* Bab
5
Membangun
Papua sesungguhnya tidak susah manakala
komunikasi tiga Tungku --adat, pemerintah dan agama-- ditempatkan sebagai tiga
aras yang menumbuhkan partisipasi dan terkoordinasi. Pembangunan tanpa
melibatkan peran ketiga Tungku justru akan memudarkan tingkat partisipasi
masyarakat. Pelibatan tiga Tungku itu akan menjadi kekuatan membangun Papua
yang sesungguhnya tak sulit.
Davit
Patty, Kepala Distrik Wamena era 1970-an
SENTANI,
April 2013. Keriuhan pelantikan pasangan Lukas Enembe dan Klemen
Tinal oleh Menteri Dalam Negeri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua periode 2013-2018 masih begitu
terasa. Pelantikan tanggal 9 April 2013 yang menarik perhatian lantaran digelar
di Stadion Mandala, Jayapura. Dua hari berselang, pesta berpindah ke Kompleks
Lanud Sentani, Kabupaten Jayapura. Pesta dengan sajian 2000 ekor babi dan
sekitar 200 susunan bakar batu yang menghadirkan ribuan warga Papua
“Di wilayah pengunungan Papua, pemilik tradisi bakar
batu, tidak pernah ada acara bakar batu dengan ratusan tungku api, ratusan
kolam masak dan ribuan korban babi serta dihadiri ribuan orang,” ujar Oktovianus
Himan, salah satu anak Kepala Suku Himan di Wamena, yang ketika itu masih
kuliah di Sekolah Tinggi Fajar Timur (STFT) Papua, saat menyaksikan acara
syukuran atas pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Lukas Enembe dan
Klemen Tinal (Lukmen), di belakang Kompleks Lanud Sentani, Kabupaten Jayapura,
11 April 2013.
Acara kali itu, di mata warga Papua, cukup
mengherankan. Sejak pagi, warga sudah mendatangi tempat acara. Lokasi syukuran
penuh sesak manusia. Mereka datang dari Abepura, Jayapura, dan sejumlah daerah
di Papua yang berada di luar Jayapura. Warga berdatangan ke lokasi dengan menggunakan
kendaraan pribadi dan kendaraan yang disewa, baik roda dua maupun roda empat.
Kebanyakan warga menyewa taksi angkutan umum. Mobil rental juga banyak disewa.
Berbagai jenis taksi dan mobil ada di lokasi Lanud Sentani.
Karena banyaknya kendaraan yang disewa, terminal taksi
angkutan umum dan terminal mobil rental sepi. Jalan raya di sepanjang Kota
Sentani, Abepura, dan Jayapura juga sepi. Memang ada kendaraan yang lalu lalang
namun bisa dihitung dengan jari, tak seramai seperti biasanya. Ketua panitia
pelaksana syukuran, Timotius Murib, mengaku, warga yang datang mengikuti acara,
baik undangan maupun simpatisan, mencapai ribuan orang. “Warga masyarakat yang
hadir ini jumlahnya mencapai ribuan
orang,” kata Timotius saat menyampaikan laporan panitia.
Jumlah babi yang disembelih untuk disantap bersama
dalam acara tersebut sebanyak 2.000
ekor. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli babi sekitar Rp20 juta per ekor.
Hitung-hitung, panitia menghabiskan anggaran sebesar Rp40 miliar. Jumlah kolam susunan bakar batu pun tidak
seperti biasanya. Susunan batu panjangnya mencapai ratusan meter dan jumlah kolam
ratusan buah pula. “Jumlah kolam dan susunan batu sekitar 200,” kata salah satu
pemuda yang berusaha menghitung.
Peristiwa ini sungguh di luar kebiasaan. Orang dari wilayah
gunung yang dikenal dengan tradisi bakar batu, tidak pernah menyelengarakan
pesta babi sebesar itu. Pesta kemenangan ini melampaui pesta ala gunung. Orang gunung akan mengerti fakta ini dengan
baik, bila dihubungkan dengan pesta perayaan hidup orang Papua bersama seorang
pemimpin. Orang gunung juga akan mengerti, bagaimana layaknya.
Kebanyakan orang, kagum bercampur heran. Pasangan Lukas
Enembe – Klemen Tinal (Lukmen) benar-benar seorang pemimpin yang merayakan
kemenangan. Lukmen mulai menunjukkan wibawa pemimpin gunung. Wibawa pemimpin,
menurut orang Papua, biasanya terletak pada keberanian, kemenangan dalam
pertarungan dan menyelenggarakan pesta kemenangan. Wibawa pemimpin terbukti
dalam diri Lukas Enembe bersama Kelemen Tinal. Lukmen telah berani mengambil
satu langkah dalam pesta demokrasi di Papua. Keberanian mereka telah
mengalahkan lawan-lawan politiknya saat bertarung dalam pesta demokrasi.
Kedua pasangan ini berhasil mengantogi 52 % suara, usai
pemilihan umum (pemilu). Lukmen menutup kemenangan itu dengan pesta babi.
Dengan pendapat berbeda dan sepihak, acara tidak berlebihan, berdasarkan
pandangan dan wibawa pemimpin orang gunung.
Lukmen telah memecahkan rekor pesta babi yang terbesar dan tercatat
sebagai sejarah baru di Papua.
Pesta ini akan susah dilupakan banyak orang. Syukuran
itu merupakan sejarah yang sulit ditelan waktu. Waktu terus berganti. Waktu pula
yang akan menguji Lukmen. Bisa jadi
sejarah atau eforia kemenangan itu cuma sesaat. Bisa jadi juga, keberhasilan
sesungguhnya yang didambakan rakyat Papua, tak dirasakan. Komitmen, ungkapan
dan tindakan Lukas dan Klemen memimpin Papua selama lima tahun akan teruji oleh
sang waktu.
