Menanti Langkah Gubernur Maluku
Mahkamah Konstitusi akhirnya menolak
seluruh gugatan Abdullah Vanath-Marthin Maspaitella (DAMAI) dalam sidang
di gedung MK di Jakarta. KPU Maluku langsung menyiapkan pelantikan
pasangan Said Assagaff-Zeth Sahuburua sebagai Gubernur dan Wakil
Gubernur definitif. “Insya Allah pertengahan Februari sudah bisa
dilantik,” kata Ketua KPUD Maluku, Idrus Tatuhey kepada Ambon Ekspres
(Group Malteng Ekspres), Rabu sore di Jakarta. Siapakah Said Assagaf?
Memiliki
kedudukan yang empuk, bukan semata diraih dalam sekejap. Sosok Assagaff
yang terbuka, familiar dan rendah hati ini ternyata memiliki pijakan
yang kuat dalam memandang Maluku. Hampir sebagian besar pusat kecamatan
di Maluku pernah didatanginya, hampir semua hutan di Maluku pernah
dijajakinya. Karena itu, berbincang soal seluk beluk Maluku, Assagaf
bisa dengan lancar memberi petunjuk.Bahas soal Maluku seakan sudah tertanam erat dalam benak suami Retty Assagaff ini. ‘’Saya ini pernah tidur tiga bulan lebih di hutan Seram Timur, di Masiwang malah satu bulan. Saya cukup lama di Kampung Ga, masyarakat disana tahu betul. Saya tinggal di Piru, Taniwel dan jalan kaki dari Bula ke Geser. Empat bulan tidur di hutan, jalan kaki dari Namlea, Makko, dan Airbuaya (Pulau Buru), Halmahera, Guraping dan Kasaya juga sudah saya lalui,’’ katanya, dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu.
Di Saumlaki? ‘’Di Saumlaki malah saya pernah jalan kaki dari Saumlaki ke Desa Arma, sekitar 156 kilometer jauhnya. Empat bulan pernah tinggal di hutan Yamdena. Kalau belakangan masyarakat MTB member gelar adat, itu sebetulnya karena mereka tahu saya pernah menyatu disana,’’ ucapnya lancar.
Said mungil lahir pada 29 November 1953. Mengawali pendidikan dasar di SDN 13 Tawiri. Setelah tamat, Bib (Begitu dia akrab disapa) melanjutkan pendidikan di SMP Bintang Laut Ternate. Selanjutnya masuk SMA Khatolik Cenderawasih di Makassar. Setelah lulus, pemuda Bib mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dan meraih gelar insinyur di bidang pertanian.
Pak Bib mengawali karir dilingkup Pemprov Maluku pada 1 September 1980 (33 tahun lalu) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Setelah itu, dia diangkat menjadi Kepala Seksi Pertanian.
Setahun kemudian dia dipercaya mendampingi Tim Belanda (LPA-72) yang dipercayakan menyusun program pembangunan Maluku 25 tahun kedepan. Dia berada bersama Tim Belanda sekira 9 tahun.
Perencanaan LPA-72 itu saat ini mulai nampak, antara lain pembangunan kepulauan, masalah-masalah kemiskinan, dan bagaimana upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan transportasi. Saat itu Tim merekomendasi pembangunan 12 pelabuhan secara cuma-cuma di Provinsi Maluku (termasuk Maluku Utara, saat Malut masih bergabung dengan Maluku).
Setelah itu, pak Bib dipercayakan lagi menduduki jabatan Kepala Bidang Ekonomi, dan balik lagi ke Bappeda sebagai Kepala Penelitian. Berikutnya dia diangkat menjabat Kepala Biro Pembangunan (Biro Penyusunan Program). Dari sana ayah empat anak ini terus berkarir dan mendapat kepercayakan memegang jabatan sebagai Wakil Kepala Bappeda, terus menjabat sebagai Kepala Bappeda. Berikutnya masing-masing Asisten II Setda Maluku, Asisten III, Kepala Bapeldalda dan memuncak menjadi Sekertaris Daerah (Sekda) Maluku.
‘’Saat-saat di Bappeda itulah saya hampir mengelilingi Maluku (Maluku Utara) untuk melakukan penelitian. Jadi, hampir semua daerah di Maluku ini pernah kami datangi, meneliti, monitoring program dan evaluasi. Karena itu, saya tahu persis karakteristik Maluku ini,’’ kenangnya.
