Pemimpin Macam Apa



BARU kali ini saya mengalami semacam kekagetan yang sarat tanda tanya, ketika menuntaskan penulisan sebuah buku sejenis biografi. Saya memperoleh penolakan tatkala meminta testimoni, pendapat atau penilaian atas kiprah sang tokoh yang tengah menjadi obyek penulisan. Tak satu pun narasumber yang saya kontak memberikan respon balik, apalagi memberikan testimoni. Gelap.
Dari puluhan biografi yang telah selesai, untuk menjaga obyektivitas sudut pandang terhadap sang tokoh, saya biasanya minta semacam testimoni atau supporting opinian kepada berbagai kalangan. Baik kalangan yang suka maupun tidak suka pada sosok sang tokoh. Baik yang setuju maupun tidak setuju atas sejumlah kebijakan sang tokoh –bila sang tokoh adalah pengambil kebijakan publik.
Dari puluhan biografi yang telah selesai, saya nyaris tidak mengalami hambatan yang berarti dalam mencari dan meminta testimoni yang berkaitan dengan kiprah tokoh yang sedang ditulis. Bahkan, banyak narasumber yang dengan senang hati datang ke tampat saya menginap. Mereka cukup berapi-api memberikan testimoni. Tidak sedikit narasumber yang datang  dari pedalaman sebuah kabupaten tanpa diminta dengan sangat. Padahal, tidak sedikit di antara mereka adalah “musuh” sang tokoh saat pemilihan kepala daerah. Dan mereka blak-blakan saja menyampaikan apa yang dilihat dan didengar selama kepemimpinan sang tokoh berjalan.
Tapi, kali ini saya sungguh tak mengerti. Dari sekitar orang narasumber yang direkomendasikan sang tokoh, tak satu pun yang memberi respon. Padahal, kalau melihat kiprah sang tokoh, wilayah yang dipimpinnya relatif cukup baik perkembangannya. Bahkan, berbagai apresiasi dan prestasi telah berhasil digapai dengan predikat yang cukup bagus. Kalau toh ada kekurang-merataan pembangunan, rasanya masih dalam batas-batas yang wajar dan normal.
Memang, ketika saya bersua untuk obrolan dengan sang tokoh, sempat sedikit terperangah atas temperamen yang muncul. Sampai-sampai saya hampir membatalkan saja pekerjaan ini. Tapi, beberapa staf di bawahnya berbaik hati buat mengagendakan kembali obrolan dalam waktu yang lebih tepat. Dan staf pun sempat meminta maaf karena tidak memberikan semacam rambu dan hal-hal yang menjadikan sang tokoh tidak berkenan di tengah obrolan. Misalkan sang tokoh tak berkenan dipotong dengan sebuah pertanyaan di tengah obrolan, kendati sekadar untuk mempertegas atau memperdalam satu topik yang tengah disampaikan.
Bersyukur, kendati masih diliputi rasa tidak mengerti, saya pun bisa menuntaskan obrolan yang diagenda ulang. Sesuai pesan stafnya, saya tidak sedikitpun bertanya bilamana sang tokoh tidak berkata, “Apa masih ada pertanyaan yang belum terjawab?”
Di akhir obrolan, saya hanya minta sejumlah nama narasumber untuk memperkaya penulisan buku biografinya. Secara lengkap sang tokoh memberikan sejumlah nama berikut nomor ponsel. Saya lalu mengontak sejumlah nama. Tapi, apa hendak dikata, hampir-hampir tak ada yang merespon balik.
Saya jadi teringat temperamen sang tokoh di obrolan pertama. Ditambah lagi, dari lingkaran dalam sang tokoh, ada info yang cukup mengagetkan. Bahwa sang tokoh suka mengajikan miras lokal tamu-tamunya. Boleh jadi ungkapan itu benar adanya. Sebab di obrolan pertama dengan sang tokoh, tampak temperamental yang tak terkendali, seperti sosok yang habis minum minuman beralkohol di dinihari.
Saya jadi berpikir, itukah pemimpin hasil proses demokrasi di tangan rakyat? Ada sisi gelap sosok-sosok calon pemimpin atau wakil rakyat yang disembunyikan ketika berusaha menarik hati rakyat. Hasilnya, kadang membuat kita terperangah: ada wakil rakyat yang tertangkap pesta narkoba dan kepala daerah dengan mata memerah melayani wawancara para jurnalis. Entahlah, pemimpin macam apa. Mudah-mudahan ini pengalaman yang pertama dan terakhir. Saya berharap demokrasi di tangan rakyat melahirkan pemimpin yang jauh dari miras, narkoba, skandal seks, dan korupsi. Masih mimpi kali ye... (BN)
    

Komentar