Sejarah baru yang ditoreh Lukmen diharapkan tidak berhenti
pada eforia belaka. Sebaliknya, pesta ini benar-benar menjadi pesta demokrasi
rakyat Papua. Pesta ini juga betul-betul menjadi awal persatuan, awal kekuatan rakyat Papua
untuk membangun Papua sesuai visi “Papua bangkit, mandiri dan sejahtera” yang
diusung sebelum pesta demokrasi berlangsung.
Papua bangkit, mandiri dan sejahtera perlu terjemahan
mendalam, detail dan tepat sasaran. Kebangkitan tidak hanya kebangkitan orang
gunung, pesta bakar batu, melainkan lebih dari itu. Kebangkitan mesti lebih
mengarah pada kebangkitan semua orang Papua, kebangkitan pun harus lebih pada
kekuatan fisik dan mental orang Papua. Kekuatan otot dan mental orang Papua
mesti bangkit. Otot orang Papua harus mampu mengolah seluruh potensi alamnya. Kekuatan
mental orang Papua menjadi sumber berpikir, merancang, mengolah dan menjadikan
diri dan negerinya betul-betul menjadi berkat bagi orang lain.
Eksplorasi kekuatan otot dan mental orang Papua butuh
persiapan. Orang Papua butuh pendidikan kejuruan, keahlian dan lebih dari itu
ilmuwan yang merancang dan mengolah alam untuk membangun negerinya. Karena itu,
tidak salah, tidak berlebihan, kalau kebangkitan Papua itu dimulai dari persiapan sumber daya
manusia Papua. Persiapan harus dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dari
kampung ke kota, dari gunung ke pantai, anak pejabat sampai anak non-pejabat,
dari orang tua sampai anak-anak.
A. Pemimpin Fenomenal di Tanah Papua
Tidak bisa dipungkiri, kemenangan pasangan Lukas Enembe
- Klemen Tinal pada pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) Provinsi Papua adalah
kemenangan yang fenomenal. Betapa tidak, pasangan dari kawasan gunung ini mampu
meraup 52 persen suara yang masuk. Dapat dikatakan kemenangan fenomenal ini
sebagai kemenangan rakyat Papua. Kemenangan yang juga dibuktikan dengan
kedewasaan berdemokrasi, di mana seluruh tahapan Pemilukada secara umum
berlangsung aman, tertib dan lancar. Raihan 52 persen pun merupakan bukti bahwa
rakyat menginginkan keduanya memimpin menuju Papua bangkit yang damai, mandiri
dan sejahtera.
Bila mengingat kembali rekam jejak sosok Lukas Enembe,
figurnya tidak asing lagi bagi segenap warga masyarakat di Provinsi paling
timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu. Pasalnya, dengan penuh keberanian
dia mencalonkan diri maju ke Pemiluka Provinsi Papua pada tahun 2006 bersaing melawan
petahana (incumbent) yang begitu
kuat. Sejak itu pula nama Lukas Enembe mulai dikenal, apalagi saat itu putra
kelahiran Distrik Mamit, Kabupaten Tolikara, itu mampu bersaing ketat dengan
pasangan petahana Barnabas Suebu - Alex Hasegem yang memenangi Pemilukada 2006.
Bahkan, menurut rumor yang berkembang waktu itu, pasangan Lukas Enembe - H
Arobi Ahmad Aituraw sebetulnya tampil sebagai pemenang Pemilukada Gubernur,
namun dicurangi. Sekali lagi itu sebatas rumor.
Meski Pemilukada sarat aroma kurang sedap, tapi hati legowo
dan berlapang dada, Lukas Enembe menerima kekalahan itu. Sejak menerima kekalahan dengan ikhlas, sejak itu
pula Lukas Enembe mempersiapkan diri untuk kembali tampil menjadi kandidat lima
tahun berikutnya. Dia pun mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan buat mencapai apa yang dicita-citakannya itu.
Salah satunya partai politik yang akan menjadi tunggangan menuju ke sana. Lukas
Enembe pun dipercaya memimpin kepengurusan daerah Partai Demokrat Provinsi
Papua. Partai yang relatif baru, partai yang lahir dari ibu kandung reformasi.
Tentu memimpin Partai berlambang bintang mersi yang
saat itu berkuasa, di mana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pendiri
menjadi Presiden, sangatlah tidak mudah. Memang Demokrat tengah berada di atas
angin namun tidaklah gampang mematahkan dominasi partai berlambang beringin
(Golkar) di Bumi Cenderawasih yang telah mengakar demikian dalam. Pasti SBY
punya alasan yang sangat mendasar dan kuat menyerahkan kepemimpinan partai
kepada sosok muda dari wilayah Pegunungan Jaya ini. Demokrat melihat sosok
Lukas Enembe sebagai satu potensi yang luar biasa dan merupakan calon pemimpin
Papua masa depan.
Setelah memimpin Demokrat Provinsi Papua, dalam sebuah
percakapan dengan sejumlah jurnalis hingga larut malam di Warung Tenda Ikan
Bakar di Jalan Pasifik Permai Ruko Dok II Jayapura, Lukas Enembe bercerita, Menteri
Dalam Negeri (waktu itu) Mohammad Ma’ruf yang juga salah satu kader Partai Demokrat
di Kabinet, memintanya untuk memimpin Demokrat Papua. “Pak Lukas, kamu pimpin Demokrat
Papua ya, karena potensi yang kamu miliki sangat besar sebagai pemimpin,” ujar
Lukas Enembe menirukan perkataan sang menteri kala itu.
