Terjaminnya kualitas kolang kaling dari Curup, Rejang Lebong (RL) tak
lagi diragukan. Tak heran, produksi kolang kaling dari Curup tidak
pernah putus. Itu juga yang menjadi penilaian Dinas Koperasi Usaha Kecil
Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) RL, bahwa
usaha kolang kaling sangat potensial mendongkak pendapatan asli daerah
(PAD).
‘’Di RL ini mungkin ada
sekitar 20 an pengusaha kolang kaling yang produksinya tidak pernah
mutus. Umumnya pola yang digunakan masih tradisional. Ke depan akan kami
bina untuk kemudian bisa dikembangkan secara besar-besaran sehingga
bisa menunjang PAD kita,’’ ujar Kepala Diskop UKM Perindag RL, Suhandak,
SH, MH.
Sementara bahan baku kolang
kaling di RL, cukup berlimpah. Umumnya petani aren hanya terfokus
mengelola pembuatan gula merah. Padahal buah kolang kaling atau
lebih dikenal beluluk itu sangat potensi dibuat makanan olahan. Seperti
manisan, kolak dan makanan kering yang bisa disajikan tidak hanya di
hari-hari besar saja. ‘’Kita lihatlah nanti, kalau anggaran kita bisa
menunjang, akan kita bantu para pengusaha kolang kaling ini,’’ terang
Suhandak.
Sementara Itu, Sahidayati
(35), pengusaha kolang kaling asal Kelurahan Air Bang, Kecamatan Curup
Tengah mengaku di hari biasa produksi yang dihasilkan mencapai 10 kaleng
kolang kaling olahan. Produksi itu meningkat pesat di bulan puasa dan
lebaran. Harga jual per kaleng Rp 50 ribu. Namun di saat puasa, harga
per kaleng bisa di atas Rp 100 ribu.
‘’Sementara harga kolang
kaling di tingkat petani Rp 10 ribu per tandan. Satu tandang itu bisa
menghasilkan 2 kaleng kolang kaling olahan. Kalau dikerjakan dengan
serius, usaha ini bisa mendatangkan penghasilan yang tidak kecil. Saya
sendiri sudah menggeluti bisnis ini sepuluh tahun lebih. Umumnya warga
terkendala modal. Kalau bisa dimodali saya yakin produksi kolang kaling
bisa meningkat tajam,’’ tandas Sahidayati. (http://harianrakyatbengkulu.com)