Anak Desa yang Belajar dari Alam

* Bab 1


Setiap hari Afrika mengawali pagi, seekor rusa bangun. Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada seekor singa yang paling cepat, atau ia akan mati terbunuh.
Setiap pagi seekor singa bangun. Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat, atau ia akan mati kelaparan.
Tidak masalah apakah kamu adalah seekor singa atau seekor rusa, ketika matahari terbit, lebih baik kamu mulai berlari, berlari dan berlari.
Puisi Tradisional Afrika

ALAM yang tandus dan kering acap memberikan tantangan tersendiri bagi si anak manusia. Banyak manusia lahir dan dibesarkan di padang gersang yang mampu tampil menjadi sosok yang tangguh, pekerja keras dan cerdik dalam menyiasati setiap kesulitan hidup. Ketangguhannya terasah oleh kegersangan alam dan akal-cerdiknya semakin kaya berkat tantangan alam yang nyaris tiada henti.    
Alam Kupang yang tampak gersang boleh jadi yang membuat Ayub Titu Eki tampil begitu tangguh, perkasa, pemberani dan tidak mengenal kata menyerah. Dalam menapaki titian kehidupan belantara hutan dan padang gembala, dia senantiasa berusaha sampai di titik akhir yang penuh kebaikan dan kemanfaatan buat sesama.   

A.   Berawal dari Gunung Mutis Menuju Kol 'Oel
Ayub Titu Eki lahir dari keluarga petani yang penuh disiplin mengelola keterbatasan alam. Ya keluarga petani, bukan priyayi desa berdarah biru. Hal itu tersirat pada marga Titu Eki yang memang bukan marga besar yang banyak ditemui di desa-desa di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).   
Sejarah marga Titu Eki merupakan rangkaian cerita panjang tentang asal-usul yang berawal dari kehidupan manusia purba di lereng Gunung Mutis. Kendati tidak ada catatan sejarah tertulis, namun ada tuturan nenek moyang yang terus-menerus diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dan Ayub Titu Eki sangat paham tentang asal-usul keturunannya. Marga Ayub Titu Eki yang sesungguhnya adalah “EKE” yang artinya ''menang" atau "membawa". Sementara kata “TITU” atau "menjaga" adalah nama moyang.
Menurut legenda, moyang pertama di marga Titu Eki bernama EKE karena dia selalu menemukan dan membawa pulang keladi hutan lalu dihimpun di dekat mata air (niuf enos) dan dijaga secara baik untuk selanjutnya dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan makanan.
Pada masa itu keladi hutan menjadi bahan utama makanan. Biasanya anak perempuan sulung marga EKE selalu diberi nama LALI --artinya keladi hutan. Boleh jadi buat mengenang pembagian rezeqi makanan dari keladi hutan. Pelesetan marga EKE menjadi EKI terjadi dalam penulisan surat nikah ayah dan ibu dari Ayub Titu Eki pada tahun 1950-an.
Sesungguhnya marga EKE merupakan bagian dari marga induk OBE. Di sini EKE mengandung arti kabur, barangkali terkait dengan pohon jambu air (oben), lantaran marga EKE pantang sentuh, apalagi makan, buah jambu. Banyak keturunan yang tetap mempertahankan marga induk OBE, tapi banyak pula yang sudah menggunakan marga pecahan seperti marga Eki, Tapatab, Smaut, dan Anin. Meski begitu selalu tetap menggunakan nama julukan (am atau oen/ain) OBE. Di kampungnya, Ayub akrab dan kerap disapa dengan nama aslinya FUNU OBE.
Marga OBE –baik langsung maupun marga lain dengan julukan OBE-- kini tersebar luas mulai dari Oekusi, Timor Leste, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hingga di Pulau Semau (wilayah Kabupaten Kupang).
Marga EKE dan rumpun marga terkait berawal dari kehidupan nomaden di puncak dan lereng Gunung Mutis dan tergolong Suku Pit Ai. Dalam literatur Barat, Suku Pit Ai disebut "the original of Timoris" atau suku yang paling pertama berada di Pulau Timor. Mungkin karena dalam cerita rakyat dikatakan bahwa moyang Suku Pit Ai itu digolongkan sebagai "belo la'e muitsam babnai, ma fafi 'la'e muitsam babnai” dan juga disebut "ka ma huma ma kama masa" yang artinya bahwa mereka merupakan bagian kehidupan yang menyerupai kera dan babi hutan di puncak dan lereng Mutis dan Babnai, mereka tidak punya rupa dan tampang manusia.
Hingga sekarang hampir saja tidak ada tulisan tentang Suku Pit Ai. Demikian pula sulit mengidentifikasi pasti marga-marga mana saja, baik marga induk maupun marga pecahan, yang tergolong Suku Pit Ai. Ayub Titu Eki mengatakan, “Banyak orang Pit Ai yang sudah tidak tahu asal-usulnya sendiri atau mungkin pula ada yang malu mengaku diri sebagai bagian Suku Pit Ai karena merasa serupa dengan kera dan babi.”
Kehidupan di Mutis pun menyimpan banyak cerita menarik. Sonbai yang datang dari arah timur mendapat kekuasaan raja dan terkenal sebagai raja di daratan Pulau Timor setelah bertemu dan mengawini seorang putri di Mutis yaitu Bi Lila Kune. Kune dan Pit Ai uf mengangkat Sonbai jadi usif sekaligus menjadi amaf bagi mereka.
Yang juga menarik, api pertama kali ditemukan di Mutis. Saat itu pula manusia mulai mengganti kebiasaan memakan makanan mentah ke makanan-makanan yang dibakar atau dimasak.
Yang tak kalah menarik ada Pulau Batek yang dalam cerita rakyat disebut "fatu sinai". Pulau ini merupakan salah satu bongkahan dari Gunung Mutis yang terlepas dan bergulir ke laut. Lalu bekas gulirannya membentuk sungai yang membatasi Oekusi (enclave Negara Timor Leste) dan Oepoli (wilayah Republik Indonesia).
Dari sisi demografi, terdapat delapan marga menyangga Gunung Mutis, yaitu di bagian barat ada Kelen, Tbana, Tusala dan Laome, kemudian di timur ada Lake, Bana, Ato dan Sanak. Bagaimana hubungan di antara mereka dan hubungan delapan marga itu dengan marga induk lain sulit diungkap sembarang orang. Karena, ada keyakinan salah tutur pasti ada kecelakaan. Pun demikian sulit dijelaskan di mana sesungguhnya pusat peradaban kehidupan di Mutis yang selanjutnya berkembang ke berbagai arah di daratan Timor.
Yang pasti bahwa Suku Pit Ai menguasai cerita yang berkaitan dengan Mutis sebagai pusat peradaban di Pulau Timor. Bersama dua saudaranya Kono (TTU) dan Oematan (Molo, TTS) sebagai tol muni (tunas yang muncul kemudian) menempati "pahe usan ma tanan" (pusat wilayah) dan menempatkan enam Amaf sebagai "apao eno ma ase’at" (penjaga pintu masuk Timor). Lalu mereka disebut "Am natun" dan "Am nuban" di bagian Selatan, "Am Jabi" dan "Am lasi" di Barat, sedangkan “Am Foan” dan “Am Beno” di Utara. Dengan penempatan ini kemudian terjadi klaim kekuasaan atas tanah antar-suku.
Suku Pit Ai sendiri mengklaim wilayah kekuasaan atas tanah dari puncak Gunung Mutis hingga ke Pantai Sulamu dan Oesapa. Wilayah ini dalam bahasa adat disebut pahe nak a'milih ma' fen fena ma na hae tun lam a'no'e'. Berdasarkan klaim kekuasaan atas tanah inilah lantas terjadi eksodus sebagian besar orang Suku Pit Ai ke arah barat. Diawali dengan hijrahnya usif Tbana ke Sonum Bi Nifu (daerah Sulamu ) dan marga Isliko (usi kliko = raja muda) di Oesapa yang adalah putra bungsu usif Tbana. Tujuan migrasi untuk menempati tanah kosong agar tidak ditempati pendatang baru. Sekarang ini banyak marga yang sudah bercampur-baur dan sulit diidentifikasi sebagai keturunan Suku Pit Ai karena mereka sendiri tidak menguasai sejarah asal-usulnya.
Salah satu gelombang migrasi Suku Pit Ai dari Mutis ke arah barat punya kaitan dengan keturunan Ayub Titu Eki. Mereka datang dari Mutis dan tinggal sementara di Fatu Kael, Desa Ohaem 2 Amfoang Selatan. Beberapa saat lalu mereka pindah lagi dan menetap di Kol ’Oel, Desa Tanini. Setelah beberapa waktu mereka tinggal bersama di Kol ‘Oel --yaitu salah satu bukit tajam yang dilalui jalan poros tengah-- mereka lalu membagi diri dalam empat kelompok untuk menguasai tanah sekitarnya. Alasannya, tanah Suku Pit Ai sudah putus di tengah oleh pendudukan Suku Sonbai di Kauniki dan Suku Amfoang.
Pembagian keluarga Kol 'Oel menjadi empat batu atau fatu ha, masing-masing Tanini untuk Sila, Lopo, Tael, Sete (Nenobahan ) Eke dan Musu; Nunasi untuk Ate, Tafeten, Lij dan Mat-Isu; Oelnaineno untuk Tono, Aki, Nifu dan Selael (Eke); dan Fatuone untuk Elan, Tkene, Nofu dan Luma. Kedudukan keluarga Kol ‘Oel dianggap menempati wilayah yang  digambarkan sebagai daerah kerongkongan (pahe non tannin) atau daerah yang harus dijaga dan dipertahankan sebagai penentu mati-hidup? Tidak jelas mati-hidup apa! Yang pasti bahwa Toto Smaut dari rumpun keluarga Kol 'Oel di Fatuone menjadi panglima perang Raja Sonbai. Literatur Barat menyebut adanya banyak pahlawan tetapi yang diberi gelar "Meo" (Panglima) hanya Smaut. Dia pernah ditangkap tentara Belanda dan dibawa ikut serta dalam delapan medan perang di seberang lautan dan terakhir dikirim kembali dari Aceh ke Timor karena dia berhasil membakar benteng musuh Belanda. Dia mati di Fatuone setelah sakit.
Dalam pembagian empat kelompok/batu di atas, marga Eke menjadi salah satu Amaf di Tanini dan mempunyai bagian warisan tanah leluhur. Kemudian dengan alasan perkawinan, marga (TITU) EKE pindah dari Tanini ke Fatuone. Marga Eke dikenal sebagai salah satu Amaf atau pohon marga bagi keluarga lain. Di Mutis, marga EKE menjadi Amaf bagi Tusala yang menjadi usif Suku Pit Ai. Marga EKE bukan keturunan usif dan bukan pula keturunan Suku Sonbai, tetapi sebagai salah satu Amaf baik di Kol 'Oel maupun di Mutis. Banyak orang sering salah mengaggap Ayub sebagai keturunan Usif dan tergolong Suku Sonbai karena ayah Ayub menjadi Temukung Fatuone Kauniki, bergabung dengan Suku Sonbai dan melepaskan diri dari tiga batu Kol 'Oel lainnya.
Menurut budaya orang Timor, tiap marga punya Oe Kanaf dan Faot Kanaf (mata air nama dan batu nama). Bagi marga Eke, itu semua ada di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS. Batu nama disebut Fatu Bat (batu dalam posisi melintang) sedangkan mata air nama disebut Niuf Enos (artinya kolam pelangi). Fatu Bat menyerupai bongkahan batu marmer di lereng barat Gunung Mutis dan dekat Niuf Enos yang merupakan sumber mata air terbesar di Nenas yang membentuk lembah kecil. Tiap tahun lembah kecil ini menjadi sumber penghasil bawang terbesar di Nenas. Ketika keluarga Ayub Titu Eki datang ke tempat itu, orang di sana mengatakan, “Ini tanah pusakamu, kami hanya menjaga sambil mengambil hasil untuk kehidupan keluarga kami.”
Tentang pohon keluarga Titu Eki, yang diketahui pasti hingga Ayub Titu Eki sudah generasi ketujuh. Dimulai dari Tuka Eke yang memperanakkan Titu Eke bersama tiga saudara laki-laki lain dan seorang saudara perempuan (One Eke). Titu Eke memperanakkan Noko Eke (senior) bersama tiga saudara laki-laki lain dan beberapa saudara perempuan. Noko senior hanya memperanakkan satu putra dan dinamakan Noko Eke (yunior) beserta beberapa saudara perempuan. Diceritakan bahwa Noko senior dan yunior selalu aktif dalam berperang sampai wilayah Amfoang dan TTS. Noko senior dinyatakan tertangkap musuh di medan perang dan tidak kembali ke rumah, lalu putranya mengganti namanya menjadi Noko Eke (yunior).
Selanjutnya Noko yunior memperanakkan dua anak lelaki yaitu Talan Eke dan Klo’E Eke. Kemudian Klo’E memperanakkan Lomo Titu Eki  (Frederik Titu Eki) bersama enam saudara perempuan dan seorang saudara laki-laki (Foan Eki) yang meninggal dalam usia belasan tahun. Untuk memperbesar nama keluarga lantas Klo’E Eke mengambil tiga anak angkat --dua laki-laki dan seorang perempuan. Lomo Eke memperanakkan Funu Eke atau Funu Obe, yaitu Ayub Titu Eki bersama lima saudara lelaki dan tiga perempuan. Nama moyang TITU yang namanya sekarang dipakai menjadi marga Titu Eke tidak diambil dari nama putra Tuka Eke tapi dari nama moyang Titu jauh sebelum itu, mungkin masih tertinggal di Mutis.
Mendiang Adam Eke (Pensiunan Polisi) pernah memberitahukan kepada Ayub Titu Eki bahwa, saat dia berkunjung ke Desa Klikur di Lembata, ternyata dia menemukan keluarga dengan Marga Eke dan mereka katakan bahwa moyang mereka datang dari Timor, dari Niki-niki. Kalau benar demikian maka dia bukan dari Niki-niki melainkan dari Kauniki. Ternyata ada beberapa marga Suku Pit Ai di Pulau Lembata, seperti Kelen (e bunyi ekor di Lembata dan e bunyi elang di Timor) dan Elan. Mungkin masih ada marga lain di Lembata yang asal-usulnya sama dengan marga Suku Pit Ai di Timor.
Sebagaimana lazimnya di Timor tiap marga punya tanda cap khusus pada paha sapi, kuda, pohon pinang dan kelapa atau benda lain sebagai tanda milik marga yang empunya cap. Begitu pula seluruh Suku Pit Ai, mereka pun punya malak (tanda cap) yang berbentuk segitiga sebagai tanda Gunung Mutis. Tiap marga buat variasi tanda lengkung empat (4) di ujung. Sedangkan marga Titu Eki, selain lengkung, juga ada garis lintang dan disebut MAL BATAN.

B.    Anak Temukung yang Super Aktif
Oelatfog cuma satu kampung kecil namun merupakan pusat wilayah ketemukungan Fatuone. Hanya tujuh keluarga yang tinggal di sana dan semuanya merupakan keluarga dekat. Mereka adalah keluarga Frederik Titu Eki, yang lebih populer dengan nama asli Lomo Klo'E bersama istrinya dengan nama asli Kuku Be' dan nama nasrani Bendelina Tafeten. Marga Bendelina sesungguhnya adalah Nonesini, bukan Tafeten. Dia terlahir dari mendiang Be' (Yohanes) Nonesini, keponakan kandung usif Matkauna di Amfoang. Dari Federik (na Lomo) dan Bendelina (bi Be') inilah kemudian  lahir Ayub Titu Eki pada tanggal 5 Desember 1956 sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara di Oelatfog, Ketemukungan Fatuone, Kefetoran Kauniki.
Enam keluarga lain di Oelatfog adalah empat saudara perempuan kandung Frederik, bersama suami mereka, dan dua keponakannya yang sudah berkeluarga dan mandiri. Oelatfog diapit kampung kecil lain, masing-masing Oelatimo (satu kilometer arah utara) dan Biobenu (1,5 kilometer arah selatan). Di Oelatimo berdiam bi Sete Eke bersama suami dan empat keluarga bersaudara. Bi Sete Eke adalah keturunan Pato Eke yang bersaudara kandung dengan Titu Eke di Tanini, namun keturunan ini punah lantaran tidak ada anak laki-laki. Di Biobenu tinggal keluarga Salael Eke dan beberapa saudaranya. Salael merupakan keturunan One Eke yang bersaudara kandung dengan Noko Eke senior. Jadi pilihan tinggal di Oelatfog, selain mengikuti ternak, juga ada reuni marga Eke dari Tanini (Sete Eke), Fatuoen (Frederik Titu Eki) dan Nunasi (Salael Eke).
Kampung lain yang berdekatan dengan Oelatfog dengan jumlah rumah tangga yang lebih banyak adalah Fatumtasa (kurang lebih 7 Km ), Papa'u (kurang lebih 8 Km), Huebanam (kurang lebih 10 Km) dan Takemanus (kurang lebih 6 Km). Selain itu masih ada kampung besar dan kecil lain yang terletak sekitar 10 Km dari Oelatfog. Sungguhpun yang tinggal sekampung atau berdekatan kampung adalah saudara dekat, namun kebebasan bertamu sangat amat dibatasi. Anak-anak yang bertamu dan makan di rumah keluarga dekat sekalipun selalu dicela dengan kata “am neok makiso“ atau tukang makan di rumah orang. Akibat celaan ini, orang Timor yang ditawari makan biasanya menolak dengan halus “saya kenyang “ walaupun sebetulnya lapar.
Walau Oelatfog cuma sebuah kampung kecil, tapi gaungnya besar. Penyebabnya, Frederik Titu Eki menjadi Temukung Fatuone dan memerintah sekitar 130-an kepala keluarga dalam sebelas kampung besar dan kecil di luar Oelatfog sebagai pusat pemerintahan. Tahun 1958 Frederik membangun rumah ibadat keluarga dan sebagian besar warga Fatuone menjadi jemaat gereja baru di Oelatfog. Kendati menjadi pusat pemerintahan tapi tidak ada balai pertemuan khusus selain rumah tinggal Frederik yang luas sekaligus menjadi balai pertemuan. Hal inilah yang membuat Ayub sejak kecil terbiasa menerima kunjungan banyak orang tiap hari.
Selain sebagai Temukung selama kurang lebih 20 tahun, Frederik sibuk dalam tiga urusan. Pertama, mengurus ternak lepas di padang gembala, yaitu kuda, sapi dan kerbau. Ternak sapi dan kerbau yang diurus langsung terdiri dari dua kandang kerbau masing-masing kandang berisi puluhan ekor dan dua kandang besar sapi masing-masing kandang untuk beberapa kelompok sapi. Setiap keluarga menaruh tanda khusus pada tiap ekor sapi dan kerbau berupa cap paha dan/atau potongan daun telinga. Untuk hal ini, keluarga Titu Eki menggunakan dua potongan lepas pada daun telinga kanan saja. Urusan mengunjungi dan memantau keadaan tiga kandang sapi lain yang dijaga oleh gembala upahan di wilayah Tanini merupakan tugas khusus Ayub dan kadang dilakukan oleh kakaknya yang lain. Sedangkan ayahnya tidak pernah melakukan pekerjaan ini.
Urusan ternak kuda dilakukan dalam dua cara, yaitu kuda ikat dan kuda lepas. Kuda ikat biasanya berupa kuda jantan muda sekitar lima ekor, tidak pernah lepas tali dan siap digunakan setiap saat. Kuda ikat adalah kuda pilihan untuk pacuan. Buat latihan berpacu kuda, Ayub selalu menjadi partner berpacu bersama ayahnya --terutama setelah meninggalnya Tante Mina sebagai pengasuh Ayub. Kesibukan mengurus kuda ikat berupa  memindahkan kuda di padang gembala tiga kali sehari, termasuk memberi minum dan memandikan kuda. Dua kuda ikat selalu menjadi kuda istimewa karena kuda lama terlatih, pintar dan kuat sehingga wajib diberi makan jagung tiap hari. Kuda lepas merupakan kuda bibit sekaligus menjadi kuda pengangkut barang yang dilepas berkelompok di padang gembala.
Tiap keluarga memasang cap marga di paha kanan setiap kuda.Tiap kelompok kuda bibit minimal terdiri dari satu jantan dan satu betina. Kebanyakan terdiri satu jantan bersama tiga betina dan anak-anak kuda. Jenis kuda ini lazim ditangkap dan digunakan tenaganya lalu dilepas di kampung dan kuda-kuda itu kembali sendiri ke padang gembala. Pekerjaan menangkap kuda di padang memerlukan keahlian dan kecepatan bergerak. Sebab, kuda-kuda itu bisa lari menghindar. Ayub selalu aktif melakukan pekerjaan ini penuh riang dan gembira.
Kesibukan kedua yang banyak menyita waktu Frederik dan menjadi medan pembentukan karakter Ayub adalah berburu di hutan. Berburu rusa, babi hutan serta kerbau dan sapi liar warisan kakeknya dilakukan setiap pekan sekali. Oelatfog menjadi kampung daging dan susu (sapi dan kerbau). Hampir tiap hari tersedia daging mentah dan daging kering yang dijemur ataupun diasap. Frederik sangat jago menembak dan Ayub juga telah dilatih dan sudah mulai menembak dengan senapan tumbuk sejak kelas IV SD. Berburu sapi dan kerbau liar biasa dilakukan beberapa hari dan bermalam di hutan. Daging dan kulit dijual ke pasar setelah dijemur hingga kering.
"Waktu kelas V dan VI SD, saya bersama ayah sering tidur di hutan, jauh dari rumah untuk berburu sapi dan kerbau liar. Kami mendapat banyak uang dengan menjual daging kering (dendeng) dan kulit. Saya punya senapan sendiri bernama ‘Alai’. Saya juga pernah menembak mati sapi, rusa dan babi hutan hanya dengan sekali tembakan. Saya selalu diajar cara membidik sasaran tembak yang mematikan. Meskipun berburu di hutan tapi saya tetap rajin ke sekolah. Pagi hari saya sembunyikan senapan di hutan lalu ke sekolah dengan berkuda menempuh belasan kilometer jauhnya. Lalu ketika keluar sekolah, saya titip buku-buku saya di rumah guru dan balik lagi ke hutan. Saya bangga dan senang sekali jalan sendiri dengan menunggang kuda terlatih sambil memacu berlari kencang di jalan yang berkelok-kelok," kenang Ayub. 
Aktivitas ketiga yang membuat Frederik sibuk dan selalu mengikut-sertakan Ayub adalah pekejaan menyelesaikan kasus. Saat itu banyak kasus yang   harus diselesaikan sendiri tanpa ada yang melapor ke polisi.  Kasus gangguan hubungan rumah tangga yang paling banyak. Ada juga kasus sengketa  batas tanah. Pada suatu kali terjadi  perang batas  dan saling melempar batu. Diam-diam Ayub  ikut  serta dengan  kakak sepupunya dan  bertugas  memilih dan mengumpulkan batu yang dapat dipakai  untuk melempari musuh.  Dengan terus mengikuti  Frederik dalam aktivitas  penyelesaian kasus, Ayub mampu merekam banyak hal dalam benaknya,  terutama dalam upaya mendamaikan orang.
Bagi Frederik, hampir tidak ada waktu untuk kerja di lapangan.  Biasanya, kerja di lapangan dilakukan  oleh warga karena  dia sangat dihormati bukan hanya sebagai Temukung tetapi juga karena kedudukannya dalam struktur adat sebagai amaf (pemangku adat) bagi banyak keluarga.  Pembukaan lahan kebun baru biasanya lebih dari dua ladang  berpindah, belum termasuk ladang lama.  Frederik hanya menyediakan sisi-maka (nasi, daging, sopi  dan sirih-pinang) sebanyak mereka yang bekerja.  Dalam urusan menyiapkan sisi-maka  inilah Ayub banyak terlibat sewaktu selesai jam sekolah  atau pada masa liburan.
Pasca panen,  kampung kecil Oelatfog  selalu ramai. Semua anak (keturunan saudara perempuan Titu Eki) yang jauh dan dekat selalu datang mengantar  sembahan berupa padi dan jagung  bagi atoen amaf (Frederik).  Sebaliknya, mereka pulang membawa daging.  Oelatfog  juga selalu ramai upacara adat  untuk syukuran panen  yang diakhiri dengan  acara fon so e'. Hanya ada dua golongan  yang diketahui dari marga  yaitu  neo haug dan neo noni untuk saling mengotori muka  dengan campuran  kotoran.  Sungguh ramai  acara ini tetapi sudah punah  dalam tradisi.
Kampung Oelatfog yang kecil itu dirintis oleh kakek Ayub, KloE Eke, sejak dia masih muda.  Dia mendirikan kandang kerbau  dan berkebun di sekitarnya.  Akhirnya membuat rumah tinggal  jauh dari rumah lama. Jarak menuju perkampungan lama Fatuun,  di balik bukit Tanini,  sekitar 20 Km.  Menurut cerita,  air Oelatfog  itu air yang ditanam.  Ada kepercayaan orang Timor bahwa  air itu sesuatu  dapat ditanam maka ada nama Oesena yang artinya Oe = air  dan sena = tanam.
KloE Eka yang menikahi  Kuku Bat  tidak lama hidup, tetapi  sukses meletakkan  dasar didikan bagi  putranya Frederik  Titu Eki. KloE  meninggal pada saat  Frederik baru berusia  sekitar 16 tahun. Segera setelah KloE  meninggal dunia  dan tidak lama kemudian, Foan,  kakak laki-laki Frederik  juga meninggal. Keluarga ini benar- benar terpukul, sampai-sampai Frederik  pun  harus berhenti sekolah saat di kelas dua SR.  Sungguh pun  demikian, dia  matang dalam didikan ayahnya  sebelum meninggal.  Ketekunan dan ketaatannya   pada prinsip-prinsip  hidup keluarga,  itulah yang membuatnya  dipercaya menjadi Temukung  Fatuone, Kefetoran Kauniki,  jabatan  setingkat kepala desa  masa kini.
Frederik Titu Eki  memegang  jabatan Temukung  Fatuone sebelum Ayub lahir.  Jabatan itu baru berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa  pemerintahan  swapraja  sekitar tahun 1969-1970.  Pada saat itu pusat pemerintahan  Desa Gaya Baru  Fatuone  dipindahkan dari  Oelatfog  ke Tiluntob. Tiluntob berati  konsentrasi pemukiman. Semua warga Kampung  Fatuone  diwajibkan pindah ke Tiluntob. Frederik sendiri sudah pindah ke Tiluntob  sejak dia mendirikan  SD GMIT Pehe  pada tahun 1966. Pehe adalah nama asli dari Kampung  Tiluntob.  Frederik memang hanya mengenyam  pendidikan kelas dua SR  tapi dia berhasil mendidik Ayub dengan menerapkan prinsip-prinsip hidup keluarga dengan disiplin  yang keras  ala militer.

