdagang juga bertukar pikiran
tentang masa depan anak-anak. Semua yang
dia pikirkan tentang pentingnya pendidikan selalu dijadikan bahan nasehat kepada anak-anaknya.
Disadari pula oleh Frederik
bahwa memiliki ternak sapi, kerbau dan
kuda dalam jumlah yang banyak sekalipun
sudah pasti tidak bertahan di tangan
anak cucu. Banyak orang tua yang kaya
ternak namun anak-anaknya jatuh miskin. Ternak yang banyak cepat punah begitu pemiliknya meninggal. Karena itu,
Frederik mendorong anak-anaknya terus bersekolah. Dia juga sering menasehati dan memarahi
rakyatnya jika tidak menyekolahkan anak-anaknya.
Putra sulung Frederik,
mendiang Eliazer Titu Eki, disekolahkan di SD GMIT Taemaman, sekitar 20 Km dari
Oelatfog. Setelah tamat SD, Eliazer
diantar ke Kupang untuk mengikuti
pendidikan SMP bersama beberapa anak
dari Fatuone dan sekitarnya. Frederik
pun membeli sebidang tanah dan membangun rumah buat Eliazer di Kupang agar bisa sekolah dengan tenang.
Sayangnya, atas bujukan tante -tantenya yang lebih cinta harta daripada
pendidikan, Eliazer pulang
kampung sebelum tamat SMP. Sedangkan tanah dan rumah diambil orang secara
sia-sia. Kesadaran menyekolahkan anak di SD pada masa itu sudah mencakup anak
laki-laki dan perempuan. Tapi, untuk
sekolah lanjutan hanya dikhususkan bagi anak laki-laki tertentu karena sekolah
lanjutan hanya ada di kota Kupang.
Bersama kedua kakak
perempuan (Fhelpina dan Theresia), Ayub
disekolahkan di SD GMIT
Oepula, sekitar 24 Km pergi-pulang tiap hari. Ketiga orang kakak-beradik
ini pun mendapat ijazah SD dari sekolah
tersebut. Adik-adik Ayub lebih beruntung
lagi karena mereka disekolahkan di
SD GMIT Pehe yang didirikan oleh Frederik Titu Eki di Tiluntob.
Pada waktu Ayub berada
di kelas I–III SD, jumlah anak sekolah yang melewati jalur Oelatfog-Takemanus
sekitar belasan orang. Di antaranya tiga bersaudara dari Oelatfog
dan beberapa anak dari Kampung
Nijalima yang berjalan sejauh
kurang lebih 30 Km.
Anak-anak dari kampung ini lebih
sering bolos gara-gara jarak
tempuh ke sekolah sangat jauh dan harus melewati dua sungai.
Ketika Ayub duduk di
kelas IV SD, jalur jalan Oelatfog-Takemanus mulai sepi lantaran
yang lewat saban hari cuma Ayub dan Theresia.
Fhelpina dan tiga anak lainnya
memilih pindah dan bersekolah di SD GMIT Pehe dengan alasan jarak tempuh
hanya sejauh 3 Km. Kepindahan ini
membuat anak-anak yang sudah kelas IV
dan V di SD GMIT Oepula bersedia turun kelas ke kelas III
di SD GMIT Pehe yang baru
didirikan dan hanya membuka kelas I- III.
Ketika Ayub memasuki kelas V dan
kelas VI SD, dia terpaksa berjalan
seorang diri karena Theresia (kakaknya)
sudah tamat SD. Tiap hari dia berjalan seorang diri melewati hutan sekitar 6 Km baru kemudian bergabung
bersama anak-anak dari Takemanus menuju sekolah.
Perjalanan sejauh 24
Km pergi-pulang saban hari bagi seorang
anak SD sejak kelas satu merupakan sebuah
tantangan berat. Terlebih lagi Ayub belum
cukup umur pada saat masuk SD. Standar
anak-anak desa masuk SD pada masa itu tidak
diukur dari faktor usia tapi dari
ukuran panjang tangan yang mencapai telinga sebelah melewati puncak kepala. Ketika Ayub diantar ke Sekolah
Dasar Gereja Injili Masehi
Timor (SD GMIT) Oepula, semula guru-guru
di sana menolak. Namun Frederik
berkeras agar putranya itu diterima. ”Terima
saja. Jadi murid pendengar pun boleh
daripada dia di rumah sangat nakal,”
Ayub mengutip penjelasan ayahnya yang kerapkali dikisahkan dalam berbagai
pertemuan keluarga pada masa remaja
bahkan sampai masa dewasa.
Jelas meskipun belum
cukup umur untuk bersekolah, guru-guru di
sana terpaksa menerima Ayub karena merasa
malu pada Frederik Titu Eki, ayah Ayub,
yang adalah Temukung Fatuone. SD
GMIT Oepula didirikan di pusat Kefetoran Kauniki yang juga merupakan pusat
wilayah Temukung Oepula. Hari itu juga akhirnya
Ayub diterima menjadi murid SD GMIT Oepula. Sejak awal Januari 1963, Ayub kecil mulai
melangkahkan kakinya memasuki halaman
sekolah.
Hari-hari pertama bersekolah, dalam ingatannya, cukup menyenangkan. Ada banyak teman baru. Ada pengalaman baru yang belum pernah dialami sebelumnya.
Kegembiraan akan
persahabatan dan pengalaman baru tidak berlansung lama.
Perjalanan dari rumah ke sekolah terlampau menguras tenaga. Udara pagi yang segar memang mampu
menyapu bersih letih. Namun terik matahari Timor yang tak dapat dihindari seolah mengiris setiap segi kulitnya. Semua dijalani dengan riang
gembira, apalagi selalu
ditemani tante kesayangannya setiap
hari.
Ada motivasi kuat
tumbuh dari dalam relung hatinya,
bayangan rotan sang ayah dan suaranya
yang menggelegar menakutkan pada satu sisi
dan kegembiraan bermain bersama
teman serta pelajar-pelajar pada sisi
lain, terus mendorong Ayub melangkah,
melewati hamparan bebatuan dan rambatan
dalam dahan belukar rimbun, menuruni jurang dan mendekati bebukitan
di sepanjang jalan antara rumah dan sekolah. Belum lagi curahan kasih sayang tante ditambah
pesan singkatnya agar belajar menjadi
anak yang baik.
“Anda bisa bayangkan.
Jarak dari Oelatfog ke
Oepula sekitar 12 Km. Itu harus
berangkat pagi-pagi buta dan
pulang siang hari. Jadi dalam
sehari saya berjalan sejauh 24 Km atau 144 Km setiap sepekan,” urai Ayub
sembari menambahkan bahwa fasilitas pendidikan masa kini
seharusnya membuat para
siswa jauh lebih berprestasi.
Tetapi sekolah tidak bisa sekadar bermodal rasa, keinginan bermain dan menjelajahi dunia baru. Diperlukan hal-hal lain. Pada
siapakah faktor itu di peroleh? Dari
Ayah? Ibu? Kakak? Tidak! Satu hati yang membuka diri untuknya, yang memberikan bahunya untuk tempat bersandar. Hati itu adalah hati Tante Mina.
Sebelum embun jatuh
dari pohon, Tante Mina mengantar Ayub ke
sekolah. Dalam kesunyian pagi, keduanya
berjalan bersama kedua kakak perempuan
Ayub, sembari memainkan embun yang tersisa di dedaunan. Kerapkali, agar tidak terlambat tiba di sekolah, Tante Mina menggendong Ayub bila dia tidak mau lagi berjalan ke sekolah. Tidak sampai di situ
saja, ia pun rela menunggu berjam-jam di sekolah lalu kembali berjalan pulang bersama seusai jam sekolah.
Pengorbanan Tante Mina tidak bisa dihapus dari benak Ayub. Seorang
tante yang rela berkorban hingga akhir hayatnya demi Ayub. Tante yang menjadi
inspirasi kuat dan daya juang
tinggi bagi Ayub buat meraih masa depan
yang lebih baik. Ayub merasa bersyukur memiliki seorang tante yang begitu tulus mengasuhnya. Walau tidak sedikit pun Tante Mina meletakkan
dasar kedisiplinan waktu bagi Ayub,
tapi ia berhasil membangun sebuah
fondasi kehidupan beretika yang tidak dapat diragukan kemudian dilengkapi dengan tahap didikan selanjutnya. Semua yang
dilakukan Tante Mina saat itu telah
membuat Ayub menjadi apa adanya seperti
yang kita saksikan saat ini.
Kasih sayang Tante Mina
begitu tulus. Dia menjadikan Ayub
seperti “dewa kecil” yang tak boleh
disentuh sedikit pun. Ayub bebas bermain sepanjang hari atau tidur sampai jam berapa saja
terserah.
Manusia boleh berencana
tapi semua keputusan ada di tangan Tuhan. Tante Mina dipanggil pulang
oleh Sang Khalik. Pada bulan Maret 1965, wanita mandiri bertekad baja namun lembut hati itu meninggal
dunia ketika Ayub masih duduk di bangku kelas III SD. Ayub seperti
dikisahkannya dengan getir, dia sangat terpukul dengan kematian tantenya. Sang pelindung itu tidak lagi
hadir melawan setiap tangan yang diayunkan menerpa diri Ayub.
Dia harus berjuang sendiri dan
mulai belajar hidup mandiri. Tapi,
apalah artinya bagi seorang anak
yang baru berusia 10tahun? Mau tidak mau Ayub harus
kembali dan hidup bersama kedua orang-tuanya dan siap dibentuk lagi.
“Saya masih ingat dua
pengalaman buruk yang perlu saya
ceritakan di sini. Pertama,
pada suatu pagi, setelah berjalan
sekitar 500 meter saya mogok jalan karena teringat Tante Mina
yang baru saja meninggal. Saya
menangis dan tidak mau lagi ke
sekolah sehingga dua kakak saya
menyuruh saya pulang dan mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah. Saya menangis di tepi jalan hampir satu jam. Tidak
ada orang yang melihat, apalagi
menghibur saya. Tiba-tiba saya berpikir, saya harus menangis lebih
keras lagi agar orang mendengar suara
saya. Lalu saya mengambil dua batang
rotan dari puncak pohon jambu dan dipukulkan ke batang pohon hingga hancur. Kemudian saya menangis
dengan suara nyaring sambil
berguling-guling di rumput. Tak lama berselang
datang seorang kakak sepupu dan
bertanya mengapa menangis dan tidak ke sekolah.
Saya katakan bahwa dua orang
kakak memukul saya dengan rotan dan lari meninggalkan saya. Kakak sepupu itu tersenyum karena dia
tahu bahwa itu hanya alasan sebab
tidak ada bekas pukulan di badan
saya melainkan ada bekas pukulan di
batang pohon kayu putih
(eukaliptus) di mana ada potongan
dua rotan yang hancur. Saya tidak dimarahi tapi dibawa pulang ke rumah,” Ayub berkisah.
Dengan kejadian ini,
semua keluarga menaruh rasa iba kepada Ayub. Rupanya Ayub belum bisa melupakan
tantenya. Peristiwa kematian
tantenya masih membayangi
pikirannya siang dan malam hingga membuatnya tak bergairah dan malas bersekolah. Ayub kemudian dibujuk dan diberi pengertian agar tetap bersekolah. Ayub sering disuruh menunggang
kuda ke sekolah tapi dia lebih suka
berjalan kaki agar bebas berkejar-kejaran di jalan.
Beberapa bulan
kemudian, Ayub mengalami pengalaman
buruk yang kedua. ”Pada suatu pagi, saya
mogok lagi ke sekolah dan menangis, sementara kakak saya yang akan mengikuti ujian melanjutkan ke sekolah.
Kakak yang satu lagi terus
membujuk. Saya kemudian lari dan
bersembunyi di hutan hingga membuatnya pusing mencari-cari. Ia juga tidak berani ke sekolah dan juga tidak berani pulang sendiri ke rumah tanpa saya.
Ia terus mengamati kapan saya
akan muncul dari balik hutan sementara saya juga terus mengamati apa yang ia perbuat. Kami masing-masing bertahan di tempat persembunyian hingga kakak yang satu pulang
dari sekolah. Saya terus mogok jalan ke
sekolah dan lebih suka bersembunyi di
hutan selama jam sekolah sebanyak empat hari. Sementara kedua kakak saya pun
takut menceritakan hal ini kepada ayah
karena mereka diberi tanggung jawab
mengawasi saya. Rupanya
keluhan dua kakak itu didengar Tuhan, pekan berikutnya guru memukul kepala saya hingga berdarah karena tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas. Insiden
ini membuat saya tobat dan mulai rajin sekolah,” terang Ayub.
Setelah Tante Mina
meninggal, pembentukan karakter
Ayub berada di tangan ayahnya yang lebih fokus pada tertib waktu dan tertib kerja. Ayub tidak bisa lagi hidup sesuka hati. Jam bangun pagi mengikuti kokok ayam bersahut-sahutan. Kokok ayam yang pertama itu wajib bangun bagi orang dewasa (sekitar jam 01.30
wita). Kokok ayam yang kedua sekitar jam
03.00 pagi itu wajib bangun
anak-anak seusia Ayub. Kokok ayam yang ketiga sekitar jam 05.00 pagi, umumnya semua keluarga sudah harus selesai
makan pagi. Jam keluar rumah untuk
urusan ternak, kebun, ke sekolah dan lain kegiatan yang harus dimulai
pagi-pagi buta. Pada jam 19.00-20.00 wita lazimnya sudah sepi karena mereka sudah tidur agar esok hari dapat melakukan aktivitas kembali.
Banyak warga
kampung mengatakan bahwa karakter keluarga Frederik Titu Eki
saat itu berbeda dibandingkan keluarga lain, khususnya dalam hal
kedisplinan sama seperti militer. Didikan keras nampak konsisten diajarkan terus-menerus dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Pada masa itu, setiap laki-laki atau perempuan luar yang
akan dikawinkan dengan anggota keluarga Titu Eki, harus siap mental dan
tabah menghadapi didikan yang keras dan
disiplin keluarga layaknya pendidikan
militer. Itulah sebabnya, warga kampung sekitar biasa mengatakan orang
yang masuk menjadi bagian keluarga Titu
Eki harus ”meok sis manu” --artinya harus banyak tabah dan pandai menyesuaikan
diri.
E.
Ayah,
Guru dan Sahabat
Ayah adalah figur penting bagi segenap anggota keluarga. Ibarat tubuh,
keluarga tanpa ayah mungkin tak ubahnya
tubuh tanpa kepala. Betapa pun
lemah, keberadaannya tetaplah memberikan roh dan kewibawaan
bagi anggota keluarga. Ia bukan
sekadar kepala keluarga tapi juga pemim[pin
yang bertanggung-jawab melindungi harkat
dan martabat keluarga melalui gerak tangan untuk bekerja memberikan contoh dan mulut buat bernasehat kepada anak-anak demi nama baik keluarga.
Seorang ayah tidak harus
dimaknai sebagai penguasa yang serba-bisa. Bukan pula dilihat dari pangkat atau jabatan yang disandang, atau tingkat pendidikan dan gelar akademik
yang diraih, atau banyaknya harta
kekayaan yang dimiliki. Ayah yang betul-betul baik bagi anak- anak
adalah ayah yang berhasil membangun karakter hidup yang baik dan bermartabat atas
dasar etika moral kehidupan yang disenangi dan diterima menjadi panutan hidup bermasyarakat. Demikianlah kata-kata wejangan Frederik Titu
Eki yang selalu diucapkan kepada Ayub di saat mereka bercengkerama berdua, baik di rumah saat bangun pagi ataupun pada saat bermalam di bawah pepohonan di hutan kala mereka berburu.
“Hal yang paling
berkesan dari ayah adalah saya harus tumbuh menjadi anak yang baik. Inti
nasehat ini sama dengan nasehat Tante Mina dulu tetapi ayah mengupasnya
lebih dalam bahwa setiap keluarga
yang punya banyak anak pasti ada yang
baik dan ada pula yang tidak baik, ibarat hasil panen di kebun. Bapak menyebut nama orang yang susah sebagai
anak yang tidak taat orang tua, malas
dan tidak jujur. Sebaliknya, disebut
pula nama orang yang sukses punya hasil
panen tiap tahun ataupun kaya ternak karena menjadi anak yang taat dan
setia mendengar orang tua, rajin bekerja,
jujur dan rendah hati.”