Dipercaya menjadi ketua umum Partai Demokrat di Papua, jelas,
salah satu modal utama menuju pemimpin Papua telah terpenuhi. Namun itu saja belum
cukup, popularitas dan pengabdian yang diiringi integritas harus tetap terjaga
secara konsisten sebelum mencapai puncak tangga. Lukas Enembe kemudian
mencalonkan diri sebagai Bupati Kabupaten Puncak Jaya. Tentu bagi rakyat Puncak
Jaya, Lukas Enembe bukan sosok yang asing lagi. Sebab, sebelum mencalonkan diri
menjadi gubernur yang pertama kali, di sinilah tempat pengabdiannya dengan
menjabat wakil bupati. Lukas menjabat Wakil Bupati Puncak Jaya periode
2001-2006.
Lalu tahun 2007, berpasangan dengan Henock Ibo yang
ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Puncak Jaya,
Lukas Enembe memenangkan Pemilukada Bupati Puncak Jaya. Dia pun resmi menjabat Bupati
Puncak Jaya periode 2007-2012. Pengabdiannya kepada rakyat kembali berlanjut,
sembari memimpin Partai Demokrat Papua.
Merasa modal untuk menjadi pemimpin Papua tidak cukup
dengan hanya memimpin partai, popularitas, pengabdian kepada rakyat, Lukas
Enembe kemudian membangun infrastruktur partai hingga ke akar rumput. Salah
satu infrastruktur yang dibangun adalah menyiapkan kader Partai Demokrat
sebagai kepala daerah (terutama bupati).
Perlahan namun pasti, satu demi satu Partai Demokrat
berhasil menempatkan kadernya sebagai bupati di sejumlah kabupaten di Provinsi
Papua. Di tengah upaya membangun infrastruktur dengan menempatkan kader Demokrat
sebagai bupati, datang agenda Pemilu Legislatif 2009. Untuk sementara waktu konsentrasi
dialihkan ke Pemilu legislatif dan Pilpres. Pada legislatif, Partai Demokrat
Papua mampu menempatkan kadernya di DPR Papua sebanyak sembilan kursi. Tentu
pencapaian yang luar biasa. Sebab, pada Pemilu sebelumnya (2004) Partai Demokrat
hanya mampu menempatkan kadernya sebagai legislator di DPR Papua sebanyak empat
orang. Untuk kursi DPR RI juga mampu meraih tiga kursi, padahal pemilu
sebelumnya hanya menempatkan satu kursi. Dan sudah barang tentu untuk tingkat
kabupaten/kota banyak kader Demokrat tampil sebagai legislator.
Pencapaian itu membuat popularitas Lukas Enembe semakin
melambung. Bahkan, mengidentikkan Lukas Enembe adalah Demokrat Papua, Demokrat
Papua sama dengan Lukas Enembe. Pasca Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009, Partai
Demokrat Papua kembali berkonsentrasi untuk menempatkan kadernya di kursi
bupati. Hasilnya, kerja keras Lukas Enembe yang selalu memegang motto “memanusiakan
manusia” itu sangat luar biasa. Dalam tempo sekitar tiga tahun, Partai Demokrat
mampu menempatkan kadernya sebagai kepala daerah di 23 kabupaten dari 29
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Papua. Dominasi Partai Golkar selama
berpuluh-puluh tahun mampu dipatahkan partai berlambang bintang mersi itu.
Dengan sejumlah modal yang cukup meyakinkan --memimpin
partai politik, memilki infrastruktur partai yang kuat, popularitas serta
pengabdian kepada rakyat yang tiada henti-- Lukas Enembe merasa optimis untuk
melenggang maju menjadi calon gubernur.
Kendati sudah memiliki segalanya sebagai modal buat mencalonkan diri
sebagai gubernur Papua, Lukas Enembe tetap bersikap rendah hati, murah hati,
familiar, bersahabat, dan egaliter kepada semua masyarakat tanpa pernah
memandang strata atau jabatan.
Lukas Enembe kemudian memilih pasangan yang tak kalah
popular dan dikenal masyarakat, yakni Bupati Mimika, Klemen Tinal, yang juga
anak gunung alias anak koteka. Sebelum Klemen Tinal memutuskan berpasangan
dengan Lukas Enembe, dalam sebuah percakapan di Hotel Aston Jayapura 2011, dia
menanyakan siapa figur yang kuat sebagai calon gubernur kepada seorang jurnalis
Tempo, Cunding Levi, dan dijawab
bahwa figur Lukas Enembe (dengan berbagai alasan). Tak berselang lama, pasangan
Lukas Enembe dan Klemen Tinal kemudian mendeklarasikan diri sebagai pasangan calon
gubernur dan calon wakil gubernur.
Optimisme pun terus ditunjukkan Lukas Enembe, ketika
masa jabatannya sebagai Bupati Puncak Jaya berakhir 2012, dia tidak lagi maju
mencalonkan diri, namun lebih berkonsentrasi mempersiapkan diri sebagai calon
gubernur. Lukas Enembe juga memberikan dukungan kepada wakilnya Henock Ibo untuk maju mencalonkan
diri sebagai Bupati Puncak Jaya, hingga akhirnya terpilih.
