Sembilan Tahun Kepemimpinan Bupati Samosir

Tepat, empat tahun lalu sosok Mangindar Simbolon resmi memimpin Kabupaten Samosir. Pelantikan dilakukan oleh Gubernur Sumut pada 14 September 2010 lalu, dimana sebelumnya beliau juga telah memimpin selama satu periode (5 tahun). Dengan kata lain, sembilan tahun sudah beliau menjabat sebagai Bupati.
Samosir dalam Potret Buram
Dalam persepektif kepemimpinan politik, keberhasilan dan kegagalan pemerintahan tentu saja menjadi ukuran yang penting dan strategis. Masyarakat Samosir tentu telah menilai kepemimpinan Mangindar Simbolon selama 9 tahun memimpin. Bagaimanapun esensi kepemimpinan kepala daerah di tingkat lokal terutama pada pelaksanaan otonomi daerah saat ini pada dasarnya untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan kepala daerah yang memimpin bisa melakukan perubahan-perubahan atau kemajuan-kemajuan yang bisa dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat setempat.
Kabupaten Samosir yang diharapkan mampu berkembang pesat setelah “memisahkan diri” dari kabupaten Tobasa selama beberapa tahun terakhir dapat kita lihat dari kondisi makro hingga mikro di semasa kepemimpinan Mangindar. Kemajuan sangat jauh dari harapan. Tidak ada prestasi gemilang. Proses pembangunan terkesan jalan di tempat dan belum menunjukkan adanya perubahan yang nyata sebagai penanda keberpihakan kepada rakyat. Akibatnya, potret pembangunan di Samosir hingga kini masih berwajah buram.
Padahal harapan membuncah ketika Mangindar kembali dipercaya memimpin Samosir. Itulah alasan mengapa beliau terpilih lagi sebagai Bupati empat tahun yang lalu, terlepas dari strategi-strategi yang dilakukannya memikat hati pemilih. Yang pasti, mimpi warga Samosir kala itu ada di pundaknya.
Empat, bahkan sembilan tahun lalu Mangindar Simbolon begitu diharapkan dapat membawa arus perubahan untuk kesejahteraan masyarakat di Samosir, mengejar ketertinggalan. Padahal bila ditinjau dari sumber daya, Samosir merupakan salah satu kabupaten di Sumut yang memiliki posisi sangat strategis. Samosir memiliki potensi pengembangan pariwisata yang luar biasa besar. Semua orang tahu itu.
Namun harus diakui, potensi itu belum didukung oleh sumber daya manusia yang memadai. Yang berpendidikan memang sudah terbilang banyak, namun yang memiliki kegelisahan dan visi terhadap kemajuan Samosir hanya segelintir orang itupun kebanyakan tidak punya akses dalam kekuasaan. Terhalang oleh sistem atau ketiadaan kerabat. Walau ada yang punya mimpi, sering sekali malah terhenti di tengah jalan akibat minimnya dana dan daya. Saya sendiri saat menjadi mahasiswa sering merasa “iri” melihat rekan-rekan dari daerah lain. Mereka tidak jarang dibiayai pemerintah daerahnya melalui program-program beasiswa dengan berbagai kategori. Sejauh yang saya ketahui, Samosir tidak pernah melakukannya. Pernah sekali saya menanyakan hal ini melalui website resmi Pemda kabupaten Samosir, namun tiada respon. Miris.
Itu masih salah satu contoh di bidang pendidikan. Lain lagi soal industri pariwisata yang tak dibenahi. Saban tahun kita mendengar wacana, dan kenyataannya pun hanya wacana semata. Infrastruktur tak kunjung membaik, transportasi langka, armada kapal tak terawat, pantai-pantai terbengkalai, masyarakat (contohnya para pedagang dan tukang ojek) yang sepertinya tidak dimonitor sehingga mematok harga semaunya, budaya gotong rotong yang nyaris punah, tradisi/adat tidak dilestarikan, serta banyak hal lain yang sejatinya menjadi modal besar namun tidak diberdayakan, termasuk salah satunya pengrusakan hutan tele yang konon malah melibatkan sang Bupati.
