* Kota Binjai
Oleh Khaerudin
Meski infrastruktur teknologi informasi dibutuhkan dalam menjadikan Binjai sebagai kota yang cerdas, Pemerintah Kota Bijnai, Sumatera Utara, tak mau hanya mengandalkan kecanggihan seperangkat teknologi dalam memberi layanan publik. Dalam memperbaiki salah satu layanan kesehatan, misalnya, pemkot memperbaiki sumber daya manusianya.
Pemkot Binjai mengganti semua dokter dan perawat di layanan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah dr RM Djoelham. Pemkot mengalih daya 15 dokter dan 50 perawat baru yang khusus bertugas di UGD. Status kepegawaian dokter dan perawat di UGD rumah sakit ini bukan pegawai negeri. Mereka dibedakan dengan dokter-dokter dengan status pegawai negeri yang kini hanya fokus menangani unit rawat inap.
Kebijakan ini dilatari oleh persepsi publik tentang layanan kesehatan di rumah sakit pemerintah yang kurang baik. Pemkot menggratiskan layanan di UGD, dan tak mau layanan kesehatannya serampangan karena masyarakat tak membayar.
"Kalau bicara layanan kesehatan rumah sakit umum, opini yang terbentuk itu, kan, sembarangan, kurang bertanggung jawab. Opini itu ada dan saya coba ubah. Saya outsource tenaga medis di UGD sehingga pelayanan gratis di UGD bisa nyambung. Sampai sopir ambulans saya ganti semua. Sekarang masyarakat tinggal telepon call center, akan dijemput oleh ambulans. Di dalam ambulans, sudah ada dokter dan perawat dengan medical kit yang memadai," kata Wali Kota Muhammad Idaham.
Dengan mengalihdayakan tenaga medis di UGD, Pemkot Binjai juga berharap dokter dan perawat yang menangani pasien rawat inap berubah pula pola pikirnya, mau meniru layanan prima di UGD. "Saya sudah coba dua tahun mengubah perilaku, tetapi tidak berubah," ujarnya.
Layanan dasar bagi warga menjadi sasaran utama perbaikan oleh Pemkot Binjai untuk menjadikan kota ini cerdas. Salah satu layanan dasar yang juga sedang diperbaiki adalah ketersediaan air bersih. Tak ingin dua sungai besar yang mengalir di Binjai, Sungai Bingai dan Mencirim, menjadi tempat akhir pembuangan limbah cair, pemkot menggagas tempat pengolahan limbah cair. Nanti, sebelum limbah cair dibuang ke sungai, diproses terlebih dahulu di instalasi pengolah limbah cair agar tak mencemari sungai.
"Yang sekarang masih kami kelola, kan, limbah sampah. Kalau limbah cair belum ada satu pun kota di Indonesia yang mencoba mengelola limbah cair sehingga sungai dan danau kita adalah tempat pembuangan akhir limbah cair. Kami sedang membangun design engineering detail untuk membagi beberapa segmen kota," ujar Idaham.
Pemkot juga merapikan tata kota dengan memindahkan pedagang kaki lima penjual makanan yang dahulu membuat alun-alun kota semrawut, ke lokasi khusus di pinggir sungai, tak jauh dari alun-alun. Lokasi baru ini kini menjadi pusat kuliner yang menghidupkan kota sejak siang hingga malam.
Revitalisasi pasar
Meski Binjai menjadi penyangga Kota Medan, pemkot tak mau larut dalam
pengembangan ekonomi kota yang mematikan usaha kecil dan menengah.
Pemkot justru merevitalisasi sejumlah pasar tradisional, bukan
mendatangkan investor untuk membangun mal. Tak ada mal di kota ini,
hanya ada satu supermarket dan empat minimarket berwaralaba.Pemkot membatasi keberadaan minimarket agar tidak mematikan usaha kelontong milik warga. "Banyak warga kami yang bisa menyekolahkan anaknya sampai kuliah dari usaha berjualan kelontongan ini," kata Idaham. Empat minimarket yang ada pun dianggapnya sebagai kesalahan.
Revitalisasi pasar tradisional ini dirasakan betul oleh warga. Pasar Bundar di pusat kota menjadi salah satu pasar yang direvitalisasi. Pemkot membangun beberapa sarana tambahan, seperti tangga berjalan, agar pedagang dan pembeli nyaman.
Menurut salah satu pemilik kios jahit di Pasar Bundar, Syarifuddin Hasibuan, masyarakat memang berharap perbaikan yang dilakukan pemkot membantu pedagang dan pemilik kios meramaikan kembali suasana pasar. "Kalau sekarang yang sudah terasa, ya, kondisi pasar yang bersih. Ini belum ramai karena perbaikan di lantai atas belum selesai," kata Syarifuddin.
Anggota staf Humas Pemkot Binjai, Riza Fitriyani, mengatakan, revitalisasi pasar tradisional merupakan salah satu program unggulan Pemkot Binjai. Binjai menjadi penopang beberapa wilayah lain di sekitarnya seperti Kabupaten Langkat dan Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh. Sebagai kota lintasan, daya tarik Binjai adalah ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Pemkot kini juga sedang membangun pasar tradisional baru yang megah. Idaham mengatakan, pasar baru ini diharapkan bisa menjadi salah satu pusat ekonomi kota yang baru, tetapi tetap tak meninggalkan warganya. "Kami ingin ini seperti Pasar Geylang Serai di Singapura. Pasar tradisional, tetapi bersih dan menjadi pusat ekonomi kota," katanya.
Dalam soal layanan pendidikan, pemkot menyeragamkan uang pembangunan SMA dan sederajat yang memang tak ditanggung dana bantuan operasional sekolah (BOS). "Semua uang pembangunan SMA di Binjai itu Rp 30.000 per bulan. Rp 15.000 disubsidi Pemkot Binjai sehingga orangtua hanya membayar Rp 15.000," katanya. Kebutuhan buku-buku pelajaran di tingkat SD hingga SMA dipenuhi pemkot.
Pemkot juga memanfaatkan infrastruktur teknologi informasi yang ada, antara lain untuk penerapan sistem informasi manajemen daerah (Simda). Pengelolaan keuangan di Pemkot Binjai juga didukung penggunaan TI sehingga memangkas prosedur birokrasi. (http://bisniskeuangan.kompas.com)
Komentar
Posting Komentar