Ya, Lukas Enembe datang memimpin Tanah Papua dengan
segenap kekuatan modal sosial, infrastruktur partai, dan penuh perhitungan
matang. Dan tampillah sosok Lukas yang fenomenal menarik hati rakyat Papua,
baik yang berada di gunung, lembah maupun pantai.
B. Putera Matahari yang Mengubah
Konstelasi Politik
Sejarah mencatat menjelang pemilihan umum (eksekutif
dan legislatif), biasanya salah satu isu yang banyak berkembang adalah wacana
orang Papua gunung dan orang Papua pantai. Sementara itu isu gunung dan pantai
ini pada dasarnya rawan konflik karena muncul pengkotak-kotakan dan akan
menjadi bumerang antara orang Papua sendiri, terpilihnya pasangan Lukas Enembe
dan Klemen Tinal sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua periode 2013-2018
mencairkan isu gunung dan pantai itu. Tak ada lagi perbedaan antara orang Papua
gunung dan orang Papua pantai. Semua memiliki hak yang sama untuk dipilih dan
terpilih buat memimpin wilayah Tanah Papua.
Hal ini tidak terlepas dari sosok Lukas Enembe yang
aktif meredam isu ini demi kebaikan orang Papua dan kemajuan Tanah Papua
sendiri. Lukas terus membangun opini bahwa Papua itu bukan antara gunung dan
pantai tapi satu kesatuan masyarakat yang ingin membangun Papua secara bersama-sama.
Papua yang bangkit, mandiri dan sejahtera rakyatnya secara adil.
Pilkada Papua 2013 memang menghadirkan satu perubahan
konstelasi politik di Tanah Papua. Selain cairnya isu orang gunung dan orang
pantai, partai politik pun terpecah dalam mengusung calon gubernur. Partai
Golkar misalkan, menampilkan mantan Walikota Jayapura MR Kambu dan Welington
Wenda yang ketika itu menjabat Ketua DPC Golkar Kabupaten Pegunungan Bintang.
Tampil pula beberapa calon dari jalur perseorangan alias independen.
Menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)
Gubernur Papua yang seharusnya berlangsung tahun 2011, berbagai spanduk dan
baliho dari calon gubernur (Cagub) Papua bermunculan dan dipasang di
sudut-sudut kota hingga kampung-kampung seluruh Tanah Papua. Tak ketinggalan
para Cagub memburu partai politik sebagai kendaraan politik yang harus mencapai
15 persen untuk bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.
Pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur
dari partai politik yang dijadwalkan berlangsung pada 13-20 Juni 2011 berubah
menjadi tanggal 21 Juni – 28 Juni 2011. Hal ini disesuaikan dengan Data
rekapitulasi Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) Provinsi Papua yang
diperkirakan sebanyak 2.154.493 juta jiwa, dari jumlah penduduk Papua yang
berjumlah 3.153.981 juta. Data DP4 ini telah diserahkan oleh Gubernur Papua
kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua
Di awal-awal masa pendaftaran itu, calon independen
tampaknya bebas hambatan. Mereka tinggal menunggu hasil verfikasi faktual
hingga tingkatan KPUD Kabupaten/kota sejak didaftarkan secara resmi.
Pendaftaran calon indedenden sendiri telah dilangsungkan sejak 26 - 29 April 2011.
Sebanyak tiga pasangan independen resmi mendaftarkan diri untuk maju dalam
pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur. Mereka adalah Drs. Wellington Wenda -
Ir. Weynand Watori, DR. Noakh Nawipa - Johanes Wop, serta Dr. Jhon Karubaba -
Sipora Modouw. Ketiga pasangan ini mendaftar di hari terakhir pendaftaran,
yakni Jumat, 29 April 2011.
Tentang calon independen yang mencapai tiga pendaftar
ini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komisi Nasional Pilkada Independen
Indonesia, Yislam Alwini, mengatakan kehadiran calon independen adalah hal yang
wajar dalam sebuah pesta demokrasi. Ini menunjukkan dukungan dari rakyat yang
akan dibuktikan dengan pelaksanaan verifikasi administrasi dan verifikasi
faktual.
"Jika hari ini dengan antusias warga masyarakat
mendukung pasangan independen, maka rakyat menginginkan adanya perubahan lewat
calon independen. Hal ini tidak salah dan tidak bertentangan dengan aturan.
Karena demikian putusan Mahkamah Konstitusi nomor 5/PUU-V/2007 tentang
diperbolehkannya calon independen, seperti salah satu walikota di Aceh yang
walikotanya merupakan calon independen," papar Yislam Alwini.
Mengenai calon independen masih menjabat kepala daerah,
Ketua KPU Papua, Benny Sweny, mengatakan bahwa yang bersangkutan harus
melaporkan ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) terlebih dulu, sehingga waktu
kampanye, calon tersebut ambil cuti. “Jadi Bupati tidak undur dari jabatannya,
hanya izin cuti saat 14 hari kampaye. Artinya, siang dia bisa kampanye,
sementara malam hari bisa kembali lagi menjadi Bupati,” jelas Benny.
Terlepas dari calon independen, beberapa calon gubernur
terus "merayu" partai politik dengan mendaftarkan dirinya sekaligus
memaparkan visi-misinya. Pada Rabu (25/5/2011) misalkan, Mantan Walikota
Jayapura, M.R. Kambu, memaparkan visi-misinya di hadapan panelis koalisi Partai
Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Kemudian
menyusul Michael Manufandu (Duta besar Indonesia - Kolombia) ikut mendaftar
dalam waktu yang berbeda di hari yang sama. Setelah itu, pada Kamis (26/5/2011),
Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, ikut mendaftar dan mengikuti proses yang
dijalani pendaftar sebelumnya.