Apa yang diajarkan
keluarga Titu Eki kepada Ayub merupakan
ajaran umum yang lazim dilakukan keluarga-keluarga lain. Tidak ada hal khusus yang dibanggakan. Tetapi Ayub selalu membanggakan ayahnya, Frederik Titu Eki, sebagai ayah dan sahabat yang
mengayomi dengan tutur kata yang sarat nasehat.
“Ayah selalu tekankan
bahwa setiap keluarga pasti punya anak yang baik, paling kurang satu di antara beberapa
orang anak dalam keluarga itu. Tetapi (lu
= engkau ) Funu, harus selalu tampil
jauh lebih baik bukan hanya di antara
saudara sendiri, juga harus lebih baik dibanding dengan semua anak baik
keluarga lain di mana saja berada.
Alasan ayah, karena saya diharapkan
menjadi atok ume (penjaga
rumah) dan am uf bagi banyak keluarga
sehingga perlu memiliki nilai kebaikan
tinggi dan wibawa diri yang dikagumi, dihormati dan dipatuhi banyak orang. Bila pesan ini merupakan pesan umum tiap-tiap
ayah untuk menghasilkan anak terbaik di dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini, maka kami telah berlomba menciptakan
sumber daya manusia bermutu sejak dulu. Dan hal ini akan membawa kita masuk tahap revolusi kebijakan,”
papar Ayub mengenang kelebihan ayahnya.
Pembentukan karakter Ayub
ternyata punya sasaran khusus. Dia
dipersiapkan ayahnya untuk menjadi atok
ume dan karena itu dia harus mampu menunjukkan suatu tampilan wibawa diri yang layak dan pantas dalam kedudukan adat sebagai am uf. Pengertian am uf menggambarkan jaringan
kekerabatan yang luas dan terpelihara menjadi modal sosial yang perlu
dipertahankan, bukan dengan kuasa atau uang, melainkan dengan tampilan
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Tahun1965, Ayub
kembali ke pangkuan kedua orang-tuanya setelah Tante Mina, pengasuhnya, wafat. Di tangan sang ayah, Ayub benar-benar merasakan
gemblengan yang sangat keras. Nilai
disiplin ditanamkan, satu kali dipanggil, anak harus menjawab “iya bapak/mama”
lalu segera datang . Pada panggilan kedua, anak
harus menjawab “iya” dan datang
dalam keadaan berlari. Jika sampai
tiga kali panggilan, maka anak pasti kena pukul.
Ayub tidak
membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan
diri dari kebiasaan manja menjadi anak
yang disiplin dan disukai ayahnya.
Apa saja yang diinginkan ayahnya selalu dituruti dengan riang dan ikhlas. Untuk bangun pagi, mau tidak mau harus cepat-cepat meninggalkan tempat
tidur. Dalam waktu tidak terlalu
lama, dia juga terbiasa bangun sendiri
karena dibangunkan oleh kokok ayam yang bersahutan bagaikan buyi alarm pada masa modern ini.
Ruang keluarga mereka
cukup luas dan dapur terbatas bagi keluarga inti dan empat orang pekerja keluarga selalu membuat suasana pagi riuh-ramai. Apalagi Frederik selalu menjadi radio hidup
bagi keluarga. Ada nasehat dan kata-kata peringatan, ada cerita tentang pengalaman hidup, ada
cerita lucu dan dongeng, dan selalu saja ada bahan omongan untuk membuat suasana keluarga menjadi cair dan menghidupkan
keheningan pagi. Sungguh pun demikian, anggota keluarga ini senantiasa
diingatkan agar telinga boleh bebas
mendengar dan mulut bicara tetapi tidak boleh melipat tangan. Tangan harus akitf bekerja, tidak boleh
berpangku tangan agar tidak
mengantuk dan balik tidur.
Tujuan bangun pagi,
bagi keluarga Titu Eki, untuk berpikir
tentang apa yang akan yang
dikerjakan, bagaimana cara kerja dan apa yang menjadi target sukses kerja hari
itu. Jika mencari sapi di ladang dan
tidak ditemukan, maka akan dimarahi pada
pagi berikutnya. Selain itu, bangun pagi untuk
memasak, dan makan. Dan memulai aktivitas pada pagi-pagi buta agar dapat meraup banyak hasil.
Salah satu pekerjaan
yang melibatkan banyak tangan sambil
mendengar radio hidup yang menunggu
masakan untuk sarapan adalah keterlibatan segenap anggota keluarga dalam kegiatan memproses kapas menjadi benang. Perempuan memintal benang; anak-anak
mengeluarkan biji kapas, membersihkan, menghaluskan kapas pakai tali busur, membuat gulungan kapas halus untuk dipintal dan ada pula yang menggulung
lingkar menjadi bola benang agar siap
pakai. Ada pula kegiatan lain yang selalu membuat keluarga dengan banyak anggota ini selalu sibuk tiap pagi.
Kesan Ayub tentang
pengalaman hidupnya saat bersama ayah sungguh ia rasakan bahwa ayah itu benar-benar seorang ayah, guru
dan sahabat. Itu sebab pula, keteladanan
sang ayah yang dipakai dan
menerapkannya kepada tiga buah hatinya kini. Sebagai seorang ayah,
Frederik senantiasa mengingatkan Ayub
kecil agar tidak meniru sifat dan perbuatan anak-anak lain yang pola didikannya berbeda dengan pola didikan keluarga Titu Eki yang penuh kedisiplinan.
“Ayah memberikan ilustrasi dengan banyak hal nyata untuk membuat kami cepat paham apa yang diajarkan. Ilustrasi -ilustrasi ayah sangat membekas
dan menginspirasi saya untuk selalu mencari hubungan logis antara perkataan dan kenyataan. Banyak kali kita pandai mengobral kata karena kita mampu menghafal atau pandai meniru kata-kata orang tapi jarang kita merangkai kata dalam
hati yang mampu melihat fakta lapangan dan membahasakan apa adanya,” papar
Ayub.
Sama seperti kehidupan
orangtua di pedesaan pada umumnya,
Frederik Titu Eki selalu
melibatkan anak-anaknya dalam setiap
aktivitas ekonomi, sosial dan budaya sebagai media belajar bagi
anak-anaknya. Banyak sekali kegiatan dan aktivitas yang Ayub pelajari dari ayahnya dengan metode ”learning by doing“ (belajar sambil bekerja). Ayub belajar membangun pagar, memintal tali
untuk kuda dan sapi/babi, mengolah bahan mentah menjadi bahan dasar pembuatan tali tikar dan lain-lain. Membuat feko
(peluit sapi) dari jenis kayu tertentu,
membuat sarung pisau atau parang
dari kulit sapi atau kerbau yang
sudah kering. Ayub belajar silsilah
keturunan dan relasi dengan rumpun
keluarga terkait. Juga belajar ihwal
cara pembawaan diri dalam situasi yang berbeda.
Frederik yang dikenal
sebagai “pemburu ahli “ juga melatih Ayub memahami medan perburuan secara baik. Ayub belajar cara menembak binatang yang sedang berlari, cara membidik tempat mati, cara memilih arah
angin untuk mendekati binatang
liar, cara mengumpan rusa dengan meniup daun nikis muda, cara memilih anjing
pemburu yang pintar dan menguntungkan
dan sebagainya. Terlalu banyak
pelajaran yang harus dipahami dan dipraktikkan
untuk mendapatkan keuntungan
besar.
Keterampilan beternak
diajarkan pula kepada Ayub sebagai anak
yang direncanakan menjadi penjaga rumah adat keluarga Titu Eki. Ayub belajar
mengenal ciri-ciri fisik kuda pacu yang baik ataupun anjing pemburu andalan
dari warna bulu sekitar leher dan belakang paha. Khusus anjing pemburu bisa
dilihat juga pada struktur langit-langit pada rongga rahang atas.
Pengalaman hidup
bersama ayahnya membuat Ayub cepat dewasa dalam cara berpikir. Kebersamaan itu
dimulai saat Tante Mina wafat pada akhir Maret 1965 hingga awal Januari 1971, yaitu saat Ayub
diantar ke Kupang buat melanjutkan pendidikan SMP. Sebagai pemburu, Ayub dan ayahnya
sering tidur di hutan. Biasanya mereka duduk sepanjang malam dan membawa
senapan untuk mengawasi ladang dari hama babi hutan yang melubangi pagar lalu
merusak jagung dan ubi. Tempat duduk bisa di tanah yang aman dan bebas sensor
penciuman babi, atau di atas dahan yang
dipasang beberapa potong kayu agar bisa duduk aman. Duduk di atas dahan berisiko
jatuh ketika mengantuk.
Berburu rusa dan babi
hutan semalam suntuk tidak hanya dilakukan di sekelilingi pagar ladang, tetapi
juga di padang luas. Waktu bulan terang di musim kemarau, pemburu biasa menjaga
mata air yang didatangi binatang buruan di tengah malam untuk minum dan
berkubang. Demikian pula menjaga pohon berbunga atau berbuah yang biasa dikunjungi
binatang buruan pada malam untuk makan bunga buah yang gugur. Pada bulan gelap
di musim kemarau, perburuan juga dilakukan menggunakan senter di padang luas untuk
membidik binatang buruan.
Perburuan yang umum
dilakukan bersama pada siang hari menggunakan anjing pemburu.
Binatang buruan biasanya tidur di siang hari di tempat yang jarang terjangkau dan keluar
malam hari mencari makanan dan air minum.
Anjing pemburu sanggup menemukan tempat persembunyian dan mengejarnya. Anjing pemburu yang hebat biasa menangkap binatang buruan bagi pemilik.
Anjing pemburu biasanya hanya mencari, menemukan dan mengejar sambil menggonggong, sementara pemburu berlari mencari jaringan
jalan yang akan di lewati. Ayub kecil
pernah menembak mati rusa dan babi
hutan yang dikejar anjing pemburu, namun
selalu gagal menembak binatang buruan di
saat jaga malam di atas dahan pohon ataupun di tanah.
Sebagai peternak,
bersama ayahnya, Ayub lebih banyak
tinggal dan tidur di hutan. Pada
tahun 1960-an, sapi dan kerbau warisan menjadi liar dan sulit dikandangkan. Di
wilayah Kefetoran Tefnai (sekarang Desa Hueknutu ) jumlah sapi dan kerbau liar mencapai lebih dari 100 ekor sedangkan
di wilayah Kefetoran Takaeb (Desa Tanini) jumlah sapi liar ada lebih
dari 50 ekor. Ayub bersama ayah dan
keluarga lain sering tidur di
hutan beberapa malam untuk memasang
pagar perangkap menuju kandang. Aktivitas ini paling banyak dilakukan pada musim libur, namun tidak menutup
kemungkinan pada masa sekolah dan Ayub harus pergi-pulang hutan dan sekolah
dengan berkuda.
Kerbau dan sapi liar
yang sulit dikejar menuju kandang biasanya ditembak. Daging dan kulitnya langsung dijemur di hutan untuk dijual ke Pasar Noelmina. Penjualan daging kering dan kulit terus
dilakukan hingga awal masa Orde Baru, di mana semua senapan tumbuk milik warga masyarakat harus diserahkan kepada aparat
kepolisian. Setelah masa itu, sisa
ternak liar yang belum terkejar
sudah menjadi milik umum dan
tidak dapat diidentifikasi lagi.
Pada malam, bilamana
mereka tidur di hutan untuk urusan
ternak, ayahnya bagaikan radio
hidup bagi Ayub dan siapa saja yang ikut
bermalam di situ. Ketika berhasil
menangkap kerbau dan sapi liar, yang tua
akan dijual sedangkan yang muda diikat untuk
dijinakkan. Tidur malam bersama ternak muda liar di hutan untuk proses
penjinakan juga merupakan laboratorium
lapangan yang kompleks bagi Ayub belajar banyak hal. Sapi yang terluka
harus dirawat. Waktu malam harus
memintal tali bersama ayahnya. Juga membuat peluit atau feko dan dibunyikan siang-malam untuk mengenalkan kawanan ternak
baru dengan gembalanya.
Biasanya, mereka tidur
di padang tanpa tenda. Ini memberi peluang bagi Ayub belajar tentang ilmu
perbintangan dan fenomena alam sejauh diketahui ayahnya. Mengenal fenomena bintang
besar yang muncul di timur dan memberi indikasi bahwa malam hendak berganti
siang. Demikian pula Ayub mendengar pandangan orang kampung tentang letak dan
arti beberapa jenis bintang yang mereka sebut maklafu, fku hitu, nua am ha dan sebagainya. Ada yang menunjukkan
tanda bakal datangnya hujan atau akan terjadi kemarau panjang, dan indikasi
akan ada bencana.
Tentang situasi apa
yang paling membekas di hatinya masa itu, Ayub mengatakan dengan lugas: “Masa
kecil saya di Oeletfok adalah masa keemasan saya.” Betapa tidak, daging, susu
dan madu benar benar melimpah. Daging segar atau daging kering ada, daging rusa
atau daging babi hutan hasil buruan juga ada. Tinggal pilih mana yang disuka. Mau
susu sapi atau susu kerbau pun tersedia.
Madu lebah melimpah karena mereka panen tiap tahun. Sungguh, Kampung Oelatfog
masa itu berkelimpahan susu dan madu. Bukan hanya soal makan-minum yang
dibanggakan Ayub, juga soal
pembentukan watak dan kepribadiannya
dalam keluarga yang dapat dikategorikan bodoh menurut ukuran masa kini.
Pun Ayub punya kenangan
khusus terhadap ayahnya sebagai pemacu kuda pacuan dan sering mengikuti lomba pacuan kuda di
desa sekitar ataupun di wilayah Amfoang dan Molo. Setelah berkeluarga dan menjadi temukung, Frederik tetap
memelihara kuda pacu atau kuda ikat bukan
untuk tujuan lomba pacuan tapi buat keperluan keluarga sendiri. Nah,
di sini lah tersedia kesempatan lomba pacuan antara ayah dan anak.
Banyak kesempatan mereka gunakan buat
berlomba pacu kuda di padang terbuka.
Lomba pacu kuda antara
ayah dan anak tidak sekadar buat meluapkan hobi yang terpendam. Tapi, juga
pamer ketangkasan memacu kuda dan memperlihatkan kecepatan kuda. Ketika senapan
tumbuk sudah diambil dan disita polisi, lomba pacu kuda dimanfaatkan untuk
mengejar dan menangkap sapi liar.
Ayub merasa berteman
dengan ayahnya tidak cuma sebatas pada lomba memacu kuda, namun juga saat lari
menerima binatang buruan yang dikejar anjing untuk ditembak. Siapa yang menembak
duluan, berarti dia jago. Tapi tembakan siapa yang mematikan, dia yang paling
jago. Untuk hal ini Frederik sulit dikalahkan oleh siapa saja.
Frederik memahami dan
mendukung kebutuhan bermain Ayub. Suatu ketika Ayub menceritakan kepada ayahnya
bahwa kelerengnya diambil oleh teman-temannya, lalu ayahnya segera mengajak
Ayub membawa kuda dan karung ke hutan. Di sana lah, Ayub kecil bebas memilih
kelereng dari biji gewang sebagai pengganti kelereng yang biasa dijual di toko.
Ayub memilih biji yang besar dan membawa banyak untuk dibagikan kepada
teman-temannya di sekolah.
F.
Selalu
Tampil Membimbing dan Memimpin
Masa kecil Ayub di SD
penuh tawa riang bersama teman-temannya. Saat-saat tertentu mereka ditugaskan
oleh guru untuk tidur di asrama sekolah. Saat seperti itu Ayub akan memimpin
beberapa temannya berjalan belasan kilometer ke padang sabana. Di sana, dia meminta
teman-temannya untuk menggiring kawanan sapi mereka ke kandang. Sesudah masuk
kandang, induk sapi dikeluarkan sedangkan anak sapi tinggal bersama sapi lain
di dalam kandang. Setelah itu mereka kembali ke asrama dan belajar. Keesokan
harinya setelah keluar sekolah, Ayub dan teman-temannya kembali dan memerah
susu sendiri-sendiri.
