* EKSPOR KOPI
Bijih kopi robusta. Pemkab Aceh sasar pasar Uzbekistan
Bisnis
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sedang menyasar pasar ekspor baru melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia Shavkat Jamolov. Adapun, perjanjian perdagangan tersebut berlaku selama 3 tahun.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Tengah Munzir menuturkan, selain perjanjian perdagangan, nota kesepahaman tersebut juga berisi rencana kerja sama pembangunan dan pengembangan industri serta produksi kopi Gayo milik Aceh Tengah.
"Ini merupakan langkah awal. Selanjutnya, kami akan menindaklanjuti perjanjian sesuai dengan kewenangan dan ketentuan yang berlaku," ujarnya, Senin (8/12/2014).
Lebih lanjut, Bupati Aceh Tengah Nasaruddin mengatakan wilayahnya memiliki potensi pengembangan industri dan produksi kopi yang besar. Kendati begitu, pihaknya masih mengalami berbagai kendala untuk memanfaatkan potensi dengan maksimal.
"Peluang Indonesia, khususnya Aceh Tengah untuk menjadi pemasok besar kopi terbuka lebar, tinggal bagaimana mempromosikan dan memasarkan keunggulan komoditas ini," ujar Nasaruddin.
Dia melanjutkan, saat ini biji kopi arabika dari Gayo, sangat diminati oleh konsumen di Amerika, Eropa dan Asia. Dua negara utama pasar kopi Gayo adalah Jepang dan Australia. Kopi Gayo, kata Nasaruddin sangat diminati karena memiliki cita rasa dan aroma khas yang kompleks dan kental.
Adapun, saat ini kopi Gayo telah dikategorikan sebagai speciality coffee dan telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis pada pertengahan 2010. Keduanya menambah potensi perluasan pasar ekspor bagi kopi Gayo.
Berdasarkan Surat Persetujuan Ekspor Kopi (SPEK) Pemkab Aceh Tengah, ekspor kopi arabika Gayo sejak Januari hingga September 2014 telah mencapai 7.000 ton dengan total nilai US$39,9 juta atau US$5,7 juta per kg.
"Untuk melindungi produksi kopi Gayo, ke depan kami akan mengelola pasar lelang dan optimalisasi sistem resi gudang. Kopi adalah salah satu komoditas unggulan, pendongkrak pertumbuhan ekonomi Aceh Tengah," tambah Nasaruddin.
Kini, Aceh Tengah tercatat sebagai pemilik lahan penanaman kopi terluas di Aceh dengan total 48.300 hektare, diikuti oleh Bener Meriah 39.490 hektare, dan Gayo Lues 7.800 hektare. Total petani kopi mencapai 66.101 keluarga.
Kendati merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Aceh, kopi masih diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh, yakni Pelabuhan Belawan, Sumatra Utara. Per September 2014, BPS Aceh mencatat total nilai ekspor kopi mencapai US$84.708.
Adapun, kopi menjadi penyumbang nilai ekspor tertinggi dari seluruh komoditas yang diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh yakni US$12,61 juta. (http://industri.bisnis.com)
Komentar
Posting Komentar