Sembilan anggota Wantimpres dilantik. Didominasi parpol
pendukung Jokowi dan orang kepercayaan Megawati Soekarnoputri dan Surya
Paloh.
Presiden Jokowi melantik anggota Wantimpres di Istana Negara, Senin (19/1). Foto oleh Setkab.go.id
Darmadi, Jan (FOK Jo Jau; HUO Zuoyou). A wealthy
businessman, son of casino king, peranakan. Born in 1937 in Jakarta, the
son of Dadi Darma (Yauw Foet Sen) who ran casinos in Jakarta when Ali
Sadikin was the governor. Jan was sent to the United States for studies.
In 1971 he received an MA degree in Commerce from New York University.
After his return, he continued his father’s business. When casinos were
banned in Indonesia, he moved into the property business. The Jan
Darmadi Group has now expanded its business to include textiles, travel,
plastic manufacturing, transport, and banking. The Group has
significant shares in Bank Susila Bhakti and Panin Bank (source, Forbes
Zibenjia, October 1991, p.69; July 1994, pp. 28-29).
Kalimat-kalimat di atas, seperti dikutip dari majalah Forbes tahun 1991, menggambarkan sosok Jan Darmadi dalam buku Prominent Indonesia Chinese, Biographical Sketches,
yang ditulis peneliti Leo Suryadinata dan diterbitkan Institute of
Southeast Asian Studies, tahun 1995. Bos The Finance, Eko B. Supriyanto,
yang pernah memimpin Majalah Infobank menginformasikan bahwa Bank
Susila Bhakti kini menjadi Bank Syariah Mandiri, setelah alami kesulitan
saat krisis 1997-1998.
Pertengahan tahun 1990-an saya beberapa kali bertemu
dengan sosok Jan Darmadi di kantornya di salah satu ruangan di
perkantoran Setiabudi Building, di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Wawancara panjang pernah saya lakukan untuk edisi khusus 250 Orang
Terkaya Indonesia yang diterbitkan mingguan ekonomi dan bisnis Warta
Ekonomi. Saya pernah menjadi penanggung jawab edisi khusus ini.
Kesan saya, dia pengusaha yang ulet, tidak suka publikasi
(susah payah saya mendapatkan kesempatan wawancara), dan bicara langsung
ke pokok persoalan. Dia juga peduli dan dekat dengan eksekutifnya.
Sekretarisnya saat itu menikah dengan Ron Muller, yang pertama kali
membuka jaringan Pizza Hut di Indonesia.Jan mengatakan kepada saya, dia
mendukung mereka memulai usaha, meskipun berat melepas sekretaris yang
sangat dipercayai.
Jan menjaga kebugaran tubuh dengan menekuni olahraga
beladiri termasuk kungfu dan main badminton. Dia pernah menjadi Ketua
Dewan Pengurus Besar Gojukai Indonesia. Dia suka berburu babi di
hutan-hutan di Sumatera. Dia pernah mengajak saya meliput dia dan
grupnya berburu. Sayang saya malas bersusah-susah di hutan. Pengusaha
Tomy Winata pernah mengajak saya juga saat itu. Saya tolak juga.
Sekarang saya menyesal, karena tidak punya dokumentasi saat keduanya
berburu. Kedua sosok pengusaha yang sangat senior itu kini ada di
lingkar dalam kekuasaan. Sebenarnya selalu demikian. Jan kalah
kontroversial saja dibanding Tomy Winata. Jadi jarang muncul di pusaran
berita.
Semalam saya membaca wawancara Jan dengan majalah SWA,
yang dilakukan tahun 2010. Rupanya Amir Abdul Rahman, kepala eksekutif
Jan Darmadi Corporation, masih bersamanya, menyiapkan Jeffrey Darmadi,
putra Jan, memimpin Jakarta Setiabudi International Tbk, bisnis properti
Jan Darmadi.
Tahun 90-an, Amir Abdul Rahman masuk dalam peringkat atas
jajaran top eksekutif bergaji termahal di Indonesia. Ini juga
menunjukkan hubungan baik Jan dengan ekskekutifnya. Dibandingkan gedung
tinggi di kawasan Kuningan, Setiabudi Building tergolong paling rendah.
Itu menunjukkan, Jan yang pertama kali membangun gedung di kawasan itu.