Ketua DPW Partai Bintang Reformasi (PBR) Provnsi Papua,
Ibu Yanni, menegaskan bahwa PBR dan Gerindra tidak bisa memutuskan, karena harus
melalui mekanisme Partai. Artinya, setelah proses pendaftaran dan penjaringan,
selanjutnya akan dilaporkan dan dikonsultasikan ke DPP PBR dan Gerindra. Karena
DPP yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. “Sebab itu kepastian
figur juga ditentukan oleh modal politik dari bakal calon, guna memenuhi syarat
pencalonan, setara dengan 9 kursi di DPR Papua atau 15 persen suara, sehingga
bisa menambah suara yang tersisa dari kuota kami," tandas Ibu Yanni.
PBR Papua sendiri memiliki 3 kursi dan DPD Partai
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Papua memiliki 1 Kursi di DPR
Papua. Ini belum mencukupi 15 persen syarat minimal pencalonan, sehingga
dibutuhkan koalisi dengan partai lain yang dibawa juga oleh para bakal calon
yang ikut seleksi.
Berbeda dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hati
Nurani Rakyat (Hanura) yang secara resmi telah mengusung mantan Walikota
Jayapura, MR Kambu. Walau begitu Kambu masih harus mencari dukungan partai
lainnya sebagaimana yang terjadi saat mendaftar ke koalisi Gerindra dan PBR.
Dari calon-calon yang tampil terdapat kader-kader
Partai Golkar, seperti MR Kambu yang saat itu menjabat sebagai Dewan Penasihat
Partai Golkar Kota Jayapura. Welington Wenda juga Ketua DPC Golkar Kabupaten
Pegunungan Bintang, maju menjadi calon Gubernur Papua lewat jalur independen.
Nama lainnya dari Partai Golkar adalah Habel Melkias Suwae selaku Ketua DPD
Partai Golkar Papua yang juga masih menjabat sebagai Bupati Kabupaten Jayapura.
Demikian pula Klemen Tinal yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Mimika
dan Alex Hesegem yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua.
Jika para Cagub Papua tersebut sibuk mencari
"perahu" politiknya untuk maju Pilgub Papua, berbeda dengan Lukas
Enembe yang berposisi sebagai Ketua Partai Demokrat Papua. Partai bentukan
Presiden (waktu itu) Susilo Bambang Yudhoyono itu sepakat menunjuk Lukas
sebagai calon tunggal pada Pilgub 2011, sekaligus Partai Demokrat sudah
mengikat kerja sama dengan 10 partai pada pemilihan gubernur Papua. "Kami
sudah sepakat berkoalisi dengan 10 partai yang memiliki kursi di DPR Papua
untuk mengusung calon gubernur," kata Ketua DPD Partai Demokrat Papua,
Lukas Enembe, ketika itu. Menurutnya, dukungan 10 partai membuat Demokrat makin
luar biasa. Paling tidak Demokrat sudah mengantongi 36 kursi di DPR Papua.
"Lihat saja, selama ini banyak figur yang mengaku
siap maju dalam Pilkada Papua, tapi mereka semua belum jelas partai
pengusungnya, maka jangan dulu bohongi rakyat," tandas Lukas.
Selain Demokrat yang berkoalisi dengan 10 partai
politik, ada pula Koalisi Demokrasi Papua (Kode Papua) yang terdiri dari 16
gabungan Partai Politik. Meskipun telah menyepakati seorang figur calon
Gubernur Papua untuk bertarung dalam Pemilihan Gubernur Papua mendatang, namun koalisi
ini cukup alot dalam memilih figur calon gubernur yang diusung. Uniknya,
koalisi ini menjaring 8 nama calon Wakil Gubernur terlebih dulu, yakni
Komarudin Watubun, Paskalis Kossay, Naftali Yogi, dr. Alo Giay, Ali Kastela,
Umar Bauw, Aroby Ahmad Aituarauw, dan Moh. Musa’ad. Untuk cagub, Kode Papua
telah mendekati Barnabas Suebu sebagai kandidat Cagub yang diusung maju Pilgub
Papua 2011.
Barnabas Suebu sendiri, meski saat itu belum memutuskan
apakah akan maju kembali sebagai Gubernur Papua untuk ketigakalinya, namun dia
telah menunjukkan sinyal bahwa dirinya berkeinginan maju kembali.
"Saya telah menerima surat dari Mahkamah Agung
(MA) bernomor 20/P.TS/III/2011/18P/Hum/2011, tanggal 18 Mei yang isinya
mengabulkan seluruh permohonan kami, yakni bahwa Konstitusi RI dan UU Otsus
tidak melarang saya untuk mencalonkan diri kembali sebagai Gubernur Papua atau
dengan kata lain, saya masih memiliki hak konstitusional untuk mencalonkan diri
sebagai Gubernur Papua, meskipun untuk ketiga-kalinya," ujar Gubernur
Suebu, saat tatap muka dengan pers pada akhir Mei 2011.
Setelah melalui berbagai tahapan Pilkada, tampillah tujuh
pasangan bakal calon. Empat pasang dari jalur partai politik, yakni pasangan Lukas
Enembe - Klemen Tinal, pasangan MR Kambu - Blasius Pakage, pasangan Alex
Hasegem - Marthen Kayoi, dan pasangan Habel Melkias Suwae - Yob Kogoya. Lalu
tiga pasangan independen, masing-masing pasangan Wellington Wenda - Weynand Watori, pasangan Noakh
Nawipa - Johanes Wob, dan pasangan John Karubaba - Willem Magay. Dan ketujuh
pasangan tersebut lantas bersaing merebut hati rakyat Papua pada Pilkada yang
berlangsung tanggal 29 Januari 2013.
