Brem Madiun




BERTANDANG di Kota atau Kabupaten Madiun, Jawa Timur, rasanya kurang lengkap jika Anda tidak mencicipi jajanan tradisional khas daerah ini, brem. Masyarakat yang berkunjung ke Madiun tidak pernah lupa membeli jajanan terbuat dari sari beras ketan itu, selain sambel pecel.

Rasa brem manis kecut dan terasa adem di lidah. Saat ini penjualan brem sudah menyebar hingga luar Madiun. Dalam lima tahun terakhir brem pun sangat populer di luar negeri. Atas jasa para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, brem pun menjadi salah satu oleh-oleh favorit.

Rasanya pun beragam, tidak hanya rasa tapai ketan seperti yang selama ini diproduksi. Para pengusaha brem mengembangkan beragam rasa seperti rasa melon, durian, stroberi, dan mangga. Tampaknya aneka rasa brem ini sangat disukai para TKI yang bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Hong Kong.

"Brem dikenal di luar negeri sejak makanan itu dibawa para TKI sebagai oleholeh di tempat mereka bekerja. Lambat laun ada permintaan dari negara-negara tempat para TKI bekerja untuk dikirimkan brem buatan Madiun melalui toko-toko penjualan makanan di Surabaya, Bali, dan Jakarta," ungkap Kades Kaliabu, Windari, Selasa (26/8).

Brem merupakan makanan asli masyarakat Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, sekitar 24 km arah timur laut Kota Madiun.Jajanan hasil olahan para petani Kaliabu itu kemudian menjadi produk unggulan Madiun. Bahkan Kota Madiun dijuluki sebagai Kota Brem. Sebagai produsen brem, para perajin di Kaliabu ternyata tidak pernah mengetahui seluk beluk pemasaran. Semua produksi langsung diambil pengusaha toko penjual oleh-oleh.

Apalagi makanan khas Madiun itu sudah dicicipi orang dari mancanegara. "Semua perajin brem dari kalangan petani desa tidak memiliki kemampuan di bidang pemasaran. Mereka hanya bisa memproduksi tanpa bisa melakukan penjualan produksi. Jadi, pemasarannya hanya menunggu kedatangan pedagang dari kota.

Termasuk brem yang sudah terbang ke Hong Kong, Singapura, diekspor oleh mereka (pemilik toko)," kata Windari. Dia menjelaskan dahulu hampir seluruh warga desanya menjadi perajin tradisional kue brem. Namun, kini hanya sekitar 52 kepala keluarga (KK) yang masih aktif memproduksi brem.

Warga lainnya hanya memproduksi menjelang hari besar seperti menjelang Lebaran atau tahun baru. "Kalau semua berproduksi, ada sekitar 150 kepala keluarga yang membuat brem," ujarnya. Jelang Lebaran, para perajin brem di Kaliabu mampu memproduksi sekitar 100-200 pak brem dengan bahan baku 10-15 kuintal beras ketan. Ramainya pesanan menjelang Lebaran membuat semua warga praktis sibuk membuat brem.

Turun-temurun
Sejarah pembuatan brem di Kaliabu tidak diketahui pasti kapan. Namun dari cerita sejumlah warga, pembuatan brem di Kaliabu ini telah dilakukan secara turun-temurun hingga sekarang oleh warga di sana tepatnya di permukiman kawasan hutan jati pinggiran Kota Madiun.

Namun, dewasa ini sebagian masyarakat di Kaliabu lebih memilih menekuni bisnis brem secara musiman. Jelang hari raya, umumnya warga desa di situ panen pesanan brem. "Kalau harihari biasa, warga lebih suka mengolah sawah dan ladang," kata Windari.

Beberapa warga yang serius membuka usaha brem di antaranya berbentuk usaha dagang (UD) dengan nama merek Bangku Kencana, Kondang Rasa, Tongkat Mas, dan Madurasa. Pada umumnya perusahaan yang mengurus izin usaha itu berpengalaman dan bermodal lebih.

Perusahaan-perusahaan itu mampu memasarkan secara mandiri dan ditopang modal yang cukup, sedangkan produksi brem lainnya masih berskala rumah tangga. Seluruh tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi brem ialah anggota keluarga. Apalagi pembuatan brem tidak menyerap tenaga kerja cukup banyak dan mudah dikerjakan.

Para perajin brem umumnya berkembang secara tradisional, mulai proses, pemasaran, dan permodalan. Hingga kini belum ada pihak-pihak luar yang berminat memberikan pinjaman modal kepada para perajin brem. Pada umumnya petani yang merangkap sebagai perajin brem masih memanfaatkan lahan pertanian sebagai modal.

Saat petani panen beras ketan, hasil bumi itu dijadikan modal untuk memproduksi brem. "Kendala perajin brem di sini hanyalah soal modal. Pada umumnya para petani yang menjadi perajin brem merupakan petani miskin. Mereka baru memproduksi brem setelah panen beras ketan," kata Windari.

Menurut Windari, proses pembuatan kue brem terbilang gampang. Bisa dilakukan siapa saja. Sekalipun mudah, proses pembuatannya butuh waktu seminggu lebih untuk menjadi produk yang enak rasanya. Pada umumnya dalam pembuatan brem secara tradisional masih mengandalkan pengadukan adonan tanpa menggunakan alat.

Apalagi rasa brem yang diha silkan ialah rasa natural. Adapun untuk perusahaan yang sudah maju, pembuatan brem menggunakan mesin mixer karena banyak rasa baru untuk dicampurkan ke dalam adonan. "Untuk membuat brem nonrasa natural memang tak membutuhkan mesin.

Tapi untuk mengolah brem banyak rasa harus mempergunakan mesin mixer, sehingga membutuhkan tenaga baru untuk mengoperasikannya," kata Joko Waluyo, pengusaha brem UD Tongkat Mas yang memiliki 15 karyawan. Kue brem tersaji dalam bentuk irisan dengan ukuran bervariasi.

Umumnya irisan brem yang disiapkan berukuran 20x6 cm dengan tebal 2,5 cm, ukuran potongan 10x5 cm tebal 2 cm, dan ukuran potongan 10x5 cm dengan ketebalan 1 cm. Untuk ukuran pertama yang dikemas dengan jumlah tiga batang harganya Rp10 ribu, ukuran sedang Rp7.500, dan ukuran kecil Rp5.000.

Perajin umumnya melempar hasil produksi ke toko makanan dan kue di kota tanpa merek. Toko-toko makanan itulah yang mengemas ulang dengan bungkus kertas warna kuning yang menjadi ciri khas. Merek yang muncul pun merupakan merek toko yang telah membeli brem dari petani. "Jadi, sebenarnya brem yang dipasarkan di toko-toko makanan dan toko oleh-oleh dengan berbagai merek itu semuanya hasil produksi petani Desa Kaliabu," ungkap Joko.(http://www.mediaindonesia.com)

Komentar