“Saya sangat mahir
memerah susu dan hasilnya juga jauh lebih banyak dibanding teman-teman lain.
Tapi saya akan bagi kepada teman yang
hanya dapat sedikit. Setelah itu kami balik
lagi ke asrama dan kami akan makan ubi bakar atau pisang bakar dan minum susu,“ kata Ayub yang
dibenarkan oleh Junus Paut --salah
seorang teman masa SD.
Menurut Junus Paut,
Ayub adalah sosok pendiam tapi lincah dan cekatan dalam segala hal. Kharisma kepemimpinannya muncul sejak di bangku SD. Ayub juga adalah
anak yang kaya ide. Berkali-kali, dia mengajak teman-temannya mencari uang
dengan cara membersihkan rumput di kebun warga
masyarakat sekitar sekolah walau hanya dibayar dengan sedikit uang atau
dengan beberapa buah kelapa muda. Pendek kata, Ayub selalu kreatif dan senantiasa
tampil sebagai pemimpin dan suka
membimbing walau beberapa temannya bahkan lebih tua usianya.
Banyak ide permainan
dicetuskan Ayub kecil. Salah satunya adalah
permainan pukul badan yang sangat menantang dan menguji ketahanan fisik.
Permainan ini melibatkan dua kelompok:
satu kelompok berlari dan kelompok lainnya mengejar. Pelari yang berhasil
ditangkap mendapatkan beberapa pukulan
dengan rotan lantana. Agar tidak sakit saat dipukul, urai Junus Paut, Ayub
mengajarkan teman-temannya mengunci badan.
Penguncian badan yang tepat memungkinkan pemain mampu menahan pukulan,
tidak merasakan sakit dan bekas pukulannya pun tidak bengkak.
Permainan ini sama
seperti “menendang betis” --sebuah permainan rakyat di kampung yang dalam
bahasa Timor disebut maana'tikan-- kalau lawan tidak mengunci
betis kaki maka akan jatuh saat
ditendang. Demikian pula permainan mana',
yaitu permainan satu lawan satu dan kadang dua orang lawan satu. Giliran
si jago
merentang tangan agar dipegang sekuatnya oleh satu atau dua orang. Si
jago harus mendorong dan membanting kiri-kanan, muka-belakang, hingga orang
yang memegang tangannya terlepas.
Ada juga permainan
wajib bayar pajak yang sebetulnya hasil kreasi yang dikopi dari ayahnya, karena
saat musim bayar pajak, ayah (sebagai Temukung) duduk di kursi dan rakyat antre
membayar pajak. Ayub kemudian mengembangkan ide itu dengan kreasi sendiri dan
mengajak teman-teman bermain di sekolah. Ide permainan bayar pajak timbul saat
uang hasil jual ternak dan daging tidak bermanfaat lagi lantaran terjadi pertukaran nilai uang dan Frederik tidak tahu bahwa
uangnya dapat ditukarkan di bank. Pada
saat itulah uang kertas yang banyak dan tidak
berlaku lagi lantas dijadikan
alat permainan Ayub.
Pada saat itu, ibarat
penerima pajak, Ayub duduk di sebuah batu besar
sebagai pengganti batu kursi.
Teman-teman diibaratkan sebagai para
wajib pajak yang antre membanyar pajak dengan
uang kertas rupiah yang telah dibagikan Ayub sebelumnya. Kemampuannya
membimbing membuatnya mampu
mengendalikan teman-teman di sekolah walaupun usia mereka lebih tua. Keberhasilan itu bisa saja terjadi karena dia
anak Temukung atau karena wibawanya sehingga teman-teman tetap patuh pada
setiap perintahnya. Contoh kecil, dalam setiap jenis permainan, sebelumnya dia
meminta pendapat teman-teman, jika
setuju maka boleh bermain. Demikian kenang salah satu teman masa kecilnya.
Jenis permainan lain
yang dilakukan adalah menata lingkungan. Di Padang Nasupah, tempat di mana mereka
biasa bermain bayar pajak, tiap anak harus mematok pekarangannya dan ditata
menjadi lingkungan yang teratur. Harus
ada tanda rumah, jalan dan tanaman. Setelah itu Ayub akan melakukan inspeksi
untuk menilai siapa yang terbaik.
Permainan lain dilakukan
di Nono Naek (kali besar). Di
hulu kali ini, Ayub memimpin sekitar 10-15 orang anak untuk membuat kolam
dengan menumpuk batu dan pasir bercampur
daun hingga terbentuk kolam kecil. Lalu
di tebing kali itu tiap anak harus
menanam tanaman sayur dan bawang. Tanaman itu tidak dilihat jumlahnya tetapi
tumbuh dan hijaunya. Setiap permainan hanya dilakukan sesudah keluar sekolah.
Jam bermain pun dibatasi. Saat pulang ke rumah juga harus jalan cepat atau lari
sambil berkejaran. Bila Ayub jalan seorang diri maka dia selalu berlari hingga
sampai ke rumah.
Jadi, Ayub menikmati
hidup itu dalam kesibukan yang mengasyikkan dan selalu dinamis. Karena
orangtuanya sudah mematok hari ini melakukan pekerjaan harus tuntas dan sukses
dilihat dari target hari ini mesti melakukan pekerjaan apa. Kebiasaan itu
terbawa sampai dia bersekolah dan kuliah di Kupang. Ayub mengajarkan kebiasaan ini kepada anak-anak yang tinggal
serumah di Oepura dulu.
Salah satu kebiasaan
Ayub adalah jika jalan bersama dengan teman-teman sekolah dari Kampung Taekmanus harus cepat dan tidak boleh
main-main di jalan agar tidak terlambat tiba di sekolah. Pun demikian saat
pulang sekolah. Jika dia sendirian maka tidak hanya jalan cepat tapi dengan
berlari. Bila hari dingin karena cuaca maka ingusnya tidak pernah kering bahkan sampai kelas VI masih beringus.
“Maklum, anak dari
kampung, dua lengan tangan saya menjadi pengganti sapu tangan. Tidaklah mengherankan kalau kedua lengan
tangan ini berwarna kehitaman karena
bekas ingus. Ya, bukan saya sendiri tetapi semua kami anak desa sama seperti itu. Keluar pagi
melintasi hujan dan angin menuju sekolah
yang jauh,” kata Ayub mengenang masa
kecilnya dulu.
G.
Berani
Menaklukkan Kerbau Ganas
Sejak kecil Ayub sudah
mengalami berbagai tantangan. Berbeda
dengan kebanyakan anak desa pada masa itu.
Setelah ayahnya membangun rumah
di Tiluntob, itu artinya mereka sekeluarga harus berpindah tempat tinggal dari Oelatfog ke
Tiluntob. Dengan begitu, akan muncul masalah
baru, Ayub semakin sulit mencapai sekolah
dalam waktu relatif singkat.
Jarak ke sekolah bertambah jauh
dan harus jalan sendirian. Sebelumnya,
tiap hari dia harus menempuh jarak
Oelatfog-Oepula sekitar 12 Km
atau 24 Km pergi-pulang, kepindahan ke Tiluntob
berarti jarak tempuh ke sekolah menjadi
sekitar 18 Km. Arti kata, Ayub harus berjalan kaki sekitar 36 Km pergi-pulang saban hari. Mengingat jarak yang
lebih jauh, jelas akan menguras tenaga, terlebih lagi Ayub kecil masa itu baru kelas IV SD.
“Untuk memperpendek
jarak ke sekolah, ayah saya punya
keputusan membuat ladang di dekat
sekolah. Dan kami sering tinggal di pondok
kebun yang dekat sekolah atau tidur di hutan yang jauh tapi saya selalu
memakai kuda sehingga cepat menjangkau sekolah,” tutur Ayub mengenang masa
sekolahnya.
Itulah yang terjadi,
Ayub dan ayahnya bagai manusia nomaden selama
lebih dari tiga tahun. Mereka hidup berpindah tempat tanpa mengorbankan kesempatan sekolah Ayub. Begitulah keseharian
Ayub dan ayahnya. Tak ada keluhan ataupun kejenuhan yang membelit
aktivitas keseharian Ayub. Ke sekolah, bermain bersama teman-teman, dan kembali ke hutan bermain berburu bersama
ayahnya pada malam terang bulan atau saat bulan purnama. Asyik-asyik saja
bagi Ayub kecil.
Ayub menuturkan
bahwa dirinya sudah terbiasa bermalam di hutan dan belajar banyak dari
alam sekitar. Sesungguhnya ada hal-hal
yang tidak didapatkan di bangku sekolah justru dia temukan di alam raya. Belajar langsung pada alam. Sampai-sampai karakter
Ayub pun dibentuk oleh alam. Mungkin saja
berbeda dengan anak-anak seusianya pada masa itu.
Ayub beruntung
memiliki figur seorang ayah seperti Frederik Titu Eki. Ayub menggambarkan sosok ayahnya
bagai radio yang hidup, yang senantiasa memancarkan berita dan informasi
tiada henti berupa pengetahuan-pengetahuan yang menyegarkan jiwa. Selama tiga
tahun hidup di hutan itulah, Ayub merekam banyak hal-ihwal kehidupan dan belajar tentang nilai-nilai kehidupan.
Ayahnya bagai sumber
energi, sumber pengetahuan dan sumber inspirasi, sumber motivasi dan
semangat juang agar tidak boleh gampang menyerah dalam setiap upaya dan usaha. Harus dengan keringat sendiri. Harus dengan hasil usaha sendiri. Dan, semua
ajaran itu telah mengisi kekosongan jiwa
dalam membentuk karakternya,
termasuk bagaimana menaklukkan
makhluk liar.
Dan, itulah prinsip-prinsip hidup yang tetap terbawa
dalam kehidupan Ayub sampai
sekarang. Dalam menghadapi berbagai masalah
dan tantangan seberat atau sepelik apapun, Ayub tak mengenal kata menyerah.
Semakin besar tantangan yang datang
silih-berganti, justru Ayub merasa semakin kokoh. Semakin dia dihantam, justru dia semakin kuat dan bertahan
dalam menerima pukulan. Tidak
jatuh namun tetap berusaha tegar dan kuat
menerima berbagai pukulan.
Masa pembentukan
karakter Ayub di hutan berlangsung sekitar tiga tahun. Ayahnya
mengajarkan banyak hal tentang
kemandirian, disiplin, budi pekerti, ilmu pengetahuan alam kampung dan pemahaman tanda-tanda alam, juga pohon keluarga tentang leluhur mereka dari Gunung Mutis yang hijrah ke Tanini. Pun diajarkan cara
menggunakan senapan tumbuk, cara menembak dan membidik sasaran burung di
hutan, dan cara menunggang kuda yang
baik dalam arena pacuan dengan rintangan alam yang menantang.
Satu hal yang tak
kalah penting di antara semua yang telah diajarkan adalah tentang
teknik-teknik menaklukkan kerbau yang ganas dan kepala batu. Ayub mengisahkan bahwa pada masa itu dari
sekian banyak kerbau peliharaan mereka terdapat satu kerbau kepala batu dan ganas. Jika hendak digiring masuk ke kandang selalu
tampil menyerang dan menjadi biang kerok
bagi kerbau lain hidup liar di
hutan. Kerbau itu jantan
besar yang biasa berkeliaran dan
berbaur dengan kerbau liar di daerah sekitar.
Untuk menghalau
kawanan kerbau itu ke kandang, Ayub harus meneliti terlebih dulu bahwa kerbau jago itu tidak
sedang bergabung dengan kawanan itu.
Ketika kerbau ganas berada di tengah-tengah kawanan, kerbau lain pun sulit giring ke kandang. Pada suatu ketika, kata Ayub, dia dan ayahnya
berusaha mengiring kerbau ganas itu bersama kawanannya ke kandang.
Jika si kerbau ganas benar-benar menyerang maka akan dihabisi oleh tembakan ayahnya.
Sebelum Ayub maju,
strategi diatur terlebih dulu. Ayub maju dari sisi kiri sedangkan ayahnya dari sisi kanan agak jauh di belakang dalam posisi siap tembak bilamana Ayub benar-benar terdesak. Tanda yang harus serius diperhatikan Ayub adalah
gerakan kepala kerbau. Jika kepalanya
digerakkan ke kiri dan ke kanan, atas
dan bawah, itu pertanda kerbau menggertak. Kalau kepalanya diluruskan ke depan sambil lari cepat ke arah arah Ayub, maka Ayub harus lari ke arah
kanan ketika kerbau itu dalam jarak
antara 15-20 meter di depan Ayub.
Dalam jarak hanya
15-20 meter di depan, Ayub dilarang membelokkan kuda baru lari tapi harus lari memotong ke
arah kanan, sehingga dapat mematikan
langkah kerbau itu dan ayahnya dalam posisi aman dalam menembak. Sambil maju
Ayub harus meneriakkan suara keras menyebut nama-nama kerbau induk dan memerintahkan masuk ke kandang. Sedangkan ayahnya terus mengikuti dari belakang, selain
tetap dalam posisi siap tembak, ayahnya
harus pula ikut bersuara. Lalu strategi dijalankan.
Ayub maju menggiring
di atas punggung kuda terlatih. Ayahnya di atas kuda terlatih lain tampil
dari sisi kanan dan terpaut sekitar 30 meter di belakang sambil memegang
senapan dan siap tembak jika kerbau itu
menyerang Ayub. Kawanan kerbau itu di depan dalam jarak lebih dari 60 meter. Ketika Ayub maju mendekat, kerbau itu juga maju ke arah Ayub sambil menggerakkan kepala sambil menggoyang tanduknya yang panjang pertanda hendak menyerang. Itu pertanda hanya menggertak. Ayub maju terus sambil meneriakkan suara keras sambil menggiring
dan mengebas rotan kuda ke arah kerbau itu.
Ternyata kerbau besar
itu takut pula. Si kerbau hanya mampu maju ke arah Ayub sekitar 10 langkah sementara Ayub maju ke arah kerbau lebih dari 20
langkah. Ketika Ayub terus maju dengan suara keras sambil menggerakkan tangan
dengan rotan, kerbau itu pun mundur lalu balik
ke kerbau lain dan semua lari ke
arah kandang. Jalan ke kandang masih jauh,
sekitar 10 Km. Anjing- anjing
ikut menggiring kawanan kerbau
itu sampai ke kandang. Kerbau ganas
pun ikut masuk walau sudah lebih dari empat tahun tidak pernah masuk kandang. Kerbau itu lalu diikat dan dijual.
Ayub mengaku bahwa
ayahnya mendidik tidak hanya dengan kata-kata
tapi juga dengan contoh nyata di lapangan. Ketika menghadapi kerbau ganas, Ayub dilatih
mengatur strategi maju mengikuti
instruksinya tanpa ragu dan ternyata membuahkan hasil. Buah didikan ayah
itulah yang menjadikan Ayub selalu berani maju dan sukses.
H.
Kematian
Nenek dan Pembantaian Puluhan Hewan
Neneknya Ayub meninggal pada awal
tahun 1959 dalam usia sekitar
68 tahun. Si nenek masih kuat dan rajin
menenun dan memberi makan babi.
Suaminya, KloE Eke, sudah meninggal
tahun 1930 dalam usia yang lebih muda
(sekitar 50 tahun). Nenek bernama Kuku
Tafeten atau bi Kukbat mewarisi karakter
suaminya dalam menerapkan disiplin kerja bagi anak-anaknya. Kakek dan nenek menjadi suami-isteri bukanlah
orang jauh tapi mereka juga berkerabat dekat. Pasalnya, adat membolehkan kawin antara
orang-orang keluarga dekat.
Kakek dan nenek
memiliki delapan anak kandung: dua laki-laki dan enam perempuan. Anak laki-laki
sulung dan perempuan kelima meninggal pada waktu masih usia muda. Karena itu kakek dan nenek mengambil tiga
anak anak angkat: dua laki-laki dan satu
perempuan.
Menurut tradisi yang
berlaku setempat, setiap kematian harus diikuti dengan upacara
adat tepat waktu atau setelah
40 hari jenazah dimakamkan. Upacara ini lazim di kenal dengan istilah “Laes
Nitu”. Laes atau lasi sama dengan “perkara” sedangkan nitu merujuk
pada jasad orang mati. Jadi melakukan upacara laes nitu sama dengan
menyelesaikan persoalan terkait dengan
orang yang telah mati.