Aturan saat itu memang membatasi jumlah lantai gedung. Jan adalah salah
satu pionir bisnis properti di Indonesia.
Jan mengutamakan kesetiaan dalam berkawan. Ini alasan
mengapa dia memilih bergabung dengan Partai Nasional Demokrat didirikan
Surya Paloh. Menurut Jan, Surya Paloh selalu memenuhi janjinya. Padahal
Jan, sebagai pengusaha sangat senior, punya banyak teman di semua
parpol. Dengan Surya Paloh, bos Metro TV dan Media Group, dia sudah
kenal lebih dari 40 tahun. Surya Paloh membalas kesetiaan itu, dengan
mengangkat Jan Darmadi menjadi Ketua Majelis Tinggi Partai Nasdem. Surya
Paloh juga menyodorkan Jan Darmadi menjadi anggota Dewan Pertimbangan
Presiden (Wantimpres) ke Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Jika Surya
mengusulkan, Jokowi menerima dengan sepenuh hati.
Komposisi Wantimpres Jokowi

Jan Darmadi, pojok kanan, dilantik menjadi anggota Wantimpres, Senin (19/1). Foto oleh Setkab.go.id
Senin (19/1), Presiden Jokowi melantik sembilan anggota
Wantimpres. Selain Jan Darmadi (Nasdem), ada Sidharto Danusubroto
(PDI-Perjuangan), Yusuf Kartanegara (PKPI), Subagyo Hadisiswoyo yang
kabarnya diusulkan Wiranto (Hanura), pengusaha pemilik maskapai Lion Air
Group, Rusdi Kirana (PKB), Hasyim Muzadi (unsur Nahdlatul Ulama), Prof.
Abdul Malik Fadjar (unsur Muhamadiyah), ekonom UGM, Sri Adiningsih,
yang dikenal dekat dengan PDI-P dan Megawati Sukarnoputri. Serta Suharso
Monoarfa (PPP kubu Romahurmuziy).
Hasyim Muzadi yang mantan ketua Pengurus Besar Nadhlatul
Ulama adalah mantan calon presiden yang mendampingi Megawati di Pilpres
2004. Sedangkan Abdul Malik Fadjar adalah Menteri Pendidikan di era
Presiden Megawati, dan sempat menjabat Menko Kesejahteraan Rakyat
ad-interim di era Megawati saat Menko Kesra Jusuf Kalla memutuskan
bergabung dengan SBY di Pilpres 2004. Malik Fadjar salah satu tokoh
reformasi 1998, masuk ke kabinet Presiden BJ Habibie sebagai Menteri
Agama. Dia juga pernah menjabat ketua PP Muhamadiyah.
Pada Oktober 2011, Suharso Monoarfa mundur dari posisi
Menteri Perumahan Rakyat di era SBY setelah menuai kontroversi soal dia
yang menikah lagi meskipun sudah punya istri. Dia digugat cerai istri
pertamanya. Meski memuji kinerja Suharso, menurut Mensesneg Sudi
Silalahi saat itu, SBY juga menilai soal integritas. Rusdi Kirana, Wakil
Ketua Umum PKB, yang mengendalikan bisnis penerbangan yang sedang
berkembang, dikenal sebagai bagian dari timses Jokowi.
Nama yang sebelumnya beredar santer sebagai calon anggota
Wantimpres adalah Prof Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah;
politisi senior Golkar yang beberapa kali menjabat menteri di era
Soeharto dan Habibie, Ginandjar Kartasasminta; mantan Kepala Badan
Intelijen Nasional AM Hendropriyono; dan Pengusaha senior Mooryati
Soedibjo. Ginandjar sejak 1999 adalah bagian dari faksi Golkar yang
selalu merapat ke Megawati dan PDI-P.
Hendropriyono di era akhir kekuasaan Soeharto sudah
menunjukkan keberpihakannya ke Megawati dan PDI-P. Putra Hendropriyono,
Diaz, menjadi koordinator tim Kawan Jokowi saat Pilpres, dan kini
diganjar posisi komisaris PT Telkomsel yang sebagian sahamnya dimiliki
PT Telkom, badan usaha milik negara. Menantu Hendropriyono, Mayor
Jenderal Andika Perkasa menjabat Komandan Pasukan Pengamanan Presiden
Jokowi. Andika adalah lulusan terbaik di Seskoad 2000 dan pernah
melanjutkan sekolah di AS. Pengusaha Mooryati Soedibjo, pendiri kelompok
Mustika Ratu, juga mendukung pencalonan Jokowi sebagai capres 2014.