C.   Diramal tak Bernasib Baik
Siapa sangka bahwa diramal tak bernasib  baik,  diperlakukan tak senonoh, justru berbuah manis dan membawa berkat bagi banyak orang. Inilah kisah nyata dan unik dalam perjalanan dan pengalaman hidup  seorang Ayub Titu Eki.  Mempunyai anak laki-laki, bagi masyarakat Timor, merupakan sebuah kebanggaan. Hanya laki-laki yang meneruskan marga atau fam dari  klan.  Perempuan tidak; karena mereka bersatu dengan  suami dan menjadi  bagian dari kehidupan keluarga  suaminya.
Frederik Titu Eki pun merasa senang  dan bangga sesaat. Setelah itu  perasaannya terganggu lantaran ramalan tentang nasib Ayub.  Ketika Funu  Obe (Ayub Titu Eki) baru lahir sebagai putra kedua dan anak ke-4 dari sembilan bersaudara,  dia diramal  kelak bernasib buruk karena ada tanda-tanda tidak normal. Peramal itu seorang sahabat dagang ternak etnis Tionghoa  yang biasa datang membeli sapi dan beli kerbau di situ. Sahabat ini dikenal baik dan jujur, serta diperlakukan seperti keluarga sendiri.  Sahabat meramal Funu bakal tidak  memiliki  masa depan yang baik, tidak beruntung.  Funu diramal akan selalu membuat keluarga tegang  dan pusing.  Funu akan menjadi anak yang malas dan bernasib malang.
Nenek Kuku Bat (ibu kandung Frederik)  dan lima orang anak perempuannya  terpukul dan sangat sedih,  hati mereka terusik gara-gara ramalan tentang nasib masa depan Funu yang suram.  Ini anak laki-laki yang kelak merusak  kehormatan marga Titu Eki.  Keluarga kita terpandang  dan punya pengaruh, sementara anak  ini  datang membawa sial.  Mereka mulai berpikir tentang  cara apa yang harus dilakukan terhadap anak ini.  Kalau saja belum jadi Kristen, maka caranya gampang, langsung saja dicekik dan dikubur  seperti kebiasaan di masa silam.
Kemudian nenek Funu memberikan saran: “Ayo, kita berikan saja kepada keluarga Lot Tafinit  yang tidak punya keturunan.”  Hampir saja semua setuju dengan  usulan simpatik ini.  Mama Bendelina diam-diam  tidak setuju, tetapi tidak mampu menyatakan  apa-apa. Frederik sedikit pun tidak pernah menunjukkan sikap terpengaruh atas  hasil ramalan sahabat dagangnya, melainkan  selalu sibuk dengan agenda  kerjanya yang padat. Sedangkan Welhemina Titu Eki atau Tante Mina (be 'Noko) tidak ragu bertindak. Ia dan suaminya Tot Noebu'i (Thobias Boko) meminta Funu menjadi anak mereka. Ia berani menantang ide mama kandungnya; ”Mengapa harus berikan Funu kepada orang lain, kenapa mama tidak berpikir tentang saya ini sebagai anak kandungmu yang mandul?” Akhirnya, semua membisu tanda setuju.
Rumah Tante Mina yang berjarak tujuh meter dari rumah Frederik membuatnya mudah mengurus Funu sehari-hari. Ibu Bene (Bendelina) hanya sibuk menyusui selama 12 bulan. Tepat hari ulang tahun pertama, Tante Mina mulai full time mengurus Funu dengan penuh kasih sayang. Karena kesibukannya mengurus Funu, Tante Mina jarang membantu kerja di kebun atau mengurus ternak. Apalagi dia yang paling malas dalam keluarga Titu Eki. Sebelum hari ultah kedua, suami Mina jarang pulang ke rumah dan akhirnya mereka bercerai di tahun berikutnya. Mina tidak tidak peduli meski tidak punya suami. Bahkan ia semakin bahagia bersama Funu yang lucu dan menyenangkan.
Sudah kehilangan suami, diterpa pula badai dalam keluarga. Mina tiap hari selalu dimarahi oleh ibu kandungnya karena waktunya hanya untuk mengurus anak. Akhirnya Mina menjawab omelan ibunya dengan harus pergi pagi dan pulang sore hari untuk bekerja di ladang yang jauh dari perkampungan, sementara Ayub yang nakal dan manja dijaga oleh sang nenek.Tetapi sang nenek juga sibuk menenun tiap hari sehingga kakak perempuan Ayub yang baru berumur empat tahun yang ditugaskan menjaga Ayub kecil. Namun, sang kakak pun menyerah karena Ayub merangkak ke sana ke sini serta meraba ini dan itu. Belum lagi dia menangis minta digendong. Ketika kakak menyerah dan nenek mulai terganggu, maka si nenek mengikat salah satu kaki Ayub dengan kain yang disambung tali dan dililit ke tiang tenda tempat menenun, layaknya seekor binatang piaraan. Ayub sulit merangkak jauh selain hanya berputar mengelilingi tiang tenda. Kalau menangis dibiarkan hingga berhenti sendiri. Bilamana mengantuk, dia dibiarkan tertidur di tikar yang sudah dibentang di samping tiang tenda.
Perlakuan nenek terhadap Ayub belangsung dari hari ke hari, masuk pekan ke pekan,  tapi selalu dirahasiakan agar  tidak diketahui Tante Mina.  Bagi orang lain, hal ini merupakan suatu siksaan.  Bahkan termasuk pelanggaran hak asasi manusia di masa kini. Tapi bagi sang nenek, perlakuan ini merupakan suatu bentuk didikan agar anak kelak mandiri, tidak manja dan tidak suka merengek. Pada hari-hari permulaan diikat,  Ayub banyak menangis tapi  dibiarkan sampai Ayub menikmati ikatan kain pada kakinya.
“Saat masih belajar merangkak dan belajar berdiri, saya sangat aktif dan tidak pernah diam.  Supaya nenek tidak terganggu saat menenun, ia ikat kaki saya pada tiang tenda. Ya, saya tidak bisa ke mana-mana lagi.  Hanya berputar-putar saja di situ  dan jangan harap digendong.  Dibiarkan  terus menangis sampai berhenti sendiri  karena kelelahan.  Ini memang cara mendidik dalam keluarga saya. Anak kecil tidak boleh terlalu  diproteksi sebab pada akhirnya  dia akan menjadi manja  dan tidak mandiri  setelah besar,” tutur Ayub mengenang masa kecilnya.
Pada suatu hari, Tante Mina  pulang ke rumah sebelum jam 12 siang lantaran sakit kepala.  Ia kaget terheran-heran melihat Ayub  terikat di samping neneknya  yang sibuk menenun.  Tante Mina tak kuat melihat Ayub  jika diperlakukan  seperti itu.  Mulai hari itu, Tante Mina tidak percaya lagi pada ibunya untuk mengasuh Ayub. Demi Ayub, perang mulut pun terjadi.  Karena itu, Tante Mina selalu membawa Ayub ke mana saja pergi.  Di pelukan Tante Mina, Ayub kembali bermanja ria dan suka  merengek minta dibelai dan digendong. Ayub terus tumbuh secara fisik melewati ulang tahun kedua,  ketiga dan seterusnya  dalam keadaan  sangat manja dan  nakal. Hal ini membuat nenek yang  meninggal pada tahun  1959, Frederik  dan tante-tante yang lain sering mengomeli Tante Mina  karena dianggap meletakkan dasar kepribadian  yang jelek menurut tradisi keluarga.
Demi Ayub, Tante Mina  mengatur strategi. Pertama, membuat rumah  tinggal baru agak jauh (sekitar 70 meter)  dari rumah Frederik.  Ia tinggalkan rumah lama di samping rumah bulat ibunya  yang sudah menjanda 29 tahun  dan terletak di belakang  lopo besar Frederik. Tante Mina dan Ayub mendiami  rumah bulat kecil di tengah  pepohonan  mangga dan sirsak yang rimbun sehingga  memberi banyak kebebasan  bagi Ayub untuk bermain sepuasnya.
Kedua, Tante Mina memilih menenun dan memelihara ternak babi saja sehingga aktivitasnya hanya di sekitar rumah agar selalu dekat besama Ayub kecil. Kawanan sapi Tante Mina di padang  dipercayakan kepada  gembala upahan.  Hasil ternak sapi, babi dan  hasil tenun biasanya  dibarter dengan padi, jagung dan barang lainnya buat keperluan Tante Mina dan Ayub.  Bukti keringat  Mina berupa  sapi  menjadi kenangan  tak akan  terlupakan. Pada tahun 1974, Ayub menjual sapi  warisan Tante Mina  untuk membeli  sebidang tanah  (sekitar 450 meter persegi) dan tahun 1977 membangun sebuah rumah (sekitar 55 meter persegi)  di atas tanah itu di Jalan Palem nomor 17 Naikolan Kupang.  Setelah  meraih gelar sarjana tahun 1983, Ayub  menjual sisa warisan Tante Mina  dan membeli sebuah sepeda motor baru,  walaupun pada saat itu belum banyak pengguna sepeda motor.
Ketika memasuki usia SD, Ayub  diantar dan didaftarkan  di SD GMIT Oepula, sekitar  12 Km dari Oetlatfog.  Tiap hari,  bersama dua kakaknya perempuan dan sejumlah anak lain dari kampung sekitar, saat matahari mulai terbit, Ayub sudah berjalan sejauh  2-3 Km  ke sekolah. Tante Mina pun harus ke sekolah  tiap hari karena Ayub tidak akan ke sekolah  jika tantenya tidak ikut serta. Jika tidak menunggang kuda,  berarti Tante Mina harus menggendong Ayub  di tengah jalan.  Bukan karena letih  tapi lantaran manja. Tak pelak,  banyak orang di kampung menyindir  Tante Mina dengan ungkapan “anak sekolah kelas sepuluh”.
“Saya  ingat Tante Mina  sering mengakali saya dengan main petak umpet  di balik pepohonan  sambil kejar-kejaran.  Giliran saya, berhenti sejenak sambil tante duluan bersembunyi  di balik pohon besar  di tepi jalan.  Ketika saya lewat pohon itu, tante memutar ke arah belakang  pohon dengan hati-hati agar dia dapat mengagetkan  saya pada posisi  depan.  Ini berarti tante harus mengejar saya  yang biasa lari lebih cepat dan sejauh mungkin. Pada giliran saya bersembunyi, tante sudah mengetahui di balik pohon mana saya berdiri  tetapi dia berpura-pura tidak melihat saya sehingga saya mengagetkan dan mengejar dia.  Tante memang tidak kuat lari jauh karena  sudah berumur 47 tahun. Bermain petak umpet ini kami lakukan di saat kami  tidak memakai kuda  ke sekolah.  Bermain kejar-kejaran biasanya  akan lebih ramai  saat  di Km 7  di mana banyak anak dari Kampung Tekamanus  bergabung menuju ke sekolah,“ papar Ayub  mengenang  saat masa kecil bersama tantenya itu.
Tante Mina akhirnya  mengambil keputusan untuk membuat rumah tinggal kedua  di pekarangan SD  GMIT Oepula. Dua alasan jadi pertimbangan  pokok. Pertama,  ia merasa lelah  jika pergi-pulang  Oelatfog-Oepula tiap hari dengan Ayub;  ia juga kehilangan waktu untuk aktivitas menenun.  Setelah membangun lopo kecil 4x5m untuk dia dan Ayub  tinggal, rutinitas  pergi- pulang Oelatfog-Oepula mulai dikurangi,  yakni hanya sekali dalam sepekan.  Dengan tinggal di Oepula dari Senin hingga Sabtu siang, Tante Mina  banyak  waktu untuk menenun  namun hilang kesempatan  memelihara ternak babi.  Meski begitu,  bagi Tante Mina,  yang terpenting adalah  waktu dan perhatian penuh  buat Ayub.  Ayub pun semakin tambah nakal karena  mendapat proteksi berlebih dari tantenya.  Murid lain, guru atau siapa saja –bahkan termasuk ibu kandungnya-- tidak boleh memarahi  Ayub apalagi sampai memukulnya.
“Saya ingat  ketika di SD kelas satu, tante saya bawa parang (golok) untuk potong pak guru lantaran  menjewer telinga saya.  Tante marah berat dan dengan parang  di tangan maju menuju pak guru tapi pak guru menjauh sambil  meminta maaf. Tante juga sangat marah bila melihat orang lain menaruh tangan di atas kepala atau bahu saya. Sebab, bagi tante, itu pertanda pelecehan terhadap saya. Tante juga tidak pernah lalai menasihati saya walapun dengan kata yang sangat sederhana. Suatu kali dia katakan pada saya; ‘Funu jangan nakal. Belajar jadi anak pintar supaya tante senang melihat Funu jadi tuan lebih daripada pak guru’. Nasihat ini tidak pernah saya lupakan  dan menjadi motivasi kuat bagi saya sejak kuliah di perguruan tinggi,” kata Ayub penuh kenangan.
Alasan kedua tinggal bersama Ayub di Oepula agar dapat menjaga jarak dengan Frederik karena Ayub semakin nakal. Kenakalan Ayub banyak menjengkelkan karena dia selalu memaksa anak-anak lain, besar dan kecil, agar patuh melakukan perintahnya. Jika tidak, maka dia tidak segan-segan main pukul atau lempar dengan batu. Dan jika ada orang tua yang maju untuk membalas, maka dia lari berlindung ke tantenya. Semua bentuk permainan bersama Ayub selalu meniru aktivitas kehidupan  orang dewasa.  Ayub mengajak adu kecepatan  panjat pinang, menunjukkan kelincahan merayap  di dahan pohon pendek  dan rimbun untuk  melakonkan kera  sambil ada yang melempar dari bawah dengan gumpalan lumpur keras.  Semua permainan keras, menantang dan penuh risiko namun sekaligus menggembirakan.
“Ketika saya di kelas dua SD, saya pernah memotong pergelangan tangan  adik saya  dan luka besar mengeluarkan banyak darah.  Untung saja dia cepat ditolong  oleh kakak sepupu. Saat itu, kami bermain menebas  belukar sebagai  persiapan ladang. Saya tidak bermaksud memotong dia tapi  waktu dia hendak  memeluk pohon  damar,  saat itu juga tangan dia dan parang  saya bertemu  secara tidak sengaja. Dia sudah dua kali minta berhenti  tapi saya memaksa bekerja  terus sampai kelelahan. Sesudah peristiwa itu, saya lari ke hutan dan bersembunyi  di dalam rumpun bambu. Mereka berulang-kali melewati  tempat itu  tapi saya tidak menunjukkan diri.  Sekitar 8 jam kemudian  saya berpindah tempat persembunyian.  Saya memanjat pohon  tinggi   yang dililit tali  hutan dengan daun  yang rimbun sambil memandang ke arah jalan untuk melihat siapa saja yang mencari saya.  Waktu giliran tante kelihatan,  saya panggil ia  datang  lalu saya turun  dari pohon. Saya dan tante kena pukul  banyak dari bapak,” Ayub bercerita.
Pukulan Frederik terhadap Ayub  dan tantenya bukan hanya sekali  itu saja tapi  banyak kali.  Pada suatu sore,  ibu Bendelina meminta bantuan  Ayub mengambil air  ke sumber mata air yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Dengan berat hati Ayub berangkat  membawa sebuah periuk tanah. Tapi 100 meter menjelang  rumah, dia lantas menaruh periuk tanah itu di jalan.  Dengan ujung jari kakinya, dia pun mendorong periuk  menyusuri jalan tanah  yang tidak rata dan berkelok. Apa yang terjadi? Periuk tanah terguling  menuruni padang rumput  dan langsung tertancap  pada ujung batu tajam  yang berbungkus rumput tebal. Dengan perasaan takut, Ayub pulang ke rumah.
“Mengapa kau tidak bawa air?” tanya ibunya.
Ayub seolah-olah merasa tak bersalah.  Dia pun balik bertanya pada ibunya  yang mulai nampak gusar. “Mengapa saya diberi periuk pecah untuk mengambil air?”
Karena jengkel, ibunya meraih sebatang kayu  di dekatnya. Ayub pun dipukulinya. Memang tidak keras. Merasa terancam, Ayub menangis sejadi-jadinya.  Tangisannya  mengagetkan Tante Mina. Tergesa-gesa, ia keluar rumah.          
“Mengapa kau menangis?” Tante Mina bertanya.
“Saya dipukul mama,“ jawab Ayub tanpa  menjelaskan  seluruh peristiwa  kepada tantenya sembari menghapus air matanya.
Pertengkaran tidak terelakkan. Ujung-ujungnya, Tante Mina menjambak rambut mama Bendelina. Persoalan tak cukup berhenti di situ. Ketika Frederik  pulang, isterinya  mengadukan peristiwa itu. Ayub pun dipukul sang ayah dengan ranting asam. Tante Mina mencoba melindungi  Ayub, mendekap anak kesayangannya.  Usahanya sia -sia. Frederik memukul mereka berdua  secara bertubi-tubi.
Akibat menerima banyak pukulan dengan ranting asam dari Frederik, Tante Mina dan Ayub memilih tetap tinggal di Oepula  dan pulang ke Oelatfog dua kali sebulan.  Ia sibuk menenun dan menghasilkan  banyak selimut untuk  laki-laki , kain sarung untuk perempuan, saku siri pinang dan  ikat pinggang.  Ia juga semakin banyak menasehati Ayub agar menjadi  anak baik,  tetapi dia tidak pernah memarahi Ayub. Ia sangat memproteksi  dan memanjakan Ayub.
Hidup bersama-sama dengan orang Oepula  yang tergolong Suku  Sonbai,  menimbulkan kesan buruk  bagi Tante Mina.  Beberapa di antara mereka mengambil  hasil tenunan namun lambat membayar. Bahkan, salah satu di antara mereka terkesan sengaja tidak mau membayar dan  dia sudah mengambil dua lembar selimut besar.  Suatu ketika Tante Mina menagihnya dengan nada kasar dan  orang mengingatkan Tante Mina bahwa  orang itu punya ilmu sihir  yang ditakuti banyak orang . Tante Mina tidak peduli  dan terus menagih  tapi sia-sia saja usahanya.
Tak lama berselang Tante Mina jatuh sakit.  Ia tidak pernah mengeluh  karena hanya berdua dengan Ayub  tinggal dalam sebuah gubuk kecil  di pekarangan sekolah.  Beberapa kali Ayub melihat air matanya  menetes membasahi pipinya  yang makin keriput.  Ketika Ayub bertanya  mengapa tante menangis, dia hanya geleng kepala. Katanya, ada kemasukan cabe di mata.  Ia menyembunyikan kepedihan hatinya  di mata  Ayub. Pada hari Sabtu-Minggu  itu ia mengajak Ayub  pulang ke Oelatfog  dan meninggalkan alat tenunnya di Oepula.  Sepanjang jalan dan tiba di Oelatfog,  ia tidak menunjukkan tanda-tanda  bahwa ia sedang sakit.
Malam pertama di Oelatfog, Tante Mina dan Ayub  tidur di rumah bulat  yang sudah mereka tinggalkan beberapa pekan. Sepanjang malam ia sering membangunkan Ayub karena bermimpi aneh.  Ia lalu minta  Ayub memijitnya.  Keesokan harinya  ia malah minta  tidur di salah satu kamar  di rumah Frederik. Alasannya, ia tidak bisa tidur nyaman di rumahnya karena selalu dibayangi mimpi aneh.  Meski begitu,  keluarga tidak menaruh curiga  bila ia sedang sakit.
Tante Mina minta Ayub agar tetap menemaninya di kamar tidur.  Di tengah pergolakan batin  karena mimpi-mimpi buruk yang menakutkan, Tante Mina terus memanggil  Am obe  dan bukan Funu  seperti biasanya  panggilan nama kampung Ayub. Pada hari berikutnya,  ia menggigil ketakutan hingga  buang air di tempat tidur.  Ia juga terus memeluk erat  dan mencium Ayub kecil  sambil terus memanggil: “Am obe.. am obe..” Seolah dia sudah tahu bahwa  akan terjadi perpisahan di antara mereka untuk selamanya. Selanjutnya, Bendelina, ibu kandung Ayub, ganti yang menjaga Tante Mina  sedangkan Ayub disuruh pergi mencuci pakaian kotor tantenya  di kali yang berada tak jauh dari rumah mereka.  Setelah mencuci, Ayub tidak segera pulang  ke rumah tapi masih asyik  bermain di kali  sekitar dua atau  tiga jam sambil menunggu cucian kering.
Ayub pun tidak menyangka  kalau siang itu  sekitar pukul 10.00 tantenya harus pergi untuk selamanya ketika Ayub baru duduk di bangku kelas tiga SD.  Ketika Ayub sedang asyik bermain sambil menunggu  cuciannya kering, tiba-tiba  dia dikagetkan oleh tangisan  histeris dan dua bunyi letusan senapan tumbuk sebagai pertanda ada orang meninggal dunia. Ayub segera berlari  pulang ke rumah dan ternyata  Tante Mina sudah terbujur  kaku di tempat tidur.  Tak ada lagi panggilan kasih am obe  atau Funu dari  suara yang lembut, tidak ada lagi pelukan  hangat dan ciuman  penuh kasih sayang.  Ayub menangis sejadi-jadinya  dan membanting diri di lantai  rumah. Tante Mina tetap membisu dan pergi menuju alam baka.  Selamat jalan Tante Mina sayang. Ayub tidak akan pernah melupakan kasih sayang tante sambil terus berjuang  menjadi orang baik  sesuai pesan tante.
D.   Menempuh Jarak 24 Kilometer demi Ijazah SD
Frederik Titu Eki cuma mengenyam pendidikan kelas dua SR zaman Belanda. Namun dia menyadari betul betapa pentingnya pendidikan buat pembentukan  masa depan anak dan pintu  gerbang mencapai tingkat kemampuan berpikir yang baik  menuju keadaan hidup yang jauh lebih baik. Cara berpikir demikian  dia peroleh dari pengalaman  pergaulan dengan banyak  tamu yang datang mengunjungi  dan bermalam di rumahnya.  Sebagai Temukung Besar Fatuone,  dia kerap mendapat kunjungan  orang-orang terpelajar.  Apalagi dikunjungi pedagang ternak  yang sambil berdagang juga bertukar pikiran tentang  masa depan anak-anak. Semua yang dia pikirkan tentang pentingnya pendidikan selalu  dijadikan bahan nasehat  kepada anak-anaknya.
Disadari pula oleh Frederik bahwa memiliki ternak sapi,  kerbau dan kuda  dalam jumlah yang banyak sekalipun sudah pasti tidak bertahan  di tangan anak cucu.  Banyak orang tua yang kaya ternak namun anak-anaknya jatuh miskin. Ternak yang banyak cepat punah  begitu pemiliknya meninggal. Karena itu, Frederik mendorong anak-anaknya terus bersekolah.  Dia juga sering menasehati dan memarahi rakyatnya jika tidak menyekolahkan anak-anaknya.
Putra sulung Frederik, mendiang  Eliazer Titu Eki,  disekolahkan di SD  GMIT Taemaman, sekitar 20 Km dari Oelatfog.  Setelah tamat SD, Eliazer diantar ke Kupang untuk  mengikuti pendidikan SMP  bersama beberapa anak dari Fatuone  dan sekitarnya. Frederik pun membeli sebidang tanah dan membangun rumah buat Eliazer di Kupang  agar bisa sekolah dengan tenang. Sayangnya,  atas bujukan  tante -tantenya  yang lebih cinta harta  daripada  pendidikan, Eliazer  pulang kampung sebelum tamat SMP. Sedangkan tanah dan rumah diambil orang secara sia-sia. Kesadaran menyekolahkan anak di SD pada masa itu sudah mencakup anak laki-laki  dan perempuan. Tapi, untuk sekolah lanjutan hanya dikhususkan bagi anak laki-laki tertentu karena sekolah lanjutan hanya ada di kota Kupang.
Bersama kedua kakak perempuan (Fhelpina dan Theresia), Ayub  disekolahkan di SD  GMIT Oepula,  sekitar 24 Km  pergi-pulang tiap hari. Ketiga orang kakak-beradik ini pun mendapat  ijazah SD dari sekolah tersebut.  Adik-adik Ayub lebih beruntung lagi karena  mereka disekolahkan di SD  GMIT Pehe  yang didirikan oleh Frederik Titu Eki di  Tiluntob.
Pada waktu Ayub berada di kelas I–III SD, jumlah anak sekolah yang melewati jalur Oelatfog-Takemanus sekitar belasan orang. Di antaranya tiga bersaudara  dari Oelatfog  dan beberapa anak dari Kampung  Nijalima  yang berjalan sejauh kurang  lebih  30 Km.  Anak-anak dari kampung ini lebih  sering bolos gara-gara  jarak tempuh ke sekolah sangat jauh dan harus melewati dua sungai.
Ketika Ayub duduk di kelas IV  SD,  jalur jalan Oelatfog-Takemanus mulai sepi lantaran yang lewat saban hari cuma Ayub dan Theresia.  Fhelpina dan tiga anak lainnya  memilih pindah dan bersekolah di SD GMIT Pehe dengan alasan jarak tempuh hanya sejauh 3 Km.  Kepindahan ini membuat anak-anak  yang sudah kelas IV dan V  di SD GMIT Oepula  bersedia turun kelas  ke kelas III  di SD GMIT Pehe  yang baru didirikan dan hanya membuka kelas I- III.  Ketika Ayub memasuki kelas V  dan kelas VI SD, dia terpaksa berjalan  seorang diri karena  Theresia (kakaknya) sudah tamat SD. Tiap hari dia berjalan seorang diri melewati  hutan sekitar 6 Km baru kemudian bergabung bersama  anak-anak dari Takemanus  menuju sekolah.
Perjalanan sejauh 24 Km  pergi-pulang saban hari bagi seorang anak SD  sejak kelas satu merupakan sebuah tantangan berat.  Terlebih lagi Ayub belum cukup umur pada saat masuk SD.  Standar anak-anak desa masuk SD  pada masa itu tidak diukur dari faktor usia tapi  dari ukuran  panjang tangan yang mencapai  telinga sebelah melewati  puncak kepala.  Ketika Ayub diantar  ke Sekolah  Dasar  Gereja Injili Masehi Timor  (SD GMIT) Oepula, semula guru-guru di sana menolak.  Namun Frederik berkeras  agar putranya itu diterima. ”Terima saja. Jadi murid pendengar pun  boleh daripada dia  di rumah sangat nakal,” Ayub mengutip  penjelasan ayahnya  yang kerapkali dikisahkan dalam berbagai pertemuan keluarga  pada masa remaja bahkan sampai masa dewasa.
Jelas meskipun belum cukup umur untuk bersekolah,  guru-guru di sana terpaksa menerima  Ayub karena merasa malu pada Frederik Titu Eki,  ayah Ayub, yang adalah Temukung Fatuone.  SD GMIT  Oepula  didirikan di pusat  Kefetoran Kauniki yang juga merupakan pusat wilayah Temukung Oepula.  Hari itu juga akhirnya Ayub diterima  menjadi murid SD GMIT Oepula.  Sejak awal Januari 1963, Ayub kecil mulai melangkahkan kakinya memasuki  halaman sekolah.
Hari-hari pertama bersekolah,  dalam ingatannya,  cukup menyenangkan.  Ada banyak teman baru. Ada pengalaman  baru yang belum pernah dialami  sebelumnya.  Kegembiraan  akan persahabatan  dan pengalaman baru tidak berlansung  lama.  Perjalanan dari rumah ke sekolah terlampau  menguras tenaga.   Udara pagi yang segar memang mampu menyapu  bersih letih.  Namun terik matahari  Timor yang tak dapat dihindari  seolah mengiris   setiap segi kulitnya.  Semua dijalani  dengan riang  gembira, apalagi  selalu ditemani  tante kesayangannya setiap hari.
Ada motivasi kuat tumbuh dari dalam  relung hatinya, bayangan rotan sang ayah  dan suaranya yang menggelegar menakutkan pada satu sisi  dan  kegembiraan bermain bersama teman  serta pelajar-pelajar pada sisi lain,  terus mendorong Ayub melangkah, melewati hamparan bebatuan dan  rambatan dalam dahan belukar rimbun, menuruni jurang dan mendekati  bebukitan  di sepanjang jalan antara rumah dan sekolah.  Belum lagi curahan kasih sayang tante ditambah pesan singkatnya  agar belajar menjadi anak yang baik.
“Anda bisa  bayangkan.  Jarak dari Oelatfog  ke Oepula  sekitar 12 Km.  Itu harus  berangkat pagi-pagi  buta dan pulang siang hari.  Jadi dalam sehari  saya berjalan sejauh  24 Km atau 144 Km setiap sepekan,” urai Ayub sembari menambahkan  bahwa  fasilitas pendidikan  masa kini  seharusnya membuat  para siswa  jauh lebih berprestasi.
Tetapi sekolah  tidak bisa sekadar  bermodal rasa,  keinginan bermain dan menjelajahi  dunia baru. Diperlukan hal-hal  lain.  Pada siapakah faktor itu di peroleh?  Dari Ayah? Ibu? Kakak? Tidak! Satu hati yang membuka diri untuknya,  yang memberikan bahunya  untuk tempat bersandar.  Hati itu adalah hati Tante Mina.
Sebelum embun jatuh dari pohon,  Tante Mina mengantar Ayub ke sekolah.  Dalam kesunyian pagi, keduanya berjalan bersama kedua kakak perempuan  Ayub, sembari memainkan embun yang tersisa di dedaunan. Kerapkali, agar  tidak terlambat tiba  di sekolah, Tante Mina  menggendong Ayub bila dia tidak mau lagi  berjalan ke sekolah. Tidak sampai di situ saja,  ia pun rela menunggu  berjam-jam di sekolah  lalu kembali berjalan  pulang bersama  seusai jam sekolah.
Pengorbanan Tante Mina  tidak bisa dihapus dari benak Ayub. Seorang tante yang rela berkorban hingga akhir hayatnya demi Ayub. Tante yang menjadi inspirasi kuat  dan daya juang tinggi  bagi Ayub buat meraih  masa depan  yang lebih baik.  Ayub merasa  bersyukur memiliki seorang tante  yang begitu tulus mengasuhnya.  Walau tidak sedikit pun Tante Mina meletakkan dasar  kedisiplinan waktu  bagi Ayub,  tapi ia berhasil membangun sebuah  fondasi  kehidupan  beretika yang tidak dapat diragukan  kemudian dilengkapi  dengan tahap didikan selanjutnya. Semua yang dilakukan  Tante Mina saat itu telah membuat Ayub  menjadi apa adanya seperti yang kita saksikan saat ini.
Kasih sayang  Tante Mina  begitu tulus.  Dia menjadikan Ayub seperti “dewa kecil”  yang tak boleh disentuh  sedikit pun.  Ayub bebas bermain  sepanjang hari atau  tidur sampai jam  berapa saja  terserah.
Manusia boleh berencana tapi semua  keputusan ada  di tangan Tuhan. Tante Mina dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Pada bulan Maret 1965, wanita mandiri bertekad baja  namun lembut hati  itu meninggal  dunia  ketika Ayub masih  duduk di bangku kelas III SD. Ayub seperti dikisahkannya  dengan getir,  dia sangat terpukul dengan kematian  tantenya. Sang pelindung itu tidak lagi hadir  melawan setiap tangan  yang diayunkan menerpa  diri Ayub.  Dia harus berjuang sendiri  dan mulai belajar hidup mandiri.  Tapi, apalah artinya  bagi seorang anak yang  baru berusia  10tahun? Mau tidak mau Ayub harus kembali  dan hidup bersama  kedua orang-tuanya  dan siap dibentuk lagi.
“Saya masih ingat dua pengalaman  buruk yang perlu saya ceritakan  di sini.  Pertama,  pada suatu pagi, setelah berjalan  sekitar 500 meter saya mogok jalan karena  teringat Tante  Mina  yang baru saja meninggal.  Saya menangis dan tidak mau lagi  ke sekolah  sehingga dua  kakak saya  menyuruh  saya pulang  dan mereka melanjutkan  perjalanan ke sekolah.  Saya menangis di tepi jalan hampir satu jam. Tidak ada orang yang melihat, apalagi  menghibur saya. Tiba-tiba saya berpikir, saya harus menangis lebih keras  lagi agar orang mendengar suara saya.  Lalu saya mengambil dua batang rotan  dari puncak pohon jambu  dan dipukulkan ke batang pohon  hingga hancur. Kemudian  saya menangis  dengan suara nyaring  sambil berguling-guling di rumput.  Tak lama berselang datang seorang kakak sepupu  dan bertanya  mengapa menangis dan tidak  ke sekolah.  Saya katakan bahwa dua  orang kakak  memukul saya dengan rotan  dan lari meninggalkan saya.  Kakak sepupu itu tersenyum karena dia tahu  bahwa itu hanya  alasan sebab  tidak ada bekas pukulan  di badan saya melainkan  ada bekas pukulan di batang pohon  kayu putih (eukaliptus)  di mana ada potongan dua  rotan yang hancur.  Saya tidak dimarahi  tapi dibawa pulang ke rumah,” Ayub berkisah.
Dengan kejadian ini, semua keluarga menaruh rasa iba kepada Ayub. Rupanya Ayub belum bisa melupakan tantenya.  Peristiwa kematian tantenya  masih membayangi pikirannya  siang dan malam  hingga membuatnya tak bergairah dan  malas bersekolah. Ayub kemudian dibujuk  dan diberi pengertian agar  tetap bersekolah. Ayub sering disuruh menunggang kuda  ke sekolah tapi dia lebih suka berjalan kaki  agar bebas  berkejar-kejaran di jalan.
Beberapa bulan kemudian,  Ayub mengalami pengalaman buruk yang kedua. ”Pada suatu pagi,  saya mogok lagi ke sekolah dan menangis, sementara kakak saya  yang akan mengikuti  ujian melanjutkan  ke sekolah.  Kakak yang satu lagi  terus membujuk. Saya  kemudian lari dan bersembunyi  di hutan hingga  membuatnya pusing mencari-cari.  Ia juga tidak berani  ke sekolah dan  juga tidak berani pulang  sendiri ke rumah  tanpa saya.  Ia terus mengamati  kapan saya akan muncul  dari balik hutan  sementara saya juga   terus mengamati apa yang ia perbuat.  Kami masing-masing bertahan di tempat  persembunyian hingga kakak yang satu pulang dari sekolah.  Saya terus mogok jalan ke sekolah dan lebih suka bersembunyi  di hutan selama jam sekolah sebanyak empat hari. Sementara kedua kakak saya pun takut menceritakan  hal ini kepada ayah karena mereka diberi tanggung jawab  mengawasi  saya. Rupanya keluhan  dua kakak itu didengar  Tuhan, pekan berikutnya  guru memukul kepala saya  hingga berdarah karena  tidak bisa mengerjakan  soal di depan kelas.  Insiden  ini membuat  saya tobat  dan mulai rajin sekolah,” terang Ayub.
Setelah Tante Mina meninggal, pembentukan  karakter Ayub  berada di tangan ayahnya  yang lebih fokus pada tertib  waktu dan tertib kerja.  Ayub tidak bisa lagi hidup sesuka hati.  Jam bangun pagi mengikuti kokok ayam bersahut-sahutan.  Kokok ayam yang pertama itu wajib  bangun bagi orang dewasa (sekitar jam 01.30 wita).  Kokok ayam yang kedua sekitar jam 03.00  pagi itu wajib bangun anak-anak  seusia Ayub.  Kokok ayam yang ketiga sekitar jam 05.00  pagi, umumnya semua keluarga sudah harus selesai makan pagi.  Jam keluar rumah untuk urusan ternak, kebun, ke sekolah dan lain kegiatan yang harus dimulai pagi-pagi  buta.  Pada jam 19.00-20.00 wita  lazimnya sudah sepi karena  mereka sudah tidur  agar esok hari dapat melakukan aktivitas  kembali.
Banyak warga kampung  mengatakan bahwa  karakter keluarga Frederik  Titu Eki  saat itu berbeda dibandingkan keluarga lain, khususnya dalam hal kedisplinan  sama seperti militer.  Didikan keras nampak  konsisten diajarkan  terus-menerus dan diwariskan dari generasi  ke generasi.  Pada masa itu,  setiap laki-laki atau perempuan luar yang akan dikawinkan  dengan anggota  keluarga Titu Eki, harus siap mental dan tabah menghadapi  didikan yang keras dan disiplin keluarga  layaknya pendidikan militer.  Itulah sebabnya,  warga kampung sekitar biasa mengatakan orang yang masuk menjadi bagian  keluarga Titu Eki  harus ”meok sis manu” --artinya harus banyak tabah dan pandai menyesuaikan diri.

