Spirit Putri Junjung Buih dan Kearifan Lokal Masyarakat Seruyan



Hutan memberikan semuanya bagi mereka dan mereka menyadari bahwa hasil alam tidak bisa dieksploitasi besar-besaran hingga habis tak bersisa. Harus meminta izin kepala adat terlebih dahulu, menunggu petunjuk dari alam hingga memberikan persembahan pada lahan terpilih agar semua berjalan dengan lancar demi kebutuhan hidup mereka.
Ayal Kosal, demang tetua Desa Lahung, Loksado

Selain etika moral yang bersumber dan bersandar pada agama, di Indonesia juga terdapat kearifan lokal yang menuntun masyarakat ke dalam hal pencapaian kemajuan dan keunggulan, etos kerja, serta keseimbangan dan keharmonisan alam dan sosial. Kita mengenal pepatah lama ”gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit” dan “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” yang mengimplikasikan ajakan untuk membangun etos kerja dan semangat untuk meraih keunggulan. Dalam hal keharmonisan sosial dan alam, hampir semua budaya yang ada di Indonesia mengenal prinsip gotong royong dan toleransi. Dalam suku tertentu yang bermukim di pedalaman juga dikenal kearifan lokal yang bersifat menjaga dan melestarikan alam sehingga alam (misalkan kayu di hutan) hanya dimanfaatkan seperlunya, tidak dikuras habis-habisan.
Dengan sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang banyak, sepatutnya Indonesia telah menjadi negara besar yang maju. Namun, di tingkat Asia Tenggara saja posisi kita di bawah Singapura yang miskin sumber daya alam dengan luas wilayah lebih kurang hanya seluas Jakarta. Sumber daya alam yang melimpah di negeri ini kadang-kadang juga tidak menjadi berkah. Gas alam diekspor ke luar negeri dengan harga jual yang lebih rendah daripada harga jual untuk pasar dalam negeri. Hutan dieksploitasi secara luar biasa untuk mengejar perolehan devisa yang pada akhirnya hanya mendatangkan kerusakan ekosistem alam yang disusul dengan bencana (banjir dan longsor).
Kita sudah banyak melupakan kearifan lokal (local wisdom). Dalam kamus, kearifan lokal terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Menurut Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum, local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi, dikenal istilah local genius.
Gobyah (2003) mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat ataupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Menurut Caroline Nyamai-Kisia (2010), kearifan lokal adalah sumber pengetahuan yang diselenggarakan secara dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya.
Kearifan lokal menjadi dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat pedesaan. Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Cerita rakyat Putri Junjung Buih dapat dikatakan merupakan satu produk sastra yang menjadi kearifan lokal masyarakat Kalimantan Tengah umumnya dan Kabupaten Seruyan khususnya. Dalam cerita rakyat ini terkandung nilai-nilai kearifan lokal antara lain perjuangan, gotong royong, menolong sesama yang membutuhkan, dan kepatuhan kepada pemimpin.
Selain cerita rakyat, masyarakat  setempat masih memiliki sejumlah kearifan lokal yang sekarang nyaris terkikis oleh perkembangan zaman global yang amat rakus mengeksploitasi sumber daya alam. Beberapa kearifan lokal yang masih tersisa sampai sekarang di antaranya:

A.  Rumah Betang di Seruyan Hulu
Bila melancong ke wilayah Kecamatan Seruyan Hulu (dengan ibukota Tumbang Manjul) boleh jadi kita masih bisa menjumpai Rumah Betang –rumah tradisional Suku Dayak. Perhatikan bagaimana rumah betang yang rutin mengeluarkan kepulan asap lambat laun hilang di balik rindangnya dedaunan hutan tropis Kalimantan. Itulah pertanda denyut kehidupan tetap bergeliat di dalam hutan dan sisi Sungai Seruyan. Para ibu suku Dayak baru saja menyiapkan air kelapa untuk makan besar bersama.
Rumah panjang Suku Dayak ini biasanya terdiri lebih dari 50 ruangan dengan banyak dapur sehingga menjadikannya sebagai salah satu rumah terpanjang yang pernah dibangun. Meskipun rumah panjang tersebut terlihat sangat sederhana ternyata memiliki daya tahan luar biasa karena sebagian besar dibangun berabad-abad lalu.
Saat ini masih ada beberapa rumah betang kokoh berdiri berbahan kayu ulin (kayu besi) yang terkenal kuat. Rumah betang biasanya dibangun di atas tiang setinggi lima sampai delapan meter. Untuk masuk ke dalam rumah betang dipasang tangga (tangka) sederhana. Mengingat terkadang tangganya kurang kokoh, kita harus berhati-hati ketika menaikinya satu per satu.