Satu hari di tahun 1984, kenangnya, Bupati Malteng saat itu, Abdulgani Polanunu datang menemui Ketua Bappeda Maluku (almarhum Akib Latuconsina) meminta survei jalan di Seram Timur (SBT).
Polanunu meminta agar Said Assagaff yang harus memegang pekerjaan itu dan jangan diganti dengan orang lain. Pak Bib diminta khusus karena berhasil suvei jalan di Guraping Kayasa di Halmahera Maluku Utara pada tahun 1981-1982. Ternyata, Polanunu mendapat masukan dari Bupati Halmahera, Tiknu yang juga seorang militer. ‘’Kalau kamu mau berhasil survey di Seram, ya harus Said Assagaff yang turun survei. Nah, saya akhirnya ditunjuk pak Akib dan survei di SBT. Karena itu, saya sangat paham daerah sana,’’ kenangnya mengutip percakapan Polanunu dan Latuconsina.
Tak terasa, lima tahun sudah Said Assagaff mendampingi Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Maluku periode 2009-2013. Keduanya mengakhiri masa jabatan pada 15 September 2013. Periode 5 tahun lalu tentu banyak suka dan duka dalam menjalankan tata kelola pemerintahan. Banyak kemajuan yang diraih dan tentu juga tidak terlepas dari kelemahan dan kekurangan.
Selama memimpin, keduanya bekerja keras mengentaskan kemiskinan. Keduanya punya target menurunkan angka kemiskinan sampai dengan 12,5 persen di tahun 2013 ini. Tapi sampai hari ini data BPS Maluku membukukan angka sekira 19 persen. Angka ini boleh dibilang baik sebab terjun dari angka 28 persen. ‘’Kita berharap pemimpin kedepan bisa mendorong percepatan kearah pengurangan angka kemiskinan. Saya belum merasa puas dan saya sadar betul, walaupun kita telah berbuat banyak, tetapi masih ada hal-hal yang memang harus dilanjutkan,’’ tandasnya.
Pekerjaan ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, 60 persen penduduk Maluku tersebar di pulau-pulau. Pada titik ini, transportasi menjadi kata kunci. ‘’Apapun yang kita benahi dan apapun yang kita buat kalau transportasi kita lemah, pembangunan tidak akan bisa dirasakan oleh masyarakat,’’ tandasnya.
Pada tahun-tahun awal keduanya memimpin, program pembangunan gugus pulau dan pembangunan laut pulau dijadikan pegangan dengan harapan melalui konsep pembangunan gugus pulau dan konsep pembangunan laut pulau ini, akan ada pintu-pintu keluar supaya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. ‘’Saya berharap para bupati/walikota bisa mengikuti langkah atau upaya strategi yang telah ditetapkan Pemprov Maluku kalau kita benar-benar mau meningkatkan kesejahteraan rakyat kita kedepan,’’ harapnya. ‘’Seperti Pak Karel katakaan, kedepan masyarakat harus cari pemimpin yang dekat dengan rakyat, yang bisa hidup dalam suka dan duka,’’ sambungnya mengutip pernyataan Ralahalu.
Pak Bib juga punya pendapat yang menarik soal masyarakat Maluku yang mejemuk. Kebersamaan itu indah. ‘’Kalau hanya ada satu warna itu tidak bagus tapi kalau warna-warna, itu anugerah Tuhan. Olehnya itu kita harus syukuri kemajemukan orang Maluku. Semua orang dihadapan Tuhan itu sama, siapa yang berbuat yang baik, maka dia akan dapat yang terbaik. Karena itu mari kita bersama-sama, jangan kita bicara tentang kesendirian, tapi kita berbicara tentang kebersamaan, karena kebersamaan itu penting dan indah,’’ ucpnya.
Soal keiikutsertaannya pada Pilgub Maluku 2013-2018, Assagaff dengan lantang menjawabnya dengan doa. “Tuhan jangan berikan saya dan pak Ety Sahuburua sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, kalau nantinya kita tidak memperhatikan rakyat kecil. Itu doa kita,’’ pungkasnya. Nah, setelah terpilih jadi Gubernur Maluku, kita tunggu langkahnya. (http://maltengekspres.com)
Komentar
Posting Komentar