* Bupati Jayapura MATHIUS AWOITAUW
Lembaga
non pemerintah itu diantaranya: WVI, PT. Freeport Indonesia Timika,
Yayasan Denyut Desa Nabire, Perform Project USAID, Asosiasi Fasilitator
Pemberdayaan Pembangunan Partisipatif (AFP3) yang kemudian mendirikan
Sekolah Demokrasi Papua serta menjadi anggota Komisi Pemilu Daerah
Kabupaten Jayapura, dan sekaligus menjadi Ketua sejak 2003 hingga 2011.
Dua
hari setelah ditetapkan menjadi Bupati terpilih oleh KPUD Kabupaten
pada Senin 23 Juli 2102, Mathius Awoitauw menerima tabloid Suara
Perempuan Papua untuk wawancara di kediamannya di Waena, Rabu 25 Juli
2012 lalu. Berikut petikannya.
Mungkin
mereka melihat referensi saya di KPU waktu itu, maka mereka menawarkan
saya untuk kalau bisa, coba ikut serta dalam pemilukada ini. Kemudian pa
Roberth Djoenso sendiri juga sedang mencari siapa yang bisa jadi
pasangan untuk maju dalam pilkada Kabupaten Jayapura. Dia sendiri sudah
jauh-jauh hari sudah mempromosikan diri untuk maju dalam pilkada. Dia
sudah bekerja dengan mempromosikan diri berupa stiker-stiker yang
dikirim ke mana-mana.
Yang
segera dilakukan pertama reformasi birokrasi dan kita harus audit
keuangan yang ada di Kabupaten Jayapura. Saya akan minta satu lembaga
audit untuk mengaudit keuangan dalam kurun waktu tiga atau dua tahun
terakhir, termasuk asset-aset daerah. Supaya kita bisa lihat seperti apa
kemampuan daerah ini.
SELEPAS bangku kuliah di
Universitas Jana Badra Yogyakarta, pada 1983, Mathius mengabdikan
dirinya untuk melayani masyarakat Papua melalui lembaga swadaya
masyarakat sejak 1985 hingga kini. Pengabdiannya dimulai dengan diterima
bekerja di Wahana Visi Indonesia (WVI) Jakarta dan kemudian dikirim
bekerja di beberapa wilayah di Papua. Mathius tidak hanya bekeja di satu
lembaga saja, tapi juga di beberapa lembaga yang bergerak di bidang
pengembangan masyarakat atau community development.
Kemunculannya dalam bursa pencalonan
bupati diluar dugaan masyarakat Kabupaten Jayapura, dan sempat
menimbulkan nada kontra dari kalangan anggota DPRD dan beberapa elite
politik lokal di Kabupaten Jayapura tanpa sebab. Bahkan mereka pun
mempersoalkan keaslian ijazah yang dimilikinya. Namun tidak mempengaruhi
proses pencalonan dirinya menjadi peserta pemilu kepala daerah
Kabupaten Jayapura.
Ia pun akhirnya menjadi salah satu dari
tujuh peserta pemilu kepala daerah Kabupaten Jayapura 2012. Hasil pemilu
putaran kedua yang diikuti dua pasangan calon pada 16 Juli 2012 lalu,
pasangan Mathius Awoitauw dan Roberth Djoenso Darean ditetapkan menjadi
Bupati dan Wakil Bupati Jayapura terpilih periode 2012 – 2017 dengan
dukungan: 38.933 suara sah.
Bagaimana Anda melihat proses pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Jayapura 2012?
Pemilihan kepala daerah Kabupaten
Jayapura sesungguhnya sudah dimulai sejak 2010 lalu. Sebab, masa jabatan
bupati Jayapura periode: 2006 – 2011 berakhir sebelum 23 Desember
2011. Maka masa persiapan pemilihannya sudah harus dimulai pada
September 2011. Sehingga, sisa dua atau tiga bulan kedepannya sudah
harus dilakukan persiapan-persiapan untuk pelantikan pada sekira
November atau Desember 2011.