Bagi orang Papua, Lukas Enembe laksana ikon orang
gunung. Dia adalah perintis anak koteka menjadi tuan di tanahnya. Namanya mulai
mencuat tatkala dirinya mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua pada Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Papua periode 2006–2011.
Selama ini, peta perpolitikan di Papua selalu didominasi orang dari daerah pesisir
pantai. Lukas Enembe ingin membuka tabir bahwa orang gunung yang dikenal pemalu
bisa maju di arena politik, dan dia bertekad kuat menunjukkan bahwa sesungguhnya
hak politik orang gunung itu sama dengan yang lainnya.
Bukan kursi gubernur semata-mata yang ingin diraihnya.
Tetapi ada banyak muatan kepentingan bagi harkat dan martabat orang gunung itu
sendiri. Maklum, orang gunung yang umumnya tinggal di pedalaman Papua ini
memang dianggap sebagai orang bodoh, terbelakang, pemabuk dan selalu membuat
onar, belum lagi stigmatisasi separatis (OPM) selalu melekat pada orang gunung.
Sungguh pemandangan tak enak dilihat dan pemandangan tersebut adalah
pelanggaran HAM.
Bagi Lukas Enembe, orang gunung masih tertinggal dan
ditinggalkan dalam segala aspek kehidupan baik politik, ekonomi, budaya,
pendidikan maupun pembangunan. Yang lebih penting lagi, dia mengajak agar orang
gunung lebih memihak kepada realitas, bergabungnya Papua ke dalam NKRI adalah
kehendak Tuhan.
Mungkin ini
sepenggal kalimat yang pernah diucapkan Lukas Enembe saat masih menjadi
Bupati Puncak Jaya. “Mari lupakan masa lalu, melalui otsus ini mari kita
sama-sama bangun Tanah Papua, orang gunung kalau mau pintar harus sekolah, kita
harus punya ilmu sebab kualitas manusia bukan ditentukan oleh warna kulit
melainkan ilmu yang bermanfaat, mari berpikir bagaimana kita orang gunung bisa
terlibat dengan saudara-saudara lain di tanah ini untuk membangun bangsa,” kata
Lukas Enembe.
Enembe juga mencatat, sejak integrasi dengan RI sampai
saat ini, belum pernah orang gunung diberi kesempatan memimpin daerah ini.
Sebab itu, Enembe bertekad mengambil langkah politik secara berani untuk
membangun dan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pegunungan sehingga mampu
berdiri sejajar dengan masyarakat Papua lainnya.
Lukas sempat terpilih secara aklamasi menjadi Ketua
Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah untuk masa periode 2010-2012 menggantikan
Bupati Tolikara DR (HC) Jhon Tabo, pada Rapat Asosiasi Bupati se-Pengunungan
Tengah, pada 22 Februari 2010. Asosiasi ini
terdiri dari Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Yahukimo, Puncak Jaya, Pegunungan
Bintang, Lanny Jaya, Yalimo, Mambramo Tengah, Nduga dan Kabupaten Puncak.
Indeks pembangunan manusia (IPM) di kawasan ini
terendah dari seluruh wilayah RI. Demikian pula dengan indeks kemahalan konstruksi
dan kebutuhan bahan pokok lainnya, tertinggi di Indonesia. Coba bayangkan saja harga
satu sak semen di Puncak Jaya mencapai Rp2 juta rupiah.
Lukas Enembe pernah menyampaikan usulan ini kepada
pemerintah pusat. Agar pemerintah pusat bersedia menetapkan kebijakan khusus
terkait pembangunan kawasan Pegunungan Tengah Papua.
Bagi Lukas, Pemerintah harus melakukan pembangunan infrastruktur
terpadu. Langkah ini untuk membuka isolasi wilayah tersebut dan meningkatkan
aksesibilitas sosial dan ekonomi masyarakat dari dan ke wilayah Pegunungan Tengah.
Secara tersirat, selama ini dana yang dibagikan melalui
Otsus tidak banyak berarti di kawasan ini. Harus ada pembangunan yang terpadu
dan terfokus sehingga ada hasil yang monumental bagi rakyat di sana. Besaran
alokasi dana infrastruktur Otsus dari Pemprov Papua disesuaikan dengan tingkat
spesifik wilayah Pegunungan Tengah. Sebab, kawasan tersebut memang memiliki
kekhususan tersendiri dibandingkan wilayah yang lain.
“Kami berharap dana Otsus tidak dibagikan tanpa program
yang jelas ke setiap daerah. Misalnya saya menerima Rp42 miliar. Dana sebesar
itu di Puncak Jaya hanya cukup buat membangun dua jembatan dan itu tidak
terlalu berarti. Harusnya, Pemprov memiliki program yang fokus, seperti membuka
akses jalan pelabuhan laut wilayah kami sehingga daya beli masyarakat Papua
bisa terwujud jika ada akses transportasi,” ungkap Lukas Enembe.
Kini Lukas Enembe bisa bebas mewujudkan pembangunan
Papua yang merata baik gunung maupun pantai. Wilayah gunung yang selama ini
nyaris tak tersentuh, di saat dirinya menjadi Gubernur Papua, tentu akan
menerima sentuhan pembangunan yang berarti.