Suku Dayak merupakan suku asli Kalimantan, pulau besar yang dikenal juga dengan nama Borneo. Suku Dayak menghuni dataran tinggi, pedalaman hutan, dan di sepanjang pinggiran sungai pulau ini. Mereka disegani karena keandalannya berburu di hutan dan saat ini suku Dayak pedalaman ini hidup dengan bertani, menghasilkan produk hutan, menenun, atau mengukir kayu.
Rumah panjang dikenal dengan nama lain betang atau lamin. Umumnya rumah adat ini terletak di pinggiran sungai dan dibangun di atas tiang yang kokoh agar terhindar dari banjir musiman. Sungai sangat berperan penting bagi kehidupan mereka lantaran berfungsi sebagai penyedia makanan dan minuman. Selain itu, tentu saja sebagai penghubung ke dunia luar.
Rumah panjang suku Dayak merupakan tempat tinggal yang dihuni beberapa keluarga inti. Untuk itu ada satu beranda yang digunakan sebagai tempat pertemuan, ritual, upacara, pertunjukan budaya, dan juga aktivitas umum lainnya. Hal yang menonjol dari kehidupan di rumah betang adalah nilai kebersamaan warga yang menghuni. Kita akan mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai berbagai perbedaan etnik, agama, ataupun latar belakang sosial.
Rumah panjang bukan hanya merupakan tempat perlindungan namun juga merupakan tempat terciptanya keharmonisan, kedekatan dan kebersamaan yang berkelanjutan antarpenghuni. Tapi, saat ini sebagian suku Dayak memilih untuk tinggal di rumah yang lebih kecil daripada sebuah rumah yang dihuni beberapa keluarga besar. Salah satu rumah panjang seperti ini dapat kita temukan di Tumbang Manjul, sebuah daerah dataran tinggi di Sungai Seruyan. Rumah panjang di sini memiliki puluhan bilik yang dihuni beberapa keluarga.
Di dalam rumah adat tersebut setiap keluarga diberikan tugas untuk mengurus keamanan bersama. Masing-masing harus terlibat dalam upacara dan ritual. Di rumah ini ada pula pembagian kerja namun lebih ditekankan pada kerja sama. Kendati demikian, perbedaan masih ada antara bangsawan dan rakyat jelata. Pemimpin diposisikan di tengah rumah, sedangkan kasta terendah diposisikan di dekat pintu masuk.
Di dalam Rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat bersama. Termasuk di dalamnya masalah kriminal atau berbagi makanan, suka-duka, sampai mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang.
Di rumah tradisional ini kita akan merasakan kebersamaan dan persaudaraan Suku Dayak. Apabila ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu pekan bagi semua penghuninya. Saat itu mereka tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan elektronik.
Rumah panjang atau betang tersebar sampai sekarang masih tampak di Seruyan Hulu atau di dataran tinggi sekitarnya. Rumah panjang ini sudah menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia dan penting untuk dilindungi keberadaannya.
Rumah Betang telah membentuk sistem nilai yang disebut Budaya Betang. Budaya Betang adalah sebuah filosofi kehidupan interaksi komunitas masyarakat yang mencakup kehidupan budaya, kerukunan, kebersamaan, kesetaraan, persatuan dan kesatuan di dalam komunitas masyarakat adat. Adapun istilah kehidupan dan interaksi sosial masyarakat lokal di antaranya:
1. Haruyung (habaring hurung) atau gotong royong.
2. Hapahkat dan bermusyawarah/ mufakat. Bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara yang dapat digolongkan besar (menyangkut kehidupan bermasyarakat). Tentu mufakat dalam hal memerlukan banyak orang untuk mengambil dan menetapkan keputusan.
3. Belom bahadat atau hidup berdasarkan adat istiadat. Masyarakat Seruyan dan Dayak pada umumnya sangat ketat menjalankan adat-istiadat yang telah berjalan turun-temurun. Dengan keyakinan mereka mampu menjalani kehidupan yang harmonis –baik dengan sesama maupun alam sekitar.
4. Handep atau saling tolong menolong secara timbal-balik. Pada kegiatan yang besar dalam artian tidak mampu dilakukan oleh satu keluarga, misalkan proses berladang (menilik, menebang, dan panen), maka diperlukan suatu kerjasama sesama warga masyarakat. Bentuk kerjasama dalam istilah handep adalah bila keluarga lain membantu pekerjaan keluarga yang bersangkutan maka keluarga yang dibantu harus membantu keluarga yang membantu dengan pekerjaan yang sama. Jika keluarga yang dibantu tidak dapat membayar “utang tenaga” pada keluarga yang telah membantu maka harus membayar dengan uang. Semua biaya operasional (konsumsi dan bahan bakar) ditanggung oleh keluarga yang melaksanakan kegiatan.