Tapi prosesnya jadi lama dan panjang
karena bertepatan dengan pelaksanaan jadwal Sidang Sinode GKI ke-XVI di
Tanah Papua pada 26 Oktober – 4 November 2011 dilaksanakan di Klasis
Sentani. Sehingga, tahapan Pemilukada baru dimulai pada 13 Desember 2011
– 23 Juli 2012 serta terjadi proses gugat-menggugat di Mahkamah
Konstitusi oleh lima kandidat yang tidak lolos ke pemilu putaran kedua,
sehingga proses pemilu putaran kedua molor sampai baru dilaksanakan pada
16 Juli 2012.
Untuk saya, memang perjalanan cukup
panjang. Saya melihat ini proses pemilukada yang pesertanya termasuk
yang terbanyak.Pesertanya lebih dari 9 pasangan. Tapi dalam proses
verifikasi, lainnya gugur tinggal 7 pasangan calon, tapi justru 7 calon
ini juga yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi di Jakarta pada pemilu
putaran pertama, termasuk dua pasangan yang sudah dinyatakan tidak lolos
dalam verifikasi. Ini tergolong peserta terbanyak yang melaksanakan
proses hukum di Mahkamah Konstitusi.
Apa yang mendorong Anda masuk dalam pencalonan Bupati Jayapura?
Saya maju sebagai calon Bupati karena,
kita diminta oleh sekelompok kecil masyarakat dari luar Papua. Mereka
merasa bahwa dari mereka sebagai orang dari luar itu tidak ada yang
mereka bisa jagokan untuk maju sebagai calon bupati Jayapura periode
2012 – 2017. Mereka mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada,
termasuk keaslian orang Papua.
Waktu mereka minta kesediaan, saya sudah
memberitahukan bahwa saya dari segi keuangan itu sama sekali tidak ada.
Tetapi idealisme ada untuk melakukan sesuatu yang baik untuk Kabupaten
Jayapura. Dalam perjalanan itu, pa Roberth menyuruh orang untuk bertemu
saya, dan kami dua bicara. Tetapi saya tidak langsung memberi kepastian
karena saya harus bicara dengan keluarga. Karena dari dalam keluarga
kami sendiri, tidak pernah membicarakan untuk ada rencana-rencana maju
dalam pencalonan kepala daerah.
Karena itu, saya harus bicara dan dengar
dari keluarga dan mereka tidak mengizinkan karena mereka melihat bahwa
itu biaya terlalu besar, dan kami tidak bisa karena kita hidup seperti
ini tidak mungkin untuk hal seperti itu. Anak-anak juga menolak untuk
saya maju dalam pencalonan bupati. Tapi dengan banyaknya informasi dari
lapangan, dari masyarakat bahwa ini bisa.
Dengan semangat itu, kami coba berjalan
sampai selesai pemilu putaran kedua dan hasilnya masyarakat bisa lihat
pada hasil pleno KPU, hari Senin 23 Juli kemarin. Ini karena saya yakin
masyarakat punya perhatian lebih besar untuk pasangan Mairo (julukan
Mathius – Roberth).
Calon yang maju dalam pilkada
adalah orang-orang terkenal dan memiliki kesiapan yang cukup secara
pengalaman, intelektual dan keuangan. Ternyata, Anda yang dipilih rakyat
memimpin Kabupaten Jayapura kedepan. Bagaimana perasaan Anda? Apakah
Anda sendiri pernah yakin bahwa akan menang dalam pemilihan?
Dari awal saya punya keyakinan bahwa,
yang saya berpikir untuk membangun masyarakat, itu yang terbaik.
Siapapun pemimpin, bagi saya itu yang terbaik. Hanya saya merasa bahwa
saya tidak bisa, karena saya tidak punya kekuatan finansial. Tapi kalau
ide, saya yakin itu kita bisa lakukan, karena saya punya teman-teman
banyak. Itu jaminan.