C. Kekuatan Rakyat dan Gereja sebagai
Kekuatan Utama
Banyak harapan ditujukan ke pundak Gubernur Lukas
Enembe untuk membawa Papua yang lebih berpengharapan. Salah satunya datang dari
Ketua Persekutuan Gereja Baptis Papua,
Pdt. Socratez Sofyan Yoman. Tokoh kritis yang pernah mengenyam pendidikan di
Philipina ini berharap Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal mampu
membangun Papua dengan melibatkan tiga pilar, yaitu Adat, Agama dan Pemerintah.
Menurut Socrates Sofyan, pilar Adat merupakan pemberian
Tuhan, di mana Tuhan memberikan orang
adat pertama-tama untuk menempati suatu daerah dan itu anugerah. Pilar Agama (Gereja)
eksis lantaran ada orang adat. Gereja datang ke tengah-tengah orang adat.
Sedangkan pilar ketiga adalah Pemerintah yang masuk ke
tengah-tengah wilayah adat dengan kepentingan-kepentingan yang berbeda. Dengan
demikian, kata Socrates, duet Lukas Enembe dan Klemen Tinal harus benar-benar
membangun orang Papua dari tiga pilar tadi, karena ketiga pilar ini saling
berhubungan, untuk diberikan perhatian.
Ketiga kekuatan itu, menurutnya, sangat penting untuk
mendukung kemajuan pembangunan di Provinsi Papua. Jika tiga unsur itu bersama
bergandengan tangan, maka pembangunan di Papua akan cepat maju. Bila tidak bergandengan
dan saling mendukung, maka pembangunan awal yang sedang berjalan akan
tersendat.
Sebab itu, Lukas harus mampu menggerakkan seluruh tokoh
masyarakat, tokoh agama dan kalangan aparatur pemerintah, untuk selalu saling
mendukung demi kemajuan pembangunan wilayah Provinsi Papua.
Papua tidak akan maju jika tiga kekuatan utama ini
tidak saling mendukung. Sebagai pemimpin di daerah ini, Lukas harus terus
menggugah dan memberdayakan agar tiga unsur itu senantiasa merapatkan barisan demi
kebangkitan Papua.
Membangun Papua
sesungguhnya tidak susah manakala komunikasi tiga tungku --adat,
pemerintah dan agama-- ditempatkan sebagai tiga aras yang mampu menumbuhkan
partisipasi dan terkoordinasi.
Pembangunan Tanah Papua tanpa melibatkan peran ketiga tungku
tersebut justru akan memudarkan tingkat partisipasi warga masyarakat. Belajar dari pengalaman sekitar 14 tahun
implementasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua, komunikasi dan partisipasi
masyarakat mengalami pengabaian dan
kemampatan. Padahal, pelibatan tiga tungku tersebut justru menjadi kunci kekuatan membangun Papua
yang sesungguhnya tidak sulit.
Penghalang utama pembangunan Papua adalah tersumbatnya saluran
komunikasi yang melemahkan partisipasi publik. Pembangunan infrastruktur
pendidikan dan kesehatan mengabaikan pelibatan tiga tungku tersebut. Pemerintah
Provinsi Papua (di bawah kepemimpinan Lukas Enembe) perlu bertanya, kira-kira
di mana lokasi yang tepat untuk membangun Puskesmas dan sekolah.
Pemerintah punya fasilitas, punya kewenangan, namun
realitas terabaikannya fungsi tiga Tungku tersebut telah melemahkan partisipasi,
lantas pembangunan infrastruktur
dilakukan secara top down, bangun
sekolah dan puskesmas tanpa bertanya kepada rakyat di mana lokasi yang tepat sekolah
dan puskesmas akan dibangun, sehingga apa yang dilakukan dan dimiliki
pemerintah percuma --tidak termanfaatkan oleh rakyat.
Tak heran, terabaikannya komunikasi yang melemahkan
partisipasi berdampak terhadap pembangunan infrastruktur dalam arti luas.
Banyak infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang mubazir, banyak sekolah dan
puskesmas dibangun namun kemudian tak punya petugas, karena mereka meninggalkan
tugasnya. Tidak ada guru, tidak ada obat,
merupakan akibat dari sebuah prakarsa pemerintah tanpa melibatkan dua tungku
yang lain.
Sementara lembaga agama sebagai pihak yang paling dekat
dengan rakyat tidak mau terlalu banyak terlibat. Mengapa, persoalannya
kembali pada komunikasi. “Terjalinnya
komunikasi tiga Tungku yang intensif, sesungguhnya berdampak dalam membangun
Papua itu, justru tidak susah,” ungkap
Pendeta Socrates Sofyan.
Ada satu kisah pada era 1970-an di mana saat itu minim
fasilitas dan keterbatasan infrastruktur namun kalangan agama mampu bekerja
dengan rakyat tanpa uang, hanya bermodalkan kemauan dan partisipasi masyarakat
dengan mengoptimalkan tiga tungku.
Belajar dari keterbatasan sumber daya pemerintah dulu, ada
gagasan terkait pembangunan tiga tungku yang diprakarsai mantan Bupati Jayapura, Barnabas Youwe. Youwe yang lebih dulu menggagas pembangun tiga tungku,
yang dulu berlaku namun sekarang hilang dan akan dihidupkan kembali oleh generasi
pemerintahan era otsus.
Di era otsus, Lukas ingin Pemerintah tidak cenderung
sibuk dengan proyek-proyek. Gagasan pemerintah untuk memberdayakan
masyarakat dalam program Respek yang telah dimulai mantan
Gubernur Barnabas Suebu akan dilanjutkan. Inilah model sekaligus program yang
dijalankan dalam rangka pemberdayaan itu sendiri, agar rakyat itu berdaya. Namun belum semua pihak punya pemahaman yang sama untuk memberdayakan
rakyat di Papua. Sebab itu, pembangunan Papua
ke tingkat basis, butuh persepsi yang sama, bukan popularitas.
