Ade Hadeli
Bupati Sumedang, H.Ade Irawan
Ditemui di Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Bupati Sumedang, H Ade Irawan, melepas senyum menyambut kedatangan pengurus PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kabuapten Sumedang, Sabtu (18/4/2015). Setelah bersalaman, Bupati membimbing kami menuju sofa yang ada di pojok ruangan tempat menerima pengunjung.
"Bagaimana, semuanya sehat?" ujar Bupati membuka obrolan.
Selanjutnya, kami pun larut dalam obrolan yang hangat dan penuh dengan kekeluargaan. Namun sepanjang obrolan itu, Bupati, tidak membicarakan persoalan hukum yang membelitnya. Pasalnya, segala sesuatu yang berusan dengan hal tersebut, termasuk memberikan keterangan kepada media, sepenuhnya diserahkan kepada penasihat hukum yang telah ditunjuknya.
"Kita bicara yang lainnya saja ya. Sebab, segala sesuatu yang berurusan dengan proses hukum, sudah ada bagiannya, yaitu penasihat hukum. Jadi merekalah yang bisa menjelaskan dan termasuk memberikan keterangan kepada media, terkait perkembangan hukum yang tengah saya jalani," ujarnya.
Prihatin
Sementara itu, menyikapi situasi yang terjadi di Pemerintahan Kab.Sumedang, pasca penahanan dirinya, sejak sepekan silam, Bupati mengaku prihatin. Apalagi setelah mendengar informasi, jika sekarang pejabat di Kab.Sumedang, sedikitnya sudah terpecah menjadi tiga kubu.
"Jika situasi itu benar adanya, saya sangat prihatin dan kecewa. Karena bagaimanapun juga, situasi itu dikhawatirkan dapat mengganggu tugas mereka dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat," katanya.
Walau begitu, Bupati tidak terlalu terkejut, dengan situasi tersebut. Sebab, proses penahanan yang tengah dijalaninya itu, telah membukakan mata hatinya, untuk mengetahui karakter dan mental sejumlah pejabat di lingkup Pemerintahan Kab.Sumedang.
Bahkan diantara mereka, sudah tidak lagi yang menganggap dirinya, sebagai Bupati Sumedang. Sehingga, hal itu tidak mengherankan bagi Bupati, jika masih banyak pejabat yang tidak mau menjenguk atau malah telah berpaling ke lain hati.
"Selama di sini, saya menjadi tahu secara pasti, tentang karakter dan mental sejumlah pejabat di Sumedang. Diantara mereka, bahkan sudah tidak ada yang menggap kepada saya, yang sesuai konstitusi masih sebagai Bupati Sumedang, yang syah. Tapi sekarang, di antara mereka ada yang tidak mau menjenguk ke sini, karena takut 'dicirian' (ada yang mengawasi). Sehingga, mereka mencari posisi aman saja," tandas Ade.
Sementara itu, justru yang terlihat kontras adalah, sikap yang ditunjukkan oleh sejumlah kepala desa dan tokoh masyarakat Sumedang, yang hampir setiap hari, mengunjunginya. "Saya sangat terharu dengan kedatangan mereka. Karena ternyata mereka sangat membutuhkan dan menyayangi saya," ujarnya.
Surat dinas terhenti
Disamping itu, Bupati mempertanyakan, terhentinya pengiriman surat-surat dinas yang harus ditandatangani. Kondisi itu, setidaknya, sudah terjadi dalam tiga hari terakhir. Padahal sebelumnya, setumpuk surat dikirim melalui Sekpri ke Lapas Sukamiskin.
"Entahlah, yang pasti sudah tiga hari ini tidak ada surat yang masuk, yang harus saya tandatangani," ujarnya.
Persoalan lain yang menjadi soratannya, adalah diserahterimakannya, 26 kendaraan operasional camat, jenis Toyota Avanza dan Rush pada Jumat (17/4/2015). Masalahnya, kendaraan dinas tersebut, belum dibuatkan SK Bupati-nya.
"Terus terang, saya tidak mengerti. Kok, bisa-bisanya Wabup (H Eka Setiawan), melakukan serah terima kendaraan operasional camat, sementara SK Bupati-nya, belum ada. Parahnya lagi, saya tidak diberi tahu soal itu. Padahal saya ini masih Bupati Sumedang, yang syah," tegas Ade. (http://m.galamedianews.com)
Komentar
Posting Komentar