Upacara adat terkait
dengan kematian keluarga dikenal dan
dipraktikkan dalam kehidupan banyak
masyarakat berbudaya di setiap tempat dengan bentuk dan cara yang berbeda.
Dalam budaya orang Jawa, upacara adat kaitan dengan orang mati biasa berlanjut
hingga hari yang keseribu. Pada ajaran Kristen,
kita kenal acara syukuran kematian yang saat ini semakin disederhanakan oleh
gereja dan langsung dilaksanakan segera sesudah pemakaman jenazah. Bagi warga masyarakat pada saat itu, pemahaman tentang makna upacara adat kematian pada umumnya
didasarkan pada beberapa pertimbangan, di antatanyat:
Pertama, upacara adat menandai perpisahan roh antara anggota
keluarga yang sudah meninggal dan anggota keluarga yang masih hidup. Pada sisi lain, acara pemakaman menandai perpisahan jasad
orang mati dan mereka yang masih hidup.
Nah, ketika perpisahan roh inilah
maka roh keluarga yang sudah
meninggal itu harus membawa bekal, yaitu
sejumlah hewan yang akan disembelih.
Kedua,
anggota keluarga yang sudah meninggal
selama masa hidupnya berkarya dan
menghasilkan harta. Semakin tua semakin
lama berkarya dan semakin banyak harta
peninggalan. Anak cucu merupakan harta
kekayaan yang ditinggalkan. Melalui laes
nitu, sebagian harta yang dihasilkan perlu dibawa-serta dengan cara
sembelihan. Untuk acara ini, setiap anak-cucu
dapat memberikan sumbagan ternak secara sukarela tanpa diminta. Sebelum
hari kematian tiba, orang tua dulu langsung menentukan salah satu sapi atau kerbau sebagai “tes” atau tongkat yang
harus disembelih pada saat yang bersangkutan meninggal.
Ketiga,
upacara kematian ini merupakan media pemberitahuan adat kepada keluarga luas tentang berakhirnya masa kehidupan anggota keluarga yang sudah meninggal. Karena itu perlu ada undangan yang mesti disampaikan kepada keluarga dan tetangga kampung sesuai dengan
batas kemampuan menyelenggarakan pesta
adat. Semua tamu yang hadir tidak saja dijamu
selama pesta berlangsung, tapi saat pulang
kembali ke rumah mereka masing-masing harus membawa daging sebagai simbol
berita tentang kematian keluarga penyelenggaraan pesta itu.
Sungguhpun tradisi laes nitu menuntut banyak korban ternak, namun implementasinya ditentukan berdasarkan
beberapa pertimbangan, antara lain kemampuan
keluarga, status sosial, ajaran agama, dan status pendidikan. Pada masa
silam di Fatuone dan sekitarnya belum
ada orang yang berpendidikan tinggi yang memberikan pemahaman bahwa membantai banyak ternak untuk laes
nitu merupakan suatu pemborosan.
Ajaran agama juga belum intensif sementara adat masih sangat kuat dalam
kehidupan keluarga. Keputusan Frederik
Titu Eki untuk mengadakan acara Laes Nitu buat mendiang ibunya dibuat mempertimbangkan
dua hal saja. Pertama, dia mempunyai ternak sapi dan kerbau dalam jumlah yang cukup banyak untuk membuat pesta besar. Jumlah ternak yang dimiliki dipastikan mencukupi juga buat
biaya pendidikan putranya karena ternak di padang terus berkembang-biak.
Hal kedua, yang dipertimbangkan bahwa dia saat itu sedang
menjadi temukung besar dan punya kedudukan
sebagai am uf bagi banyak keluarga di tempat jauh dan dekat. Dengan pertimbangan ini, Frederik membuat keputusan acara laes nitu bagi mendiang ibunya dilaksanakan pada pertengahan tahun 1959.
Acara lais nitu bagi bi Kukbat
berlansung hampir satu pekan penuh. Acara persiapan hingga acara
puncak mulai direncanakan. Undangan adat
dikirimkan kepada tokoh adat tiap
Temukung dalam wilayah Kefetoran Kauniki,
Kefetoran Tefnai, Takaeb, Mambait, di wilayah Amfoang dan Molo. Warga
Fatuone menjadi tuan rumah untuk
mempersiapkan tempat dilaksanakan pesta.
Persiapan tempat yang utama
adalah membuat tenda makan yang luas dan
tenda duduk untuk setiap kampung. Tenda
duduk dibuat dalam bentuk hala, sejenis
tempat tidur panjang terbuat dari
pelapah bambu setinggi 50 cm. Hala
dibuat sebanyak undangan dan juga disiapkan beberapa hala cadangan. Demikian pula disediakan kayu api untuk
keperluan masak dan api khusus untuk
hala. Untuk penerangan disediakan pula nopo --bambu kering tipis yang
dicincang halus agar memberi
banyak cahaya. Persiapan lampu gas juga
disediakan buat tamu penting.
Lalu dilakukan persiapan
utama membuat kandang khusus dari kayu besar pilihan untuk menampung 71 ekor kerbau dan sapi yang dagingnya akan dibagikan dan
dibawa pulang oleh setiap tamu. Kandang
ini dibuat dengan penuh perhitungan untuk memenuhi standar nilai manfaat
saat pesta dan sekaligus untuk kandang tetap buat ternak keluarga Frederik. Kandang harus berada di posisi rendah dekat
dengan tempat yang lebih tinggi sebagai tempat berdiri para penembak
kerbau dan sapi dalam kandang itu.
Persiapan pesta
berlansung dua pekan dan selama itu pesta sudah mulai berlansung. Babi dan sapi disembelih untuk keperluan
orang-orang yang bekerja. Beras, siri-pinang
dan sopi turut menambah biaya pesta itu. Acara puncak waktu itu
terjadi pada hari Jumat, yaitu hari
penembakan 70 ekor kerbau dan sapi dalam kandang, kecuali kerbau yang paling
kecil berlilitan selendang merah di leher tidak boleh ditembak oleh siapa pun. Barangsiapa salah menembak dan mengenai kerbau ini maka dia akan dikenakan sanksi adat.
Kerbau khusus itu berbulu hitam dan yang terkecil di antara 70 ekor ternak lain yang harus jantan dan minimal “oel hitu” (punya 7 adik)
atau telah berumur lebih dari delapan tahun. Jadi semua ternak besar terdiri dari 20 ekor kerbau jantan besar dan 50 ekor sapi jantan
besar dalam kandang yang
sama. Setiap kerbau dan sapi sudah dibagi menurut asal
wilayah ketemukungan dan berjumlah 70 kelompok. Tiap kelompok dari satu wilayah
temukung wajib menembak satu ekor yang ditunjuk oleh panitia. Begitu disebut nama wilayah temukung sambil
menunjuk jatah ternak dalam kandang maka
tembakan harus dilakukan hingga kerbau atau sapi itu mati.
Acara ini menjadi tontonan
menarik dan berlansung sekitar dua
sampai tiga jam. Biasanya giliran tembakan pertama yang paling menegangkan. Yang ditembak pertama adalah kerbau yang paling besar dan biasa disertai
mantra untuk menguji kehebatan penembak pertama. Jika langsung mengenai tempat yang mematikan dan kerbau itu
terguling maka terjadilah teriakan ramai.
Bila kerbau itu tidak jatuh terguling
maka penembak harus membelikan sopi buat penembak yang lebih jitu untuk
membantunya.
Tembakan untuk ternak
kedua, ketiga, keempat hingga ke-70 dilakukan secara spontan setelah mendapat petunjuk dari panitia mengenai sapi atau kerbau mana
yang menjadi jatah mereka. Saat itu
sebagian kerbau dan sapi bertahan sampai
mati. Akhirnya mereka meminta izin untuk
berdiri lebih dekat kandang. Posisi tembakan pertama dari atas panggung sejauh 50 meter. Beberapa kerbau dan sapi baru mati setelah penembak berdiri di atas pagar kandang. Tujuh puluh ekor
kerbau dan sapi sudah mati, tinggal kerbau muda tadi untuk mengakhiri
seluruh rangkaian acara.
Puncak dari
rangkaian acara itu adalah mengejar dan memotong babi-kerbau khusus yang
sudah disiapkan. Giliran mengejar dan
memotong babi yang dilepas keluar dari
kandang. Babi itu babi pilihan yang
larinya kencang tapi karena banyak orang
maka babi itu dapat terkejar dan terpotong sampai mati. Terakhir giliran membuka pintu kandang bagi kerbau muda berlilit
salendang di leher. Ketika pintu
pagar dibuka, beberapa orang sudah
siap dengan parang panjang di sisi kiri
dan kanan pintu kandang. Banyak pula
orang yang siap siaga di arah jalan
kerbau lari melewatinya. Kerbau itu lari
meninggalkan semua orang tanpa luka sedikit pun. Si kerbau muda kembali ke
induknya dan diberi nama ”aomina” yang
artinya selamat.
Setiap tamu mengambil
jatah daging ternak, lalu pamit dan pulang ke rumah masing-masing. Pesta pun usai. Pesta sejenis ini pernah dilakukan oleh Fetor Mesak Sonbai atas kematian mantan
Fetor Kauniki, Fole Sonbai, di Sonaf Kauniki. Acara itu terjadi tahun 1964. Saat itu Frederik Titu Eki ditunjuk sebagai penembak pertama setelah
beberapa tamu menolak menjadi penembak pertama. Ayub terkesan pada tembakan sang
ayah langsung mengena titik lemah
kematian seekor sapi jantan besar. Setelah peristiwa tersebut, tidak ada lagi
ritual adat semacam ini.
Masyarakat luar
menilai ritual adat Suku Timor merupakan pemborosan --harta, tenaga dan waktu— di
tengah kemiskinan akut. Satu hal perlu dicatat, dalam budaya Timor, kematian seseorang
mengandung nilai bahwa martabat manusia selalu melekat baik saat hidup maupun ketika
mati.
I.
Ayah
Dipukul dan Nyaris Ditembak Tentara
“Ayah saya dipukul dan
nyaris ditembak tentara,” ucap Ayub mengenang kembali kisah getir dan kekerasan
politik menyusul peristiwa 30 September 1965 yang lekat dengan Partai Komunis
Indonesia (PKI).
Peristiwa naas itu
membekas kuat di benak seorang Ayub. Sang ayah kerap mengisahkan peristiwa itu
kepada isteri dan anak-anaknya. Semakin sering dikisahkan semakin kuat membekas
dalam benak dan ingatan Ayub yang waktu
itu masih duduk di bangku SD dan belum lama ditinggalkan oleh tantenya.
Peristiwa itu adalah peristiwa Gerakan 30 September/PKI di mana semua orang yang
terlibat sebagai anggota PKI harus ditumpas oleh prajurit TNI. Ketika itu di wilayah
ketemukungan Fatuone tercatat nama empat orang sebagai anggota PKI. Sesungguhnya
bukan empat orang tetapi hanya satu orang, yaitu Toto Smaut Molo, yang biasa
berkomunikasi dengan beberapa keluarga di wilayah ketemukungan Oelnaineno yang
juga tercatat sebagai anggota PKI. Dalam daftar anggota PKI, berdasarkan
wilayah ketemukungan, terdapat empat nama di Fatuone masing-masing Toto Smaut
Molo, Muti Kusi, Uki Paut dan Yohanis Sabneno. Tokoh PKI yang menyebarkan
ajaran komunis di wilayah Fatuleu adalah Pdt Kabu yang berkedudukan di
Camplong.
Ketika ada komando
pembersihan tokoh dan pengikut PKI, Pdt Kabu ditangkap dan diminta menunjukkan
daftar anggota pengikutnya. Berdasarkan petunjuk nama yang ada dalam daftar
itu, prajurit TNI mulai menyebar untuk menangkap mereka satu per satu. Saat
upaya penangkapan mulai dilakukan, beberapa anggota PKI di wilayah ketemukungan
tetangga Fatuone menyebut Toto Smaut Molo sebagai antek PKI. Penyebutan ini
dilakukan dengan harapan Toto dapat menyelamatkan mereka menggunakan warisan
heroik dari kakeknya yang pernah menjadi panglima perang Raja Sonbai. Ternyata
Toto menjadi sangat takut dan lari menyembunyikan diri ke dalam hutan.
Sewaktu Toto sedang
bersembunyi di hutan, Temukung Fatuone, Fredrik Titu Eki, dipanggil untuk mempertanggung-jawabkan
pelarian Toto. Frederik dan beberapa temukung lain dipukul dan disuruh pulang
untuk mencari, menangkap dan mengantar Toto ke Camplong. Pencarian dilakukan
siang-malam oleh seluruh rakyat Fatuone. Mereka mencari di hutan, goa-goa dan
semua tempat. Rakyat dari semua temukung tetangga (bersama anggota TNI dan
polisi) turut membantu mencari Toto.
Kala itu sedang
terjadi bencana kelaparan hebat, namun Frederik Titu Eki harus menyediakan
makanan bagi ratusan orang yang ikut mencari Toto saban hari. Keluarga Toto
dipukul dan diancam ditembak mati jika Toto tidak ditemukan. Frederik pun ikut
diancam ditembak mati menggantikan Toto yang menghilang. Sementara upaya
pencarian terus dilakukan, ada panggilan dari Camplong agar Frederik Titu Eki
segera menghadap.
“Pada suatu sore ayah
saya mendapat panggilan untuk segera menghadap ke Camplong. Ayah lalu memanggil
kami semua keluarga berkumpul dan berdoa. Kemudian ayah berdoa lagi di dalam
gereja kecil bersama ibu. Sesudah itu ayah langsung berangkat ke Camplong
berjalan kaki lebih dari 60 Km ditemani kakak sepupu saya Nehemia Tafeten,”
urai Ayub.
Ketika sedang mendaki
hutan lebat Benu, hari sudah larut malam lalu mereka beristirahat dan tidur di tengah
hutan tanpa api. Pikiran Frederik mulai kacau dan memikirkan tiga alternatif
jalan: kembali ke rumah lantas mati minum racun, melanjutkan perjalanan ke Camplong
lalu menyerahkan diri ditembak mati TNI, atau lanjut ke Camplong dan meminta
diizinkan pulang mencari Toto satu pekan lagi. “Setelah memikirkan tiga
alternatif ini, ayah terus berdoa sampai pagi. Ayah melanjutkan perjalanan ke Camplong
dan di sana dia diinterogasi, dipukul dan disiksa. Atas pertolongan Tuhan, ayah
diizinkan kembali untuk mencari Toto sepekan lagi,” tambah Ayub.
Setelah tiba di
kampung, kata Ayub, ayahnya terus berdoa di dalam gereja sambil meminta
beberapa orang tua melakukan ritual adat “an
hel na Toto hen fain nem neu ume” --ritual adat memanggil Toto balik ke
rumah. Dan ternyata pada malam ketiga Toto balik ke rumah dan langsung
ditangkap, diikat dan diantar keesokan harinya ke Camplong. “Syukur kepada
Tuhan karena ayah selamat dari ancaman maut hanya gara-gara jabatannya sebagai Temukung
Fatuone saat itu,” ujar Ayub penuh keharuan.
Setelah Toto ditangkap
dan diikat, semua rakyat dan temukung
bersama polisi dan tentara yang ikut
mencari Toto kembali ke Camplong membawa Toto.
Sementara itu, Pdt Kabu bersama
anggota PKI yang lain sedang dikurung dan menunggu hari eksekusi. Toto sudah bergabung bersama
mereka, lubang kubur massal sudah dipersiapkan.
Para temukung diberi rotan untuk saling memukul satu sama lain. Ketika hari eksekusi tiba, tiap–tiap temukung berdiri mendampingi warganya yang akan ditembak tepat di lubang kubur. Warga yang tertembak langsung jatuh ke dalam lubang kuburan massal itu. Dari Fatione ada dua orang yang ditembak: Toto Smaut
Molo dan Uki Paut.