Membangun
infrastruktur dan manusia Papua itu perlu disertai landasan hati dan
kasih. Dengan demikian akan memunculkan partisipasi. Gubernur harus mampu menggali
dan mengenali potensi daerah.
Lukas ingin memetakan potensi wilayah Papua dengan
melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para bupati. Dia ingin
memaksimalkan potensi wilayah di masing-masing kabupaten hingga potensi itu
saling melengkapi.
D. Gemas
dari Lukas Enembe
Ketika memulai memimpin Provinsi Papua, Lukas Enembe langsung
bergerak membawa orang Papua yang ingin maju di segala sektor. Untuk itu, orang
Papua harus mengubah mindset (pola
pikir).
Menurut dia, untuk mengubah masyarakat Papua ke arah
yang lebih baik, maka mindset orang
Papua tidak dapat dipaksakan, tetapi orang Papua sendiri harus sadar untuk
mengubahnya sendiri. Mindset orang
Papua diubah bukan karena kebijakan anggaran, tapi harus atas kesadaran dari dalam
diri sendiri.
Dia menjelaskan, sebagai orang Papua, harus sadar bahwa
daerahnya mempunyai kekayaan alam yang bisa dikelola dan dapat dimanfaatkan
untuk kesejahteraan dan pendapatan warga masyarakat. Selain itu, juga harus
diubah pola pikir orang Papua yang rata-rata masih bersifat konsumtif. Untuk
itu, ada indikator keberhasilan di Kabupaten-Kota, yang terkait dengan pola
pikir orang Papua.
Dalam artian ada indikator kebijakan anggaran yang
dilakukan para bupati dan walikota di kabupaten/kota, yang fokus pada rumusan
umum tentang bagaimana agar tidak ada anak usia sekolah yang buta huruf dan
buta aksara serta mempunyai gizi baik.
"Indikator itulah yang dapat membuat perubahan
pola pikir orang. Karena pendidikan adalah kunci utama bagi masyarakat
Papua," tegas Lukas Enembe.
Dijelaskan, khusus untuk kebijakan pendidikan, mungkin
di tingkat dasar Papua sedikit tertinggal. Tapi, untuk para pemuda Papua yang
sudah masuk di bangku perguruan tinggi, menurutnya, sudah tertangani secara baik
oleh para bupati.
"Di tingkat SD dan PAUD tidak terurus secara baik.
Secara otomatis hal ini mempengaruhi pendidikan dan akan mengubah pola pikir
orang Papua," ujar Gubernur yang pernah mengenyam pendidikan di Australia
ini.
Seperti diketahui dalam program Gerbang Mas Hasrat
Papua, yang menjadi program andalan Pemprov Papua, fokus pertama adalah Gemas
Papua (Generasi Emas Papua), yang akan diprioritaskan pada tuntas buta aksara,
tuntas wajib belajar sembilan tahun, program jaminan 1.000 hari pertama
kehidupan untuk memberi jaminan kualitas pelayanan kesehatan dan asupan gizi
dari sejak janin dalam kandungan sampai dengan dua tahun pascakelahiran,
peningkatan prestasi olahraga dan seni budaya, serta pengembangan daya saing
sumber daya manusia Papua.
"Dari 1.000 hari kehidupan ini, di mana usia dua
tahun sudah bisa masuk PAUD. Kami bisa mencontoh seperti di Kabupatan Lani
Jaya. Ini sudah memasuki tahun kedua program di sana. Jadi si anak dua tahun
usianya sudah masuk PAUD. Ketika dia duduk di bangku SD sudah bisa membaca dan
menulis," jelas Lukas Enembe.
Menurut dia, inilah yang menjadi salah satu pondasi
yang luar biasa bagi orang Papua, yakni mulai dari lahir sampai usia dua tahun
dan seterusnya telah mengenal pendidikan sejak usia dini. "Untuk itu,
dalam visi misi Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera harus ada fase kebangkitan,
kemandirian, dan kesejahteraan, ini target yang kami kejar. Itulah sebabnya kami
lebih pada diskusi dan lebih pada keberhasilan yang telah dicapai,"
ujarnya.
Untuk menyiapkan SDM Papua yang berkualitas, pendidikan
menjadi kunci utama bagi Pemerintah Provinsi Papua, kebijakan pendidikan mulai
tingkat dasar harus dilakukan.
Sementara untuk birokrasi Papua, Gubernur Lukas mengharapkan
pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus betul-betul bangkit dan
mandiri. "Pimpinan SKPD yang harus kita cari untuk tiga tahun ke depan
adalah harus kerja keras. Sehingga tahun terakhir bisa melihat target yang
sudah dicapai selama ini. Sebab, tahun ketiga ini merupakan tahun untuk memulai,
berhasil-tidaknya memimpin selama lima tahun, itu yang paling utama,"
ujarnya. Sebab, kata Gubernur, jika pada tahun ketiga tidak berhasil atau
gagal, maka pada akhir jabatan nanti (2018) target itu tidak akan tercapai.
Sebuah pertaruhan reputasi seorang Lukas Enembe untuk
menggoreskan tinta emas di Tanah Papua. Sebuah pertaruhan bagi seorang Lukas
Enembe yang dipilih oleh 52 persen suara rakyat Papua. (*)
Komentar
Posting Komentar