5. Hinjam atau kegiatan gotong royong sejenis dengan Handep namun jika tidak membalas pekerjaan yang dilakukan maka tidak ada utang tenaga. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan sukarela dan biaya konsumsi ditanggung oleh tuan rumah yang menyelenggarakan aktivitas.
Tampak jelas bahwa Rumah Betang lengkap dengan Budaya Betang menyimpan nilai-nilai kehidupan yang amat bermanfaat yang harus dilestarikan. Mulai dari nilai kebersamaan, gotong royong, harmoni sampai pembagian peran antar-penghuni. Di dalamnya juga tersembul nilai komitmen untuk menjunjung tinggi kesepakatan dan mematuhi siapa pun yang telah disepakati sebagai pemimpin. Nilai-nilai yang sudah barang tentu selaras dengan spirit dan nilai yang tersirat dan tersurat dalam cerita rakyat Putri Junjung Buih.

B.  Satiar, Aktivitas Masyarakat yang Mulai Hilang
Kearifan lokal yang juga memperkaya khazanah sosial–kultural masyarakat Seruyan dan sekitarnya adalah Satiar. Dalam Bahasa Ngaju, Satiar adalah sebuah aktivitas atau usaha masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan guna memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Aktivitas satiar biasanya dilakukan dalam jangka agak lama 1-3 bulan di lokasi hutan. Usaha ini bermacam-macam, di antaranya mengambil sumber daya alam di dalam hutan primer untuk dapat diuangkan atau dijual guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aktivitas satiar ini juga merupakan aktivitas usaha dengan memanfaatkan atau memungut hasil hutan yang dilakukan oleh komunitas masyarakat yang mengandalkan hutan untuk kehidupan di Kalimantan Tengah.
Saat ini, aktivitas itu sudah jarang lagi ditemui di kalangan masyarakat yang hidup di sekitar areal perkebuan kelapa sawit. Aktivitas satiar masih ada dan bertahan hanya di daerah dan komunitas masyarakat yang berada di daerah hulu sungai, seperti hulu Sungai Seruyan, Katingan dan Barito. Adapun hasil hutan yang diambil antara lain adalah:
Getah damar
Jenis usaha masyarakat dengan memanfaatkan atau mengambil getah jenis pohon damar dengan cara menyadap getahnya dari pohon damar.
Gaharu (Manggaru)
Gaharu dihasilkan dari pohon Aguilaria, hasil hutan non-kayu yang sempat menjadi booming pada tahun 1980-an. Mangaru merupakan sebuah pekerjaan di mana orang harus menebang pohon dan mengambil kulit. Harga kulit gaharu tergantung dari kualitas yang dihasilkan. Apabila kualitas yang baik, makanya harga mahal dan mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.
Getah nyatu
Getah nyatu berasal dari pohon Nyatoh. Pohon ini banyak tersebar di hutan-hutan pedalaman Kalimantan dan berdaya tahan tinggi (tidak cepat lapuk/ rusak). Produk getah ini digunakan untuk membuat barang-barang kerajinan tangan untuk dijual sebagai souvenir seperti perahu, patung, dan tempat pulpen.
Mangambil Rotan
Rotan merupakan komoditi utama bagi bagi komunitas masyarakat. Rotan ini ada yang di budidayakan (ditanam) dan ada juga yang diambil dari hutan seperti jenis rotan marou dan rotan Potik karena rotan ini memiliki daya jual yang tinggi yang kebanyakan digunakan untuk tikar dan tas.
Tengkawang
Buah tengkawang yang banyak mengandung lemak berasal dari pohon sejenis meranti (Shorea). Tumbuhan ini tergolong ke dalam famili Depterocarpacea. Minyak tengkawang merupakan bahan untuk pembuatan coklat, sabun, kosmetika, cat dan vernis. Beberapa jenis penghasil biji tengkawang adalah Sorea stenoptera, S. gysbertsiana, S. mertiana, dan S. Seminis.
Pantung (Mamantung)
Jenis usaha atau pekerjaan yang memanfaatkan atau mengambil karet dari jenis pohon pantung (Dyera costulata). Pohon pantung atau jelutong banyak terdapat pada rawa-rawa. Jenis pohon ini dulunya tidak dibudidayakan (ditanam) namun saat ini sudah banyak dibudidayakan oleh warga masyarakat. Jenis tanaman ini biasanya saling berkelompok dan tumbuh saling berdekatan antara batang yang satu dengan yang lainnya. Harga pantung biasanya lebih mahal daripada harga karet lokal
Gembor (Manggembor)
Jenis usaha ini hampir sama dengan pekerjaan mencari pohon gaharu yang mana harus menebang pohon gembor dan mengambil kulitnya. Bahan kayu gembor ini biasanya digunakan untuk kebutuhan dasar obat nyamuk, parfum dan wewangian.