Bagi keluarga Frederik
Titu Eki, peristiwa pembantaian PKI merupakan suatu momen yang mendorong sang ayah semakin menyerahkan diri kepada Tuhan. Sejak tahun 1958, Frederik sudah membangun
sebuah rumah ibadah kecil khusus untuk
keluarga dan terus berkembang menjadi
rumah ibadah yang besar. Rumah ibadah
itu pernah dicap sebagai “gereja setan”
karena dipimpin oleh majelis buatan Frederik Titu Eki, tanpa penumpangan tangan
pendeta. Sungguhpun demikian mereka tetap aktif beribadah hingga awal Januari 1961 ketika
mendapat pengakuan resmi sebagai jemaat Gereja
Masehi Injili Timor (GMIT). Sebagai pendiri sekaligus anggota jemaat, Frederik
merasa cukup puas dan bangga
menjadi anggota jemaat GMIT tanpa
pertumbuhan iman.
Tahun 1965 merupakan
tahun awal kehidupan yang penuh pergumulan
iman bagi Frederik Titu Eki. Pertama,
karena Tante Mina wafat dan Ayub
yang nakal serta manja diserahkan kepada Frederik untuk dibentuk. Kedua,
ada bencana kelaparan hebat dan kemarau panjang sehingga banyak sekali ternaknya mati.
Ketiga, ada peristiwa PKI yang sangat mengancam kehidupannya hanya karena saat
itu dia sedang menjadi Temukung Fatuone.
Terakhir, ada kunjungan Tim Pekabaran
Injil yang punya karunia hebat dari Molo (TTS) ke Fatuone dan sekitarnya. Oleh Tim Injil, semua praktik budaya lama disingkirkan dan sisa tiang -tiang berhala untuk
upacara adat dibongkar.
“Ketika saya menjadi
mahasiswa, saya meniru dan mempraktikkan
dua kebiasaan ayah saya dalam kehidupan iman yang dilakukan sejak akhir tahun
1965 hingga akhir hayatnya 14 Desember 1988. Pertama,
dia selalu konsisten berdoa pada tengah
malam di saat semua orang sudah tertidur
lelap. Dia selalu berdoa panjang
dengan suara keras. Yang membuat saya terpukul
adalah bagian doanya tentang saya bahwa 'kalau Ayub tidak kenal
Tuhan maka biar dia sekolah tinggi juga hidupnya tidak berguna'. Konsistensi doa ayah tekun
dilakukan sekalipun tidur di padang yang gelap. Kedua, ayah sering menggunakan
rumah gereja sebagai tempat berdoa sendirian
atau bersama beberapa orang saat akan menggumuli sesuatu secara khusus. Ayah bilang
gereja itu saya jadikan tempat
berhala saya yang baru dan berhala hanya
kepada Allah tritunggal,” papar Ayub tentang pertumbuhan iman.
J.
Dipersiapkan
Menjadi Temukung
Setiap orang pasti
punya angan-angan masa depan tentang dirinya sendiri, ataupun angan-angan masa
depan anak yang dibanyangkan oleh orang-tuanya. Angan-angan ini merupakan
cita-cita atau mimpi yang terjadi bukan pada saat tidur, melainkan pada saat
duduk dan merenung jauh ke masa depan. Hal ini terjadi juga dalam keluarga
Frederik Titu Eki, khusus membayangkan putra keduanya, Ayub Titu Eki, kelak
menjadi apa.
Benar mimpi kelak
menjadi kenyataan? Entahlah. Tetapi, sinyalemen Stephen R. Covey dalam bukunya The 8th Habit (2005), bahwa dengan membayangkan
sesuatu masa depan yang indah dan harus dicapai, maka akan timbul kesadaran
diri dan kemauan berusaha yang kuat mendorong orang itu keluar dari berbagai
keadaan yang serba terbatas. Dengan kata lain visi, atau pandangan masa depan,
membuat orang desa keluar dengan dada membusung menuju kota. Visi membuat
petani dan peternak keluar dari padang sabana menuju dunia luar, dunia
internasional dan tampil sebagai pemenang.
Sebagai temukung besar
pada masa swapraja, Frederik Titu Eki sangat memahami benar seluk beluk realita
sosial bahwa temukung --apalagi temukung besar-- merupakan sebuah peluang untuk
memberikan pelayanan kepada banyak orang selain melayani keluarga intinya
sendiri. Disadari pula bahwa melayani orang banyak cukup memusingkan. Tapi, bagi
warga desa, terlebih lagi dalam suasana kekerabatan dan ikatan adat yang kental,
pelayanan yang berat akan dinikmati penuh sukacita karena melekat dengan status
sebagai am uf atau dipahami sama seperti
seorang bapak yang sibuk melayani anak-anaknya sendiri. Adakah orangtua yang
bosan melayani anak-anaknya?
“Cita-cita ayah saya
dulu sederhana saja. Dia bilang mu skol
hem tok ume ma mutuk tog yang artinya sekolah untuk jaga rumah (adat) dan
memimpin keluarga besar. Mungkin yang ayah maksudkan saat itu saya harus
sekolah untuk membantu beliau menjadi temukung. Semua warga Fatuone merupakan kerabat
dekat dan keluarga kami menjadi amaf
atau bapak bagi banyak marga. Saya sangat yakin bahwa ayah saya tidak pernah
bercita-cita agar saya kelak menjadi pejabat publik, yang beliau inginkan agar
saya dituakan dan memimpin keluarga besar kami di Fatuone,” tutur Ayub Titu Eki
ihwal cita-cita ayahnya.
Sesungguhnya Frederik
Titu Eki tidak bercita-cita anak-anaknya mendapat pendidikan setara raja.
Sebagai salah satu tokoh adat yang memahami benar sejarah keturunan mereka,
Frederik tahu bahwa kedudukan mereka sebatas amaf dan bukan usif atau
raja. Nenek moyang mereka menjadi amaf am
naifat ma askaut, bapak pemangku dan gendong raja. Dalam budaya asli Timor,
jabatan amaf itu bawaan sedangkan
jabatan usif adalah pemberian berdasarkan
kepercayaan amaf-amaf dan diakui
dalam pemerintahan kolonial.
Jabatan temukung
(setingkat kepala desa sekarang), fetor( setingkat camat ) dan kedudukan lain
pada masa itu merupakan jabatan struktural buatan pemerintah penjajah. Dalam
struktur pemerintahan adat yang asli hanya dikenal amaf-amaf (setara dengan kedudukan dewan perwakilan rakyat masa
sekarang), uispala atau raja kecil, usimnanu atau raja besar dan ada juga mafefa atau juru bicara. Peranan usif sama dengan tugas seorang gembala
untuk mengurus dan melindungi rakyat yang sudah memberikan kuasa kepadanya. Usif yang pandai mengambil hati rakyat
pasti memperpanjang jabatannya secara turun temurun. Peranan mafefa sama dengan juru bicara yang
mengurus sekretariat administrasi pemerintah yang dipilih oleh usif berdasarkan kepercayaannya.
Dalam budaya orang
Timor, pengertian amaf mencakup dua
arti. Pertama, arti khusus yang menunjuk pada bapak atau kepala keluarga yang
mempunyai anak. Kedua, arti umum yang menunjuk pada tokoh atau figur penutan
dalam beberapa rumpun marga berkait. Sebagai panutan dalam ikatan keluarga
besar, kedudukan amaf tidak hanya
meliputi keluarga yang sama marga tapi juga meliputi marga lain yang berbeda namun
mempunyai asal usul yang sama. Tokoh panutan itu biasa dari marga induk yang
menurunkan marga lain dari keturunan anak perempuan dan menjadi am uf jika marga induk itu meliputi
banyak marga hingga di tempat yang jauh. Dalam masyarakat umumnya, pengaruh am uf jauh lebih kuat daripada pengaruh
seorang pemimpin dalam struktur pemerintahan formal.
Marga Titu Eki
(sesungguhnya marga EKE dan menjadi salah satu anak rumpun keluarga OBE)
merupakan marga induk yang mempunyai banyak keturunan marga lain lintas daerah
kecamatan dan kabupaten. Karena itu, Ayub diharapkan menjadi figur penjaga
rumah adat (apao ume) dan menajdi
gembala (atuk tog) bagi segenap rumpun
keluarga terkait. Tapi Ayub harus sekolah terlebih dulu agar kelak mampu menjadi
pengurus keluarga besar yang baik.
Rencana Frederik
terhadap Ayub berubah ketika Elieser, kakak sulung Ayub, putus sekolah kelas
dua SMP di Kupang dan terpaksa pulang kampung. Dengan begitu, Ayub harus terus lanjut
sekolah. Pada tahun1970, Frederik mendaftarkan Ayub di Yayasan Pendidikan Kristen
Taemaman (SMP Yapenkrista) di Desa Tanini, sekitar 17 Km dari Tiluntob, pusat
desa gaya baru Fatuone. SMP ini menggunakan gedung SD GMIT Taemaman dan sekolah
pada sore hari. Hanya ada satu guru SMP yang menjadi kepala sekolah dan dibantu
oleh guru-guru SD setempat.
Setelah dua bulan
menjadi siswa kelas satu SMP Yapenkrista, Ayub wajib tinggal di asrama bersama siswa-siswa
yang lain. Lantaran sudah terbiasa bekerja membantu orangtua di luar jam
pelajaran, Ayub menggunakan waktu pagi (jam 06.00–12.00) aktif membuat kebun
sendiri yang berada sekitar 5 Km dari asrama. Untuk kegiatan ini, Ayub mengajak
dua teman lain (Lukas dan Sem) bergabung, dan masing-masing mengerjakan kebunnya
sendiri. Dari kebun ini Ayub dan dua temannya panen padi ladang, jagung dan ubi
kayu kendati hasil yang diperoleh tidaklah banyak.
Kesibukan belajar
sambil mengerjakan ladangnya sendiri membuat Ayub asyik menikmati tinggal
bersama banyak teman di asrama SMP saat itu. Tiba masa liburan sekolah dan Ayub
pulang ke rumah orang tua di Tiluntob. Pada waktu liburan itu dia mendengar kabar
bahwa tiga bulan kemudian ayahnya akan mengirim lima orang anak muda setempat ke
pusat kecamatan untuk mengikuti latihan mengerjakan sawah dengan cara meluku. Kabar
ini sangat memikat hati Ayub untuk berhenti sekolah SMP dan mengikuti pelatihan
keterampilan tersebut. Dia menyampaikan keinginan ini kepada ayahnya. Namun ayahnya
tegas menolak keinginannya karena kakak Ayub sudah putus sekolah SMP.
Masa liburan pun usai.
Ayub kembali mengikuti pelajaran semester dua kelas satu SMP. Ayub dikenal anak
yang sangat rajin kerja kebun sambil tekun belajar. Dan, Pak Manu –guru sekaligus
kepala sekolah SD GMIT Taemaman-- sangat mengagumi Ayub. Itu sebabnya, sesudah
masa liburan, Pak Manu memanggil dan meminta untuk tinggal di rumahnya dan
bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Ayub mengisahkan, di
rumah Pak Manu, ia bersama seorang teman anak laki-laki yang bertugas mengurus
ternak babi peliharaan, sapi ikat (sapi yang diparon ), dan sapi lepas di
padang dan mengolah sawah. “Letak lokasi sawah di sekitar rumah seluas kurang
lebih ¾ Ha dan diolah dengan cara mencangkul, mencincang dan meratakan lumpur
di setiap bedeng. Pengolahan sawah ini menguras energi dan sangat melelahkan,“
kata Ayub.
“Tiap hari saya bertanya-tanya,
mengapa saya harus mencangkul sawah tiap hari hingga melelahkan. Padahal di
rumah, saya bersama ayah tiap tahun membajak sawah tadah hujan dengan tenaga
puluhan ekor sapi. Dan lagi ada cara baru membajak sawah dengan menggunakan
tenaga seekor sapi saja. Mengapa ayah tidak mengirim saya untuk mengikuti
pelatihan itu tapi ayah mengutus orang lain? Tak terasa kadang air mata saya
menetes tapi saya tetap menjalaninya,“ tambah Ayub.
Walau begitu, Ayub
tabah menghadapi keadaan itu. Dia tetap tekun belajar dan rajin bekerja. Dan
inilah rahasia sukses di dalam kehidupannya. Deepak Chopra dan RE Tanzi dalam
bukunya Super Brain (2012) menulis: “We belive every remarkable mental feat is a
signpost showinng the way. We wan't know what your brain can do until you test
its limits and push beyond them. Now matter how inefficiently you are using
your brain one thing is certain: it is the gateway to your future.” (terj:
Sudah pasti bahwa setiap tantangan memaksa kita untuk berpikir ke arah mana
kita harus melangkah. Tidak soal jika salah melangkan, namun pasti bahwa langkah
itu terus maju ke depan).
Mengikuti pendidikan di
sekolah kampung baik SD maupun SMP kurang memberikan jaminan mutu pengajaran
yang diharapkan. Orang berduit menghindari lingkungan pendidikan demikian.
Mereka lupa bahwa tantangan alam menjadi laboratorium dan perpustakaan hidup
yang pasti membentuk sikap dan karakter kuat bagi anak didik belajar mandiri
dan sanggup memecahkan setiap persoalan hidup yang dihadapi. Dan inilah situasi
kehidupan masa kecil Ayub, pergolakan batinnya harus diselesaikan sendiri. Dia
selalu berdiskusi dengan dirinya sendiri lewat cara berpikir dan terus berpikir
sambil tangan dan kakinya terus melangkah ke depan.
“Akhirnya saya ambil
keputusan untuk berdoa dengan harapan kiranya Tuhan dapat membalikkan hati ayah
agar saya berhenti lanjut SMP dan ikut pelatihan meluku supaya kelak menjadi
petani sukses. Tiap hari saya terus berdoa dengan cara berlutut beberapa menit
di atas loteng rumah itu. Ternyata ketekunan doa saya tiap hari dengan tetesan
air mata di tempat sepi itu dijawab Tuhan tidak seperti yang saya inginkan. Tuhan
justru lebih meneguhkan pilihan ayah agar saya terus lanjut sekolah,” ujar Ayub.
“Ketekunan doa saya
tiap hari selama lebih dua bulan terasa sia-sia. Ayah sudah megirim dua pemuda yang
masing- masing membawa sapinya untuk latihan meluku. Saya kecewa dan tidak mau
berdoa lagi, saya menangis saat sendirian tapi tetap ceria di mata orang. Saya
baru tahu bahwa itu pilihan terbaik dari Tuhan melalui ayah saya. Saya baru menyadari
semua itu pada waktu saya menjadi mahasiswa dan mendapat beasiswa sepanjang
masa studi di tingkat sarjana muda, S1 hingga S3 di Australia,“ tambah Ayub.
Setelah memasuki bulan
ketiga pada semester kedua kelas satu SMP, Ayub sakit gatal- gatal di sekujur
badan. Sebab itu, Ayub minta izin pulang ke rumah orang tua. Selama beberapa
hari Ayub sulit bergerak sebab badannya terasa kaku dan luka-luka mengeluarkan
cairan bening.
“Dengan pengobatan
ramuan tradisional akhirnya luka-luka itu bisa sembuh namun luka di hati saya
menganga lebar. Saya berpura-pura sakit dan terus tidur setiap hari jika ayah
sedang ada di rumah,” tutur Ayub.
Memasuki pekan ketiga,
Frederik memaksa Ayub harus ke sekolah lagi. Ayub pun pergi namun pada hari itu
juga dia dipukul hingga babak belur oleh Guru Biologi gara-gara tidak mengikuti
apel pagi bersama sebagian besar siswa SMP. “Saya bertanya dalam hati, mengapa saya
sendiri yang menanggung beban ini,“ tutur Ayub mengisahkan pengalamannya yang
amat pahit saat sekolah di SMP Kristen Taemama.
Ayub serta merta
pulang ke rumah untuk memperlihatkan badannya yang memar dan luka akibat
pukulan sang guru. Frederik nampak acuh tapi diam-diam dia menyusun strategi
untuk memindahkan Ayub ke Kupang. Dengan demikian, berarti Ayub tidak lagi
menjadi penjaga rumah adat dan pengasuh keluarga.