E.    Ayah, Guru dan Sahabat
Ayah adalah figur penting  bagi segenap anggota keluarga.  Ibarat tubuh,  keluarga tanpa ayah mungkin tak ubahnya  tubuh tanpa kepala.  Betapa pun lemah, keberadaannya tetaplah memberikan roh dan  kewibawaan  bagi anggota keluarga.  Ia bukan sekadar kepala keluarga tapi  juga pemim[pin yang bertanggung-jawab  melindungi harkat dan  martabat keluarga  melalui gerak tangan untuk  bekerja memberikan contoh  dan mulut buat  bernasehat kepada anak-anak  demi nama baik keluarga.
Seorang ayah tidak harus dimaknai sebagai penguasa yang serba-bisa. Bukan pula  dilihat dari pangkat  atau jabatan yang disandang,  atau tingkat pendidikan dan gelar akademik yang diraih,  atau banyaknya harta kekayaan  yang dimiliki.  Ayah yang betul-betul baik bagi anak- anak adalah  ayah yang berhasil membangun  karakter hidup yang baik dan bermartabat atas dasar etika moral kehidupan yang disenangi dan diterima menjadi  panutan hidup bermasyarakat.  Demikianlah kata-kata wejangan Frederik Titu Eki yang selalu diucapkan kepada Ayub di saat mereka bercengkerama berdua,  baik di rumah saat bangun  pagi ataupun pada saat bermalam di  bawah pepohonan  di hutan kala mereka berburu.
“Hal yang paling berkesan dari ayah adalah saya harus tumbuh menjadi anak yang baik. Inti nasehat ini sama dengan nasehat Tante Mina dulu tetapi ayah  mengupasnya  lebih dalam bahwa  setiap keluarga yang punya banyak anak  pasti ada yang baik dan ada pula yang tidak baik, ibarat hasil panen di kebun.  Bapak menyebut nama orang yang susah sebagai anak  yang tidak taat orang tua, malas dan tidak jujur.  Sebaliknya, disebut pula nama orang  yang sukses punya hasil panen tiap tahun ataupun kaya ternak karena menjadi anak yang taat dan setia  mendengar orang tua, rajin bekerja, jujur dan rendah hati.”
Apa yang diajarkan keluarga Titu Eki  kepada Ayub merupakan ajaran umum yang lazim dilakukan keluarga-keluarga lain.  Tidak ada hal khusus yang dibanggakan.  Tetapi Ayub selalu membanggakan ayahnya,  Frederik Titu Eki, sebagai ayah dan sahabat yang mengayomi dengan tutur kata yang sarat nasehat.
“Ayah selalu tekankan bahwa setiap keluarga pasti punya anak yang baik,  paling kurang satu di antara beberapa orang  anak dalam keluarga itu. Tetapi (lu = engkau ) Funu,  harus selalu tampil jauh lebih baik bukan hanya  di antara saudara sendiri, juga harus lebih baik dibanding dengan semua anak baik keluarga lain di mana saja berada.  Alasan ayah, karena saya diharapkan  menjadi atok ume (penjaga rumah) dan am uf bagi banyak keluarga sehingga perlu memiliki nilai  kebaikan tinggi dan wibawa diri yang dikagumi, dihormati dan dipatuhi banyak orang.  Bila pesan ini merupakan pesan umum tiap-tiap ayah untuk menghasilkan anak terbaik di dalam kehidupan bermasyarakat  dewasa ini, maka kami telah berlomba menciptakan sumber daya manusia bermutu sejak dulu. Dan hal ini akan  membawa kita masuk tahap revolusi kebijakan,” papar Ayub mengenang kelebihan ayahnya.
Pembentukan karakter Ayub ternyata punya sasaran khusus.  Dia dipersiapkan ayahnya untuk menjadi atok ume dan karena itu dia harus mampu menunjukkan suatu tampilan  wibawa diri yang layak dan pantas  dalam kedudukan adat sebagai am uf. Pengertian am uf menggambarkan  jaringan kekerabatan yang luas dan terpelihara menjadi modal sosial yang perlu dipertahankan, bukan dengan kuasa atau uang, melainkan dengan tampilan nilai-nilai  kebenaran dan kebaikan.
Tahun1965, Ayub kembali ke pangkuan kedua orang-tuanya setelah Tante Mina, pengasuhnya, wafat.  Di tangan sang ayah, Ayub benar-benar merasakan gemblengan yang sangat keras.  Nilai disiplin ditanamkan, satu kali dipanggil, anak harus menjawab “iya bapak/mama” lalu segera datang . Pada panggilan kedua, anak  harus menjawab “iya” dan datang  dalam keadaan berlari.  Jika sampai tiga kali panggilan, maka anak pasti kena pukul.
Ayub tidak membutuhkan  waktu lama untuk menyesuaikan diri dari kebiasaan manja menjadi anak  yang disiplin dan disukai ayahnya.  Apa saja  yang diinginkan ayahnya  selalu dituruti dengan riang  dan ikhlas. Untuk bangun pagi,  mau tidak mau harus cepat-cepat meninggalkan tempat tidur.  Dalam waktu tidak terlalu lama,  dia juga terbiasa bangun sendiri karena dibangunkan oleh kokok ayam yang bersahutan bagaikan  buyi alarm pada masa modern ini.
Ruang keluarga mereka cukup luas  dan dapur terbatas  bagi keluarga inti dan empat orang  pekerja keluarga selalu membuat suasana  pagi riuh-ramai.  Apalagi Frederik selalu menjadi radio hidup bagi keluarga. Ada nasehat dan kata-kata peringatan,  ada cerita tentang pengalaman hidup, ada cerita lucu dan dongeng, dan selalu saja ada bahan  omongan untuk membuat  suasana keluarga menjadi cair dan menghidupkan keheningan pagi. Sungguh pun demikian, anggota keluarga ini senantiasa diingatkan  agar telinga boleh bebas mendengar dan mulut bicara tetapi tidak boleh melipat tangan.  Tangan harus akitf bekerja, tidak boleh berpangku  tangan agar tidak mengantuk  dan balik tidur.
Tujuan bangun pagi, bagi keluarga Titu Eki, untuk berpikir  tentang apa yang akan  yang dikerjakan,  bagaimana cara kerja  dan apa yang menjadi target sukses kerja hari itu.  Jika mencari sapi di ladang dan tidak ditemukan, maka akan dimarahi  pada pagi berikutnya. Selain itu, bangun pagi untuk  memasak, dan makan. Dan memulai aktivitas pada  pagi-pagi buta agar  dapat meraup banyak hasil.
Salah satu pekerjaan yang melibatkan  banyak tangan sambil mendengar  radio hidup yang menunggu masakan untuk sarapan adalah keterlibatan segenap anggota keluarga  dalam kegiatan memproses kapas  menjadi benang.  Perempuan memintal benang; anak-anak mengeluarkan biji kapas, membersihkan, menghaluskan kapas pakai  tali busur, membuat gulungan kapas halus  untuk dipintal dan ada pula yang menggulung lingkar menjadi  bola benang agar siap pakai.  Ada pula kegiatan lain  yang selalu membuat keluarga  dengan banyak anggota ini  selalu sibuk tiap pagi.           
Kesan Ayub tentang pengalaman  hidupnya saat bersama  ayah sungguh ia rasakan  bahwa ayah itu benar-benar seorang ayah, guru dan sahabat. Itu sebab pula, keteladanan  sang ayah yang dipakai  dan menerapkannya kepada tiga buah hatinya kini. Sebagai seorang ayah, Frederik  senantiasa mengingatkan Ayub kecil  agar tidak meniru sifat dan  perbuatan anak-anak lain yang  pola didikannya berbeda  dengan pola didikan  keluarga Titu Eki  yang penuh kedisiplinan.
“Ayah  memberikan ilustrasi  dengan banyak hal  nyata untuk membuat kami  cepat paham apa yang diajarkan.  Ilustrasi -ilustrasi ayah sangat membekas dan  menginspirasi saya  untuk selalu mencari  hubungan logis antara  perkataan dan kenyataan.  Banyak kali kita pandai mengobral kata  karena kita mampu menghafal  atau pandai meniru kata-kata  orang tapi jarang kita merangkai kata dalam hati yang mampu melihat fakta lapangan dan membahasakan apa adanya,” papar Ayub.  
Sama seperti kehidupan orangtua di pedesaan pada umumnya,  Frederik Titu Eki  selalu melibatkan  anak-anaknya dalam setiap aktivitas  ekonomi,  sosial dan budaya sebagai media belajar bagi anak-anaknya. Banyak sekali kegiatan dan aktivitas  yang Ayub pelajari dari ayahnya  dengan metode ”learning by doing“ (belajar sambil bekerja).  Ayub belajar membangun pagar, memintal tali untuk kuda  dan sapi/babi,  mengolah bahan mentah menjadi  bahan dasar pembuatan  tali tikar dan lain-lain.  Membuat feko (peluit sapi) dari jenis kayu tertentu,  membuat sarung pisau atau parang  dari kulit sapi  atau kerbau yang sudah kering.  Ayub belajar silsilah keturunan dan relasi dengan rumpun  keluarga terkait.  Juga belajar ihwal cara pembawaan diri dalam situasi yang berbeda.
Frederik yang dikenal sebagai “pemburu ahli “ juga melatih Ayub memahami  medan perburuan secara  baik. Ayub belajar cara menembak  binatang yang sedang berlari,  cara membidik tempat mati, cara memilih arah angin  untuk mendekati binatang liar,  cara mengumpan rusa dengan  meniup daun nikis muda, cara memilih anjing pemburu yang pintar dan menguntungkan  dan sebagainya.  Terlalu banyak pelajaran yang harus dipahami dan dipraktikkan  untuk mendapatkan  keuntungan besar.
Keterampilan beternak diajarkan pula kepada Ayub sebagai  anak yang direncanakan menjadi penjaga rumah adat keluarga Titu Eki. Ayub belajar mengenal ciri-ciri fisik kuda pacu yang baik ataupun anjing pemburu andalan dari warna bulu sekitar leher dan belakang paha. Khusus anjing pemburu bisa dilihat juga pada struktur langit-langit pada rongga rahang atas.
Pengalaman hidup bersama ayahnya membuat Ayub cepat dewasa dalam cara berpikir. Kebersamaan itu dimulai saat Tante Mina wafat pada akhir Maret 1965  hingga awal Januari 1971, yaitu saat Ayub diantar ke Kupang buat melanjutkan pendidikan SMP. Sebagai pemburu, Ayub dan ayahnya sering tidur di hutan. Biasanya mereka duduk sepanjang malam dan membawa senapan untuk mengawasi ladang dari hama babi hutan yang melubangi pagar lalu merusak jagung dan ubi. Tempat duduk bisa di tanah yang aman dan bebas sensor penciuman babi,  atau di atas dahan yang dipasang beberapa potong kayu agar bisa duduk aman. Duduk di atas dahan berisiko jatuh ketika mengantuk.
Berburu rusa dan babi hutan semalam suntuk tidak hanya dilakukan di sekelilingi pagar ladang, tetapi juga di padang luas. Waktu bulan terang di musim kemarau, pemburu biasa menjaga mata air yang didatangi binatang buruan di tengah malam untuk minum dan berkubang. Demikian pula menjaga pohon berbunga atau berbuah yang biasa dikunjungi binatang buruan pada malam untuk makan bunga buah yang gugur. Pada bulan gelap di musim kemarau, perburuan juga dilakukan menggunakan senter di padang luas untuk membidik binatang buruan.
Perburuan yang umum dilakukan bersama pada siang hari menggunakan anjing  pemburu.  Binatang buruan biasanya tidur di siang hari di tempat  yang jarang terjangkau  dan  keluar malam hari mencari makanan dan air minum.  Anjing pemburu sanggup menemukan tempat persembunyian dan  mengejarnya. Anjing pemburu yang hebat  biasa menangkap binatang buruan bagi pemilik. Anjing pemburu biasanya hanya mencari, menemukan dan  mengejar sambil menggonggong,  sementara pemburu berlari mencari jaringan jalan yang  akan di lewati. Ayub kecil pernah menembak mati  rusa dan babi hutan  yang dikejar anjing pemburu, namun selalu gagal menembak  binatang buruan di saat  jaga malam di atas dahan pohon  ataupun di tanah.
Sebagai peternak, bersama ayahnya, Ayub lebih banyak  tinggal dan  tidur di hutan. Pada tahun 1960-an, sapi dan kerbau warisan menjadi liar dan sulit dikandangkan. Di wilayah Kefetoran Tefnai (sekarang Desa Hueknutu )  jumlah sapi dan kerbau liar  mencapai lebih dari 100 ekor  sedangkan  di wilayah Kefetoran Takaeb (Desa Tanini) jumlah sapi liar ada lebih dari 50 ekor. Ayub bersama ayah dan  keluarga lain  sering tidur di hutan beberapa malam  untuk memasang pagar perangkap  menuju kandang.  Aktivitas ini paling banyak dilakukan  pada musim libur, namun tidak menutup kemungkinan pada masa sekolah dan Ayub harus pergi-pulang hutan dan sekolah dengan  berkuda.
Kerbau dan sapi liar yang sulit dikejar menuju kandang biasanya ditembak.  Daging dan kulitnya langsung  dijemur di hutan untuk  dijual ke Pasar Noelmina.  Penjualan daging kering dan kulit terus dilakukan hingga awal  masa Orde Baru,  di mana semua senapan tumbuk milik warga masyarakat  harus diserahkan kepada aparat kepolisian.  Setelah masa itu, sisa ternak liar  yang belum terkejar sudah  menjadi milik  umum dan  tidak dapat diidentifikasi  lagi.
Pada malam, bilamana mereka tidur di hutan untuk  urusan ternak,  ayahnya bagaikan radio hidup  bagi Ayub dan siapa saja  yang ikut  bermalam  di situ. Ketika berhasil menangkap  kerbau dan sapi liar, yang tua akan dijual  sedangkan yang muda diikat untuk dijinakkan. Tidur malam bersama ternak muda liar di hutan untuk proses penjinakan  juga merupakan  laboratorium  lapangan yang kompleks bagi Ayub belajar banyak hal. Sapi yang terluka harus dirawat.  Waktu malam harus memintal tali bersama ayahnya. Juga membuat peluit atau feko dan dibunyikan siang-malam untuk mengenalkan kawanan ternak baru dengan gembalanya.
Biasanya, mereka tidur di padang tanpa tenda. Ini memberi peluang bagi Ayub belajar tentang ilmu perbintangan dan fenomena alam sejauh diketahui ayahnya. Mengenal fenomena bintang besar yang muncul di timur dan memberi indikasi bahwa malam hendak berganti siang. Demikian pula Ayub mendengar pandangan orang kampung tentang letak dan arti beberapa jenis bintang yang mereka sebut maklafu, fku hitu, nua am ha dan sebagainya. Ada yang menunjukkan tanda bakal datangnya hujan atau akan terjadi kemarau panjang, dan indikasi akan ada bencana.
Tentang situasi apa yang paling membekas di hatinya masa itu, Ayub mengatakan dengan lugas: “Masa kecil saya di Oeletfok adalah masa keemasan saya.” Betapa tidak, daging, susu dan madu benar benar melimpah. Daging segar atau daging kering ada, daging rusa atau daging babi hutan hasil buruan juga ada. Tinggal pilih mana yang disuka. Mau susu sapi atau susu kerbau pun tersedia.  Madu lebah melimpah karena mereka panen tiap tahun.  Sungguh, Kampung  Oelatfog  masa itu berkelimpahan susu dan madu. Bukan hanya soal makan-minum yang dibanggakan Ayub,  juga soal pembentukan  watak dan kepribadiannya dalam keluarga yang dapat dikategorikan bodoh menurut ukuran masa kini.
Pun Ayub punya kenangan khusus terhadap ayahnya sebagai pemacu kuda pacuan  dan sering mengikuti lomba pacuan kuda di desa sekitar ataupun di wilayah Amfoang dan Molo. Setelah berkeluarga  dan menjadi temukung, Frederik tetap memelihara kuda pacu atau kuda ikat bukan  untuk tujuan lomba pacuan tapi buat keperluan keluarga  sendiri. Nah,  di sini lah tersedia kesempatan lomba pacuan antara ayah  dan anak.  Banyak kesempatan mereka gunakan  buat berlomba pacu kuda  di padang terbuka.
Lomba pacu kuda antara ayah dan anak tidak sekadar buat meluapkan hobi yang terpendam. Tapi, juga pamer ketangkasan memacu kuda dan memperlihatkan kecepatan kuda. Ketika senapan tumbuk sudah diambil dan disita polisi, lomba pacu kuda dimanfaatkan untuk mengejar dan menangkap sapi liar.
Ayub merasa berteman dengan ayahnya tidak cuma sebatas pada lomba memacu kuda, namun juga saat lari menerima binatang buruan yang dikejar anjing untuk ditembak. Siapa yang menembak duluan, berarti dia jago. Tapi tembakan siapa yang mematikan, dia yang paling jago. Untuk hal ini Frederik sulit dikalahkan oleh siapa saja.
Frederik memahami dan mendukung kebutuhan bermain Ayub. Suatu ketika Ayub menceritakan kepada ayahnya bahwa kelerengnya diambil oleh teman-temannya, lalu ayahnya segera mengajak Ayub membawa kuda dan karung ke hutan. Di sana lah, Ayub kecil bebas memilih kelereng dari biji gewang sebagai pengganti kelereng yang biasa dijual di toko. Ayub memilih biji yang besar dan membawa banyak untuk dibagikan kepada teman-temannya di sekolah.