Buya Syafii Maarif yang lahir tahun 1935, kepada media
mengatakan dia ditelepon salah satu deputi Mensesneg untuk menjadi
anggota Wantimpres. Dia menolak dengan alasan sudah berumur. Saat
Pilpres, Buya Syafii Maarif mendukung Jokowi-JK.
“Bukan menolak, tapi tidak bersedia,” kata Buya, Sabtu
(17/1). Saat itu publik tengah disuguhi kisruh pemilihan calon Kapolri.
Jokowi menyodorkan Budi Gunawan. Tapi KPK mengumumkan Budi Gunawan
tersangka kasus dugaan korupsi. Buya Syafii dikenal anti korupsi. Dia
menggunakan istilah, “Ikan busuk dari kepalanya” untuk menggambarkan
pentingnya seorang pemimpin menunjukkan komitmen anti-korupsi dengan
memberikan contoh nyata.
Hendropriyono kepada pers mengatakan tak ingin ada di
pemerintahan, karena sudah ada keluarga dan teman di jajaran elit
pemerintahan Jokowi. “Saya merasa tidak layak jadi Wantimpres,” kata
Hendro. Menurut Mensesneg Pratikno, Hendropriyono menolak karena merasa
sudah lama di pemerintahan. Dia pernah menjabat menteri juga di era
Presiden Habibie. Posisi yang lowong karena Hendro dan Mooryati tidak
masuk digantikan Malik Fadjar dan Sri Adiningsih, ekonom UGM.
Fungsi Wantimpres masih abu-abu
Saya mempertanyakan efektivitas Dewan Pertimbangan
Presiden, sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini dewan yang
dibentuk untuk menggantikan fungsi Dewan Pertimbangan Agung. Tugasnya,
diminta atau tidak diminta, memberikan pertimbangan dan nasihat kepada
Presiden. Bagaimana parameter untuk mengukur efektivitas kerja
Wantimpres tidak pernah dijelaskan kepada publik. Apalagi di lingkar
dekatnya di Istana, Presiden memiliki tim sendiri yang memberikan
masukan, termasuk data atas pengambilan keputusan.
”Tugas Wantimpres adalah memberikan pertimbangan dan nasihat kepada Presiden. Bagaimana parameter untuk mengukur efektivitas kerja Wantimpres tidak pernah dijelaskan kepada publik. “
Wantimpres biasanya diisi tokoh senior, dengan harapan
masukannya didengar oleh Presiden. Dewan ini dibentuk di era SBY tahun
2007 sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang No 19/2006 tentang
Wantimpres. Anggota Wantimpres paling lambat diangkat tiga bulan sejak
pelantikan presiden dan berakhir masa jabatannya bersamaan dengan masa
jabatan presiden atau diberhentikan presiden.
Di era pertama pemerintahan SBY, Wantimpres diisi oleh
mantan Menlu Ali Alatas, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Ekonom
Prof. Emil Salim, politisi Rachmawati Soekarnoputri, ekonom Dr Syahrir,
KH Ma’ruf Amin dari Majelis Ulama Indonesia, mantan menPAN/Reformasi
Birokrasi di era akhir Soeharto Letjen TB Silalahi yang dekat dengan
SBY, pengacara senior Adnan Buyung Nasution, dan Subur Budhisantoso
Ketua Umum Partai Demokrat saat baru didirikan, serta Radi A Gani yang
mantan Rektor Universitas Hasanuddin.
Rachmawati adalah pendiri dan Ketua Umum Partai Pelopor
yang mengandalkan kaum marhaenis muda. Dr Syahrir ialah pendiri Partai
Indonesia Baru (PIB). Tb Silalahi menjabat Ketua Wantimpres yang
pertama, dilanjutkan Emil Salim.