Belum lagi sistem birokrasi rumit dan serba duit yang menggurita hingga ke tingkat desa. Pemerintah seolah sengaja memanfaatkan para orangtua disana yang tak sempat mengenyam pendidikan. Mengurus penerbitan akta nikah dan kartu keluarga misalnya, harus mengeluarkan dana yang tidak masuk akal (tentang hal ini akan saya uraikan di lain kesempatan). Tambahan lagi baru-baru ini pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan yang mulai diberlakukan tanpa validitas ukuran tanah dan bangunan warga.
Di sinilah sesungguhnya Samosir membutuhkan sosok pemimpin yang hebat. Yang mampu memberikan tak hanya sekadar teori, namun lebih daripada itu sebuah aksi nyata yang dapat dirasakan warga. Bekal ilmu, pengalaman dan kesuksesan yang dimiliki Mangindar Simbolon,  mestinya menjadi daya dukung ekonomi-politik bagi proses pembangunan di Samosir. Sayangnya, kinerjanya selama 9 tahun ini amat jauh dari harapan masyarakat. Beliau rupanya tidak belajar dari satu periode kepemimpinannya sebelumnya.
(Maaf), kegagalan dan kegagalanlah yang dipertunjukkan sepanjang waktu yang tak singkat itu. Potret buramlah yang dipertontonkan saat pulau indah itu menjadi ikon bangsa dan sorotan dunia. Singkatnya, ketertinggalanlah yang dituai warga.
Satu-satunya warisan yang sempat disematkan Mangindar Simbolon tak lebih dari suksesinya di bidang politik yang memenangi pemilukada selama dua kali berturut-turut. Sebuah kenikmatan selebrasi politik yang sama sekali tak diimbangi dengan prestasi gemilang pembangunan. Tak heran, hasilnyapun bersifat kontraproduktif. Barangkali, itulah awal petaka yang meletakkan garis kebijakan pembangunan yang dikeluarkan oleh Mangindar Simbolon tidak terencana dengan baik, serta pengelolaan pemerintahan yang berjalan ala kadarnya tanpa ruh dan tujuan yang pasti.
Peringatan Kepada (Calon) Pemimpin
Tidak lama lagi, jabatan sebagai Bupati akan segera lepas dari pangkuan Mangindar. Bisa dikatakan, tinggal menghitung hari. Tahun depan, Pemilukada akan digelar kembali untuk memilih pemimpin yang baru. Dapat dipastikan, Mangindar tidak akan menjabat lagi. Selain karena sudah memimpin selama dua kali berturut-turut, tampaknya kepercayaan masyarakat terhadapnya sudah semakin tergerus.
Bagi yang terpanggil menggantikan posisinya, tentu sudah mempersiapkan ancang-ancang, berupa program-program sebagai bahan kampanye yang akan ditawarkan kepada masyarakat.
Kita berharap, bupati berikutnya bukan lagi pribadi yang digerakkan oleh ambisi, kehausan akan jabatan. Melainkan dia yang digerakkan oleh visi, yang mau belajar dari kegagalan, yang berkomitmen dengan tulus, yang hatinya miris melihat ketertinggalan Samosir, yang berduka menyaksikan kemiskinan penduduknya, yang berani berinvestasi melalui pendidikan putera-puteri daerahnya, yang memiliki target bahwa mereka akan kembali membangun daerah itu setelah memiliki “modal” cukup.
Mendapati sosok yang berani “pasang badan” demi kemajuan Samosir, yang mampu memberikan seulas senyuman di wajah buram itu, adalah sebuah impian, sekaligus keniscayaan. Semoga!
Salam martabe, Horas!
(politik.kompasiana.com)

Komentar