Saya bukan orang yang suka kerja
sendiri. Teman-teman di Universitas Cenderawasih, teman-teman LSM banyak
sekali, yang memberikan saya support, itu yang saya yakin bisa, tapi kalau dari segi dana saya tidak ada.
Saya melihat orang-orang yang tampil,
saya melihat mereka memang bukan orang-orang kecil. Mereka orang-orang
yang luar biasa, yang punya jam terbang yang tinggi dan mereka juga
orang-orang politik dan birokrasi itu luar biasa bukan main, kemarin itu
calonnya banyak sekali. Dari segi dana, rata-rata mereka punya, dan
mereka sudah mempersiapkan diri.
Secara pribadi, memang saya melihat
kesiapan mereka cukup. Tapi yang membesarkan hati saya itu, dalam hati
saya adalah, saya berjuang bersama Tuhan. Itu saja yang membesarkan hati
untuk melihat teman-teman kandidat lain yang mempunyai kapasitas yang
begitu luar biasa.
Selama ini Anda di LSM dan tiba-tiba masuk di arena politik. Apa yang mendorong Anda?
Ini perjuangan yang panjang di LSM,
dimulai dengan WVI saya sudah keliling di hampir semua wilayah di Papua
dan kerja di pedalaman juga lama. Ada satu hal yang sedang kita
perjuangkan adalah bagaimana masyarakat kita ini benar-benar menjadi
merasakan kesejahteraan mereka sendiri dan itu mereka sendiri yang
bekerja mencapai itu.
Saat ini kita bicara terus tentang
pemberdayaan masyarakat dan reformasi birokrasi, bagaimana pemerintah
bisa merubah cara melayani masyarakat. Ini perjuangan yang panjang. Saya
pikir kita cukup berjuang dari lama dari luar birokrasi. Kenapa kita
tidak maju masuk ke dalam untuk mempengaruhi kebijakan ini. Itu yang
menjadi salah satu pendorong saya maju dalam pencalonan bupati Jayapura
periode 2012 – 2017.
Saya juga berpikir bahwa Otonomi Khusus
sudah berjalan 11 tahun (2002 – 2012), banyak Perdasi-Perdasus yang
telah dibuat tapi tidak pernah diimplementasikan. Ini sangat
menyedihkan. Apa yang salah? Itu pertanyaan-pertanyaan yang sangat
mengganggu. Pemerintah tidak melakukan itu.
Kami pernah mendorong sebuah Perda
tentang pemerintahan asli. Biarlah keaslian itu yang dibangun. Biarlah
masyarakat sendiri yang menetukan masa depannya . Perda itu dibuat pada
2008 atas kerja sama LSM dan Universitas Cenderawasih Jayapura, dengan
melibatkan sejumlah tokoh masyarakat wilayah Mamberamo Tami, para kepala
sukunya semua, penggarapan draft Perda itu dilakukan selama empat
bulan. Pertemuan dilakukan dengan tokoh-tokoh masyarakat adat, dilakukan
konsultasi publik kemudian di dorong ke DPRD Kabupaten Jayapura secara
resmi oleh masyarakat adat. Tapi sampai sekarang mereka simpan saja.
Banyak upaya kami telah lakukan, dengan
AFP3, kami telah membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung
(RPJMK), domumen RPJMK untuk lima tahun: 2005 – 2011, tapi itu tidak
diimplementasikan secara baik.
Ada sejumlah upaya yang kita lakukan itu
menurut saya sudah sangat bagus. Dengan Perform Projeck kerjasama USAID
untuk pemerintahan yang bersih dan berwibawa di beberapa kabupaten di
Papua, termasuk Kabupaten Jayapura. Itu kami sudah mendorong, banyak hal
pikiran-pikirannya. Tapi tidak digunakan juga.