Inkonsistensi sang
ayah rupanya berjalan lurus dengan pertumbuhan motivasi dan visi baru terhadap
masa depan Ayub. Ketika motivasi baru mengendap dalam jiwa dan menukik dalam
benak ayahnya, Ayub sendiri tidak tahu bahwa dia telah dipilih dan dipanggil
oleh Tuhan untuk keluar dari semak belukar dan padang gembala ternak di Fatuone
menuju Kupang. Ternyata tidak hanya berhenti di Kupang, dia pun menuju Yogyakarta,
menyunting seorang gadis di sana untuk menyambung tali keluarga Titu Eki,
kemudian ke Jakarta selama setahun, dan puncaknya, dia pergi ke Australia
bersama istri dan ketiga buah hati mereka.
Melalui tangga
pengalaman itu, dia melihat dunia internasional. Dengan duduk tenang di rumah
pun, dia dapat melihat gejolak ekonomi, politik, sosial, budaya di mana pun di
dunia melalui jendela internet. Tanpa terkecuali. Keterlibatan itu dimasukinya
tanpa canggung; Bahasa Inggris dan gelar doktor dari sebuah universitas terbaik
memungkinkannya diraih.
Yang berbeda kali ini
hanyalah luasnya motivasi dan visi. Pada masa remaja, gejolak hati dan
pikirannya yang serba terbatas, menggelisahkan dirinya namun juga kuat menggerakkan
langkahnya hingga kini. Ayub bukan lagi hidup hanya untuk diri sendiri,
keluarga inti dan keluarga besar Fatuone, melainkan untuk masyarakat yang lebih
luas.
K.
Belajar
Sambil Mencari Uang
Oelatfog merupakan momen
paling indah penuh kebahagiaan dalam seluruh titian kehidupan Ayub Titu Eki. Perkampungan
sepi yang bersambung dengan sabana dan hutan itu memberikan kesempatan luas
kepadanya beraktivitas, menyayikan lagu cinta malam hari sembari menatap rembulan
sambil menikmati daging dan susu yang berlimpah. Bagi seorang anak yang tengah
berkembang menjadi remaja, apa saja yang bisa diperoleh dari pengalaman
mengagumkan itu? Para psikolog cenderung menyatakan bahwa hanya pengalaman
pahit yang mampu mengembangkan seseorang; ia membuktikan bahwa orang belum sepenuhnya
mampu mentransformasi diri untuk mencapai kebahagiaan.
Ayub pun tidak pernah
memanfaatkan hidup pedesaannya sebagai momen transformasi diri. Dia terlampau
sibuk menikmati dan meresapinya sebagai kebahagiaan. Pergulatan mentransformasi
diri hanya terjadi jika dia keluar dari zona nyaman hidup pedesaan.
Momen itu telah tiba.Tepatnya
ketika ayahnya, Frederik, melihat Ayub mulai enggan bersekolah di desanya. Bukannya
pergi ke sekolah, Ayub remaja cenderung memilih menjadi petani. Tidak ada
cita-cita sama sekali untuk lanjut sekolah jauh dari kampungnya. Itu
sesungguhnya merupakan cita-cita ayahnya. Sang ayah merasa khawatir Ayub
bernasib seperti putra sulungnya yang mengalami ''kecelakaan'' sehingga
terpaksa putus sekolah dan kembali menetap di desa meninggali rumah kecil di
atas tanah yang sudah dibelikan untuk dia. Frederik merasa khawatir pula bila
putranya yang kedua gagal dan seolah membenarkan hasil ramalan masa kecil
anaknya yang sangat tidak menguntungkan. Sang ayah pun teguh prinsip lantas
mengirim Ayub ke Kupang.
Ayub merasa dicabut
dari kehidupan desanya, dari kenyamanan sosialnya, tempat dia menjadi
seseorang. Di tempat di mana dia ditokohkan. Tantenya pernah rela berkelahi
melawan ibu kandungnya, bahkan melawan para guru sekolahnya, demi Ayub. Guru-guru
sekolahnya senantiasa segan mengingat dialah anak temukung besar yang kaya ide.
Di padang gembala, dialah pemburu yang belajar langsung dari ahlinya, sang
ayah. Lalu apa yang akan diperoleh di Kupang?
Palu sudah diketok.
Keputusan telah diambil. Ayub tidak ditanyai lagi mau atau tidak mau sekolah
lanjut ke Kupang. Ayub dipindahkan secara paksa oleh ayahnya dengan status
tidak selesai kelas satu di SMP Yapenkrista Taemaman. Pada tahun 1971, Ayub
resmi menjadi siswa kelas dua SMP Kristen Bantuan Naikoten Kupang. Rumah dan
tanah yang disiapkan Frederik buat Eliaser, putra sulungnya, sudah diambil
orang. Katanya, diserahkan kepada seorang anak Fatuone yang sudah tamat dan
kembali mengajar di SD GMIT Taemaman –dia adalah Guru Biologi yang memukul Ayub
hingga bocor darah. Frederik sama sekali tidak mempersoalkan baik tindakan
pemukulan maupun pengalihan tanah di Naikoten II Kupang. Satu hal yang paling
penting bagi Frederik: Ayub harus sukses sekoah.
Di Kupang, Ayub
tinggal bersama enam orang kakak asal Fatuone; semuanya sekolah guru dan hanya
Ayub yang di SMP. Mereka tinggal di tanah milik Stefanus Pinat yang hanya
setahun tinggal bersama karena setelah dia tamat SPG lalu pulang kampung. Hanya
dalam tempo dua tahun, semua kakak sudah pulang kampung tapi datang lagi anak
baru dan tinggal bersama Ayub. Mereka tinggal di Naikoten II bertetangga dengan
sesepuh keluarga Kol' Oel, Paulus Panael (mendiang). Mereka mendiami dua rumah
kecil berdinding bebak, beratap alang-alang dan berlantai tanah dengan luas
halaman berkarang sekitar 500 meter persegi. Satu-satunya tanaman yang mampu
bertahan hidup di situ adalah turi atau gala-gala. Untuk memasak jagung,
anak-anak ini sering mengambil daun pepaya di kebun orang pada malam hari.
Selama tinggal bersama
kakak-kakak di Naikoten II, aktivitas di luar jam sekolah lebih banyak
bercerita dan bermain kelereng bersama Opa Panael. Beberapa saat berselang, Ayub
tertarik dengan latihan fisik buat meningkatkan pertahanan diri. Jadilah Ayub
mengikuti latihan tinju (sekali sepekan) di Sasana Habel Laskodat di Mantasi. Selain
itu, Ayub juga mengikuti latihan karate di perguruan Yopi Makaraung di dekat
Asrama TNI-AD Kuanino Kupang. Dua kali sepekan Ayub harus mengikuti latihan
tinju dan karate. Aktivitas latihan fisik berisiko itu kemudian tercium oleh
sang ayah gara-gara dia terjatuh dan tangannya terluka saat latihan. Ayahnya lalu
mengancam, jika ingin berkelahi pulang saja ke kampung. Sejak saat itu, Ayub
mengurungkan niat melanjutkan latihan tinju dan karate.
Wajah ayahnya marah, Ayub
dikirim ke Kupang dengan sebuah misi, sebuah harapan, sebuah cita-cita besar,
yang harus diperjuangkan dan digapai. Sang ayah mendambakan putera keduanya itu
keluar dari belenggu ramalan masa kecil serta tampil sebagai pemimpin dalam memerangi
kemiskinan dan kebodohan seperti yang dilakukan leluhur mereka,Toto Smaut ''Meo'',
Panglima Perang Raja Sobe Sonbai III yang tidak terkalahkan dalam Perang Kauniki
melawan penjajah Belanda. Harapan Frederik bahwa leluhur mereka sukses
berperang menggunakan suni ma kenat
(pedang dan senjata), sedangkan Ayub harus melanjutkan kepahlawanan Toto Smaut lewat
berperang melawan kebodohan dan kemiskinan dengan otak dan hati. Ini merupakan
kata-kata tegas ayahnya saat melarang Ayub berlatih adu kekuatan fisik.
Toto Smaut adalah Panglima
Perang Raja Sobe Sonbai III. Ilmu kanuragannya tinggi dan piawai mengatur
strategi perang. Pasukan Belanda dengan dukungan senjata yang jauh lebih modem
tidak mudah menaklukkannya. Kampung Fatuone sekaligus benteng pertahanan tempat
persembunyian Raja Sobe Sonbai III yang dipertahankannya sangat sulit ditaklukkan.
Banyak pejuang tewas dan banyak dana terbuang. Setelah Raja Sobe Sonbai III
tertangkap, Toto Smaut menyerahkan diri. Belanda menawan kemudian membuangnya
ke seberang hingga di Aceh. Dia dibolehkan kembali ke Timor atas keberaniannya
membakar benteng musuh tentara Belanda di Aceh. Dia kembali dan meninggal dunia
di Fatuone, tanah kelahirannya. Ketokohan dalam pertempuran fisik ini mengilhami
benar Frederik Titu Eki dan ingin diwujudkan dalam bentuk kepahlawanan inteligensia
di dalam diri Ayub.
Setelah dilarang
mengikuti latihan tinju dan karate, Ayub mencoba pertarungan lain, dia sekolah
sambil belajar berdagang. Alasan kuat pembenaran pun dia dapatkan, teman-teman
sekampung di asrama acap kehabisan makanan. Masing-masing dari mereka biasa memasak
makanannya sendiri. Tapi, jika ada yang kehabisan maka mereka saling menolong
satu sama lain. Maklum, mereka hanya mendapat kiriman jagung dan ubi-ubian
sekali sepekan saat ada pasar di Takari. Bila terlambat kirim bekal di hari
pasar, maka tidak ada lagi kendaraan yang dapat ditumpangi untuk mengantar
bekal buat anak-anak yang sekolah di Kupang.
Ketika semua makanan
hampir habis, Ayub mengajak dua kakak asrama (Fares Tobmuti dan Marthen Tanau, keduanya
siswa SPG Kristen) berjualan pisang. Mereka bertiga berjalan kaki dari Naikoten
II ke Baun pada Jumat sore dan selalu bermalam di bawah pohon besar di pasar. Modal
apa adanya. Mereka membeli pisang kulit mentah dan kelapa. Marthen sering
membeli pisang goreng (pisang kepok) karena dia pandai menggoreng pisang. Ketika
usaha ini ternyata memberi banyak keuntungan, mereka lalu menekuninya sambil pandai-pandai
mengatur jadwal sekolah tiap hari Sabtu. Bila mereka ke Pasar Baun hari Sabtu,
maka mereka terpaksa membolos.
''Keuntungan yang kami
dapat lumayan sehingga setiap pekan kami ke Baun. Biasa kami beli satu tandan
pisang di Baun seharga Rp25 dan kami jual satu sisir di Naikoten II seharga Rp25
pula sehingga tiap tandan kami untung bersih minimal Rp100. Kami juga
memperbesar keuntungan dengan jalan kaki ke Baun dan waktu pulang saya
menumpang truk bersama dengan barang dagangan. Sedangkan Fares dan Marthen
pulang jalan kaki. Ketika truk menurunkan saya dan barang-barang di Pasar Kuanino
dulu, saya harus duduk menunggu dua kakak itu hingga mereka tiba, baru
masing-masing mengangkat barangnya ke rumah,” papar Ayub mengisahkan
pengalamannya sekolah sembari berdagang.
Kenekatan anak-anak remaja
ini ternyata berbuah manis. Perbedaan harga pisang di Baun dan di Naikoten II
memungkinkan mereka meraup untung besar. Sampai kemudian mereka sangup
mencukupi kebutuhan makan dan membayar uang sekolah. Ayub tidak pernah meminta
uang kepada orang tua namun tidak pula menolak ayahnya yang selalu mengirim
uang dan makanan tepat waktu. Dia mencari uang cuma untuk menemani dan menimba
pengalaman hidup. Usaha ini dilakukan hanya satu atau dua kali sebulan agar tidak
bolos sekolah.
Pada suatu ketika Ayub
menolak titipan uang pemberian orang tua dengan alasan masih punya uang. Ayub
memang punya kiat sendiri menyimpan uangnya. Biasanya uang itu disisipkan di sela
alang-alang atap rumah. Untuk mengambil dan menyimpannya harus hati-hati agar
tidak diketahui orang. Ayub takut menaruh uang di peti pakaian lantaran gampang
dibongkar pencuri.
Frederik yang jarang
mengunjungi Ayub di Kupang mulai menaruh rasa curiga. Apakah Ayub sudah tidak
bersekolah lagi dan terus melanjutkan tinjunya? Ternyata tidak.
Usaha dagang
kecil-kecilan yang dilakukan Ayub bersama kakak seasrama akhirnya diketahui pula
oleh sang ayah. Temukung besar di kampung itu pada salah satu sisi merasa
dipermalukan karena dianggap tidak membiayai pendidikan anak dan di sisi lain
tidak mau Ayub bolos sekolah. Dengan tepat Ayub mengingat kata-kata pria
disiplin yang tidak tamat sekolah rakyat itu: ''Saya suruh kau datang ke Kupang
untuk sekolah, bukan mencari uang. Kalau cari uang di kampung saja. Piara sapi dan
jual pasti uang lebih banyak dan orang pasti bawa uang datang cari kita. Mau
dapat uang berapa pun pasti uang datang. Jika engkau butuh uang katakan, ayah
pasti berikan. Yang penting engkau harus sekolah tanpa bolos dan harus selalu
sukses.''
Niat Ayub mencari uang
untuk menimba pengalaman sambil membantu kesulitan teman seasrama belum
berakhir. Fares dan Marthen sudah tamat SPG dan mereka pulang ke kampung. Lalu Ayub
mendapat partner baru, John V. Nenobahan yang pernah menjabat Asiten III
Kotamadya Kupang. Usaha penjualan pisang ini berlanjut hanya sampai kelas satu
SMA. Usaha jual-beli pisang itu terpaksa dihentikan gara-gara Ayub dan John
Nenobahan mengalami kecelakaan di Baun, truk yang mereka tumpangi terguling
bersama seluruh penumpang dan muatannya.
Ketika peristiwa
kecelakaan itu terjadi, John Nenobahan dan beberapa penumpang terjatuh ke tanah
dan beberapa orang terluka. John mengalami benturan keras dan sakit selama
beberapa bulan. Sedangkan Ayub justru tersangkut di atas dahan pohon kusambi
tanpa cacat sedikit pun. Dengan kejadian ini, Ayub kemudian mengakhiri usaha
dagang pisang. Dia berhenti setelah merenungkan kembali kata-kata ayahnya bahwa
dia datang ke Kupang hanya mencari ilmu. Demikian pula dia ingat nasehat ibunya
agar dirinya tidak melawan nasehat ayahnya sebab mulut ayahnya itu panas.
Ketika Ayub duduk di
kelas II dan III SMA, kembali muncul niat mencari uang hanya buat memenuhi
kekurangan uang dan makan bagi anak-anak yang tinggal bersama Ayub. Rumah yang
ditempatinya sudah dibuat lebih besar untuk menampung delapan orang anak dari
Fatuone.
Usaha pertama yang
dilakukan adalah mencarter bemo (angkutan kota) untuk satu putaran jalur trayek
yang biasa dilayani. Pekerjaan ini dilakukan pada sore hari sehingga tidak
mengganggu jam pelajaran. Usaha ini ternyata memberikan hasil yang menggembirakan
selama pekan pertama, tapi pada pekan kedua justru merugi lantaran sopir bemo
yang sudah menerima uang carteran sebelum beroperasi selalu lari kencang
sekalipun ada penumpang menyetop di tepi jalan.
Akhirnya usaha ini
juga dihentikan setelah Yunus Paut mencarter bemo Yogapadma jurusan Oepura - Terminal
Kota. Untuk satu putaran, ongkos sewa angkutan publik itu Rp5.000 dibayar tunai
kepada sopir sebelum beroperasi. Usaha ini berhenti gara-gara Yunus Paut bernasib
sial. Teman Ayub itu mendapat bogem mentah dari seorang penumpang yang sudah
membayar ongkos tetapi Yunus menagih lagi. Ayub menyesal lantaran anak buahnya
itu mendapat hadiah tinju dari penumpang sehingga cita-cita memperoleh uang
terhalang.