Mambalok
Sebuah usaha masyarakat untuk memenuhi kebutuhan papan. Awal proses ini dilakukan menebang kayu yang potensial digunakan untuk menjadi bahan bangunan rumah seperti jenis kayu ulin, meranti, dan balangeran. Kemudian dibuat menjadi balok dan papan.
Mencari Madu
Aktivitas masyarakat di mana mengambil madu lebah pada sebuah pohon. Pohon madu atau biasa di sebut tanggeran merupakan sebuah pohon yang mana tempat lebah bersarang. Pohon ini dimiliki oleh orang yang pertama kali menemukan dan mengelolanya. Tanggeran biasanya memiiliki nama yang diambil dari nama lokasi atau nama orang yang pertama kali mengelola dan memanfaatkan pohon madu tersebut untuk mengambil madu.
Berburu
Berburu merupakan aktivitas menangkap hewan seperti babi, kijang, rusa, dan pelanduk di areal hutan untuk memenuhi kebutuhan makanan tambahan berupa daging selain menangkap ikan. Dalam berburu ini harus memiliki teknik dan pengetahuan yang luas mengenai kondisi alam, vegetasi dan pengetahuan tentang pola tingkah laku binatang buruan harus diketahui oleh si pemburu. Atau dengan menggunakan berbagai jenis perangkap binatang buruan.
Kegiatan berburu saat ini sudah jarang terlihat dan dilakukan oleh warga masyarakat. Hal ini dikarenakan banyak hutan asli yang mulai habis akibat kebakaran hutan dan pembukaan perkebunan kelapa sawit.
Seiring perubahan zaman, aktivitas satiar semakin jarang dan hampir tidak dilakukan masyarakat yang berada pada lokasi sekitar perkebunan. Artinya, dengan kemusnahan hutan yang berganti dengan kebun sawit, aktivitas satiar pun hilang. Dengan begitu hilang juga tambahan usaha ekonomi masyarakat.

C.  Malan Manana, Ritual Adat yang Mulai Terkikis
Dalam proses membuka hutan baru untuk ladang sebagai kebutuhan utama memperoleh pangan berupa beras, ada beberapa ritual adat yang dilakukan oleh warga masyarakat Seruyan dan Suku Dayak pada umumnya. Dalam setiap tahapan membuka hutan baru untuk berladang atau Malan Manana, semua proses dilakukan dengan acara adat yang sudah diturunkan secara turun temurun. Terdapat  enam proses aktivitas dalam berladang yang dilakukan dengan acara adat (ritual). Mulai mencari tempat berladang (manggawu leka malan), menebas semak (mandirik), menebang pohon (maneweng), membakar (manusul), menanam padi (manugal) sampai proses panen padi (mangehtem parei). Semua itu dilakukan dengan acara adat atau ritual kecil.
Ritual dan acara adat ini dilakukan karena masyarakat adat meyakini bahwa hubungan antara manusia dan alam (lingkungan) tidak bisa dipisahkan begitu saja. Belum lagi proses sosial antar-komunitas dalam melakukan berladang seperti gotong royong (haruyung), meminjam jasa orang lain (hinjam) dan handep (menolong secara timbal balik dan bergantian). Jadi dalam proses membuka hutan baru untuk berladang harus dilakukan beberapa proses adat, yang mana saat ini kearifan lokal tersebut sudah mulai hilang lantaran hampir semua wilayah produksi pangan masyarakat lokal sudah berganti dengan kebun sawit dan tambang. Saat ini untuk kebutuhan pangan, sebagian besar warga masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli beras.
Tampaknya nilai-nilia haruyung, handep dan hinjam tidak hanya sebatas berlaku dalam kehidupan Rumah Betang. Dalam kehidupan berladang, membuka hutan dan bertani pun berlaku ketiga nilai-nilai kearifan lokal yang telah berlaku turun-temurun di kalangan warga masyarakat Seruyan dan Dayak pada umumnya. Dengan begitu harmonis dan kelestarian alam Borneo cukup terjaga.  
Sayangnya, sistem dan nilai tradisional dalam mempertahankan adat sosial masyarakat harus berhadapan dengan era modernisasi zaman yang individualistik. Perubahan alam hutan tropis yang drastis menjadi perkebunan kelapa sawit dan areal pertambangan telah menghancurkan nilai-nilai kearifan lokal. Seharusnya, di tengah perubahan alam, nilai-nilai kearifan lokal terus dipertahankan. Bahkan, bila perlu, nilai-nilai tersebut digunakan untuk merevitalisasi lingkungan alam terlanjur hancur. (*)

Komentar