F.    Selalu Tampil Membimbing dan Memimpin
Masa kecil Ayub di SD penuh tawa riang bersama teman-temannya. Saat-saat tertentu mereka ditugaskan oleh guru untuk tidur di asrama sekolah. Saat seperti itu Ayub akan memimpin beberapa temannya berjalan belasan kilometer ke padang sabana. Di sana, dia meminta teman-temannya untuk menggiring kawanan sapi mereka ke kandang. Sesudah masuk kandang, induk sapi dikeluarkan sedangkan anak sapi tinggal bersama sapi lain di dalam kandang. Setelah itu mereka kembali ke asrama dan belajar. Keesokan harinya setelah keluar sekolah, Ayub dan teman-temannya kembali dan memerah susu sendiri-sendiri.
“Saya sangat mahir memerah susu dan hasilnya juga jauh lebih banyak dibanding teman-teman lain. Tapi  saya akan bagi kepada teman yang hanya dapat sedikit. Setelah itu kami balik  lagi ke asrama dan kami akan makan ubi bakar atau  pisang bakar dan minum susu,“ kata Ayub yang dibenarkan oleh Junus Paut  --salah seorang teman masa SD.
Menurut Junus Paut, Ayub adalah sosok pendiam tapi lincah dan cekatan dalam segala hal.  Kharisma kepemimpinannya  muncul sejak di bangku SD. Ayub juga adalah anak yang kaya ide. Berkali-kali, dia mengajak teman-temannya mencari uang dengan cara membersihkan rumput di kebun warga  masyarakat sekitar sekolah walau hanya dibayar dengan sedikit uang atau dengan beberapa buah kelapa muda. Pendek kata, Ayub selalu kreatif dan senantiasa tampil sebagai  pemimpin dan suka membimbing walau beberapa temannya bahkan lebih tua usianya.
Banyak ide permainan dicetuskan Ayub kecil. Salah satunya adalah  permainan pukul badan yang sangat menantang dan menguji ketahanan fisik. Permainan ini melibatkan  dua kelompok: satu kelompok berlari dan kelompok lainnya mengejar. Pelari yang berhasil ditangkap mendapatkan  beberapa pukulan dengan rotan lantana. Agar tidak sakit saat dipukul, urai Junus Paut, Ayub mengajarkan teman-temannya mengunci badan.   Penguncian badan yang tepat memungkinkan pemain mampu menahan pukulan, tidak merasakan sakit dan bekas pukulannya pun tidak bengkak.
Permainan ini sama seperti “menendang betis” --sebuah permainan rakyat di kampung yang dalam bahasa Timor disebut  maana'tikan-- kalau lawan tidak mengunci betis kaki  maka akan jatuh saat ditendang. Demikian pula  permainan mana', yaitu permainan satu lawan satu dan kadang dua orang lawan satu. Giliran si  jago  merentang tangan agar dipegang sekuatnya oleh satu atau dua orang. Si jago harus mendorong dan membanting kiri-kanan, muka-belakang, hingga orang yang memegang tangannya terlepas.
Ada juga permainan wajib bayar pajak yang sebetulnya hasil kreasi yang dikopi dari ayahnya, karena saat musim bayar pajak, ayah (sebagai Temukung) duduk di kursi dan rakyat antre membayar pajak. Ayub kemudian mengembangkan ide itu dengan kreasi sendiri dan mengajak teman-teman bermain di sekolah. Ide permainan bayar pajak timbul saat uang hasil  jual ternak dan daging  tidak bermanfaat lagi  lantaran terjadi pertukaran nilai  uang dan Frederik tidak tahu bahwa uangnya  dapat ditukarkan di bank. Pada saat itulah uang kertas yang banyak dan tidak  berlaku lagi  lantas dijadikan alat permainan Ayub.
Pada saat itu, ibarat penerima pajak, Ayub duduk di sebuah batu besar  sebagai pengganti batu kursi.  Teman-teman diibaratkan sebagai  para wajib pajak yang antre membanyar pajak dengan  uang kertas rupiah yang telah dibagikan Ayub sebelumnya. Kemampuannya membimbing  membuatnya mampu mengendalikan teman-teman di sekolah walaupun usia mereka lebih tua.  Keberhasilan itu bisa saja terjadi karena dia anak Temukung atau karena wibawanya sehingga teman-teman tetap patuh pada setiap perintahnya. Contoh kecil, dalam setiap jenis permainan, sebelumnya dia meminta  pendapat teman-teman, jika setuju maka boleh bermain. Demikian kenang salah satu teman masa kecilnya.
Jenis permainan lain yang dilakukan adalah menata lingkungan. Di Padang Nasupah, tempat di mana mereka biasa bermain bayar pajak, tiap anak harus mematok pekarangannya dan ditata menjadi lingkungan yang teratur.  Harus ada tanda rumah, jalan dan tanaman. Setelah itu Ayub akan melakukan inspeksi untuk menilai siapa yang terbaik.
Permainan lain  dilakukan  di Nono Naek  (kali besar). Di hulu kali ini, Ayub memimpin sekitar 10-15 orang anak untuk membuat kolam dengan menumpuk batu  dan pasir bercampur daun hingga terbentuk kolam kecil.  Lalu di tebing kali  itu tiap anak harus menanam tanaman sayur dan bawang. Tanaman itu tidak dilihat jumlahnya tetapi tumbuh dan hijaunya. Setiap permainan hanya dilakukan sesudah keluar sekolah. Jam bermain pun dibatasi. Saat pulang ke rumah juga harus jalan cepat atau lari sambil berkejaran. Bila Ayub jalan seorang diri maka dia selalu berlari hingga sampai ke rumah.
Jadi, Ayub menikmati hidup itu dalam kesibukan yang mengasyikkan dan selalu dinamis. Karena orangtuanya sudah mematok hari ini melakukan pekerjaan harus tuntas dan sukses dilihat dari target hari ini mesti melakukan pekerjaan apa. Kebiasaan itu terbawa sampai dia bersekolah dan kuliah di Kupang. Ayub mengajarkan  kebiasaan ini kepada anak-anak yang tinggal serumah di Oepura dulu.
Salah satu kebiasaan Ayub adalah jika jalan bersama dengan teman-teman sekolah  dari Kampung Taekmanus harus cepat dan tidak boleh main-main di jalan agar tidak terlambat tiba di sekolah. Pun demikian saat pulang sekolah. Jika dia sendirian maka tidak hanya jalan cepat tapi dengan berlari. Bila hari dingin karena cuaca maka ingusnya tidak pernah kering  bahkan sampai kelas VI masih beringus.
“Maklum, anak dari kampung, dua lengan tangan saya menjadi pengganti sapu tangan.  Tidaklah mengherankan kalau kedua lengan tangan ini berwarna kehitaman  karena bekas ingus. Ya, bukan saya sendiri tetapi semua kami  anak desa sama seperti itu. Keluar pagi melintasi hujan dan angin  menuju sekolah yang jauh,”  kata Ayub mengenang masa kecilnya dulu.