Usaha kedua dilakukan
dengan memanfaatkan potensi pekarangan.Tiap penghuni asrama wajib menanam dan
merawat minimal lima anakan pepaya hingga menghasilkan bunga atau buah. Sebagai
pencetus ide, Ayub selalu lebih duluan menanam dan harus segera diikuti oleh
delapan orang anak buahnya. Tanaman lain pun ikut ditanam. Jagung, labu dan ubi
kayu ditanam di lahan orang. Tanah pekarangan rumah yang semula tandus dan
berbatu karang berubah hijau merona dengan aneka jenis tanaman pepaya, cabe dan
tomat. Bila sebelumnya mereka mencuri daun pepaya maka sekarang mereka menjadi
penjual buah dan bunga pepaya. Sementara itu, bongkahan karang yang tidak
produktif dipecah menjadi kerikil kemudian dijual.
''Syukurlah kami dapat
menghasilkan uang dari pekarangan sempit berbatu. Uang paling banyak kami
peroleh dari hasil jual batu karang. Batu besar dipecah dan digali dari dalam
tanah sehingga batu bisa dijual. Sedangkan tanahnya untuk menimbun tanaman. Banyak
tetangga membeli bunga dan buah pepaya, uang hasil penjualan kami pakai untuk
berbagai keperluan,'' kenang Ayub.
Ayub tinggal bersama
anak-anak Fatuone di Naikoten II dari tahun 1971 sampai 1975. Selama itu, Ayub
mengikuti pendidikan SMP mulai kelas dua di SMP Kristen Bantuan Kupang dan tiga
tahun di SMA Kristen Kupang. Dua sekolah Kristen itu dikenal sebagai sekolah
penampung anak-anak desa dan/atau anak-anak kota yang nakal.
Ayub punya pengalaman
menarik saat sekolah di Kupang. Ketika di SMP, kata Ayub, Kepala Sekolah (Pak
Y. Timo) sampai mengajar delapan mata pelajaran, termasuk bahasa Arab dari
kelas satu hingga kelas tiga. Jumlah tenaga pengajar juga terbatas bahkan ruang
kelas pun hanya tiga buah. Murid-murid duduk berdesak-desakan dan tak pelak
lagi ruang kelas menjadi gaduh (berisik) gara-gara ulah anak-anak kota yang
terkenal bandel dan nakal.
Demikian pula ketika
di SMA Kristen, Ayub kembali bertemu dengan banyak anak nakal. Salah satu teman
di antaranya yang paling nakal pernah menabur serbuk lelehanak di kursi seorang
ibu guru muda sebelum jam mengajar. Lelehanak adalah sejenis tanaman di hutan
yang buahnya terbungkus bulu-bulu halus dan sangat gatal bila terkena kulit. Akibat
ulah murid nakal itu, ibu guru yang suka mengenakan rok mini itu pahanya
gatal-gatal terkena lelehanak. Semakin digaruk semakin gatal. Lantaran merasa
malu, sampai-sampai si ibu guru berhenti mengajar di SMA Kristen.
Lain lagi kisah
pengalaman Ayub. Akibat ulah temannya yang nakal, dia sampai dua kali menerima
pukulan dari guru SMA. Pertama, dia dipukul dengan penggaris di kepala oleh Ibu
Pdt. Nance --guru mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pasalnya,
saat sang guru tengah menerangkan tentang 4
sehat 5 sempurna, Ayub berbisik kepada Albert Fai, teman sebangku, ''Kami
di kampung biasanya minum air mentah dan makan ubi bakar yang gosong dan hitam
lagi. Tapi kalau lomba lari, kami pasti lebih hebat daripada anak di kota.” Albert
spontan tertawa lalu Ayub ditegur guru lantas diam sejenak.
Sang guru melanjutkan
penjelasan tapi berhenti lagi lantaran Ayub kembali membuat ulah dengan
berbisik kepada temannya dengan kalimat yang sama sehingga Albert tertawa lagi.
Setelah tiga kali ditegur, Ayub masih juga belum kapok. Ibu guru pun marah dan
memukul kepala Ayub dengan penggaris kayu. Saat itu guru menjelaskan tentang manfaat
minum susu, malah Ayub kembali berbisik kepada temannya itu, ''Meski kami di
kampung minum air mentah, bahkan air kotor di danau, tapi kalau berkelahi kami
mampu menjatuhkan lawan dengan satu kali pukulan saja.''
Selain menerima
pukulan dari ibu guru, Ayub juga mendapat hadiah ditinju mendiang Nico Benu,
Wali Kelas, gara-gara Ayub dan teman-temannya tidak menyiram ruang kelas yang
berlantai tanah.
L.
Tiga
Kali Gagal Tes Tapi Berprestasi Tinggi
Pada umumnya orang
mencari sekolah bermutu agar masa depannya menjadi lebih baik. Mutu sekolah
biasa dilihat dari berbagai hal seperti kesediaan guru profesional menurut
bidang mata pelajaran, laboratorium, dan perpustakaan. Dengan begitu, output
yang dihasilkan berkualitas dan bisa bersaing di kancah pendidikan tinggi.
Tidak demikian halnya dengan
Ayub Titu Eki. Dia yang kelahiran Fatuone Kauniki saat itu menapaki pendidikan
SD hingga SMA pada sekolah-sekolah yang tergolong bermutu rendah. SD GMIT
Oepula di Desa Kauniki, Kecamatan Takari, sejak dulu sampai sekarang tidak
pernah menonjol dalam prestasi belajar. Kesan positif Ayub dari SD itu adalah
selembar ijazah tahun 1969. Mengingat keterbatasan guru, murid SD Itu lebih
banyak bekerja di kebun sekolah, mencari sapi milik guru di padang atau bermain
di lapangan untuk menghabiskan jam sekolah.
Satu tanda istimewa
bekas luka pukulan guru di kepala Ayub menjadi kenangan tak terlupakan. Kepala
Ayub diketok dengan mister segitiga yang terbuat dari kayu merah merobek kulit
kepalanya hingga berdarah gara-gara tidak mampu menyelesaikan soal matematika. Hal
ini menunjukkan bahwa kemampuan akademik Ayub relatif lemah di sekolah yang
kurang bermutu pula. Bukan cuma itu, saat duduk di kelas IV, bersama dua orang
temannya, dia menerima hadiah pukulan bertubi-tubi dari guru lantaran tidak
mampu menyelesaikan soal matematika.
Pendidikan kelas satu
SMP di kampung pun tidak selesai. Lalu Ayub ke Kupang dan masuk di kelas II SMP
Kristen Kupang sampai tamat. Di sekolah ini juga tidak menguntungkan dari aspek
kualitas pembelajaran. Ketika di kelas I SMP di kampung misalnya, dia mendapat
pukulan fisik dari guru mata pelajaran Biologi. Demikian pula saat di kelas II
SMAKristen, dia mendapat pukulan fisik dari guru mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga dan bogem mentah beberapa kali dari wali kelas. Maklum, nilai lapor
kelas II SMA Ayub mendapat lima nilai merah, yaitu angka 4 pada dua mata
pelajaran dan angka 5 pada tiga mata pelajaran. Beruntung, Ayub selalu meniru
tanda tangan ayahnya di rapor. Jadi tidak ketahuan kebodohannya. Jelas kemampuan
Ayub lemah bukan di sekolah unggulan melainkan di sekolah kelas papan bawah.
Ketika selesai
pendidikan SMA, Frederik minta Ayub mendaftarkan diri di perguruan tinggi tanpa
pernah menganjurkan pilihan jurusan. Yang penting menjadi mahasiswa daripada
sibuk mencari uang. Sebab itu, Ayub mengambil keputusan mengikuti pendidikan
pada Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang.
Sebagai anak kampung, posturnya
berbeda jauh dari anak-anak kota yang bongsor tinggi besar. Ayub terbilang kurus
dan pendek. Sementara itu kemampuan akademiknya masih jauh dari harapan untuk
menjadi mahasiswa APDN Kupang. Dan dia tidak lulus seleksi penerimaan mahasiswa
baru tahun 1976. Dia justru bersyukur karena bisa pulang kampung. Ayahnya
terpaksa menerima dia di kampung dengan penuh penyesalan.
Di kampung, Ayub rajin
membantu orangtuanya mengerjakan dua bidang sawah, mengurus ternak dan kegiatan
lain. Ayub sendiri punya sebidang ladang lahan kering yang ditanami jagung dan padi
ladang. Dia juga menanam banyak bibit jati yang tumbuh menjadi kebanggaan
dirinya saat ini. Pada waktu dia menanam benih jati, ayahnya menyarankan lebih
baik menanam kelapa. Ayub mengikuti saran ayahnya, menanam puluhan bibit kelapa.
Tapi semua anakan itu mati dirusak ternak lepas.
Waktu terus melaju. Tahun
ajaran 1977 pun tiba. Ayub dipaksa oleh ayahnya kembali ke Kupang. Dia dilarang
keras pulang kampung. Ayub harus berjuang untuk kuliah memenuhi asa ayahnya.
Frederik, mantan Temukung Fatuone, itu
rupanya terobsesi berat saat ada kunjungan beberapa mahasiswa Universitas Nusa
Cendana (Undana) yang mengenakan jas almamater. Demikian pula dia ingin pilihan
Ayub menjadi mahasiswa APDN kelak bernasib sama seperti tampilan sosok camat
muda orang Timor, yaitu Ruben Foenay di Amfoang Selatan dan George Bait di
Fatuleu yang pada waktu itu keduanya sangat dikagumi warga masyarakat pedesaan.
Sudah tentu dengan
berat hati Ayub memenuhi asa ayahnya dan kembali ke Kupang. Dia tinggalkan
pekerjaan kegemarannya bertani dan beternak. Di Kupang, dia kembali mendaftar
di APDN namun tetap belum beruntung.
Kisahnya, ketika
giliran ujian psikotes Ayub diuji oleh Soejono Hartojo SH yang pada waktu itu menjabat
Sekwilda Provinsi NTT. Ketika Ayub memasuki ruang tes, Soejono nyeletuk, ''Wah,
modal begini mau jadi camat? Pulang. Ayo pulang. Engkau tidak pantas menjadi
camat.''
Ayub tersentak dan
tetap berdiri beberapa menit di hadapan penguji tapi sang penguji mengulangi
kalimat yang sama dengan nada lebih kasar lagi. Tanpa berpikir panjang Ayub langsung
meninggalkan ruangan tes. Untuk kali kedua dia gagal masuk APDN.
Ayub ingin kembali saja
ke kampung tapi takut pada ayahnya. Ayub benar-benar berbeda dengan anak muda
zaman sekarang yang ingin kuliah tapi orang-tuanya tidak mampu secara ekonomi. Sedangkan
Ayub ingin bertani saja namun ayahnya malah tidak setuju. Ayub memang anak yang
unik. Secara ekonomi, orang-tuanya sangat mampu membiayai dia kuliah.
Sayangnya, dia sendiri enggan kuliah. Bisa juga dipahami juga bahwa kalau dia
dipaksa pasti akan gagal dan menyia-nyiakan kekayaan orangtuanya.
Sebagai anak yang taat
kepada orang tua, Ayub mendaftar lagi untuk mengikuti tes masuk Undana golongan
kedua. Pada waktu itu Undana membuka penerimaan mahasiswa baru hingga tiga
golongan tes. Ayub memilih jurusan Tata Negara pada Fakultas Ketatanegaraan dan
Ketataniagaan Undana. Pada pengumuman hasil tes gelombang kedua, Ayub gagal diterima.
Pikiran Ayub kacau sebab sering ditanyai keluarga dan tetangga soal
perjuangannya menjadi mahasiswa.
Kemudian dia
membulatkan tekad mengikuti tes masuk Undana gelombang terakhir. Kali ini Ayub
mendaftar di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) pada Fakultas Ilmu Pendidikan
(FIP). Setelah mendaftarkan, dia ditanyai oleh Paulus Pahnael (mendiang), koordinator
anak-anak asal Fatuleu di Kupang.
''Ayub, engkau sudah
daftar lagi di mana?'' tanya Paulus Pahnael.
Ayub pun menjawab
bahwa sudah mendaftar di Jurusan BP FIP Undana. Pahnael menyambung lagi, ''Owh....owh
Ayub. Itu jurusan untuk tamatan SPG, bukan SMA.Engkau mau menjadi guru?''
Ayub membisu tanpa
sepotong kata lantaran beberapa orang di situ mulai menggunjingkan pilihan
jurusan Ayub.
Pikiran Ayub bertambah
kacau. Tidak ada orang tua atau teman diskusi untuk mengatasi masalah itu. Ayub
hanya mendiskusi dengan dirinya sendiri. Mau tidak mau harus dijalani sebab
ayahnya tidak izinkan pulang kampung. Akhirnya dia mengambil keputusan baru
mencari jurusan lain tanpa menunggu tes di Jurusan BP pada FIP Undana. Dia
memilih Jurusan Civics Hukum pada Fakultas Keguruan agar sama seperti Paulus Pahnael
yang meraih gelar BA (Bachelor of Arts)
dari jurusan itu.
Penutupan pendaftaran
mahasiswa baru Undana gelombang ketiga pada hari Sabtu jam 12.00 wita. Berselang
beberapa menit kemudian Ayub membawa berkasnya memasuki ruang tata usaha Fakultas
Keguruan Undana untuk mendaftarkan diri. “Maaf adik, pendaftaran sudah ditutup,''
kata staf bagian Tata Usaha Fakultas Keguruan Undana.
Dalam keadaan bingung,
Ayub segera keluar dari ruangan itu. Entah langkah apa yang akan dia tempuh. Beruntung
sekali, secara kebetulan dia bertemu salah satu dosen Jurusan Civics Hukum yang
dia kenal betul, yaitu Drs. Daniel Frans Bessie, mantan guru dan wali kelas II
SMA Kristen angkatan Ayub (1975). Keberuntungan pun terjadi. Ketika itu Daniel
Bessie memanggil staf Tata Usaha dan minta mendaftarkan nama Ayub.
Ayub meninggalkan
kampus dan pulang ke rumah di Naikoten II dengan hati berbunga-bunga. Namun kegembiraan
ini hanya bertahan semalam. Gara-garanya, Paulus Pahnael kembali meledek Ayub
pada keesokan harinya.
''Lebih baik engkau
pulang saja ke kampung karena jurusan itu (Civics Hukum) ‘angker’ dan dosennya ‘killer’.
Untuk meraih gelar BA, banyak mahasiswa menghabiskan waktu kuliah lebih dari 10
tahun,'' kata Paulus kepada Ayub dengan nada sinis.
Paulus sendiri kala
itu nyaris drop out dari jurusan Civics Hukum. Karena itu, dia melanjutkan kuliah
di Jurusan Tata Negara FKK untuk meraih gelar doktorandus. Meski demikian Ayub
tak terpengaruh sedikit pun dengan pernyataan Paulus. Ayub sudah berketetapan
hati untuk menjadi mahasiswa. Salah satu dosen killer di sana saat itu adalah Prof.
M.Taopan yang sempat diberi gelar oleh mahasiswa sebagai ''Herodes Abad 21''. Betapa
tidak, beliau sangat disiplin waktu dan tidak pernah mengizinkan mahasiswa yang
terlambat masuk kelas dengan alasan apapun. Beliau selalu katakan, ''Malaikat
sekalipun tidak boleh masuk ke dalam menyusul saya, karena begitu saya masuk,
segala kuasa telah berada di tangan saya.''
Prof. Taopan adalah
dosen yang tidak pernah memberikan nilai A atau 4 kepada mahasiswanya. Katanya
nilai itu (nilai sempurna) untuk Tuhan sedangkan nilai E atau 0 untuk setan.
Mahasiswa juga
memberikan gelar tambahan ''Aos molo'' atau ''Anjing kuning'' kepada mendiang
Drs. J.F. Markus BA lantaran dianggap sebagai ''serigala'' yang menerkam dan
menghabiskan nasib mahasiswa. Sang dosen ini menerapkan waktu kuliah jam
''nol'' yaitu tepat jam 06.00 pagi tanpa terlambat dengan alasan apapun. Ini
tentu sangat menyulitkan bagi mahasiswa sebab masa itu belum ada sarana
angkutan kota dan belum tersedia tempat kos bagi mahasiswa di sekitar kampus. Akibatnya,
banyak mahasiswa menjadi korban nilai tidak lulus berulang kali dan terpaksa drop out karena ulah sang dosen.
