Bermula dari pembangunan International Music
Stadium. Dengan konsep kota pantai. Di atas lahan lima hektar. Kawasan Pantai
Carnaval Ancol Timur. Menghadirkan nama Ancol Beach City. Lengkap dengan beach parties, family recreation, sports,
weddings, performances, shopping, dining, dan auditorium. Bangunan lima
lantai dengan luas total konstruksi lantai sekitar 65.000 meter persegi.
Sedikit lebih detail, di dalamnya ada ruang fungsional, kios promosi, retail
khusus, retail mikro, food court,
cineplex, fitness, big stores, bar, music,
billards, dan F & B.
Disusul
kemudian realisasi ide reklamasi sekitar 200 hektar di Ancol Timur. Di seberang
Ancol Beach City kelak tercipta gundukan baru diberi nama Exclusive Island yang belum begitu terang apa peruntukannya. Yang
jelas, dari buku Development Display
Jakarta Utara (2005), bersebelahan dengan Ancol Beach City dan menghadap langsung
ke Exclusive Island, bakal berdiri
Tower Hotel.
Tidak
sembarang orang boleh menuju Exclusive
Island. Pengunjung mesti lewat Tower Hotel dan melalui seleksi yang cukup
ketat. Dari Tower Hotel ke Exclusive Island dihubungkan dengan cable car. Sarana inilah satu-satunya
kendaraan yang boleh mengantarkan pengunjung yang telah lolos seleksi di Tower
Hotel.
Ah,
pengunjung macam apa yang boleh menempuh perjalanan dengan cable car ke pulau nan eksklusif itu? Yang pasti pengunjung itu
mesti berkantong tebal, royal menghamburkan duitnya di meja rolet dan kasino,
dan siap kembali ke Tower Hotel cuma berkaos singlet.
Ide mencipta
gundukan reklamasi Exclusive Island itu sederhana saja. Salah satunya, untuk
melokalisasi perjudian yang kini meruyak di banyak sudut dan hotel Jakarta.
Dan, mencegah penjudi lokal kelas kakap ramai-ramai ke Negeri Jiran Malaysia.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas penjudi yang bermain di Genthing
Island (Malaysia) adalah orang-orang asal Indonesia. Tentu ini sebuah potensi pendapatan
asli daerah (dan negara) yang sangat potensial dan sayang dilewatkan begitu
saja. Selain itu juga untuk menghilangkan image bahwa negeri ini sebagai
pengekspor penjudi.
Adakah yang bersiap berinvestasi di sini? Jelas,
ternyata, minimal telah ada satu investor kuat dari Jakarta yang siap
menggelontorkan berapa pun dana yang dibutuhkan buat merealisasikan Pulau
Impian Ancol (Timur). Bahkan, sang calon investor ini juga menyiapkan
pengamanan khusus di Tower Hotel sehingga tidak sembarang orang masuk.
Investor siap. Pemerintah daerah pun siap memproses
perizinan. Masyarakat? Entah. Yang jelas, belum terlihat lampu hijau dari para
wakil rakyat Kota Jakarta. Lokalisasi perjudian masih menjadi polemik yang
belum berujung. Bahkan, sebuah sumber menyebutkan ide ini jangan sampai
terlaksana agar pusat perjudian di negeri jiran tidak sepi. Ada ‘perang’
antartetangga yang dipantik oleh persaingan merebut pasar judi. (BNS)
Komentar
Posting Komentar