G.   Berani Menaklukkan Kerbau Ganas
Sejak kecil Ayub sudah mengalami berbagai tantangan.  Berbeda dengan kebanyakan anak desa pada masa itu.  Setelah ayahnya membangun  rumah di Tiluntob, itu artinya mereka sekeluarga harus  berpindah tempat tinggal dari Oelatfog ke Tiluntob. Dengan begitu, akan muncul  masalah baru, Ayub semakin sulit mencapai sekolah  dalam waktu relatif singkat.  Jarak ke sekolah bertambah jauh  dan harus jalan sendirian. Sebelumnya,  tiap hari dia harus menempuh jarak  Oelatfog-Oepula  sekitar 12 Km atau 24 Km pergi-pulang, kepindahan ke Tiluntob  berarti jarak tempuh ke sekolah  menjadi sekitar 18 Km.  Arti kata,  Ayub harus berjalan kaki sekitar 36 Km  pergi-pulang saban hari. Mengingat jarak yang lebih jauh, jelas akan menguras tenaga, terlebih lagi Ayub kecil masa  itu baru kelas IV SD.
“Untuk memperpendek jarak ke sekolah,  ayah saya punya keputusan  membuat ladang di dekat sekolah. Dan kami sering tinggal di pondok  kebun yang dekat sekolah atau tidur di hutan yang jauh tapi saya selalu memakai kuda sehingga cepat menjangkau sekolah,” tutur Ayub mengenang masa sekolahnya.
Itulah yang terjadi, Ayub dan ayahnya bagai manusia  nomaden selama lebih dari tiga tahun. Mereka hidup berpindah tempat tanpa mengorbankan  kesempatan sekolah Ayub. Begitulah keseharian Ayub dan ayahnya. Tak ada keluhan ataupun kejenuhan  yang membelit  aktivitas keseharian Ayub. Ke sekolah, bermain bersama teman-teman,  dan kembali ke hutan bermain berburu bersama ayahnya  pada malam terang bulan  atau saat bulan purnama. Asyik-asyik saja bagi Ayub kecil.
Ayub menuturkan bahwa  dirinya sudah terbiasa  bermalam di hutan dan belajar banyak dari alam sekitar.  Sesungguhnya ada hal-hal yang tidak didapatkan di bangku sekolah justru dia temukan di alam raya.  Belajar langsung pada alam. Sampai-sampai karakter Ayub pun dibentuk oleh alam.  Mungkin saja berbeda dengan anak-anak seusianya pada masa itu.
Ayub beruntung memiliki figur seorang ayah seperti Frederik Titu Eki.  Ayub menggambarkan sosok  ayahnya  bagai radio yang hidup, yang senantiasa memancarkan berita dan informasi tiada henti berupa pengetahuan-pengetahuan yang menyegarkan jiwa. Selama tiga tahun hidup di hutan   itulah,  Ayub merekam banyak hal-ihwal  kehidupan dan belajar tentang  nilai-nilai kehidupan.
Ayahnya bagai sumber energi,  sumber pengetahuan dan  sumber inspirasi, sumber motivasi dan semangat juang agar tidak boleh gampang menyerah dalam setiap  upaya dan usaha.  Harus dengan keringat sendiri.  Harus dengan hasil usaha sendiri. Dan, semua ajaran itu telah mengisi kekosongan jiwa  dalam membentuk karakternya,  termasuk bagaimana menaklukkan  makhluk liar.
Dan, itulah  prinsip-prinsip hidup yang tetap terbawa dalam kehidupan Ayub  sampai sekarang.  Dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan seberat atau sepelik apapun, Ayub tak mengenal kata menyerah. Semakin besar tantangan yang  datang silih-berganti, justru Ayub merasa semakin kokoh.  Semakin dia dihantam,  justru dia semakin kuat  dan bertahan  dalam menerima pukulan.  Tidak jatuh namun tetap berusaha tegar dan kuat  menerima berbagai pukulan.
Masa pembentukan karakter  Ayub di hutan  berlangsung sekitar tiga tahun. Ayahnya mengajarkan banyak hal  tentang kemandirian, disiplin, budi pekerti, ilmu pengetahuan alam  kampung dan pemahaman tanda-tanda alam,  juga pohon keluarga  tentang leluhur mereka dari Gunung Mutis  yang hijrah ke Tanini. Pun diajarkan cara menggunakan senapan tumbuk, cara menembak dan membidik sasaran burung di hutan,  dan cara menunggang kuda yang baik dalam arena pacuan dengan rintangan alam yang menantang.
Satu hal yang tak kalah  penting di antara  semua yang telah diajarkan adalah tentang teknik-teknik menaklukkan kerbau yang ganas dan kepala batu.  Ayub mengisahkan bahwa pada masa itu dari sekian banyak kerbau peliharaan mereka terdapat satu kerbau kepala batu dan ganas.  Jika hendak digiring masuk ke kandang selalu tampil menyerang dan menjadi biang kerok  bagi kerbau lain hidup  liar di hutan.  Kerbau itu  jantan  besar yang biasa  berkeliaran dan berbaur dengan kerbau liar di daerah sekitar.
Untuk menghalau kawanan kerbau itu ke kandang, Ayub harus meneliti  terlebih dulu bahwa kerbau jago itu tidak sedang bergabung dengan kawanan itu.  Ketika kerbau ganas berada di tengah-tengah kawanan,  kerbau lain pun sulit giring ke kandang.  Pada suatu ketika, kata Ayub, dia dan ayahnya berusaha mengiring kerbau ganas itu bersama kawanannya  ke kandang.  Jika si kerbau ganas benar-benar menyerang  maka akan dihabisi  oleh tembakan ayahnya.
Sebelum Ayub maju, strategi diatur terlebih dulu. Ayub maju dari sisi kiri  sedangkan ayahnya dari sisi kanan agak  jauh di belakang dalam posisi  siap tembak bilamana Ayub benar-benar terdesak.  Tanda yang harus serius diperhatikan Ayub adalah gerakan kepala kerbau.  Jika kepalanya digerakkan ke kiri  dan ke kanan, atas dan bawah,  itu pertanda kerbau menggertak.  Kalau kepalanya diluruskan ke depan  sambil lari cepat ke arah  arah Ayub, maka Ayub harus lari ke arah kanan  ketika kerbau itu dalam jarak antara 15-20 meter di depan Ayub.
Dalam jarak hanya 15-20 meter  di depan, Ayub  dilarang membelokkan  kuda baru lari tapi harus lari memotong ke arah kanan, sehingga dapat  mematikan langkah kerbau itu dan ayahnya dalam posisi aman dalam menembak. Sambil maju Ayub harus meneriakkan suara keras menyebut nama-nama  kerbau induk dan memerintahkan  masuk ke kandang. Sedangkan ayahnya  terus mengikuti dari belakang, selain tetap  dalam posisi siap tembak, ayahnya harus pula ikut bersuara. Lalu strategi dijalankan.
Ayub maju menggiring di atas punggung kuda terlatih. Ayahnya di atas kuda terlatih  lain tampil  dari sisi kanan dan terpaut sekitar 30 meter di belakang sambil memegang senapan dan siap tembak jika  kerbau itu menyerang Ayub. Kawanan  kerbau itu  di depan dalam  jarak lebih dari 60 meter.  Ketika Ayub maju mendekat,  kerbau itu juga maju ke arah Ayub sambil  menggerakkan kepala sambil menggoyang  tanduknya yang panjang pertanda  hendak menyerang.  Itu pertanda hanya menggertak.  Ayub maju terus sambil meneriakkan  suara keras sambil  menggiring  dan mengebas rotan kuda ke arah kerbau itu.
Ternyata kerbau besar itu takut pula. Si kerbau hanya mampu maju ke arah Ayub  sekitar 10 langkah  sementara  Ayub maju ke arah kerbau lebih dari 20 langkah. Ketika Ayub terus maju dengan suara keras sambil menggerakkan tangan dengan rotan, kerbau itu pun mundur lalu balik  ke kerbau lain dan semua lari  ke arah kandang. Jalan ke kandang masih jauh,  sekitar 10 Km.  Anjing- anjing ikut menggiring  kawanan  kerbau  itu sampai ke kandang.  Kerbau ganas pun ikut masuk walau sudah lebih dari empat tahun tidak  pernah masuk kandang.  Kerbau itu lalu diikat dan dijual.
Ayub mengaku bahwa ayahnya mendidik tidak hanya dengan kata-kata  tapi juga dengan contoh nyata di lapangan.  Ketika menghadapi kerbau ganas, Ayub dilatih mengatur strategi maju mengikuti  instruksinya tanpa ragu dan ternyata membuahkan hasil. Buah didikan ayah itulah yang menjadikan Ayub selalu berani maju dan sukses.

H.   Kematian Nenek dan Pembantaian Puluhan Hewan
Neneknya Ayub meninggal  pada awal  tahun 1959  dalam usia  sekitar  68 tahun. Si nenek masih kuat dan rajin  menenun dan memberi makan  babi. Suaminya, KloE Eke,  sudah meninggal tahun 1930  dalam usia yang lebih muda (sekitar 50 tahun).  Nenek bernama Kuku Tafeten atau bi Kukbat  mewarisi karakter suaminya dalam menerapkan disiplin kerja bagi anak-anaknya.  Kakek dan nenek menjadi suami-isteri bukanlah orang jauh tapi  mereka juga berkerabat  dekat. Pasalnya, adat membolehkan kawin antara orang-orang keluarga dekat.
Kakek dan nenek memiliki delapan anak kandung: dua laki-laki dan enam perempuan. Anak laki-laki sulung dan perempuan kelima meninggal pada waktu masih usia  muda. Karena itu kakek dan nenek mengambil tiga anak  anak angkat: dua laki-laki dan satu perempuan.
Menurut tradisi yang berlaku setempat, setiap kematian harus diikuti dengan  upacara  adat tepat waktu  atau setelah 40  hari jenazah dimakamkan.  Upacara ini lazim di kenal dengan  istilah “Laes Nitu”. Laes atau lasi sama dengan “perkara” sedangkan nitu merujuk pada  jasad orang mati. Jadi  melakukan upacara laes nitu sama dengan  menyelesaikan persoalan terkait dengan  orang yang telah mati.
Upacara adat terkait dengan kematian keluarga dikenal  dan dipraktikkan dalam  kehidupan banyak masyarakat berbudaya di setiap tempat dengan bentuk dan cara yang berbeda. Dalam budaya orang Jawa, upacara adat kaitan dengan orang mati biasa berlanjut hingga hari yang keseribu.  Pada ajaran Kristen, kita kenal acara syukuran kematian yang saat ini semakin disederhanakan oleh gereja  dan langsung dilaksanakan  segera sesudah pemakaman jenazah.  Bagi warga masyarakat pada saat itu,  pemahaman tentang  makna upacara adat kematian pada umumnya didasarkan  pada beberapa pertimbangan,  di antatanyat:
Pertama,  upacara adat menandai perpisahan roh antara anggota keluarga yang sudah meninggal dan anggota keluarga yang masih hidup.  Pada sisi lain,  acara pemakaman menandai perpisahan jasad orang mati dan mereka yang masih hidup.  Nah, ketika perpisahan roh  inilah maka roh  keluarga yang sudah meninggal  itu harus membawa bekal, yaitu sejumlah hewan yang akan disembelih.
Kedua, anggota keluarga yang sudah meninggal  selama masa hidupnya  berkarya dan menghasilkan harta.  Semakin tua semakin lama berkarya  dan semakin banyak harta peninggalan.  Anak cucu merupakan harta kekayaan  yang ditinggalkan.  Melalui laes nitu, sebagian harta yang dihasilkan perlu dibawa-serta dengan cara sembelihan. Untuk acara ini, setiap anak-cucu  dapat memberikan sumbagan ternak secara sukarela tanpa diminta. Sebelum hari kematian tiba, orang tua dulu langsung menentukan salah satu sapi  atau kerbau sebagai “tes” atau tongkat yang harus disembelih pada saat yang bersangkutan meninggal.
Ketiga, upacara kematian ini merupakan media pemberitahuan adat kepada keluarga  luas tentang berakhirnya  masa kehidupan anggota keluarga yang  sudah meninggal.  Karena itu perlu ada undangan yang  mesti disampaikan  kepada keluarga dan tetangga kampung sesuai dengan batas kemampuan  menyelenggarakan pesta adat.  Semua tamu yang hadir tidak saja dijamu selama pesta berlangsung,  tapi saat pulang kembali ke rumah mereka masing-masing harus membawa daging sebagai simbol berita tentang kematian keluarga penyelenggaraan pesta itu.
Sungguhpun tradisi laes nitu  menuntut banyak korban ternak,  namun implementasinya ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain kemampuan  keluarga,  status sosial,  ajaran agama, dan status pendidikan. Pada masa silam di Fatuone  dan sekitarnya belum ada orang  yang berpendidikan tinggi  yang memberikan pemahaman bahwa membantai  banyak ternak untuk  laes nitu merupakan suatu pemborosan.  Ajaran agama juga belum intensif sementara adat masih sangat kuat dalam kehidupan keluarga.  Keputusan Frederik Titu Eki untuk mengadakan acara Laes Nitu  buat mendiang ibunya dibuat mempertimbangkan dua hal saja. Pertama, dia mempunyai ternak sapi dan kerbau  dalam jumlah yang cukup banyak  untuk membuat pesta besar.  Jumlah ternak yang dimiliki  dipastikan mencukupi  juga  buat biaya pendidikan putranya  karena  ternak di padang terus berkembang-biak.
Hal kedua,  yang dipertimbangkan bahwa dia saat itu sedang menjadi temukung  besar dan punya kedudukan sebagai am uf  bagi banyak keluarga  di tempat jauh dan dekat.  Dengan pertimbangan ini, Frederik  membuat keputusan acara laes nitu bagi mendiang ibunya dilaksanakan pada  pertengahan tahun 1959.
Acara lais nitu bagi bi  Kukbat  berlansung hampir satu pekan penuh. Acara persiapan hingga acara puncak  mulai direncanakan. Undangan adat dikirimkan kepada  tokoh adat tiap Temukung dalam wilayah Kefetoran  Kauniki, Kefetoran Tefnai, Takaeb, Mambait, di wilayah Amfoang dan Molo. Warga Fatuone  menjadi tuan rumah untuk mempersiapkan tempat dilaksanakan pesta.
Persiapan tempat yang utama adalah membuat tenda makan yang luas  dan tenda duduk  untuk setiap kampung. Tenda duduk dibuat dalam bentuk hala,  sejenis tempat tidur panjang  terbuat dari pelapah bambu setinggi 50 cm.  Hala dibuat sebanyak undangan dan juga disiapkan beberapa hala cadangan.  Demikian pula disediakan kayu api untuk keperluan masak  dan api khusus untuk hala.  Untuk penerangan disediakan  pula nopo --bambu kering  tipis yang  dicincang halus  agar memberi banyak cahaya.  Persiapan lampu gas juga disediakan buat tamu penting.
Lalu dilakukan persiapan utama membuat kandang khusus dari kayu besar pilihan untuk  menampung 71 ekor kerbau  dan sapi yang dagingnya akan dibagikan dan dibawa pulang oleh setiap tamu.  Kandang ini  dibuat  dengan penuh perhitungan  untuk memenuhi standar  nilai manfaat  saat pesta dan sekaligus untuk kandang tetap buat ternak keluarga Frederik.  Kandang harus berada di posisi rendah  dekat  dengan tempat yang lebih tinggi sebagai tempat berdiri para penembak kerbau dan sapi dalam kandang itu.
Persiapan pesta berlansung  dua pekan  dan selama itu  pesta sudah mulai berlansung.  Babi dan sapi disembelih untuk keperluan orang-orang yang bekerja. Beras, siri-pinang  dan sopi turut menambah biaya pesta itu. Acara puncak waktu itu terjadi  pada hari Jumat, yaitu hari penembakan 70 ekor  kerbau dan sapi  dalam kandang, kecuali kerbau yang paling kecil  berlilitan selendang merah di leher  tidak boleh ditembak oleh siapa pun.  Barangsiapa salah menembak dan  mengenai kerbau ini  maka dia akan dikenakan sanksi adat.
Kerbau  khusus itu berbulu hitam dan  yang terkecil di antara 70 ekor  ternak lain yang harus jantan  dan minimal “oel hitu” (punya 7 adik)  atau telah berumur lebih dari delapan tahun.  Jadi semua ternak besar terdiri dari  20 ekor kerbau jantan besar dan 50 ekor  sapi jantan  besar dalam kandang  yang sama.  Setiap  kerbau dan sapi sudah dibagi menurut asal wilayah ketemukungan dan berjumlah 70 kelompok. Tiap kelompok dari satu wilayah temukung  wajib menembak satu ekor  yang ditunjuk oleh panitia.  Begitu disebut nama wilayah temukung sambil menunjuk jatah ternak dalam kandang  maka tembakan harus dilakukan hingga kerbau atau sapi itu mati.
Acara ini menjadi tontonan menarik dan berlansung  sekitar dua sampai tiga jam.  Biasanya giliran  tembakan pertama  yang paling menegangkan.  Yang ditembak pertama adalah  kerbau yang paling besar dan biasa disertai mantra untuk menguji kehebatan penembak pertama.  Jika langsung mengenai  tempat yang mematikan dan kerbau itu terguling maka terjadilah teriakan ramai.  Bila kerbau itu tidak jatuh terguling  maka penembak harus membelikan sopi buat penembak yang lebih jitu untuk membantunya.
Tembakan untuk ternak kedua,  ketiga, keempat hingga ke-70  dilakukan secara spontan  setelah mendapat petunjuk  dari panitia mengenai sapi atau kerbau mana yang menjadi jatah mereka.  Saat itu sebagian kerbau  dan sapi bertahan sampai mati. Akhirnya  mereka meminta izin untuk berdiri lebih dekat  kandang.  Posisi tembakan pertama dari atas panggung  sejauh 50 meter.  Beberapa kerbau dan sapi baru mati  setelah penembak berdiri  di atas pagar kandang. Tujuh puluh ekor kerbau dan sapi  sudah mati,  tinggal kerbau muda tadi untuk mengakhiri seluruh rangkaian acara.
Puncak dari rangkaian  acara itu adalah  mengejar dan memotong babi-kerbau khusus yang sudah disiapkan.  Giliran mengejar dan memotong babi  yang dilepas keluar dari kandang.  Babi itu babi pilihan yang larinya kencang  tapi karena banyak orang maka babi itu dapat terkejar dan terpotong sampai mati.  Terakhir giliran membuka pintu  kandang bagi kerbau  muda berlilit  salendang di leher.  Ketika pintu pagar dibuka,  beberapa orang sudah siap  dengan parang panjang di sisi kiri dan kanan pintu kandang.  Banyak pula orang  yang siap siaga di arah jalan kerbau lari melewatinya.  Kerbau itu lari meninggalkan semua orang tanpa luka sedikit pun. Si kerbau muda kembali ke induknya dan diberi nama ”aomina” yang artinya selamat.
Setiap tamu mengambil jatah daging  ternak,  lalu pamit dan pulang  ke rumah masing-masing.  Pesta pun usai.  Pesta sejenis ini pernah dilakukan  oleh Fetor Mesak Sonbai atas kematian mantan Fetor Kauniki,  Fole Sonbai,  di Sonaf Kauniki. Acara itu terjadi  tahun 1964. Saat itu Frederik Titu Eki  ditunjuk sebagai penembak pertama setelah beberapa tamu menolak menjadi penembak pertama. Ayub terkesan pada tembakan sang ayah langsung  mengena titik lemah kematian seekor sapi jantan besar. Setelah peristiwa tersebut, tidak ada lagi ritual adat semacam ini.
Masyarakat luar menilai ritual adat Suku Timor merupakan pemborosan --harta, tenaga dan waktu— di tengah kemiskinan akut. Satu hal perlu dicatat,  dalam budaya Timor, kematian seseorang mengandung nilai bahwa martabat manusia selalu melekat baik saat hidup maupun ketika mati.