Saya pikir, kita perlu masuk ke dalam
supaya bagaimana kita menghubungkan ini. Selama kita masih berada di
luar, kita tidak akan pernah maksimal untuk mempengaruhi kebijakan itu.
Saya pikir, saya tidak terlalu ideal, tetapi saya berharap saya bisa,
mungkin tidak 100 persen untuk bisa melakukan itu karena masuk dalam
sistem. Tapi dengan cara ini, kita akan bicara dan berjuang terus
bersama berbagai pihak.
Anda berasal dari LSM dan wakil Anda berasal dari militer (polisi). Bagaimana bisa bersatu dalam memimpin pemerintahan kedepan?
Saya pikir, kita harus mengacu pada visi
misi yang kita usung dan kita sepakati untuk Jayapura Baru. Jayapura
Baru berarti keaslian hak-hak dasar orang asli Papua, ini harus kita
bicarakan. Dan ini kita sudah sepakat. Visi misi ini akan dibicarakan
menjadi kebijakan pemerintah Kabupaten Jayapura.
Dua orang yang berbeda ini, mungkin dari
segi implementasi saja terhadap kebijakan-kebijakan itu. Itu yang perlu
banyak penyesuaian, tapi bagi saya, pa Roberth, tidak terlalu sulit.
Karena waktu dia jadi Kapolres Kabupaten Jayapura dan waktu saya Ketua
KPUD, kami sering membangun komunikasi bersama untuk membicarakan
persoalan, bagaimana menyelesaikannya. Saya lihat dari pa Roberth punya
kelebihan lain adalah komunikasi dengan masyarakat bawah baik. Dan
memang itu yang kita mau lakukan.
Hak-hak dan aspirasi-aspirasi rakyat ini
kalau bisa diapresiasi dengan baik. Mungkin itu hal yang sangat
membantu untuk pekerjaan-pekerjaan kita kedepan, karena punya pendekatan
yang sama. Kami dua punya kesulitan adalah sistem birokrasi saja. Saya
pikir itu kita harus mencari seorang sekretaris daerah yang memang
seorang pamong yang dia bisa tahu dan punya pengalaman dan dia bisa
membantu kami banyak dalam urusan pemerintahan kedepan.
Ada kekhawatiran, wakil Anda yang dari polisi akan lebih dominan dalam mengendalikan pemerintahan?
Saya berharap tidak hal itu tidak.
Karena sosok pa Roberth itu memang militer tapi saya melihat dia seorang
militer yang orientasinya jelas terhadap masyarakat. Dan saya dari LSM,
tapi saya lebih mengutamakam partisipasi masyarakat. Dan dalam visi
misi kami dalam dialog dengan masyarakat, kami selalu bicara bahwa
kami akan selalu membuka ruang yang seluas-luasnya untuk publik. Segala
sesuatu kami akan bicarakan, ada ruang untuk kita bicara.
Jadi, konsultasi publik, dialog-dialog
dengan kelompok-kelompok strategis itu, kita akan bangun secara terbuka,
sehingga tidak ada hal yang tersembunyi. Benar-benar ini harus
masyarakat memberi kontribusi dalam kebijakan. Dengan demikian saya
yakin, hal-hal itu sulit masuk dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Kemudian, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat itu bagi saya adalah
warna di pemerintahan ini.
Kemarin (Senin 23 Juli 2012), waktu
setelah pleno KPU itu, masyarakat adat berkumpul secara spontan untuk
konvoi. Mereka suka cita. Saya ini lamban dari mereka. Saya ini semacam
warna untuk mereka. Dan saya memang dari adat, kaka saya ondoafi, itu
yang mereka semangat sekali. Karena itu, saya harus tetap memperjuangkan
itu, dan itu tekad kami dalam penantian di mana-mana.
Sebagai aktivis LSM dan mantan anggota KPU, bagaimana Anda melihat proses pelaksanaan Pemilu di Kabupaten Jayapura?