Di periode kedua SBY, Emil Salim berlanjut dan menjabat
Ketua Wantimpres. Anggotanya mantan Menlu Hassan Wirajuda, mantan
Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Menteri Otonomi Daerah Ryaas
Rasyid, politisi Golkar Ginandjar Kartasasmita, unsur NU dan MUI Ma’ruf
Amin, mantan Panglima TNI dan Menko Widodo Adi Sutjipto, mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Ashidiqie, mantan Menteri Pemberdayaan
Perempuan Meuthia Hatta, dan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah
Supari.
Tahun 2012-2014 posisi Jimly Ashidiqie digantikan
pengacara Albert Hasibuan. Meuthia Hatta adalah pendiri dan pernah
menjabat sebagai Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
(PKPI), sedangkan Ryaas Rasyid pernah menjadi Ketua Umum Partai
Persatuan Demokrasi Kebangsaan yang didirikan bersama Andi Mallarangeng.
Siti Fadhilah masuk kabinet SBY sebagai perwakilan dari unsur
Muhamadiyah.
Harapan kepada Wantimpres
Selalu ada unsur parpol politik pendukung duduk di wantimpres pilihan SBY. Tapi, tidak sedominan Wantimpres pilihan Jokowi.

Presiden melantik 9 anggota Wantimpres di Istana Negara, Senin (19/1). Foto oleh Setkab.go.id
Ada cerita menarik soal peran Wantimpres. Lewat buku Nasihat untuk SBY,
mantan anggota Wantimpres Adnan Buyung Nasution membeberkan
pengalamannya selama menjabat. Adnan menceritakan SBY pernah meminta
salah satu tayangan Kick Andy di Metro TV dihentikan, gara-gara
promo acara mencantumkan petikan ucapan Adnan yang mengatakan bahwa,
kalau mengajukan nasihat atau pertimbangan 10 diterima sembilan, itu
dianggap sukses, namun kalau cuma diterima satu, lebih baik keluar dari
Wantimpres.
Kisahnya bisa dibaca di sini.
Selain buku yang ditulis Adnan Buyung Nasution, saya belum
pernah mendengar apa saja masukan wantimpres yang digunakan oleh
presiden. Apakah Wantimpres SBY punya catatannya?
Siapa sosok yang berani bersikap independen terhadap
presiden, seperti Adnan Buyung Nasution, di Wantimpres era Jokowi? Saya
berharap sosok itu adalah Jan Darmadi. Yang sebenarnya tak perlu posisi
Wantimpres untuk eksis, sudah super kaya raya dan harus sewaktu-waktu
meninggalkan kenyamanan di vila 40 hektar di Tapos yang selama ini
menjadi tempat tinggalnya, untuk menasihati presiden. Mubazir kalau
nasihat itu ternyata masuk laci.
Jan Darmadi membangun bisnisnya sejak 1975. Lewat PT
Jakarta Setiabudi International yang menjadi bisnis utamanya, dia
menguasai perkantoran Setiabudi, Setiabudi Apartment, Kuningan
Apartment, Setiabudi Residence, Mercure Raddin Hotel Ancol, Hotel
Formula 1 Menteng, Grand Hyatt Bali, the Hyatt Bali, dan Hyatt Regency
di Yogyakarta.
JSI tengah menyiapkan ekspansi Setiabudi Sky Garden,
sebuah komplek apartemen dan perkantoran, juga pengembangan Hyatt
Regency di jantung kota Yogyakarta.
Potensi konflik kepentingan tinggi, karena Jan Darmadi
memiliki kerajaan bisnis, begitu juga kalangan pengusulnya, terutama
pengusaha dan bos Nasdem, Surya Paloh. Sama halnya dengan Rusdi Kirana.
Saya berharap motivasi Jan Darmadi mau terlibat langsung
ke politik adalah untuk kepentingan publik, setelah lebih dari 50 tahun
mendapatkan nikmat berusaha di Indonesia.
Kalau anggota Wantimpres lainnya, ya sudahlah, selamat
menikmati posisinya dan semoga ada nasihat/pertimbangan mereka yang
didengar dan diimplementasikan presiden. Nasihat yang pro rakyat.
Silakan laporkan juga ke rakyat.
Komposisi Wantimpres dan kabinet Jokowi juga menunjukkan
indikasi, Jokowi sudah menyiapkan diri untuk periode kedua
pemerintahannya. Kombinasi politisi dan pengusaha. —Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com
Komentar
Posting Komentar