I.     Ayah Dipukul dan Nyaris Ditembak Tentara
“Ayah saya dipukul dan nyaris ditembak tentara,” ucap Ayub mengenang kembali kisah getir dan kekerasan politik menyusul peristiwa 30 September 1965 yang lekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Peristiwa naas itu membekas kuat di benak seorang Ayub. Sang ayah kerap mengisahkan peristiwa itu kepada isteri dan anak-anaknya. Semakin sering dikisahkan semakin kuat membekas dalam benak dan ingatan Ayub yang waktu  itu masih duduk di bangku SD dan belum lama ditinggalkan oleh tantenya. Peristiwa itu adalah peristiwa Gerakan 30 September/PKI di mana semua orang yang terlibat sebagai anggota PKI harus ditumpas oleh prajurit TNI. Ketika itu di wilayah ketemukungan Fatuone tercatat nama empat orang sebagai anggota PKI. Sesungguhnya bukan empat orang tetapi hanya satu orang, yaitu Toto Smaut Molo, yang biasa berkomunikasi dengan beberapa keluarga di wilayah ketemukungan Oelnaineno yang juga tercatat sebagai anggota PKI. Dalam daftar anggota PKI, berdasarkan wilayah ketemukungan, terdapat empat nama di Fatuone masing-masing Toto Smaut Molo, Muti Kusi, Uki Paut dan Yohanis Sabneno. Tokoh PKI yang menyebarkan ajaran komunis di wilayah Fatuleu adalah Pdt Kabu yang berkedudukan di Camplong.
Ketika ada komando pembersihan tokoh dan pengikut PKI, Pdt Kabu ditangkap dan diminta menunjukkan daftar anggota pengikutnya. Berdasarkan petunjuk nama yang ada dalam daftar itu, prajurit TNI mulai menyebar untuk menangkap mereka satu per satu. Saat upaya penangkapan mulai dilakukan, beberapa anggota PKI di wilayah ketemukungan tetangga Fatuone menyebut Toto Smaut Molo sebagai antek PKI. Penyebutan ini dilakukan dengan harapan Toto dapat menyelamatkan mereka menggunakan warisan heroik dari kakeknya yang pernah menjadi panglima perang Raja Sonbai. Ternyata Toto menjadi sangat takut dan lari menyembunyikan diri ke dalam hutan.
Sewaktu Toto sedang bersembunyi di hutan, Temukung Fatuone, Fredrik Titu Eki, dipanggil untuk mempertanggung-jawabkan pelarian Toto. Frederik dan beberapa temukung lain dipukul dan disuruh pulang untuk mencari, menangkap dan mengantar Toto ke Camplong. Pencarian dilakukan siang-malam oleh seluruh rakyat Fatuone. Mereka mencari di hutan, goa-goa dan semua tempat. Rakyat dari semua temukung tetangga (bersama anggota TNI dan polisi) turut membantu mencari Toto.
Kala itu sedang terjadi bencana kelaparan hebat, namun Frederik Titu Eki harus menyediakan makanan bagi ratusan orang yang ikut mencari Toto saban hari. Keluarga Toto dipukul dan diancam ditembak mati jika Toto tidak ditemukan. Frederik pun ikut diancam ditembak mati menggantikan Toto yang menghilang. Sementara upaya pencarian terus dilakukan, ada panggilan dari Camplong agar Frederik Titu Eki segera menghadap.
“Pada suatu sore ayah saya mendapat panggilan untuk segera menghadap ke Camplong. Ayah lalu memanggil kami semua keluarga berkumpul dan berdoa. Kemudian ayah berdoa lagi di dalam gereja kecil bersama ibu. Sesudah itu ayah langsung berangkat ke Camplong berjalan kaki lebih dari 60 Km ditemani kakak sepupu saya Nehemia Tafeten,” urai Ayub.
Ketika sedang mendaki hutan lebat Benu, hari sudah larut malam lalu mereka beristirahat dan tidur di tengah hutan tanpa api. Pikiran Frederik mulai kacau dan memikirkan tiga alternatif jalan: kembali ke rumah lantas mati minum racun, melanjutkan perjalanan ke Camplong lalu menyerahkan diri ditembak mati TNI, atau lanjut ke Camplong dan meminta diizinkan pulang mencari Toto satu pekan lagi. “Setelah memikirkan tiga alternatif ini, ayah terus berdoa sampai pagi. Ayah melanjutkan perjalanan ke Camplong dan di sana dia diinterogasi, dipukul dan disiksa. Atas pertolongan Tuhan, ayah diizinkan kembali untuk mencari Toto sepekan lagi,” tambah Ayub.
Setelah tiba di kampung, kata Ayub, ayahnya terus berdoa di dalam gereja sambil meminta beberapa orang tua melakukan ritual adat “an hel na Toto hen fain nem neu ume” --ritual adat memanggil Toto balik ke rumah. Dan ternyata pada malam ketiga Toto balik ke rumah dan langsung ditangkap, diikat dan diantar keesokan harinya ke Camplong. “Syukur kepada Tuhan karena ayah selamat dari ancaman maut hanya gara-gara jabatannya sebagai Temukung Fatuone saat itu,” ujar Ayub penuh keharuan.
Setelah Toto ditangkap dan diikat,  semua rakyat dan temukung bersama polisi dan tentara  yang ikut mencari Toto kembali ke Camplong membawa Toto.  Sementara itu, Pdt  Kabu bersama anggota PKI  yang lain sedang  dikurung dan menunggu  hari eksekusi. Toto sudah bergabung bersama mereka, lubang kubur massal sudah dipersiapkan.  Para temukung diberi rotan untuk saling memukul satu sama lain.  Ketika hari eksekusi tiba,  tiap–tiap temukung berdiri  mendampingi warganya yang akan ditembak  tepat di lubang kubur.  Warga yang tertembak langsung jatuh  ke dalam lubang kuburan massal itu.  Dari Fatione ada dua orang yang ditembak:  Toto Smaut  Molo dan Uki Paut.
Bagi keluarga Frederik Titu Eki, peristiwa pembantaian PKI merupakan suatu momen yang mendorong  sang ayah semakin menyerahkan  diri kepada Tuhan.  Sejak tahun 1958, Frederik sudah membangun sebuah rumah ibadah kecil  khusus untuk keluarga dan terus berkembang  menjadi rumah ibadah yang besar.  Rumah ibadah itu pernah dicap sebagai  “gereja setan” karena dipimpin oleh majelis buatan Frederik Titu Eki, tanpa penumpangan tangan pendeta.  Sungguhpun demikian  mereka tetap aktif beribadah  hingga awal Januari  1961  ketika mendapat pengakuan resmi sebagai  jemaat Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Sebagai pendiri sekaligus anggota jemaat, Frederik merasa  cukup puas dan bangga menjadi  anggota jemaat GMIT tanpa pertumbuhan iman.
Tahun 1965 merupakan tahun awal kehidupan yang penuh pergumulan  iman bagi Frederik Titu Eki. Pertama,  karena Tante Mina wafat dan Ayub   yang nakal serta manja diserahkan kepada Frederik untuk dibentuk.  Kedua,  ada bencana kelaparan hebat dan kemarau panjang  sehingga banyak sekali ternaknya mati. Ketiga, ada peristiwa PKI yang sangat mengancam kehidupannya hanya karena saat itu dia sedang menjadi Temukung Fatuone.  Terakhir,  ada kunjungan Tim Pekabaran Injil yang punya karunia hebat dari Molo (TTS) ke Fatuone dan sekitarnya.  Oleh Tim Injil, semua praktik  budaya lama disingkirkan  dan sisa tiang -tiang  berhala untuk  upacara adat dibongkar.
“Ketika saya menjadi mahasiswa, saya meniru dan  mempraktikkan dua kebiasaan ayah saya dalam kehidupan iman yang dilakukan sejak akhir tahun 1965  hingga akhir hayatnya 14 Desember  1988.  Pertama, dia selalu konsisten  berdoa pada tengah malam di saat semua orang sudah tertidur  lelap.  Dia selalu berdoa panjang dengan suara keras. Yang membuat saya terpukul  adalah bagian doanya tentang saya bahwa 'kalau Ayub tidak kenal Tuhan  maka biar dia  sekolah tinggi juga hidupnya  tidak berguna'. Konsistensi doa ayah tekun dilakukan sekalipun tidur di padang yang gelap. Kedua, ayah sering menggunakan rumah gereja sebagai tempat berdoa sendirian  atau bersama beberapa orang saat akan menggumuli  sesuatu secara khusus.  Ayah bilang  gereja itu saya  jadikan tempat berhala saya  yang baru dan berhala hanya kepada Allah tritunggal,” papar Ayub tentang pertumbuhan iman. 

J.     Dipersiapkan Menjadi Temukung
Setiap orang pasti punya angan-angan masa depan tentang dirinya sendiri, ataupun angan-angan masa depan anak yang dibanyangkan oleh orang-tuanya. Angan-angan ini merupakan cita-cita atau mimpi yang terjadi bukan pada saat tidur, melainkan pada saat duduk dan merenung jauh ke masa depan. Hal ini terjadi juga dalam keluarga Frederik Titu Eki, khusus membayangkan putra keduanya, Ayub Titu Eki, kelak menjadi apa.
Benar mimpi kelak menjadi kenyataan? Entahlah. Tetapi, sinyalemen Stephen R. Covey dalam bukunya The 8th Habit (2005), bahwa dengan membayangkan sesuatu masa depan yang indah dan harus dicapai, maka akan timbul kesadaran diri dan kemauan berusaha yang kuat mendorong orang itu keluar dari berbagai keadaan yang serba terbatas. Dengan kata lain visi, atau pandangan masa depan, membuat orang desa keluar dengan dada membusung menuju kota. Visi membuat petani dan peternak keluar dari padang sabana menuju dunia luar, dunia internasional dan tampil sebagai pemenang.      
Sebagai temukung besar pada masa swapraja, Frederik Titu Eki sangat memahami benar seluk beluk realita sosial bahwa temukung --apalagi temukung besar-- merupakan sebuah peluang untuk memberikan pelayanan kepada banyak orang selain melayani keluarga intinya sendiri. Disadari pula bahwa melayani orang banyak cukup memusingkan. Tapi, bagi warga desa, terlebih lagi dalam suasana kekerabatan dan ikatan adat yang kental, pelayanan yang berat akan dinikmati penuh sukacita karena melekat dengan status sebagai am uf atau dipahami sama seperti seorang bapak yang sibuk melayani anak-anaknya sendiri. Adakah orangtua yang bosan melayani anak-anaknya?
“Cita-cita ayah saya dulu sederhana saja. Dia bilang mu skol hem tok ume ma mutuk tog yang artinya sekolah untuk jaga rumah (adat) dan memimpin keluarga besar. Mungkin yang ayah maksudkan saat itu saya harus sekolah untuk membantu beliau menjadi temukung. Semua warga Fatuone merupakan kerabat dekat dan keluarga kami menjadi amaf atau bapak bagi banyak marga. Saya sangat yakin bahwa ayah saya tidak pernah bercita-cita agar saya kelak menjadi pejabat publik, yang beliau inginkan agar saya dituakan dan memimpin keluarga besar kami di Fatuone,” tutur Ayub Titu Eki ihwal cita-cita ayahnya.
Sesungguhnya Frederik Titu Eki tidak bercita-cita anak-anaknya mendapat pendidikan setara raja. Sebagai salah satu tokoh adat yang memahami benar sejarah keturunan mereka, Frederik tahu bahwa kedudukan mereka sebatas amaf dan bukan usif atau raja. Nenek moyang mereka menjadi amaf am naifat ma askaut, bapak pemangku dan gendong raja. Dalam budaya asli Timor, jabatan amaf itu bawaan sedangkan jabatan usif adalah pemberian berdasarkan kepercayaan amaf-amaf dan diakui dalam pemerintahan kolonial.
Jabatan temukung (setingkat kepala desa sekarang), fetor( setingkat camat ) dan kedudukan lain pada masa itu merupakan jabatan struktural buatan pemerintah penjajah. Dalam struktur pemerintahan adat yang asli hanya dikenal amaf-amaf (setara dengan kedudukan dewan perwakilan rakyat masa sekarang), uispala atau raja kecil, usimnanu atau raja besar dan ada juga mafefa atau juru bicara. Peranan usif sama dengan tugas seorang gembala untuk mengurus dan melindungi rakyat yang sudah memberikan kuasa kepadanya. Usif yang pandai mengambil hati rakyat pasti memperpanjang jabatannya secara turun temurun. Peranan mafefa sama dengan juru bicara yang mengurus sekretariat administrasi pemerintah yang dipilih oleh usif berdasarkan kepercayaannya.
Dalam budaya orang Timor, pengertian amaf mencakup dua arti. Pertama, arti khusus yang menunjuk pada bapak atau kepala keluarga yang mempunyai anak. Kedua, arti umum yang menunjuk pada tokoh atau figur penutan dalam beberapa rumpun marga berkait. Sebagai panutan dalam ikatan keluarga besar, kedudukan amaf tidak hanya meliputi keluarga yang sama marga tapi juga meliputi marga lain yang berbeda namun mempunyai asal usul yang sama. Tokoh panutan itu biasa dari marga induk yang menurunkan marga lain dari keturunan anak perempuan dan menjadi am uf jika marga induk itu meliputi banyak marga hingga di tempat yang jauh. Dalam masyarakat umumnya, pengaruh am uf jauh lebih kuat daripada pengaruh seorang pemimpin dalam struktur pemerintahan formal.
Marga Titu Eki (sesungguhnya marga EKE dan menjadi salah satu anak rumpun keluarga OBE) merupakan marga induk yang mempunyai banyak keturunan marga lain lintas daerah kecamatan dan kabupaten. Karena itu, Ayub diharapkan menjadi figur penjaga rumah adat (apao ume) dan menajdi gembala (atuk tog) bagi segenap rumpun keluarga terkait. Tapi Ayub harus sekolah terlebih dulu agar kelak mampu menjadi pengurus keluarga besar yang baik.
Rencana Frederik terhadap Ayub berubah ketika Elieser, kakak sulung Ayub, putus sekolah kelas dua SMP di Kupang dan terpaksa pulang kampung. Dengan begitu, Ayub harus terus lanjut sekolah. Pada tahun1970, Frederik mendaftarkan Ayub di Yayasan Pendidikan Kristen Taemaman (SMP Yapenkrista) di Desa Tanini, sekitar 17 Km dari Tiluntob, pusat desa gaya baru Fatuone. SMP ini menggunakan gedung SD GMIT Taemaman dan sekolah pada sore hari. Hanya ada satu guru SMP yang menjadi kepala sekolah dan dibantu oleh guru-guru SD setempat.
Setelah dua bulan menjadi siswa kelas satu SMP Yapenkrista, Ayub wajib tinggal di asrama bersama siswa-siswa yang lain. Lantaran sudah terbiasa bekerja membantu orangtua di luar jam pelajaran, Ayub menggunakan waktu pagi (jam 06.00–12.00) aktif membuat kebun sendiri yang berada sekitar 5 Km dari asrama. Untuk kegiatan ini, Ayub mengajak dua teman lain (Lukas dan Sem) bergabung, dan masing-masing mengerjakan kebunnya sendiri. Dari kebun ini Ayub dan dua temannya panen padi ladang, jagung dan ubi kayu kendati hasil yang diperoleh tidaklah banyak.
Kesibukan belajar sambil mengerjakan ladangnya sendiri membuat Ayub asyik menikmati tinggal bersama banyak teman di asrama SMP saat itu. Tiba masa liburan sekolah dan Ayub pulang ke rumah orang tua di Tiluntob. Pada waktu liburan itu dia mendengar kabar bahwa tiga bulan kemudian ayahnya akan mengirim lima orang anak muda setempat ke pusat kecamatan untuk mengikuti latihan mengerjakan sawah dengan cara meluku. Kabar ini sangat memikat hati Ayub untuk berhenti sekolah SMP dan mengikuti pelatihan keterampilan tersebut. Dia menyampaikan keinginan ini kepada ayahnya. Namun ayahnya tegas menolak keinginannya karena kakak Ayub sudah putus sekolah SMP.
Masa liburan pun usai. Ayub kembali mengikuti pelajaran semester dua kelas satu SMP. Ayub dikenal anak yang sangat rajin kerja kebun sambil tekun belajar. Dan, Pak Manu –guru sekaligus kepala sekolah SD GMIT Taemaman-- sangat mengagumi Ayub. Itu sebabnya, sesudah masa liburan, Pak Manu memanggil dan meminta untuk tinggal di rumahnya dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Ayub mengisahkan, di rumah Pak Manu, ia bersama seorang teman anak laki-laki yang bertugas mengurus ternak babi peliharaan, sapi ikat (sapi yang diparon ), dan sapi lepas di padang dan mengolah sawah. “Letak lokasi sawah di sekitar rumah seluas kurang lebih ¾ Ha dan diolah dengan cara mencangkul, mencincang dan meratakan lumpur di setiap bedeng. Pengolahan sawah ini menguras energi dan sangat melelahkan,“ kata Ayub.
“Tiap hari saya bertanya-tanya, mengapa saya harus mencangkul sawah tiap hari hingga melelahkan. Padahal di rumah, saya bersama ayah tiap tahun membajak sawah tadah hujan dengan tenaga puluhan ekor sapi. Dan lagi ada cara baru membajak sawah dengan menggunakan tenaga seekor sapi saja. Mengapa ayah tidak mengirim saya untuk mengikuti pelatihan itu tapi ayah mengutus orang lain? Tak terasa kadang air mata saya menetes tapi saya tetap menjalaninya,“ tambah Ayub.
Walau begitu, Ayub tabah menghadapi keadaan itu. Dia tetap tekun belajar dan rajin bekerja. Dan inilah rahasia sukses di dalam kehidupannya. Deepak Chopra dan RE Tanzi dalam bukunya Super Brain (2012) menulis: “We belive every remarkable mental feat is a signpost showinng the way. We wan't know what your brain can do until you test its limits and push beyond them. Now matter how inefficiently you are using your brain one thing is certain: it is the gateway to your future.” (terj: Sudah pasti bahwa setiap tantangan memaksa kita untuk berpikir ke arah mana kita harus melangkah. Tidak soal jika salah melangkan, namun pasti bahwa langkah itu terus maju ke depan).
Mengikuti pendidikan di sekolah kampung baik SD maupun SMP kurang memberikan jaminan mutu pengajaran yang diharapkan. Orang berduit menghindari lingkungan pendidikan demikian. Mereka lupa bahwa tantangan alam menjadi laboratorium dan perpustakaan hidup yang pasti membentuk sikap dan karakter kuat bagi anak didik belajar mandiri dan sanggup memecahkan setiap persoalan hidup yang dihadapi. Dan inilah situasi kehidupan masa kecil Ayub, pergolakan batinnya harus diselesaikan sendiri. Dia selalu berdiskusi dengan dirinya sendiri lewat cara berpikir dan terus berpikir sambil tangan dan kakinya terus melangkah ke depan.
“Akhirnya saya ambil keputusan untuk berdoa dengan harapan kiranya Tuhan dapat membalikkan hati ayah agar saya berhenti lanjut SMP dan ikut pelatihan meluku supaya kelak menjadi petani sukses. Tiap hari saya terus berdoa dengan cara berlutut beberapa menit di atas loteng rumah itu. Ternyata ketekunan doa saya tiap hari dengan tetesan air mata di tempat sepi itu dijawab Tuhan tidak seperti yang saya inginkan. Tuhan justru lebih meneguhkan pilihan ayah agar saya terus lanjut sekolah,” ujar Ayub.
“Ketekunan doa saya tiap hari selama lebih dua bulan terasa sia-sia. Ayah sudah megirim dua pemuda yang masing- masing membawa sapinya untuk latihan meluku. Saya kecewa dan tidak mau berdoa lagi, saya menangis saat sendirian tapi tetap ceria di mata orang. Saya baru tahu bahwa itu pilihan terbaik dari Tuhan melalui ayah saya. Saya baru menyadari semua itu pada waktu saya menjadi mahasiswa dan mendapat beasiswa sepanjang masa studi di tingkat sarjana muda, S1 hingga S3 di Australia,“ tambah Ayub.
Setelah memasuki bulan ketiga pada semester kedua kelas satu SMP, Ayub sakit gatal- gatal di sekujur badan. Sebab itu, Ayub minta izin pulang ke rumah orang tua. Selama beberapa hari Ayub sulit bergerak sebab badannya terasa kaku dan luka-luka mengeluarkan cairan bening.
“Dengan pengobatan ramuan tradisional akhirnya luka-luka itu bisa sembuh namun luka di hati saya menganga lebar. Saya berpura-pura sakit dan terus tidur setiap hari jika ayah sedang ada di rumah,” tutur Ayub.
Memasuki pekan ketiga, Frederik memaksa Ayub harus ke sekolah lagi. Ayub pun pergi namun pada hari itu juga dia dipukul hingga babak belur oleh Guru Biologi gara-gara tidak mengikuti apel pagi bersama sebagian besar siswa SMP.  “Saya bertanya dalam hati, mengapa saya sendiri yang menanggung beban ini,“ tutur Ayub mengisahkan pengalamannya yang amat pahit saat sekolah di SMP Kristen Taemama.
Ayub serta merta pulang ke rumah untuk memperlihatkan badannya yang memar dan luka akibat pukulan sang guru. Frederik nampak acuh tapi diam-diam dia menyusun strategi untuk memindahkan Ayub ke Kupang. Dengan demikian, berarti Ayub tidak lagi menjadi penjaga rumah adat dan pengasuh keluarga.
Inkonsistensi sang ayah rupanya berjalan lurus dengan pertumbuhan motivasi dan visi baru terhadap masa depan Ayub. Ketika motivasi baru mengendap dalam jiwa dan menukik dalam benak ayahnya, Ayub sendiri tidak tahu bahwa dia telah dipilih dan dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari semak belukar dan padang gembala ternak di Fatuone menuju Kupang. Ternyata tidak hanya berhenti di Kupang, dia pun menuju Yogyakarta, menyunting seorang gadis di sana untuk menyambung tali keluarga Titu Eki, kemudian ke Jakarta selama setahun, dan puncaknya, dia pergi ke Australia bersama istri dan ketiga buah hati mereka.
Melalui tangga pengalaman itu, dia melihat dunia internasional. Dengan duduk tenang di rumah pun, dia dapat melihat gejolak ekonomi, politik, sosial, budaya di mana pun di dunia melalui jendela internet. Tanpa terkecuali. Keterlibatan itu dimasukinya tanpa canggung; Bahasa Inggris dan gelar doktor dari sebuah universitas terbaik memungkinkannya diraih.
Yang berbeda kali ini hanyalah luasnya motivasi dan visi. Pada masa remaja, gejolak hati dan pikirannya yang serba terbatas, menggelisahkan dirinya namun juga kuat menggerakkan langkahnya hingga kini. Ayub bukan lagi hidup hanya untuk diri sendiri, keluarga inti dan keluarga besar Fatuone, melainkan untuk masyarakat yang lebih luas.