Saya melihat, memang kita perlu banyak
pendidikan politik. Ini yang lemah. Situasi-situasi demokrasi ini
menurut saya secara umum berjalan bagus. Tapi ada praktek-praktek yang
terjadi mempengaruhi suara pemilih. Itu saja yang saya lihat masih ada
kekurangan-kekuarangan. Penyelenggaranya saya lihat sudah bagus, tidak
harus 100 persen bagus, tapi sudah baguslah. Dari pihak kita yang
sebagai peserta pemilu ini saja yang, kadang-kadang melakukan dengan
berbagai cara. Itu saja yang sering mengganggu penyelenggara. Padahal,
sebetulnya penyelenggara siap. Tapi peserta ini yang mengganggu.
Sehingga perlu adanya pendidikan politik
yang baik untuk partai politik, tokoh-tokoh masyarakat, mari kita
melihat bahwa setiap orang dalam menentukan pilihannya adalah hak
azasinya. Tidak seorang pun punya hak untuk mempengaruhinya. Karena itu,
hal-hal semacam ini kita harus bicara dan perjuangkan terus. Karena
keputusan yang diambil untuk menentukan pilihannya itu dia sudah tahu
apa resikonya. Pilihan itu untuk menentukan masa depannya yang baik.
Karena itu, dia berhak mengambil keputusannya sendiri.
Pada awalnya, dia sudah punya
keputusannya yang baik, tapi dalam perjalanan, dia diintervensi oleh
kepentingan-kepentingan dari kandidat atau pihak lain yang sering
mengacaukan para pemilih. Oleh karena itu, bukan rakyatnya tapi partai
politik dan tokoh-tokoh masyarakat ini perlu ada pendidikan politik.
Kelemahan hanya satu itu saja.
Money politik jalan, serangan fajar
kemarin saya lihat jalan, karena data-data sudah lengkap. Memang ini
tugas yang berat, orang-orang yang kita anggap sebagai tokoh masyarakat
di Papua yang luar biasa itu turun langsung membuat kekacauan-kekacauan
di masyarakat saat pemilihan.
Saya tidak bilang siapa-siapa, tapi ada
pejabat teras, pejabat besar itu ada sampai lima orang. Bahkan ada dari
kabupaten lain atas nama partai. Jaringan ini sampai ke pusat. Bagaimana
mereka menggagalkan atau memenangkan kabupaten ini.
Sekali lagi saya katakan bahwa kekuatan
rakyat tidak selamanya bisa dibeli dengan uang. Itu yang kemarin terjadi
dalam pilkada Kabupaten Jayapura 2012.
Untuk kondisi Kabupaten Jayapura saat ini. Hal apa yang harus dilakukan segera?
Ibarat kita masuk ke dalam rumah yang
baru. Rumah itu harus dalam keadaan yang enak untuk orang tinggal:
bersih, sejuk, rapih. Tidak bisa kita pindah masuk ke dalam ruamh yang
penuh dengan sampah, kotor, bau, itu orang tidak tinggal. Ini sama
dengan di pemerintahan. Ini harus dibersihkan. Supaya kita mulai dengan
suasana yang baik untuk melihat daerah ini dari mana kita star.
Titik awal star itu penting untuk kita
tahu. Kemampuan kita, potensi, permasalahan yang ada, baru kita mulai
jalan menuju visi yang kita tetapkan. Sambil itu sekaligus juga
konsolidasi organisasi tata pemerintahan untuk melihat peta kekuatan
dengan visi ini, orang-orang yang ada ini bagaimana kita tempatkan. Kita
tidak bisa bergerak tanpa mengetahui kondisi ini.
Yang lain adalah anggaran perubahan
inikan mungkin bulan-bulan depan ini mungkin Sekretaris Daerah sudah
siapkan untuk perubahan itu. Tapi saya mungkin lebih banyak konsentrasi
pada APBD 2013. Kalau bisa, Oktober November itu, APBD 2013 disahkan. (http://www.suaraperempuanpapua.net)
Komentar
Posting Komentar