Dosen ''killer'' lain
yang paling banyak dibenci oleh mahasiswa adalah mendiang Sutrisno, SH. Ada
kisa lucu tentang beliau. Seorang mahasiswa bernama Son Gah pernah mengikuti
ujian ulang yang ke-11 kali untuk mata kuliah Hukum Laut dengan menaruh sebilah
pisau di atas meja. Ketika sang dosen bertanya, ''Untuk apa engkau bawa pisau
ini?''
Dengan enteng Son menjawab,
''Untuk potong sayur kangkung di sawah pak karena jikalau kali ini saya tidak
lulus ujian maka saya siap menjadi penjual sayur kangkung di pasar.''
Setelah ujian selesai,
Son membuntuti langkah sang dosen hanya untuk menakut-nakutinya tapi tidak
bermaksud mencelakai.
Catatan lain adalah nilai
yang diberikan dosen Jurusan Civics Hukum sangat mahal. Dua hingga lima lulusan
saja dari setiap ujian yang diikuti puluhan hingga lebih 100 orang peserta
ujian merupakan hal biasa. Trio dosen killer tersebut memaksa mahasiswa harus
sabar mengikuti ujian ulang mata kuliah yang diasuhnya hingga beberapa kali. Bahkan
dosen lain pun ikut menerapkan cara yang sama sehingga waktu kuliah mahasiswa
kian berlarut. Hal ini dianggap tidak menyalahi aturan melainkan dipandang
sebagai suatu cara menjaga mutu lulusan perguruan tinggi. Jauh berbeda sekali
dengan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) yang baru diterapkan mulai angkatan
tahun 1978.
Ketika menjadi
mahasiswa pada jurusan yang dinilai angker itu, Ayub mempunyai motivasi tersendiri.
Pertama, mendengar informasi bahwa mahasiswa yang berprestasi tinggi akan
mendapat beasiswa. Daripada capek mencari uang di luar kampus lebih baik cari
uang di kampus dengan cara giat belajar buat meraih beasiswa. Kedua, Ayub harus
berusaha membuktikan bahwa pilihannya
memasuki jurusan yang angker itu harus diselesaikan dalam waktu singkat. Ketiga,
Ayub ingin mewujudkan harapan ayahnya yang terus memaksa dirinya kuliah untuk
meraih gelar BA.
Saat ujian semester pertama
yang diikuti 69 mahasiswa seangkatan, Ayub berhasil meraih peringkat satu
dengan total nilai 55, cuma terpaut satu angka dari peraih peringkat kedua. Hasil
ujian semester kedua kembali menempatkan Ayub sebagai peraih peringkat pertama
dengan selisih 12 angka dari total nilai peringkat kedua yang diraih orang
lain, bukan peraih peringkat kedua sebelumnya. Dengan prestasi itu Ayub
ditetapkan menjadi mahasiswa penerima beasiswa Supersemar dari Presiden RI (waktu
itu) Soeharto. Pada waktu yang sama
tersedia juga beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) untuk Ayub. Lantaran tidak
diperkenankan menerima beasiswa dari dua sumber, Ayub memilih TID mengingat
jumlah uangnya lebih banyak daripada beasiswa Supersemar.
Prestasi Ayub tidak
hanya memenangkan beasiswa namun Ayub lulus tepat waktu. Pada semester ketiga,
dia juga mengambil beberapa mata kuliah di semester kelima. Demikian pula pada
semester keempat, dia mengambil sebagian mata kuliah semester keenam. Meski
begitu, dia lulus ujian semua mata kuliah dan peringkat pertama tetap
dipertahankan.Tidak ada mata kuliah yang sampai diuji-ulang. Ayub dapat nilai A
dari Pak Markus dan dua mata kuliah Pak Taopan mendapat nilai B. Nilai C untuk
Hukum Pajak 1 dan Hukum Pajak 2 dari Pak Sutrisno, yang hanya meluluskan dua
orang dari puluhan peserta ujian.
Lompatan kemajuan
prestasi belajar telah Ayub tunjukan. Walau kuliah hanya karena desakan ayahnya
dan pendidikan SD hingga SMA yang dia lewati kurang bermutu dengan prestasi
yang lemah, ternyata dia berubah drastis justru pada jurusan yang menakutkan
dan meng-KO banyak mahasiswa. Selama Semester V dan VI Ayub melakukan
penelitian dan menulis skripsi sambil kuliah. Yang jauh lebih membanggakan lagi
adalah bahwa pada saat pekan tenang untuk ujian Semester VI, skripsi Ayub sudah
disahkan pembimbing dan diserahkan ke ketua jurusan untuk ujian skripsi.
Ayub bukan hanya meraih
prestasi di kampus. Dia juga sosok mahasiswa pekerja keras untuk hidup mandiri.
Selama mengikuti program kuliah untuk memperoleh gelar Sarjana Muda atau BA
pada tahun 1980, dia pernah kembali bertani di desa ketika terjadi perpanjangan
waktu satu semester tahun kalender pendidikan nasional. Waktu itu digunakan
mahasiswa lain untuk ujian ulang tunggakan mata kuliah sedangkan Ayub
memanfaatkan waktu buat bertani dan mengurus ternak di desa.
Setelah meraih gelar
BA pada tanggal 25 Oktober 1980, Ayub kembali ke kampung dan bertani sambil
menunggu waktu kuliah program S-1 pada bulan Juli tahun berikutnya. Tahun 1981
Ayub mengikuti program S-1pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana selama empat semester. Selama masa studi itu,
Ayub kembali meraih beasiswa TID dua tahun dan selesai tepat waktu.
Selama masa kuliah
mulai tahun1977 hingga di wisuda S-1 pada tanggal 6 September 1983, Ayub
tinggal di rumah sendiri di atas lahan pekarangan seluas 400 meter persegi yang
terletak di Jalan Palam No 17 Kelurahan Naikolan, Kota Kupang. Sambil kuliah,
dia pukul batu tiap hari untuk meratakan halaman.Tumpukan batunya dipakai guna
membangun jalan lingkungan desa tanpa mendapat bayaran. Dia tidak cuma
berkorban batu, juga ujung tanah dan lubang WC-nya ikut dimanfaatkan buat kepentingan
umum tanpa ganti rugi. Selanjutnya Ayub menggali lubang WC baru sedalam 10
meter dibantu anak -anak yang tinggal bersamanya.
Pun Ayub menanam
pepaya dan cabe, walaupun air harus diambil dari kali yang berjarak sekitar 750
meter dari rumah. Di pekarangan ini pula Ayub berhasil membesarkan empat ekor babi
besar yang kemudian ditukar dengan sapi di kampung. Semua kegiatan yang Ayub
lakukan atas dorongan dari hatinya sendiri dan hal ini mungkin jarang dilakukan
anak lain dari kampung sekalipun tidak memperoleh beasiswa dan/atau mendapat
dukungan uang terbatas dari orangtuanya.
Bagi Ayub, satu hal
terpenting adalah perlunya manusia menyadari panggilan diri dan bertarung
sesuai komando kesadaran dalam diri untuk memberikan ''makna'' bagi hidup, keluarga
dan lingkungannya tempat di mana dia tinggal dan berkarya. Kesadaran itu harus
mengajar kita bahwa sesungguhnya kita harus bekerja bukan hanya untuk mengejar
uang atau pujian dan hadiah.
M. Sarjana Pulang Kampung
Kota memang memiliki
daya pikat yang kuat. Tapi sentuhan kesunyian pedesaan terlampau sulit diabaikan.
Alam memberikan kesejukan bagi kedamaian jiwa.Tak terdengar suara dentam palu,
bising gergaji, atau suara batu pecah.Yang ada sekadar suara musik yang
berdesir di rerumputan tatkala daun-daun berguguran dan buah-buah lembut jatuh
dari cabangnya sepanjang hari menembus angin.
Oh, alangkah indahnya
dan betapa nikmatnya kehidupan alam pedesaan. Sebagai petani, sejak kecil Ayub cuma
punya cita-cita menjadi petani dan tinggal di kampung. Kecintaannya yang begitu
besar pada pertanian membuatnya suatu waktu --masih di kelas I SMP Yapenkrista
Taemaman-- dia berdoa minta Tuhan bekerja di dalam hati ayahnya agar dirinya bisa
tetap tinggal di kampung untuk bertani dan beternak.
Cita-citanya sungguh
tak pernah padam. Meski sudah di bangku kuliah, Ayub tidak punya cita-cita lain
selain pulang kampung menjadi petani. Akhirnya betul juga. Setelah lulus Sarjana
Muda (BA) tahun 1980, ia sempat pulang bertani dan beternak hampir setahun.
Baru tahun 1981 dia melanjutkan kuliah untuk program S-1 di FKIP Undana Kupang
dan lulus tahun 1983.
Masa itu jumlah sarjana
di Kupang belum sebanyak sekarang. Ada tawaran menjadi tenaga guru kontrak. Ayub
menyadari bahwa gaji guru kontrak Rp25.000 sebulan atau setengah gaji PNS saat
itu sudah lumayan bagus namun terlampau kecil untuk mencukupi kebutuhan hidup
di kota. Penghasilan sebesar itu hanya habis dibelanjakan untuk sepatu, pakaian
dan kebutuhan kecil lain. Sebab itulah, dia menolak penawaran bekerja sebagai
guru kontrak di Kupang dan memilih pulang kampung pada 1983.
Ada pertimbangan lain
lagi bahwa warga kampungnya masih mengira dia sudah menjadi tuan besar di
Kupang. Padahal, dia hanya menjadi seorang guru honorer. Pikir dia, jikalau dia
di kampung bekerja keras, cerdas dan
ikhlas --dengan berkebun dan memelihara ternak babi misalkan—hasil yang
diperoleh akan jauh lebih baik. Pengalaman memelihara babi di samping rumahnya
selama masa kuliah di Kupang memang memberikan hasil lumayan besar.
Nah, itu yang ada
dalam benak Ayub. Dia menyadari pulang ke kampung bekerja sebagai petani dan peternak tidak
memberikan hasil langsung tapi ketika panen dan dijumlahkan, perolehannya jauh
lebih besar daripada bekerja sebagai pegawai honorer di Kupang. Sebab itu,
ketika pulang kampung pada tahun 1983 setelah meraih gelar Doktorandus (Drs), dia
tidak berdiam di rumah bersama orang-tuanya. Dia memilih menyendiri di hutan, berkebun
sembari menjadi penggembala sapi di padang sabana pada siang hari kemudian
menuntun sapinya kembali ke kandang kala senja lalu bermalam di sebuah gubuk
kecil di samping kandang. Itulah keseharian Ayub selama sekitar dua tahun.
Kata Ayub, apapun
pekerjaan kita, motivasi bekerja harus selalu menjadi kata kunci paling
menentukan kualitas kerja. Dorongan motivasi yang menumbuhkan semangat kerja
inilah yang disebut dengan kerja keras untuk mengisi masa depan sendiri dan
menunjukkan nilai guna dari ilmu pengetahuan yang diperoleh dan bukti
penerimaan terhadap didikan orang tua. Bekerja cerdas diekspresikan dengan memanfaatkan
waktu secara efektif dan mendaya-gunakan segenap potensi desa secara bijaksana.
Dan bekerja ikhlas merupakan wujud rasa syukur terhadap kehidupan yang Tuhan
berikan.
Ayub bukan lagi Ayub yang
dulu di kota. Dia betul-betul hidup seperti orang kampung, pakai selimut
kampung tanpa kasur, makan sirih-pinang, menggantungkan alukosu (tempat sirih dan pinang) di bahu, tidur di hutan dan berkebun.
Banyak kali dia tidur di hutan cuma beralas daun gewang dan berbantal batu pada
awal usaha menjaga kawanan ternak baru di padang. Persis pada masa kecilnya
saat bersama ayahannda tidur di hutan untuk berburu.
Ayub benar-benar enjoy menikmati keseharian dan
kesendiriannya sebagai petani yang tinggal di hutan. Namun tak sedikitpun
kebahagiaan dan kebanggaan hinggap di hati ayahanda. Mantan temukung besar itu
merasa terbeban perasaan haru melihat perilaku puteranya yang meski telah sarjana
namun betah tinggal sendirian di hutan bersama kawanan ternak. Belum lagi segelintir
orang pintar di kampung memprovokasi Frederik bahwa puteranya mengalami
gangguan kejiwaan.
''Bapak, tidak baik
punya anak sarjana tinggal di kampung. Mungkin anak bapak stres berat dengan
suatu masalah sehingga memilih menyendiri hidup di hutan.'' Kalimat bernada
provokatif dari sejumlah orang pintar di kampung itu selalu terngiang di telinga
ayahanda. Hati Frederik seolah terbakar emosi.
Sebab itu, suatu waktu
sang ayah mendatangi Ayub di hutan tempatnya menjaga ternak. Ayub mencoba
menenangkan dan meyakinkan ayahnya bahwa jumlah ternak sapi yang digembalakan
sebanyak 22 ekor -satu jantan dan 21 betina. Bilamana kawanan sapi ini sudah
mengenal satu sama lain serta mengenal lingkungan tempatnya mencari makan, dia
akan kembali ke kampung. Ayub berharap kawanan ternak sapi itu berkembang-biak
dan menjadi sumber penghasilan keluarga.
Ayub bertekad --dalam
keadaan kesulitan apapun-- tidak akan menjual ternaknya dalam kurun waktu tujuh
tahun. Kawanan ternak sapi ini ada beberapa di antaranya yang dibeli dengan
beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID) selama kuliah. Kendati dia menerima
beasiswa TID tapi dia tidak menggunakan untuk biaya kuliah karena sudah membuat
kesepakatan dengan orang-tuanya bahwa beasiswa itu harus dijadikan buat
kenangan bagi masa depan keluarganya kelak --terkhusus bagi anak-anaknya. Sedangkan
ongkos kuliah dan seluruh biaya kebutuhan hidup sebagai mahasiswa menjadi
tanggungan orang tua.
Ayub melakukan itu
agar menjadi kenangan bahwa hasil keringat orang-tuanya yang berpendidikan rendah
itulah yang membuat dirinya sukses dalam pendidikan tinggi hingga meraih gelar
sarjana.
''Jujur bahwa saya
meraih gelar sarjana dari hasil keringat orang tua,'' kata Ayub sembari
menambahkan, ''Saya belajar dan mendapat nilai bagus dengan tidak hanya meraih
gelar dan ijazah tapi juga harta (beasiswa) yang diwujudkan dalam ternak
sapi.''
Sementara sapi yang
lain diperoleh dari hasil menjual empat ekor babi besar yang dipelihara di Jalan
Palam 17 Naikolan Kupang selama masa studi. Ada pula yang didapat dari hasil
menjual jagung kebun sendiri. Ada lagi dari upah membangun rumah saudara
sepupu. Ayub pantas berbangga diri mengingat dirinya mampu menghasilkan ternak
sapi usaha olah pikir dan tenaga dirinya sesuai bekal didikan orang-tuanya di masa
kecil. Ayub kemudian membeli sebidang tanah di Kupang untuk menjadi bukti
sejarah bagi anak cucunya.
Buah bibir orang
kampung itulah yang mendesak ayahnya memaksa Ayub segera balik ke Kupang. Lalu pada
1984 Ayub mengikuti seleksi penerimaan guru SMA di SD Bonipoi Kupang. Berbekal
prestasi semasa mahasiswa, Ayub penuh percaya diri dan yakin bakal lulus dalam ujian
seleksi tersebut. Dia berharap segera menjadi guru SMA di Oesao sambil mengolah
sawah. Ternyata yang terjadi sebaliknya, dia tidak lulus. Rupanya Ayub justru
senang. Dengan begitu, dia bertekad melanjutkan misinya di kampung sebagai
petani dan peternak.
Kecintaannya pada
dunia pertanian membuat Ayub tidak malu-malu menulis pengalaman kerja dalam
daftar riwayat hidupnya sebagai petani/peternak di Dusun Fatuone (Juli 1983 - Oktober
1985 ). Fatuone dulu bergabung dengan Desa Kauniki tapi terakhir menjadi salah
satu dusun dari Desa Oelnaineno, Kecamatan Takari. Alam Fatuone telah membentuk
sosok Ayub Titu Eki yang demikian tangguh dan bangga pada kekuatan lokal. (*)
Komentar
Posting Komentar