K.   Belajar Sambil Mencari Uang
Oelatfog merupakan momen paling indah penuh kebahagiaan dalam seluruh titian kehidupan Ayub Titu Eki. Perkampungan sepi yang bersambung dengan sabana dan hutan itu memberikan kesempatan luas kepadanya beraktivitas, menyayikan lagu cinta malam hari sembari menatap rembulan sambil menikmati daging dan susu yang berlimpah. Bagi seorang anak yang tengah berkembang menjadi remaja, apa saja yang bisa diperoleh dari pengalaman mengagumkan itu? Para psikolog cenderung menyatakan bahwa hanya pengalaman pahit yang mampu mengembangkan seseorang; ia membuktikan bahwa orang belum sepenuhnya mampu mentransformasi diri untuk mencapai kebahagiaan.
Ayub pun tidak pernah memanfaatkan hidup pedesaannya sebagai momen transformasi diri. Dia terlampau sibuk menikmati dan meresapinya sebagai kebahagiaan. Pergulatan mentransformasi diri hanya terjadi jika dia keluar dari zona nyaman hidup pedesaan.
Momen itu telah tiba.Tepatnya ketika ayahnya, Frederik, melihat Ayub mulai enggan bersekolah di desanya. Bukannya pergi ke sekolah, Ayub remaja cenderung memilih menjadi petani. Tidak ada cita-cita sama sekali untuk lanjut sekolah jauh dari kampungnya. Itu sesungguhnya merupakan cita-cita ayahnya. Sang ayah merasa khawatir Ayub bernasib seperti putra sulungnya yang mengalami ''kecelakaan'' sehingga terpaksa putus sekolah dan kembali menetap di desa meninggali rumah kecil di atas tanah yang sudah dibelikan untuk dia. Frederik merasa khawatir pula bila putranya yang kedua gagal dan seolah membenarkan hasil ramalan masa kecil anaknya yang sangat tidak menguntungkan. Sang ayah pun teguh prinsip lantas mengirim Ayub ke Kupang.
Ayub merasa dicabut dari kehidupan desanya, dari kenyamanan sosialnya, tempat dia menjadi seseorang. Di tempat di mana dia ditokohkan. Tantenya pernah rela berkelahi melawan ibu kandungnya, bahkan melawan para guru sekolahnya, demi Ayub. Guru-guru sekolahnya senantiasa segan mengingat dialah anak temukung besar yang kaya ide. Di padang gembala, dialah pemburu yang belajar langsung dari ahlinya, sang ayah. Lalu apa yang akan diperoleh di Kupang?
Palu sudah diketok. Keputusan telah diambil. Ayub tidak ditanyai lagi mau atau tidak mau sekolah lanjut ke Kupang. Ayub dipindahkan secara paksa oleh ayahnya dengan status tidak selesai kelas satu di SMP Yapenkrista Taemaman. Pada tahun 1971, Ayub resmi menjadi siswa kelas dua SMP Kristen Bantuan Naikoten Kupang. Rumah dan tanah yang disiapkan Frederik buat Eliaser, putra sulungnya, sudah diambil orang. Katanya, diserahkan kepada seorang anak Fatuone yang sudah tamat dan kembali mengajar di SD GMIT Taemaman –dia adalah Guru Biologi yang memukul Ayub hingga bocor darah. Frederik sama sekali tidak mempersoalkan baik tindakan pemukulan maupun pengalihan tanah di Naikoten II Kupang. Satu hal yang paling penting bagi Frederik: Ayub harus sukses sekoah.
Di Kupang, Ayub tinggal bersama enam orang kakak asal Fatuone; semuanya sekolah guru dan hanya Ayub yang di SMP. Mereka tinggal di tanah milik Stefanus Pinat yang hanya setahun tinggal bersama karena setelah dia tamat SPG lalu pulang kampung. Hanya dalam tempo dua tahun, semua kakak sudah pulang kampung tapi datang lagi anak baru dan tinggal bersama Ayub. Mereka tinggal di Naikoten II bertetangga dengan sesepuh keluarga Kol' Oel, Paulus Panael (mendiang). Mereka mendiami dua rumah kecil berdinding bebak, beratap alang-alang dan berlantai tanah dengan luas halaman berkarang sekitar 500 meter persegi. Satu-satunya tanaman yang mampu bertahan hidup di situ adalah turi atau gala-gala. Untuk memasak jagung, anak-anak ini sering mengambil daun pepaya di kebun orang pada malam hari.
Selama tinggal bersama kakak-kakak di Naikoten II, aktivitas di luar jam sekolah lebih banyak bercerita dan bermain kelereng bersama Opa Panael. Beberapa saat berselang, Ayub tertarik dengan latihan fisik buat meningkatkan pertahanan diri. Jadilah Ayub mengikuti latihan tinju (sekali sepekan) di Sasana Habel Laskodat di Mantasi. Selain itu, Ayub juga mengikuti latihan karate di perguruan Yopi Makaraung di dekat Asrama TNI-AD Kuanino Kupang. Dua kali sepekan Ayub harus mengikuti latihan tinju dan karate. Aktivitas latihan fisik berisiko itu kemudian tercium oleh sang ayah gara-gara dia terjatuh dan tangannya terluka saat latihan. Ayahnya lalu mengancam, jika ingin berkelahi pulang saja ke kampung. Sejak saat itu, Ayub mengurungkan niat melanjutkan latihan tinju dan karate.
Wajah ayahnya marah, Ayub dikirim ke Kupang dengan sebuah misi, sebuah harapan, sebuah cita-cita besar, yang harus diperjuangkan dan digapai. Sang ayah mendambakan putera keduanya itu keluar dari belenggu ramalan masa kecil serta tampil sebagai pemimpin dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan seperti yang dilakukan leluhur mereka,Toto Smaut ''Meo'', Panglima Perang Raja Sobe Sonbai III yang tidak terkalahkan dalam Perang Kauniki melawan penjajah Belanda. Harapan Frederik bahwa leluhur mereka sukses berperang menggunakan suni ma kenat (pedang dan senjata), sedangkan Ayub harus melanjutkan kepahlawanan Toto Smaut lewat berperang melawan kebodohan dan kemiskinan dengan otak dan hati. Ini merupakan kata-kata tegas ayahnya saat melarang Ayub berlatih adu kekuatan fisik.
Toto Smaut adalah Panglima Perang Raja Sobe Sonbai III. Ilmu kanuragannya tinggi dan piawai mengatur strategi perang. Pasukan Belanda dengan dukungan senjata yang jauh lebih modem tidak mudah menaklukkannya. Kampung Fatuone sekaligus benteng pertahanan tempat persembunyian Raja Sobe Sonbai III yang dipertahankannya sangat sulit ditaklukkan. Banyak pejuang tewas dan banyak dana terbuang. Setelah Raja Sobe Sonbai III tertangkap, Toto Smaut menyerahkan diri. Belanda menawan kemudian membuangnya ke seberang hingga di Aceh. Dia dibolehkan kembali ke Timor atas keberaniannya membakar benteng musuh tentara Belanda di Aceh. Dia kembali dan meninggal dunia di Fatuone, tanah kelahirannya. Ketokohan dalam pertempuran fisik ini mengilhami benar Frederik Titu Eki dan ingin diwujudkan dalam bentuk kepahlawanan inteligensia di dalam diri Ayub.
Setelah dilarang mengikuti latihan tinju dan karate, Ayub mencoba pertarungan lain, dia sekolah sambil belajar berdagang. Alasan kuat pembenaran pun dia dapatkan, teman-teman sekampung di asrama acap kehabisan makanan. Masing-masing dari mereka biasa memasak makanannya sendiri. Tapi, jika ada yang kehabisan maka mereka saling menolong satu sama lain. Maklum, mereka hanya mendapat kiriman jagung dan ubi-ubian sekali sepekan saat ada pasar di Takari. Bila terlambat kirim bekal di hari pasar, maka tidak ada lagi kendaraan yang dapat ditumpangi untuk mengantar bekal buat anak-anak yang sekolah di Kupang.
Ketika semua makanan hampir habis, Ayub mengajak dua kakak asrama (Fares Tobmuti dan Marthen Tanau, keduanya siswa SPG Kristen) berjualan pisang. Mereka bertiga berjalan kaki dari Naikoten II ke Baun pada Jumat sore dan selalu bermalam di bawah pohon besar di pasar. Modal apa adanya. Mereka membeli pisang kulit mentah dan kelapa. Marthen sering membeli pisang goreng (pisang kepok) karena dia pandai menggoreng pisang. Ketika usaha ini ternyata memberi banyak keuntungan, mereka lalu menekuninya sambil pandai-pandai mengatur jadwal sekolah tiap hari Sabtu. Bila mereka ke Pasar Baun hari Sabtu, maka mereka terpaksa membolos.
''Keuntungan yang kami dapat lumayan sehingga setiap pekan kami ke Baun. Biasa kami beli satu tandan pisang di Baun seharga Rp25 dan kami jual satu sisir di Naikoten II seharga Rp25 pula sehingga tiap tandan kami untung bersih minimal Rp100. Kami juga memperbesar keuntungan dengan jalan kaki ke Baun dan waktu pulang saya menumpang truk bersama dengan barang dagangan. Sedangkan Fares dan Marthen pulang jalan kaki. Ketika truk menurunkan saya dan barang-barang di Pasar Kuanino dulu, saya harus duduk menunggu dua kakak itu hingga mereka tiba, baru masing-masing mengangkat barangnya ke rumah,” papar Ayub mengisahkan pengalamannya sekolah sembari berdagang.
Kenekatan anak-anak remaja ini ternyata berbuah manis. Perbedaan harga pisang di Baun dan di Naikoten II memungkinkan mereka meraup untung besar. Sampai kemudian mereka sangup mencukupi kebutuhan makan dan membayar uang sekolah. Ayub tidak pernah meminta uang kepada orang tua namun tidak pula menolak ayahnya yang selalu mengirim uang dan makanan tepat waktu. Dia mencari uang cuma untuk menemani dan menimba pengalaman hidup. Usaha ini dilakukan hanya satu atau dua kali sebulan agar tidak bolos sekolah.
Pada suatu ketika Ayub menolak titipan uang pemberian orang tua dengan alasan masih punya uang. Ayub memang punya kiat sendiri menyimpan uangnya. Biasanya uang itu disisipkan di sela alang-alang atap rumah. Untuk mengambil dan menyimpannya harus hati-hati agar tidak diketahui orang. Ayub takut menaruh uang di peti pakaian lantaran gampang dibongkar pencuri.
Frederik yang jarang mengunjungi Ayub di Kupang mulai menaruh rasa curiga. Apakah Ayub sudah tidak bersekolah lagi dan terus melanjutkan tinjunya? Ternyata tidak.
Usaha dagang kecil-kecilan yang dilakukan Ayub bersama kakak seasrama akhirnya diketahui pula oleh sang ayah. Temukung besar di kampung itu pada salah satu sisi merasa dipermalukan karena dianggap tidak membiayai pendidikan anak dan di sisi lain tidak mau Ayub bolos sekolah. Dengan tepat Ayub mengingat kata-kata pria disiplin yang tidak tamat sekolah rakyat itu: ''Saya suruh kau datang ke Kupang untuk sekolah, bukan mencari uang. Kalau cari uang di kampung saja. Piara sapi dan jual pasti uang lebih banyak dan orang pasti bawa uang datang cari kita. Mau dapat uang berapa pun pasti uang datang. Jika engkau butuh uang katakan, ayah pasti berikan. Yang penting engkau harus sekolah tanpa bolos dan harus selalu sukses.''
Niat Ayub mencari uang untuk menimba pengalaman sambil membantu kesulitan teman seasrama belum berakhir. Fares dan Marthen sudah tamat SPG dan mereka pulang ke kampung. Lalu Ayub mendapat partner baru, John V. Nenobahan yang pernah menjabat Asiten III Kotamadya Kupang. Usaha penjualan pisang ini berlanjut hanya sampai kelas satu SMA. Usaha jual-beli pisang itu terpaksa dihentikan gara-gara Ayub dan John Nenobahan mengalami kecelakaan di Baun, truk yang mereka tumpangi terguling bersama seluruh penumpang dan muatannya.
Ketika peristiwa kecelakaan itu terjadi, John Nenobahan dan beberapa penumpang terjatuh ke tanah dan beberapa orang terluka. John mengalami benturan keras dan sakit selama beberapa bulan. Sedangkan Ayub justru tersangkut di atas dahan pohon kusambi tanpa cacat sedikit pun. Dengan kejadian ini, Ayub kemudian mengakhiri usaha dagang pisang. Dia berhenti setelah merenungkan kembali kata-kata ayahnya bahwa dia datang ke Kupang hanya mencari ilmu. Demikian pula dia ingat nasehat ibunya agar dirinya tidak melawan nasehat ayahnya sebab mulut ayahnya itu panas.
Ketika Ayub duduk di kelas II dan III SMA, kembali muncul niat mencari uang hanya buat memenuhi kekurangan uang dan makan bagi anak-anak yang tinggal bersama Ayub. Rumah yang ditempatinya sudah dibuat lebih besar untuk menampung delapan orang anak dari Fatuone.
Usaha pertama yang dilakukan adalah mencarter bemo (angkutan kota) untuk satu putaran jalur trayek yang biasa dilayani. Pekerjaan ini dilakukan pada sore hari sehingga tidak mengganggu jam pelajaran. Usaha ini ternyata memberikan hasil yang menggembirakan selama pekan pertama, tapi pada pekan kedua justru merugi lantaran sopir bemo yang sudah menerima uang carteran sebelum beroperasi selalu lari kencang sekalipun ada penumpang menyetop di tepi jalan.
Akhirnya usaha ini juga dihentikan setelah Yunus Paut mencarter bemo Yogapadma jurusan Oepura - Terminal Kota. Untuk satu putaran, ongkos sewa angkutan publik itu Rp5.000 dibayar tunai kepada sopir sebelum beroperasi. Usaha ini berhenti gara-gara Yunus Paut bernasib sial. Teman Ayub itu mendapat bogem mentah dari seorang penumpang yang sudah membayar ongkos tetapi Yunus menagih lagi. Ayub menyesal lantaran anak buahnya itu mendapat hadiah tinju dari penumpang sehingga cita-cita memperoleh uang terhalang.
Usaha kedua dilakukan dengan memanfaatkan potensi pekarangan.Tiap penghuni asrama wajib menanam dan merawat minimal lima anakan pepaya hingga menghasilkan bunga atau buah. Sebagai pencetus ide, Ayub selalu lebih duluan menanam dan harus segera diikuti oleh delapan orang anak buahnya. Tanaman lain pun ikut ditanam. Jagung, labu dan ubi kayu ditanam di lahan orang. Tanah pekarangan rumah yang semula tandus dan berbatu karang berubah hijau merona dengan aneka jenis tanaman pepaya, cabe dan tomat. Bila sebelumnya mereka mencuri daun pepaya maka sekarang mereka menjadi penjual buah dan bunga pepaya. Sementara itu, bongkahan karang yang tidak produktif dipecah menjadi kerikil kemudian dijual.
''Syukurlah kami dapat menghasilkan uang dari pekarangan sempit berbatu. Uang paling banyak kami peroleh dari hasil jual batu karang. Batu besar dipecah dan digali dari dalam tanah sehingga batu bisa dijual. Sedangkan tanahnya untuk menimbun tanaman. Banyak tetangga membeli bunga dan buah pepaya, uang hasil penjualan kami pakai untuk berbagai keperluan,'' kenang Ayub.
Ayub tinggal bersama anak-anak Fatuone di Naikoten II dari tahun 1971 sampai 1975. Selama itu, Ayub mengikuti pendidikan SMP mulai kelas dua di SMP Kristen Bantuan Kupang dan tiga tahun di SMA Kristen Kupang. Dua sekolah Kristen itu dikenal sebagai sekolah penampung anak-anak desa dan/atau anak-anak kota yang nakal.
Ayub punya pengalaman menarik saat sekolah di Kupang. Ketika di SMP, kata Ayub, Kepala Sekolah (Pak Y. Timo) sampai mengajar delapan mata pelajaran, termasuk bahasa Arab dari kelas satu hingga kelas tiga. Jumlah tenaga pengajar juga terbatas bahkan ruang kelas pun hanya tiga buah. Murid-murid duduk berdesak-desakan dan tak pelak lagi ruang kelas menjadi gaduh (berisik) gara-gara ulah anak-anak kota yang terkenal bandel dan nakal.
Demikian pula ketika di SMA Kristen, Ayub kembali bertemu dengan banyak anak nakal. Salah satu teman di antaranya yang paling nakal pernah menabur serbuk lelehanak di kursi seorang ibu guru muda sebelum jam mengajar. Lelehanak adalah sejenis tanaman di hutan yang buahnya terbungkus bulu-bulu halus dan sangat gatal bila terkena kulit. Akibat ulah murid nakal itu, ibu guru yang suka mengenakan rok mini itu pahanya gatal-gatal terkena lelehanak. Semakin digaruk semakin gatal. Lantaran merasa malu, sampai-sampai si ibu guru berhenti mengajar di SMA Kristen.
Lain lagi kisah pengalaman Ayub. Akibat ulah temannya yang nakal, dia sampai dua kali menerima pukulan dari guru SMA. Pertama, dia dipukul dengan penggaris di kepala oleh Ibu Pdt. Nance --guru mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pasalnya, saat sang guru tengah menerangkan tentang 4 sehat 5 sempurna, Ayub berbisik kepada Albert Fai, teman sebangku, ''Kami di kampung biasanya minum air mentah dan makan ubi bakar yang gosong dan hitam lagi. Tapi kalau lomba lari, kami pasti lebih hebat daripada anak di kota.” Albert spontan tertawa lalu Ayub ditegur guru lantas diam sejenak.
Sang guru melanjutkan penjelasan tapi berhenti lagi lantaran Ayub kembali membuat ulah dengan berbisik kepada temannya dengan kalimat yang sama sehingga Albert tertawa lagi. Setelah tiga kali ditegur, Ayub masih juga belum kapok. Ibu guru pun marah dan memukul kepala Ayub dengan penggaris kayu. Saat itu guru menjelaskan tentang manfaat minum susu, malah Ayub kembali berbisik kepada temannya itu, ''Meski kami di kampung minum air mentah, bahkan air kotor di danau, tapi kalau berkelahi kami mampu menjatuhkan lawan dengan satu kali pukulan saja.''
Selain menerima pukulan dari ibu guru, Ayub juga mendapat hadiah ditinju mendiang Nico Benu, Wali Kelas, gara-gara Ayub dan teman-temannya tidak menyiram ruang kelas yang berlantai tanah.

L.    Tiga Kali Gagal Tes Tapi Berprestasi Tinggi
Pada umumnya orang mencari sekolah bermutu agar masa depannya menjadi lebih baik. Mutu sekolah biasa dilihat dari berbagai hal seperti kesediaan guru profesional menurut bidang mata pelajaran, laboratorium, dan perpustakaan. Dengan begitu, output yang dihasilkan berkualitas dan bisa bersaing di kancah pendidikan tinggi.
Tidak demikian halnya dengan Ayub Titu Eki. Dia yang kelahiran Fatuone Kauniki saat itu menapaki pendidikan SD hingga SMA pada sekolah-sekolah yang tergolong bermutu rendah. SD GMIT Oepula di Desa Kauniki, Kecamatan Takari, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah menonjol dalam prestasi belajar. Kesan positif Ayub dari SD itu adalah selembar ijazah tahun 1969. Mengingat keterbatasan guru, murid SD Itu lebih banyak bekerja di kebun sekolah, mencari sapi milik guru di padang atau bermain di lapangan untuk menghabiskan jam sekolah.
Satu tanda istimewa bekas luka pukulan guru di kepala Ayub menjadi kenangan tak terlupakan. Kepala Ayub diketok dengan mister segitiga yang terbuat dari kayu merah merobek kulit kepalanya hingga berdarah gara-gara tidak mampu menyelesaikan soal matematika. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan akademik Ayub relatif lemah di sekolah yang kurang bermutu pula. Bukan cuma itu, saat duduk di kelas IV, bersama dua orang temannya, dia menerima hadiah pukulan bertubi-tubi dari guru lantaran tidak mampu menyelesaikan soal matematika.
Pendidikan kelas satu SMP di kampung pun tidak selesai. Lalu Ayub ke Kupang dan masuk di kelas II SMP Kristen Kupang sampai tamat. Di sekolah ini juga tidak menguntungkan dari aspek kualitas pembelajaran. Ketika di kelas I SMP di kampung misalnya, dia mendapat pukulan fisik dari guru mata pelajaran Biologi. Demikian pula saat di kelas II SMAKristen, dia mendapat pukulan fisik dari guru mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan bogem mentah beberapa kali dari wali kelas. Maklum, nilai lapor kelas II SMA Ayub mendapat lima nilai merah, yaitu angka 4 pada dua mata pelajaran dan angka 5 pada tiga mata pelajaran. Beruntung, Ayub selalu meniru tanda tangan ayahnya di rapor. Jadi tidak ketahuan kebodohannya. Jelas kemampuan Ayub lemah bukan di sekolah unggulan melainkan di sekolah kelas papan bawah.
Ketika selesai pendidikan SMA, Frederik minta Ayub mendaftarkan diri di perguruan tinggi tanpa pernah menganjurkan pilihan jurusan. Yang penting menjadi mahasiswa daripada sibuk mencari uang. Sebab itu, Ayub mengambil keputusan mengikuti pendidikan pada Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Kupang.        
Sebagai anak kampung, posturnya berbeda jauh dari anak-anak kota yang bongsor tinggi besar. Ayub terbilang kurus dan pendek. Sementara itu kemampuan akademiknya masih jauh dari harapan untuk menjadi mahasiswa APDN Kupang. Dan dia tidak lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun 1976. Dia justru bersyukur karena bisa pulang kampung. Ayahnya terpaksa menerima dia di kampung dengan penuh penyesalan.
Di kampung, Ayub rajin membantu orangtuanya mengerjakan dua bidang sawah, mengurus ternak dan kegiatan lain. Ayub sendiri punya sebidang ladang lahan kering yang ditanami jagung dan padi ladang. Dia juga menanam banyak bibit jati yang tumbuh menjadi kebanggaan dirinya saat ini. Pada waktu dia menanam benih jati, ayahnya menyarankan lebih baik menanam kelapa. Ayub mengikuti saran ayahnya, menanam puluhan bibit kelapa. Tapi semua anakan itu mati dirusak ternak lepas.
Waktu terus melaju. Tahun ajaran 1977 pun tiba. Ayub dipaksa oleh ayahnya kembali ke Kupang. Dia dilarang keras pulang kampung. Ayub harus berjuang untuk kuliah memenuhi asa ayahnya. Frederik, mantan  Temukung Fatuone, itu rupanya terobsesi berat saat ada kunjungan beberapa mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) yang mengenakan jas almamater. Demikian pula dia ingin pilihan Ayub menjadi mahasiswa APDN kelak bernasib sama seperti tampilan sosok camat muda orang Timor, yaitu Ruben Foenay di Amfoang Selatan dan George Bait di Fatuleu yang pada waktu itu keduanya sangat dikagumi warga masyarakat pedesaan.
Sudah tentu dengan berat hati Ayub memenuhi asa ayahnya dan kembali ke Kupang. Dia tinggalkan pekerjaan kegemarannya bertani dan beternak. Di Kupang, dia kembali mendaftar di APDN namun tetap belum beruntung.
Kisahnya, ketika giliran ujian psikotes Ayub diuji oleh Soejono Hartojo SH yang pada waktu itu menjabat Sekwilda Provinsi NTT. Ketika Ayub memasuki ruang tes, Soejono nyeletuk, ''Wah, modal begini mau jadi camat? Pulang. Ayo pulang. Engkau tidak pantas menjadi camat.''
Ayub tersentak dan tetap berdiri beberapa menit di hadapan penguji tapi sang penguji mengulangi kalimat yang sama dengan nada lebih kasar lagi. Tanpa berpikir panjang Ayub langsung meninggalkan ruangan tes. Untuk kali kedua dia gagal masuk APDN.
Ayub ingin kembali saja ke kampung tapi takut pada ayahnya. Ayub benar-benar berbeda dengan anak muda zaman sekarang yang ingin kuliah tapi orang-tuanya tidak mampu secara ekonomi. Sedangkan Ayub ingin bertani saja namun ayahnya malah tidak setuju. Ayub memang anak yang unik. Secara ekonomi, orang-tuanya sangat mampu membiayai dia kuliah. Sayangnya, dia sendiri enggan kuliah. Bisa juga dipahami juga bahwa kalau dia dipaksa pasti akan gagal dan menyia-nyiakan kekayaan orangtuanya.
Sebagai anak yang taat kepada orang tua, Ayub mendaftar lagi untuk mengikuti tes masuk Undana golongan kedua. Pada waktu itu Undana membuka penerimaan mahasiswa baru hingga tiga golongan tes. Ayub memilih jurusan Tata Negara pada Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan Undana. Pada pengumuman hasil tes gelombang kedua, Ayub gagal diterima. Pikiran Ayub kacau sebab sering ditanyai keluarga dan tetangga soal perjuangannya menjadi mahasiswa.
Kemudian dia membulatkan tekad mengikuti tes masuk Undana gelombang terakhir. Kali ini Ayub mendaftar di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Setelah mendaftarkan, dia ditanyai oleh Paulus Pahnael (mendiang), koordinator anak-anak asal Fatuleu di Kupang.
''Ayub, engkau sudah daftar lagi di mana?'' tanya Paulus Pahnael.
Ayub pun menjawab bahwa sudah mendaftar di Jurusan BP FIP Undana. Pahnael menyambung lagi, ''Owh....owh Ayub. Itu jurusan untuk tamatan SPG, bukan SMA.Engkau mau menjadi guru?''
Ayub membisu tanpa sepotong kata lantaran beberapa orang di situ mulai menggunjingkan pilihan jurusan Ayub.
Pikiran Ayub bertambah kacau. Tidak ada orang tua atau teman diskusi untuk mengatasi masalah itu. Ayub hanya mendiskusi dengan dirinya sendiri. Mau tidak mau harus dijalani sebab ayahnya tidak izinkan pulang kampung. Akhirnya dia mengambil keputusan baru mencari jurusan lain tanpa menunggu tes di Jurusan BP pada FIP Undana. Dia memilih Jurusan Civics Hukum pada Fakultas Keguruan agar sama seperti Paulus Pahnael yang meraih gelar BA (Bachelor of Arts) dari jurusan itu.
Penutupan pendaftaran mahasiswa baru Undana gelombang ketiga pada hari Sabtu jam 12.00 wita. Berselang beberapa menit kemudian Ayub membawa berkasnya memasuki ruang tata usaha Fakultas Keguruan Undana untuk mendaftarkan diri. “Maaf adik, pendaftaran sudah ditutup,'' kata staf bagian Tata Usaha Fakultas Keguruan Undana.
Dalam keadaan bingung, Ayub segera keluar dari ruangan itu. Entah langkah apa yang akan dia tempuh. Beruntung sekali, secara kebetulan dia bertemu salah satu dosen Jurusan Civics Hukum yang dia kenal betul, yaitu Drs. Daniel Frans Bessie, mantan guru dan wali kelas II SMA Kristen angkatan Ayub (1975). Keberuntungan pun terjadi. Ketika itu Daniel Bessie memanggil staf Tata Usaha dan minta mendaftarkan nama Ayub.
Ayub meninggalkan kampus dan pulang ke rumah di Naikoten II dengan hati berbunga-bunga. Namun kegembiraan ini hanya bertahan semalam. Gara-garanya, Paulus Pahnael kembali meledek Ayub pada keesokan harinya.
''Lebih baik engkau pulang saja ke kampung karena jurusan itu (Civics Hukum) ‘angker’ dan dosennya ‘killer’. Untuk meraih gelar BA, banyak mahasiswa menghabiskan waktu kuliah lebih dari 10 tahun,'' kata Paulus kepada Ayub dengan nada sinis.
Paulus sendiri kala itu nyaris drop out dari jurusan Civics Hukum. Karena itu, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Tata Negara FKK untuk meraih gelar doktorandus. Meski demikian Ayub tak terpengaruh sedikit pun dengan pernyataan Paulus. Ayub sudah berketetapan hati untuk menjadi mahasiswa. Salah satu dosen killer di sana saat itu adalah Prof. M.Taopan yang sempat diberi gelar oleh mahasiswa sebagai ''Herodes Abad 21''. Betapa tidak, beliau sangat disiplin waktu dan tidak pernah mengizinkan mahasiswa yang terlambat masuk kelas dengan alasan apapun. Beliau selalu katakan, ''Malaikat sekalipun tidak boleh masuk ke dalam menyusul saya, karena begitu saya masuk, segala kuasa telah berada di tangan saya.''
Prof. Taopan adalah dosen yang tidak pernah memberikan nilai A atau 4 kepada mahasiswanya. Katanya nilai itu (nilai sempurna) untuk Tuhan sedangkan nilai E atau 0 untuk setan.
Mahasiswa juga memberikan gelar tambahan ''Aos molo'' atau ''Anjing kuning'' kepada mendiang Drs. J.F. Markus BA lantaran dianggap sebagai ''serigala'' yang menerkam dan menghabiskan nasib mahasiswa. Sang dosen ini menerapkan waktu kuliah jam ''nol'' yaitu tepat jam 06.00 pagi tanpa terlambat dengan alasan apapun. Ini tentu sangat menyulitkan bagi mahasiswa sebab masa itu belum ada sarana angkutan kota dan belum tersedia tempat kos bagi mahasiswa di sekitar kampus. Akibatnya, banyak mahasiswa menjadi korban nilai tidak lulus berulang kali dan terpaksa drop out karena ulah sang dosen.
Dosen ''killer'' lain yang paling banyak dibenci oleh mahasiswa adalah mendiang Sutrisno, SH. Ada kisa lucu tentang beliau. Seorang mahasiswa bernama Son Gah pernah mengikuti ujian ulang yang ke-11 kali untuk mata kuliah Hukum Laut dengan menaruh sebilah pisau di atas meja. Ketika sang dosen bertanya, ''Untuk apa engkau bawa pisau ini?''
Dengan enteng Son menjawab, ''Untuk potong sayur kangkung di sawah pak karena jikalau kali ini saya tidak lulus ujian maka saya siap menjadi penjual sayur kangkung di pasar.''
Setelah ujian selesai, Son membuntuti langkah sang dosen hanya untuk menakut-nakutinya tapi tidak bermaksud mencelakai.
Catatan lain adalah nilai yang diberikan dosen Jurusan Civics Hukum sangat mahal. Dua hingga lima lulusan saja dari setiap ujian yang diikuti puluhan hingga lebih 100 orang peserta ujian merupakan hal biasa. Trio dosen killer tersebut memaksa mahasiswa harus sabar mengikuti ujian ulang mata kuliah yang diasuhnya hingga beberapa kali. Bahkan dosen lain pun ikut menerapkan cara yang sama sehingga waktu kuliah mahasiswa kian berlarut. Hal ini dianggap tidak menyalahi aturan melainkan dipandang sebagai suatu cara menjaga mutu lulusan perguruan tinggi. Jauh berbeda sekali dengan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) yang baru diterapkan mulai angkatan tahun 1978.
Ketika menjadi mahasiswa pada jurusan yang dinilai angker itu, Ayub mempunyai motivasi tersendiri. Pertama, mendengar informasi bahwa mahasiswa yang berprestasi tinggi akan mendapat beasiswa. Daripada capek mencari uang di luar kampus lebih baik cari uang di kampus dengan cara giat belajar buat meraih beasiswa. Kedua, Ayub harus berusaha  membuktikan bahwa pilihannya memasuki jurusan yang angker itu harus diselesaikan dalam waktu singkat. Ketiga, Ayub ingin mewujudkan harapan ayahnya yang terus memaksa dirinya kuliah untuk meraih gelar BA.
Saat ujian semester pertama yang diikuti 69 mahasiswa seangkatan, Ayub berhasil meraih peringkat satu dengan total nilai 55, cuma terpaut satu angka dari peraih peringkat kedua. Hasil ujian semester kedua kembali menempatkan Ayub sebagai peraih peringkat pertama dengan selisih 12 angka dari total nilai peringkat kedua yang diraih orang lain, bukan peraih peringkat kedua sebelumnya. Dengan prestasi itu Ayub ditetapkan menjadi mahasiswa penerima beasiswa Supersemar dari Presiden RI (waktu itu)  Soeharto. Pada waktu yang sama tersedia juga beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) untuk Ayub. Lantaran tidak diperkenankan menerima beasiswa dari dua sumber, Ayub memilih TID mengingat jumlah uangnya lebih banyak daripada beasiswa Supersemar.
Prestasi Ayub tidak hanya memenangkan beasiswa namun Ayub lulus tepat waktu. Pada semester ketiga, dia juga mengambil beberapa mata kuliah di semester kelima. Demikian pula pada semester keempat, dia mengambil sebagian mata kuliah semester keenam. Meski begitu, dia lulus ujian semua mata kuliah dan peringkat pertama tetap dipertahankan.Tidak ada mata kuliah yang sampai diuji-ulang. Ayub dapat nilai A dari Pak Markus dan dua mata kuliah Pak Taopan mendapat nilai B. Nilai C untuk Hukum Pajak 1 dan Hukum Pajak 2 dari Pak Sutrisno, yang hanya meluluskan dua orang dari puluhan peserta ujian.
Lompatan kemajuan prestasi belajar telah Ayub tunjukan. Walau kuliah hanya karena desakan ayahnya dan pendidikan SD hingga SMA yang dia lewati kurang bermutu dengan prestasi yang lemah, ternyata dia berubah drastis justru pada jurusan yang menakutkan dan meng-KO banyak mahasiswa. Selama Semester V dan VI Ayub melakukan penelitian dan menulis skripsi sambil kuliah. Yang jauh lebih membanggakan lagi adalah bahwa pada saat pekan tenang untuk ujian Semester VI, skripsi Ayub sudah disahkan pembimbing dan diserahkan ke ketua jurusan untuk ujian skripsi.
Ayub bukan hanya meraih prestasi di kampus. Dia juga sosok mahasiswa pekerja keras untuk hidup mandiri. Selama mengikuti program kuliah untuk memperoleh gelar Sarjana Muda atau BA pada tahun 1980, dia pernah kembali bertani di desa ketika terjadi perpanjangan waktu satu semester tahun kalender pendidikan nasional. Waktu itu digunakan mahasiswa lain untuk ujian ulang tunggakan mata kuliah sedangkan Ayub memanfaatkan waktu buat bertani dan mengurus ternak di desa.
Setelah meraih gelar BA pada tanggal 25 Oktober 1980, Ayub kembali ke kampung dan bertani sambil menunggu waktu kuliah program S-1 pada bulan Juli tahun berikutnya. Tahun 1981 Ayub mengikuti program S-1pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana selama empat semester. Selama masa studi itu, Ayub kembali meraih beasiswa TID dua tahun dan selesai tepat waktu.
Selama masa kuliah mulai tahun1977 hingga di wisuda S-1 pada tanggal 6 September 1983, Ayub tinggal di rumah sendiri di atas lahan pekarangan seluas 400 meter persegi yang terletak di Jalan Palam No 17 Kelurahan Naikolan, Kota Kupang. Sambil kuliah, dia pukul batu tiap hari untuk meratakan halaman.Tumpukan batunya dipakai guna membangun jalan lingkungan desa tanpa mendapat bayaran. Dia tidak cuma berkorban batu, juga ujung tanah dan lubang WC-nya ikut dimanfaatkan buat kepentingan umum tanpa ganti rugi. Selanjutnya Ayub menggali lubang WC baru sedalam 10 meter dibantu anak -anak yang tinggal bersamanya.
Pun Ayub menanam pepaya dan cabe, walaupun air harus diambil dari kali yang berjarak sekitar 750 meter dari rumah. Di pekarangan ini pula Ayub berhasil membesarkan empat ekor babi besar yang kemudian ditukar dengan sapi di kampung. Semua kegiatan yang Ayub lakukan atas dorongan dari hatinya sendiri dan hal ini mungkin jarang dilakukan anak lain dari kampung sekalipun tidak memperoleh beasiswa dan/atau mendapat dukungan uang terbatas dari orangtuanya.
Bagi Ayub, satu hal terpenting adalah perlunya manusia menyadari panggilan diri dan bertarung sesuai komando kesadaran dalam diri untuk memberikan ''makna'' bagi hidup, keluarga dan lingkungannya tempat di mana dia tinggal dan berkarya. Kesadaran itu harus mengajar kita bahwa sesungguhnya kita harus bekerja bukan hanya untuk mengejar uang atau pujian dan hadiah.

M.  Sarjana Pulang Kampung
Kota memang memiliki daya pikat yang kuat. Tapi sentuhan kesunyian pedesaan terlampau sulit diabaikan. Alam memberikan kesejukan bagi kedamaian jiwa.Tak terdengar suara dentam palu, bising gergaji, atau suara batu pecah.Yang ada sekadar suara musik yang berdesir di rerumputan tatkala daun-daun berguguran dan buah-buah lembut jatuh dari cabangnya sepanjang hari menembus angin.
Oh, alangkah indahnya dan betapa nikmatnya kehidupan alam pedesaan. Sebagai petani, sejak kecil Ayub cuma punya cita-cita menjadi petani dan tinggal di kampung. Kecintaannya yang begitu besar pada pertanian membuatnya suatu waktu --masih di kelas I SMP Yapenkrista Taemaman-- dia berdoa minta Tuhan bekerja di dalam hati ayahnya agar dirinya bisa tetap tinggal di kampung untuk bertani dan beternak.
Cita-citanya sungguh tak pernah padam. Meski sudah di bangku kuliah, Ayub tidak punya cita-cita lain selain pulang kampung menjadi petani. Akhirnya betul juga. Setelah lulus Sarjana Muda (BA) tahun 1980, ia sempat pulang bertani dan beternak hampir setahun. Baru tahun 1981 dia melanjutkan kuliah untuk program S-1 di FKIP Undana Kupang dan lulus tahun 1983.
Masa itu jumlah sarjana di Kupang belum sebanyak sekarang. Ada tawaran menjadi tenaga guru kontrak. Ayub menyadari bahwa gaji guru kontrak Rp25.000 sebulan atau setengah gaji PNS saat itu sudah lumayan bagus namun terlampau kecil untuk mencukupi kebutuhan hidup di kota. Penghasilan sebesar itu hanya habis dibelanjakan untuk sepatu, pakaian dan kebutuhan kecil lain. Sebab itulah, dia menolak penawaran bekerja sebagai guru kontrak di Kupang dan memilih pulang kampung pada 1983.
Ada pertimbangan lain lagi bahwa warga kampungnya masih mengira dia sudah menjadi tuan besar di Kupang. Padahal, dia hanya menjadi seorang guru honorer. Pikir dia, jikalau dia di kampung bekerja keras, cerdas dan  ikhlas --dengan berkebun dan memelihara ternak babi misalkan—hasil yang diperoleh akan jauh lebih baik. Pengalaman memelihara babi di samping rumahnya selama masa kuliah di Kupang memang memberikan hasil lumayan besar.
Nah, itu yang ada dalam benak Ayub. Dia menyadari pulang ke kampung  bekerja sebagai petani dan peternak tidak memberikan hasil langsung tapi ketika panen dan dijumlahkan, perolehannya jauh lebih besar daripada bekerja sebagai pegawai honorer di Kupang. Sebab itu, ketika pulang kampung pada tahun 1983 setelah meraih gelar Doktorandus (Drs), dia tidak berdiam di rumah bersama orang-tuanya. Dia memilih menyendiri di hutan, berkebun sembari menjadi penggembala sapi di padang sabana pada siang hari kemudian menuntun sapinya kembali ke kandang kala senja lalu bermalam di sebuah gubuk kecil di samping kandang. Itulah keseharian Ayub selama sekitar dua tahun.
Kata Ayub, apapun pekerjaan kita, motivasi bekerja harus selalu menjadi kata kunci paling menentukan kualitas kerja. Dorongan motivasi yang menumbuhkan semangat kerja inilah yang disebut dengan kerja keras untuk mengisi masa depan sendiri dan menunjukkan nilai guna dari ilmu pengetahuan yang diperoleh dan bukti penerimaan terhadap didikan orang tua. Bekerja cerdas diekspresikan dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan mendaya-gunakan segenap potensi desa secara bijaksana. Dan bekerja ikhlas merupakan wujud rasa syukur terhadap kehidupan yang Tuhan berikan.
Ayub bukan lagi Ayub yang dulu di kota. Dia betul-betul hidup seperti orang kampung, pakai selimut kampung tanpa kasur, makan sirih-pinang, menggantungkan alukosu (tempat sirih dan pinang) di bahu, tidur di hutan dan berkebun. Banyak kali dia tidur di hutan cuma beralas daun gewang dan berbantal batu pada awal usaha menjaga kawanan ternak baru di padang. Persis pada masa kecilnya saat bersama ayahannda tidur di hutan untuk berburu.
Ayub benar-benar enjoy menikmati keseharian dan kesendiriannya sebagai petani yang tinggal di hutan. Namun tak sedikitpun kebahagiaan dan kebanggaan hinggap di hati ayahanda. Mantan temukung besar itu merasa terbeban perasaan haru melihat perilaku puteranya yang meski telah sarjana namun betah tinggal sendirian di hutan bersama kawanan ternak. Belum lagi segelintir orang pintar di kampung memprovokasi Frederik bahwa puteranya mengalami gangguan kejiwaan.
''Bapak, tidak baik punya anak sarjana tinggal di kampung. Mungkin anak bapak stres berat dengan suatu masalah sehingga memilih menyendiri hidup di hutan.'' Kalimat bernada provokatif dari sejumlah orang pintar di kampung itu selalu terngiang di telinga ayahanda. Hati Frederik seolah terbakar emosi.
Sebab itu, suatu waktu sang ayah mendatangi Ayub di hutan tempatnya menjaga ternak. Ayub mencoba menenangkan dan meyakinkan ayahnya bahwa jumlah ternak sapi yang digembalakan sebanyak 22 ekor -satu jantan dan 21 betina. Bilamana kawanan sapi ini sudah mengenal satu sama lain serta mengenal lingkungan tempatnya mencari makan, dia akan kembali ke kampung. Ayub berharap kawanan ternak sapi itu berkembang-biak dan menjadi sumber penghasilan keluarga.
Ayub bertekad --dalam keadaan kesulitan apapun-- tidak akan menjual ternaknya dalam kurun waktu tujuh tahun. Kawanan ternak sapi ini ada beberapa di antaranya yang dibeli dengan beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID) selama kuliah. Kendati dia menerima beasiswa TID tapi dia tidak menggunakan untuk biaya kuliah karena sudah membuat kesepakatan dengan orang-tuanya bahwa beasiswa itu harus dijadikan buat kenangan bagi masa depan keluarganya kelak --terkhusus bagi anak-anaknya. Sedangkan ongkos kuliah dan seluruh biaya kebutuhan hidup sebagai mahasiswa menjadi tanggungan orang tua.
Ayub melakukan itu agar menjadi kenangan bahwa hasil keringat orang-tuanya yang berpendidikan rendah itulah yang membuat dirinya sukses dalam pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana.
''Jujur bahwa saya meraih gelar sarjana dari hasil keringat orang tua,'' kata Ayub sembari menambahkan, ''Saya belajar dan mendapat nilai bagus dengan tidak hanya meraih gelar dan ijazah tapi juga harta (beasiswa) yang diwujudkan dalam ternak sapi.''
Sementara sapi yang lain diperoleh dari hasil menjual empat ekor babi besar yang dipelihara di Jalan Palam 17 Naikolan Kupang selama masa studi. Ada pula yang didapat dari hasil menjual jagung kebun sendiri. Ada lagi dari upah membangun rumah saudara sepupu. Ayub pantas berbangga diri mengingat dirinya mampu menghasilkan ternak sapi usaha olah pikir dan tenaga dirinya sesuai bekal didikan orang-tuanya di masa kecil. Ayub kemudian membeli sebidang tanah di Kupang untuk menjadi bukti sejarah bagi anak cucunya.
Buah bibir orang kampung itulah yang mendesak ayahnya memaksa Ayub segera balik ke Kupang. Lalu pada 1984 Ayub mengikuti seleksi penerimaan guru SMA di SD Bonipoi Kupang. Berbekal prestasi semasa mahasiswa, Ayub penuh percaya diri dan yakin bakal lulus dalam ujian seleksi tersebut. Dia berharap segera menjadi guru SMA di Oesao sambil mengolah sawah. Ternyata yang terjadi sebaliknya, dia tidak lulus. Rupanya Ayub justru senang. Dengan begitu, dia bertekad melanjutkan misinya di kampung sebagai petani dan peternak.
Kecintaannya pada dunia pertanian membuat Ayub tidak malu-malu menulis pengalaman kerja dalam daftar riwayat hidupnya sebagai petani/peternak di Dusun Fatuone (Juli 1983 - Oktober 1985 ). Fatuone dulu bergabung dengan Desa Kauniki tapi terakhir menjadi salah satu dusun dari Desa Oelnaineno, Kecamatan Takari. Alam Fatuone telah membentuk sosok Ayub Titu Eki yang demikian tangguh dan bangga pada kekuatan lokal. (*)


Komentar